Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
139


__ADS_3

Nia meyakinkan dirinya sendiri jika apa yang dia putuskan malam ini adalah hal terbaik bagi dirinya di masa depan. Nia mengambil keputusan menjalani hubungan dengan Alex karena Nia tidak ingin terus larut dalam kesedihan akan kepergian sang bayi laki lakinya. Dan Nia juga tidak ingin terus terperangkap dalam pengalaman hidup yang pahit di masa lalu. Nia benar benar ingin lepas dari kenangan pahit itu.


Nia berani menjalani hubungan serius dengan Alex bukan karena hanya karena pria itu sudah mengungkapkan perasaan hatinya. Nia menerima Alex karena Nia bisa melihat ketulusan hati pria itu selama ini dan sepertinya bisa menerima dirinya apa adanya.


Nia tidak ingin salah memilih untuk menjadi pendamping dirinya karena pria yang akan menikahinya kelak harus bisa menerima putrinya. Dan Alex sudah mengetahui tentang semua kehidupannya. Nia berharap Alex bisa memenuhi keinginannya yang tidak mengharapkan hubungan bebas nantinya. Nia sengaja mengajukan syarat itu untuk menguji apakah pria itu benar benar mencintai dirinya atau hanya mengharapkan tubuhnya.


Nia akhirnya masuk ke dalam rumah setelah termenung sebentar memikirkan hubungannya dengan Alex yang sudah berubah beberapa menit yang lalu.


Langkah Nia disambut Jessi dengan tersenyum jahil dan dua jempol yang diarahkan kepada dirinya. Ketika Nia dan Alex berbicara di dekat pintu. Jessi bisa mendengar pembicaraan sepasang kekasih baru itu dan Jessi juga mendengar pembicaraan Nia dan Alex di dekat mobil.


"Kamu menguping ya!" kata Nia kepada adiknya itu. Jessi menganggukkan kepalanya jika dirinya dengan sengaja mendengar pembicaraan mereka. Melihat anggukan kepala Jessi, wajah Nia memerah karena malu.


"Aku mendukung kamu mbak. Semoga Alex adalah pria terbaik untuk kamu dan putri kamu," kata Jessi. Nia mengaminkan perkataan Jessi. Jessi juga senang melihat Nia sudah bersedia membuka hati kepada Alex.


"Menurut kamu. Apa menerima Alex adalah keputusan yang terburu buru?" tanya Nia. Wanita itu tidak ingin dianggap negative oleh adiknya dan Alex yang menerima pria itu setelah tiga minggu kelahiran putrinya. Nia takut dirinya mendapatkan penilaian negatif karena keputusannya itu.


"Tidak juga. Kamu dan Alex bukan orang yang baru kenal. Kalian sudah bersahabat lama. Dan pria itu juga terlihat sangat baik. Jarang jarang ada pria seperti itu. Mendukung sahabat yang sedang terpuruk yang ternyata adalah cintanya," jawab Jessi. Dia mendengar dengan jelas pembicaraan Nia dan Alex. Dari awal. Jessi sudah mencurigai jika perhatian Alex kepada Nia bukan perhatian karena sahabat.


"Aku hanya ingin bahagia jes. Dan semoga dengan bersama Alex. Kami bisa saling membahagiakan."


"Kejar lah kebaikan kamu mbak. Tetap bersyukur atas apa yang kamu terima. Aku akan mendukung kamu dalam hal apapun. Tetaplah memegang komitmen untuk tidak membenarkan hubungan bebas dalam hubungan kalian. Intinya jauhi dosa haram itu. Jika kamu mengulangi kesalahan yang sama. Maka aku akan lepas tangan dan tidak akan menganggap kamu lagi sebagai saudara," kata Jessi menasehati sekaligus mengancam Nia.


Jessi berkata seperti itu bukan bermaksud merasa manusia yang lebih baik dibandingkan Nia. Dia dan adiknya sudah merasakan hinaan akibat perbuatan Nia. Perkataannya menekankan jika dirinya tidak akan terima kesalahan yang terulang. Nia memang menderita karena perbuatannya sendiri. Tapi sebagai adik, dirinya juga ikut menderita dan ikut menanggung malu.


