Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Lembaran baru


__ADS_3

"Masuk," perintah Evan kepada Danny yang sudah berdiri di samping mobilnya. Danny mengerutkan keningnya. Kakaknya itu baru saja memerintahkan dirinya untuk keluar dari ruangannya. Dan kini tanpa penjelasan apapun. Evan dengan dingin menyuruh dirinya masuk ke dalam Mobil.


"Masuk?. Untuk apa?. Aku sangat sibuk Hari ini. Bentar lagi ada meeting."


"Aku bilang masuk."


"Kasih alasan dulu. Baru aku masuk." Evan mengulurkan tangannya menggapai Danny yang masih tidak bersedia masuk ke dalam Mobil.


"Masuk atau kuping kamu ini yang lepas," kata Evan sambil menarik kuping adiknya dengan sedikit kencang.


"Oke. Oke. Tapi lepas dulu." Evan melepaskan tangannya dari kuping Danny.


Danny masuk dan membuka pintu mobil bagian belakang dengan menggerutu tidak jelas.


"Batalkan meetingnya atau tunda tiga jam lagi," kata Evan lagi. Evan sudah menjalankan mobilnya.


"Tidak bisa. Seenaknya saja kamu mengatur aku."


"Kalau tidak mau. Ya sudah. Yang pasti apa yang ingin Kita bicarakan nantinya tidak sebentar. Jika tidak mau kehilangan proyek sebaiknya tunda meeting kamu itu."


Evan berkata dengan tegas. Makin kesini Danny bisa melihat jika cara kakaknya itu berbicara mirip dengan kakek Martin. Mau tidak mau. Akhirnya Danny menunda meeting itu sampai besok pagi.


"Good job adikku. Apa tidak sebaiknya meeting itu ditunda sampai minggu depan. Kali saja kamu dalam satu minggu ini sibuk dengan sesuatu yang membuat kamu bahagia nantinya."


"Apa sih. Tidak jelas. Berbicara itu yang jelas bro. Aku mendengar kamu seperti kumur kumur saja."


"Tenang saja Danny. Nanti akan ada fakta yang menjelaskan semuanya. Sekarang kamu siapkan saja mental untuk mendapatkan kejutan yang sangat berharga."


"Fakta?. Kejutan apa maksud kamu?.


"Nanti kamu akan tahu."


"Beritahu sekarang atau aku turun sekarang."


"Silahkan. Tapi kami berdua tidak tanggung jawab jika kamu terluka. Karena mobil ini hanya berhenti di lampu merah dan tempat tujuan."


Anggita menggelengkan kepalanya mendengar Evan dan Danny yang berdebat bagai anak anak. Sedangkan Danny terlihat kesal melihat kakaknya itu. Berkali kali dia melayangkan tinju ke sandaran kursi yang diduduki oleh Evan.


"Untuk apa kita kemari?" tanya Danny setelah tiba di depan rumah Nia.


"Untuk mengingatkan kamu akan sesuatu hal," jawab Evan ketus.


"Jangan sok ketus seperti itu. Nanti Anggita jadi tidak bersedia balik lagi kepada kamu."


Evan langsung menatap Anggita yang sedang membuka pintu mobil dan kini membelakangi Evan hendak turun dari mobil tersebut.


Mereka bertiga disambut Nia dengan wajah yang gugup. Setelah duduk di ruang tamu. Nia terus menundukkan kepalanya. Wanita itu sudah menduga jika kedatangan Evan, Danny dan Anggita berkaitan dengan masalah yang dia hadapi.


Sama seperti Nia, Danny juga menduga jika berkumpulnya mereka disini berkaitan dengan kejadian satu bulan yang lalu. Danny jelas masih mengingat kejadian panas yang dia alami bersama Nia. Kegiatan panas yang seperti mimpi ternyata adalah kenyataan.


"Apa kamu tidak bisa menebak keberadaan Kita di rumah ini Danny?" tanya Evan tajam. Matanya tidak lepas dari wajah Danny dan Nia.


Danny tidak menjawab. Pria itu kini terlihat seperti orang bodoh.


"Nia Hamil. Berikan tanggapan kamu tentang kehamilan Nia, Danny."