"Tidak akan lagi dek. Pengalaman pahit itu akan menjadi yang pertama dan terakhir dalam hidupku. Aku juga berharap kalian bisa menjaga diri. Jangan pernah melakukan hal seperti yang aku lakukan," kata Nia. Dia juga tidak ingin adik adiknya mengulang kesalahan dirinya di Masa depan. Jessi menganggukkan kepalanya. Dalam hati, Jessi berharap bisa menjaga harga dirinya.


Kakak beradik itu akhirnya masuk ke dalam kamar masing masing setelah saling menasehati.


Di dalam kamarnya, Nia menatap bayi perempuannya yang masih terlelap dalam tidur. Walau putrinya itu ada karena kesalahannya sendiri tapi Nia melihat sang putrinya sebagai anugerah dalam hidupnya. Nia tidak memandang putrinya itu sebagai kesalahan. Dirinya lah yang bersalah. Dan demi masa depan putrinya. Nia juga berjanji akan akan berusaha keluar dari zona yang membuat dirinya hidup pas pas pas pasan.


Di tempat yang lain. Di rumah Gunawan. Danny duduk bersandar di sofa dengan mata tertutup yang mendongak ke atas. Setelah dari rumah Nia. Danny tidak pulang ke rumah nenek Rieta. Pria itu merasa malu jika harus memberitahukan kabar bahwa Nia sudah pergi dari rumah itu. Sepanjang perjalanan, Sisil menangis untuk singgah di setiap swalayan yang mereka lewati. Otak anak kecil itu menduga jika apa yang didengarnya dari Danny bahwa Nia sedang belanja berpikir jika Nia belanja di salah satu swalayan yang mereka lewati.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan itu, Danny merasa frustasi sendiri. Rasa bersalah atas kematian sang bayi laki lakinya juga merasa kesal kepada Sisil yang menambah beban pikiran. Danny tidak bisa konsentrasi untuk mencari Nia karena suara tangisan Sisil membuat otaknya tidak bisa bekerja dengan baik. Otaknya hanya berpikir bagaimana supaya putrinya bisa diam dan tidak mencari Nia lagi.


"Mengapa kamu memberikan harapan palsu kepada putriku, Nia. Inikah bentuk pembalasan dendam kamu kepada aku?" tanya Danny dalam hati. Setengah hari dirinya merasa lelah membujuk Sisil supaya tidak mencari Nia lagi. Dan baru satu jam yang lalu putrinya itu tertidur setelah lelah menangis.


Danny mengacak rambutnya sendiri. Membayangkan Nia menangis karena tidak berhasil membujuk dirinya bertanggung jawab seperti Sisil tadi membuat dirinya hampir gila.


"Seperti inikah yang kamu rasanya dahulu. Menangis berjam jam karena aku. Dan sekarang kamu membalaskannya kepada putriku," kata Danny sambil memukul sofa. Karena memikirkan Nia dan Sisil bersamaan. Danny tidak menyadari jika kedua orang tuanya sudah berjalan masuk ke dalam rumah.


"Mengapa kamu tidak datang ke rumah nenek?" tanya Gunawan tajam setelah berdiri di hadapan Danny. Mereka menunggu kedatangan Danny dan Nia berjam jam di rumah itu. Danny tidak memberikan kabar apapun kepada mereka. Bahkan panggilan dari mereka tidak dijawab.


Gunawan dan tante Tiara duduk berhadapan di sofa itu dan memperhatikan wajah Danny yang tertunduk lesu.


"Nia pindah ke luar Kota pa, ma," jawab Danny pelan dan lesu. Kedua orang tua itu terlihat terkejut bahkan tidak bisa mengucapkan satu kata pun mendengar kabar tentang Nia.