__ADS_1


Danny langsung mengangkat kepalanya melihat Nia yang terlihat masih menundukkan kepalanya. Walau dia mengingat kegiatan panas itu. Tapi untuk kehamilan Nia ini tidak terpikir oleh dirinya sendiri.


"Maafkan aku kak," kata Danny tulus. Wajahnya terlihat merasa bersalah.


"Kamu mengulangi kesalahan yang salah. Yang lebih parahnya lagi. Kamu melakukan kesalahan itu dengan calon dari papa Rendra."


Danny mengusap wajahnya kasar. Masalah ini terlalu rumit karena bukan hanya sekedar bertanggung jawab. Ada perasaan seseorang yang harus hancur mengetahui kejadian ini nantinya. Danny kemudian menatap Nia yang kini sudah terisak. Danny sangat sadar jika dirinya dijebak oleh Nia. Tapi untuk mengalahkan Nia saat ini adalah tindakan yang tidak dewasa. Itulah sebabnya Danny tidak berusaha membela diri atas semua perkataan kakaknya itu.


"Ah pria seperti apa Kita ini Danny. Aku pernah berpikir jika perceraianku adalah Hal terakhir yang membuat keluarga kakek Martin malu. Tapi dua hari lagi. Mungkin Kita akan menanggung malu bersama sama karena pernikahan papa Rendra dibatalkan. Dan akan semakin malu lagi jika ketahuan jika pernikahan itu batal karena kamu menghamili calon mempelai wanita."


Evan memijit keningnya karena masalah ini terlalu rumit. Entah bagaimana nantinya Rendra menanggapi pembatalan pernikahan ini.


"Berbicara lah Nia. Aku ingin mendengar kamu bersuara," perintah Evan lagi. Tapi Nia tidak berani untuk berbicara.


"Dimana otak kalian berdua melakukan hal itu. Kalian berdua sama sama pengkhianat. Dan kamu Nia. Mengapa kamu tega mempermainkan perasaan papa ku. Kamu adalah seorang wanita. Seharusnya kamu bisa menjaga harga diri. Dalam hal ini. Aku mengatakan kamu adalah orang yang paling bersalah dalam hal ini."


"Maafkan aku Pak Evan," kata Nia dengan terisak. Dia sadar jika masalah ini adalah kesalahannya. Kesalahan karena tidak berani tegas membatalkan pernikahan hingga menjebak Danny.


"Apakah kamu menginginkan Danny bertanggung jawab?" tanya Evan. Nia kembali menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menjawab pertanyaan itu.


"Dan kamu Danny. Katakan!. Apa yang harus kamu lakukan sebagai pertanggungjawaban kepada Nia."


Danny juga tidak menjawab. Hatinya sangat sibuk membayangkan bagaimana tanggapan keluarga besar nanti mengetahui kenyataan ini.


"Nikahi Nia, Danny."


Danny dan Nia sama sama mengangkat kepalanya.


"Kak?.


Evan berkata dengan tegas dan tepat. Dia tidak ingin Danny terlalu berpikir panjang untuk menikahi Nia karena itu yang semestinya yang harus dilakukan oleh Danny sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada Nia dan janin tersebut.


"Baiklah. Tapi aku ingin berbicara berdua dengan Nia," jawab Danny lesu. Nia tidak langsung lega mendengar perkataan Danny. Terlihat seperti terpaksa di wajah dan perkataan pria tersebut.


"Oke Danny. Kami menunggu kalian berdua di mobil. Satu hari ini masalah kalian ini harus tuntas."


Evan beranjak dari duduknya diikuti Anggita. Wanita itu hanya menjadi penonton yang baik tadi.


"Maaf kak," kata Nia setelah tinggal mereka berdua di dalam rumah itu.


"Apa kamu Kira, dengan kata maaf bisa mengatasi masalah?" tanya Danny tajam. Nia sampai merinding melihat tatapan tajam Danny yang lebih mengerikan dari tatapan tajam Evan.