"Nia pergi jauh, mungkin dia tidak mengharapkan aku lagi. Dia pindah tanpa memberikan kabar bahkan kepada tetangganya," kata Danny. Danny menceritakan semua apa yang didengarnya dan apa yang dikatakan para tetangga Nia kepada dirinya. Danny juga menceritakan penilaian negatif kepada Nia dari ibu ibu tetangga tersebut.


"Yang membuat aku sedih. Sepanjang perjalanan tadi Sisil menangis. Nia benar benar pergi dan tidak mengharapkan aku lagi pa, ma," kata Danny lagi. Ketika mengatakan itu. Danny merasakan matanya memanas.


"Bukan Nia yang pergi dan tidak mengharapkan kamu nak. Tapi kamu yang mengusir wanita itu dari hati kamu. Belajar lah menerima kenyataan ini. Mungkin Nia bukan jodoh kamu," kata Tante Tiara lembut.


"Jadi bagaimana dengan Sisil. Sisil sudah sangat menyukai Nia. Kamu jangan langsung menyerah Danny. Papa akan menyuruh orang orangku untuk mencari Nia," kata Gunawan. Pria itu tidak terima dengan perkataan sang istri yang meminta Danny untuk menerima kenyataan jika Nia sudah pergi.


"Papa, jangan memaksakan kehendak kamu sendiri. Nia pergi karena tidak ingin Danny menikahi dirinya," kata Tante Tiara. Dirinya juga menginginkan Danny menikahi Nia tapi tante Tiara tidak akan memaksakan kehendaknya sendiri. Dia ingin Danny dan Nia menikah karena keinginan mereka sendiri bukan karena campur tangan dari pihak keluarga terutama dari pihak mereka.


"Sudah lah mama, aku tahu harus melakukan apa demi kebaikan dan kebahagiaan Danny juga Sisil," kata Gunawan sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


"Papa, Nia pergi karena keinginannya karena wanita itu merasa ini yang terbaik untuk dirinya sendiri. Mungkin jika memaksakan untuk menikah dengan Danny. Nia akan tetap merasakan sakit hati dari segala perbuatan kalian yang menyakitkan," kata Tante Tiara. Wanita itu berpikir jika kepergian Nia karena wanita itu belum bisa melupakan sakit hati yang ditorehkan nenek Rieta dan Gunawan. Menikah dengan Danny itu artinya Nia harus selalu bertemu dan bahkan berhadapan dengan Gunawan dan juga nenek Rieta nantinya.


"Memaafkan bukan berarti melupakan pa. Otak manusia sangat sulit melupakan kenangan indah dan kenangan pahit. Dan mungkin, Nia berada di posisi sulit melupakan kenangan pahit tentang kehamilan tanpa suami, hinaan tetangganya dan juga kepergian bayi laki lakinya. Kita harus menghargai keputusan Nia. Dia pergi sebelum Kita melangkah jauh mempersiapkan pernikahan mereka. Itu artinya Nia juga tidak ingin membuat kita rugi dan malu."


Gunawan menghentikan tangannya sebentar dari layar ponsel. Dia mendengar dengan jelas akan perkataan istrinya. Tapi kemudian pria itu memainkan jarinya dan kemudian menempelkan ponsel itu ke dekat telinganya. Danny dan tante Tiara menatap pria itu yang kini sudah terdengar menyuruh seseorang untuk mencari keberadaan Nia.

__ADS_1


"Kita tidak punya mencari keberadaan Nia pa. Tidak ada ikatan yang membuat kita harus memaksakan wanita itu bersatu dengan Danny. Jadi tolong biarkan dia menenangkan diri terlebih dahulu," kata Tante Tiara kepada Gunawan. Tapi pria itu tidak menjawab. Gunawan justru beranjak dari duduknya dan meninggalkan Danny dan tante Tiara di ruang tamu itu.


"Kamu dan papamu sama saja. Mengapa kamu tidak menghentikan papa kamu menyuruh orang orangnya mencari keberadaan Nia?" tanya wanita itu kesal.