"Sekarang aku mengerti. Tujuan kamu menjebak aku untuk menghindari pernikahan dengan om Rendra kan?. Kalau kamu ragu. Seharusnya bukan seperti itu jalannya Nia. Tapi lihat. Karena otak licik kamu. Aku kembali melemparkan lumpur ke wajah orang tuaku," kata Danny frustasi. Pernikahan pertamanya karena kecelakaan hamil terlebih dahulu kini dia harus menikah lagi karena alasan yang sama. Yang lebih parahnya pernikahan ini tanpa cinta.


"Maaf kak, kalau kakak tidak bersedia menikahi aku juga tidak apa apa. Aku sanggup menghadap kenyataan ini sendiri."


"Pintar sekali kamu Nia. Kamu Kira kehidupan ini kamu yang mengatur."


"Kak."


"Terima takdir kamu dan jalani. Aku akan tetap menikahi kamu. Dan kamu mengetahui dengan jelas jika Kita tidak saling mencintai. Jadi itu adalah tugas kamu setelah Kita menikah nanti. Berusaha keraslah membuat aku bisa jatuh cinta kepada kamu. Asal kamu tahu selama ini aku berharap jika pernikahan kedua aku nantinya adalah pernikahan terakhir dalam hidup ku."


"Aku akan berusaha kak. Tapi aku juga memohon. Walau kakak belum mencintai aku. Tolong aku hargai pernikahan Kita nantinya kak," jawab Nia. Danny menganggukkan kepalanya. Dalam hati Nia merasakan lega mendengar perkataan Danny yang memberikan kesempatan kepada dirinya untuk berusaha membuat Danny jatuh cinta kepadanya. Nia merasakan jantungnya berdetak kencang ketika Danny menatap dirinya. Nia memang sudah jatuh hati kepada pria jangkung itu sejak bertemu pertama kalinya.


Evan berusaha keras memberikan pengertian kepada Rendra. Kini mereka sudah berada di rumah nenek Rieta. Evan sudah berkali kali mengarahkan pembicaraan ke arah pembatalan pernikahan tapi tidak berhasil. Rendra terlalu bahagia membicarakan pernikahannya yang sudah rampung hampir sembilan puluh persen.

__ADS_1


Melihat binar di wajah Rendra membuat Danny dan Nia merasa bersalah. Terutama dengan Nia.


"Papa, papa pernah tahu atau mendengar istilah jodoh itu misteri."


"Pernah. Emang kenapa?"


"Papa. Jodoh itu bukan Kita yang mengatur. Termasuk jodoh papa. Sebenarnya Nia ingin memberitahukan sesuatu kepada papa," kata Evan. Evan memberikan isyarat kepada Nia dan Danny untuk berbicara.


"Maafkan aku Pak," kata Nia sambil menangis.


"Maaf untuk apa Nia?" tanya Rendra.


Aku tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan itu Pak." Rendra menatap mereka yang ada di ruang tamu itu secara bergantian. Nia melanjutkan perkataannya dan mengatakan keadaan dirinya saat ini.


Rasa kecewa jelas terlihat di wajah pria itu mengetahui kenyataan saat ini. Danny tidak berani mengatakan apapun melihat kekecewaan pria tua itu.


Evan dan Anggita meninggalkan Danny dan Nia berjuang mendapatkan maaf dan restu dari Rendra. Evan merasa jika dirinya hanya bisa ikut campur sampai di tahap ini. Jika Rendra belum menerima perbuatan Nia dan Danny adalah hal wajar mengingat dirinya dan Nia sudah merencanakan pernikahan dua Hari yang lagi.


"Menurut kamu. Apa aku sudah melakukan hal yang benar Anggita?" tanya Evan. Kini mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah Gunawan.


"Sudah mas."


"Aku sangat kagum kepada mereka berdua. Walau belum saling mencintai tapi mereka berani mengungkapkan isi hati masing masing demi pernikahan itu nantinya. Bukan seperti aku yang langsung melakukan kesalahan di awal Kita bertemu dulu."


Evan dan Anggita memang tidak sengaja mendengar pembicaraan Danny dan Nia saling mengutarakan harapan mereka dalam pernikahan nantinya. Andaikan waktu bisa diputar kembali Evan akan melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh Danny daripada membuat perjanjian setelah pernikahan.


"Apa kamu benar benar menyesali perbuatan kamu di masa lalu mas?"tanya Anggita.


"Bukan hanya menyesali tapi sangat menyesali. Tapi sayangnya penyesalan itu tidak berarti apa apa."


"Apa kamu menyesali karena ada Cahaya diantara Kita mas?"


"Tidak, Aku menyesal jauh sebelum mengetahui Cahaya ada. Aku menyesal karena aku menyadari jika aku sudah mencintai kamu. Bahkan sangat mencintai hingga aku berkali Kali menyalahkan diriku sendiri. Sejak kepergian kamu. Aku belum mengetahui ada Cahaya. Tapi aku sudah berjanji dalam hati untuk mendapatkan kamu kembali."


Anggita menatap Evan yang serius memperhatikan jalan. Anggita dapat melihat jika mantan suaminya itu agak kurus dan tidak terawat. Rambut yang agak sudah memanjang dan juga kumis yang belum juga dicukur.


"Laki laki memang pintar menggombal," kata Anggita sambil terkekeh. Seketika Anggita bingung karena Evan menghentikan mobilnya di tepi jalan yang agak sepi.


"Ini bukan gombalan Anggita. Ini adalah kenyataan," kata Evan sambil memajukan dirinya kepada Anggita supaya Anggita bisa mendengar detak jantungnya.


"Apa yang ingin kamu lakukan mas?" tanya Anggita bingung.


"Aku melakukan ini supaya kamu bisa mendengar detak jantung ku," jawab Evan. Pria itu bahkan berani menarik tangan Anggita dan meletakkan telapak tangan itu di dadanya sendiri. Bagai kilat yang menyambar. Evan membawa punggung tangannya mantan istrinya ke bibirnya. Mencium punggung tangan itu dengan lembut sambil menatap Anggita penuh cinta.


"Mari kita saling membuka diri Anggita. Jangan biarkan Cahaya memiliki papa tiri. Kamu sudah mengalami hal buruk tentang sosok seorang papa tiri dan juga dokter Angga. Jangan itu sampai terjadi kepada Cahaya. Percaya lah kepadaku. Mari Kita membuka lembaran baru untuk kehidupan Kita bertiga. Aku, kamu dan Cahaya," kata Evan penuh harap. Tangan Anggita masih berada di tangannya walau Anggita dengan halus sudah berusaha menarik tangannya itu.


"Lembaran baru seperti apa yang kamu maksud mas?" tanya Anggita. Dia tidak berani menatap Evan yang terus menatap wajahnya.


"Lembaran baru yang Kita awali dengan saling membuka diri untuk saling mengenal satu sama lain. Aku tidak akan terburu buru mengajak kamu menikah kembali. Karena Kita menikah dulu karena dijodohkan. Aku ingin Kita berpacaran terlebih dahulu. Anggita, maukah kamu berpacaran dengan aku?"


Evan menatap Anggita tanpa berkedip menunggu jawaban wanita itu. Sungguh ini adalah momen yang sangat mendebarkan di sepanjang perjalanan hidupnya hingga saat ini.


Anggita menoleh ke arah Evan. Mencari keseriusan di wajah pria yang pernah menyakiti dirinya. Berkali kali, Evan mengajak dirinya untuk kembali bersama tapi hanya Kali ini Anggita terlihat memikirkan perkataan Evan. Selama ini Anggita langsung menjawab dengan pasti jika dirinya tidak mau rujuk dengan Evan. Tapi Kali ini lidahnya seakan tertahan untuk mengucapkan hal yang sama menolak sang mantan.


"Baiklah mas. Aku bersedia. Kita pacaran terlebih dahulu."

__ADS_1


"Yes. Terima kasih sayang," kata Evan cepat kemudian Evan kembali mencium punggung tangan Anggita. Dari sorot matanya Evan terlihat sangat bahagia. Sedangkan Anggita tidak merona sama sekali mendengar kata sayang dari mulut Evan. Dia setuju berpacaran dengan Evan karena dia ingin membuka hati kepada pria itu. Dan juga ingin membuktikan jika Evan benar benar sudah berubah dan mencintai dirinya. Selain itu, Anggita sadar tidak ada pria manapun yang lebih tulus menyayangi putrinya selain ayah kandungnya sendiri.


__ADS_2