"Mengapa mama selalu memandang aku salah?. Tidak bertanggung jawab salah, bertanggung jawab juga salah," jawab Danny tidak kalah kesal. Wanita itu menyalahkan dirinya yang tidak bertanggung jawab kepada kehamilan Nia sebelumnya tapi sekarang juga tidak setuju jika Gunawan mencari keberadaan Nia.


"Itu karena memandang permasalahan ini dari pihak wanita yang tersakiti. Dan tanggung jawab kamu itu sudah terlambat. Jadi biarkan Nia menentukan kebahagiaan dirinya sendiri."


Danny tidak ingin mendengar mamanya itu untuk berbicara lebih panjang lagi. Sama seperti Gunawan. Danny melakukan hal yang sama. Pria itu terlihat beranjak dari duduknya dan meninggalkan sang mama yang menatap dirinya dengan kesal.


"Entah dosa apa dulu yang dilakukan oleh leluhur sehingga anak anak ku harus mengalami hal hal seperti ini," kata mama Tiara dalam hati. Wanita itu menggelengkan kepalanya melihat masalah yang dihadapi oleh Evan dan Danny yang harus menyakiti wanita terlebih dahulu baru menyadari kesalahannya.


"Aku hanya ingin yang terbaik bagi kamu Nia," kata wanita itu lagi dalam hati. Dia berharap hal seperti ini tidak terulang lagi kepada keturunannya berikutnya. Menyadari kedua cucunya adalah perempuan. Mama Tiara ketakutan jika karma dari perbuatan ayah mereka nantinya. Salah satu dari cucunya itu yang menerima.


"Pemikiran apa ini. Tidak. Kedua cucu tidak mengalami hal seperti itu. Cukup penyesalan dari ayahnya yang menjadi hukuman atas perbuatan anak anakku," kata mama Tiara menyangkal pemikirannya sendiri.


Sedangkan Danny, pria itu tidak masuk ke dalam kamarnya melainkan masuk ke kamar putrinya. Dia menatap wajah putrinya itu yang terkadang masih terdengar dari tarikan nafasnya jika anak kecil itu menangis berjam jam sebelumnya.


Danny membaringkan tubuhnya di sebelah putrinya.


"Mengapa untuk kedua kalinya. Aku harus mengalami ini?" tanya Danny dalam hati. Sisil juga ada sebelum pernikahan dan keberadaan anak itu di rahim Clara yang menjadi alasan bagi mereka berdua menikah kala itu. Dan untuk kedua kalinya, kejadian itu terulang dengan kehamilan Nia. Yang membedakan jika Sisil ada karena kemaua mereka berdua sedangkan bayi laki lakinya ada karena penjebakan Nia.


"Aku tidak akan melepaskan kamu Nia. Kalau dulu kamu yang meminta pertanggungjawaban dari diriku maka aku yang meminta pertanggungjawaban atas kesedihan putriku," kata Danny pelan.


Demi putrinya Sisil dan demi putranya yang sudah tiada. Danny berjanji dalam hati akan menemukan Nia. Tidak ingin berlama lama membiarkan Nia dalam persembunyiannya. Danny juga menghubungi salah satu temannya untuk membantu dirinya menemukan keberadaan Nia.


Danny tersenyum mendengar kesediaan temannya itu untuk mencari Nia.


"Kalau Anggita saja yang bersembunyi ke pelosok bisa aku temukan apalagi kamu yang masih berada di kota ini," kata Danny sambil meletakkan ponselnya ke meja belajar Sisil yang ada di ruangan itu. Senyum tidak lepas dari bibirnya. Setelah memberikan data pribadi Nia kepada temannya. Danny mengetahui data pribadi Nia karena dirinya mempunyai fotokopi kartu tanda penduduk milik nia. Danny mendapatkan informasi jika Nia masih kemungkinan besar masih berada di kota itu. Tidak ada pembelian tiket pesawat atau tiket kereta api atas nama Nia.


Danny duduk di sisi ranjang milik Sisil. Pria itu menjentikkan jari jarinya ke ranjang sambil memikirkan rencana apa yang terlebih dahulu yang akan dia jalankan untuk mengetahui keberadaan Nia.

__ADS_1


__ADS_2