
Menyakiti itu mudah. Mencari musuh itu gampang. Tapi satu hal yang sulit. Membuat orang yang disakiti bisa kembali percaya kepada orang yang menyakiti. Hal itu dirasakan oleh Evan saat ini. Dulu dengan mudah dirinya menyakiti Anggita. Tapi sekarang, Evan sangat kesulitan untuk membuktikan jika dirinya menyesal dan ingin berubah.
Evan harus terima jika dirinya sudah dianggap orang lain bagi Anggita. Urusan mereka hanya sekedar anak. Dan sebenarnya Anggita juga tidak terlalu mengharapkan campur tangan Evan dalam memenuhi kebutuhan anaknya. Tapi karena sudah terlanjur ketahuan, Anggita tidak tega memutuskan ataupun menjauhkan putrinya dengan Evan. Dan Anggita menjaga ketat batasan dirinya dengan sang mantan.
Anggita tiga hari menjalani perawatan di rumah sakit dan ini adalah hari ketiga. Nanti sore, Anggita dan bayinya sudah dijadwalkan untuk pulang. Dan tiga hari ini Evan juga berada di Kota kecil itu. Dia bahkan menyuruh Rico untuk kembali ke kota untuk mengurus perusahaan miliknya. Penolakan Anggita akan ajakan rujuk tidak membuat Evan langsung menyerah. Selama tiga hari ini, Evan selalu memberikan perhatian lebih untuk mantan istrinya. Tapi sayang, Anggita menganggap perhatian tulus itu hanya sebagai perhatian biasa.
Sama seperti Evan. Dokter Angga juga selalu memberikan perhatian kepada Anggita. Selama tiga hari itu, Dokter Angga selalu menyempatkan dirinya untuk ke ruangan Anggita. Melihat Evan ada di ruangan itu. Dokter Angga pun membatasi perhatiannya. Bukan menyerah atau tidak percaya diri bersaing dengan Evan. Tapi pria itu berpikir jika Evan memang lebih pantas ada di ruangan itu dibandingkan dirinya. Anggita melahirkan darah daging Evan. Alasan kuat bagi Evan untuk selalu menemani Anggita dibandingkan dirinya yang hanya berstatus sebagai pengejar cinta Anggita.
Seperti saat ini, dokter Angga kembali ke ruangan Anggita. Bukan kunjungan pribadi melainkan visit sebagai dokter spesialis kandungan untuk pasiennya.
"Selamat siang," sapa Dokter Angga sambil tersenyum. Anggita yang sudah bisa duduk menjawab sapaan dokter itu hampir serentak dengan Evan yang menjawab sapaan sang Dokter.
"Bisa berbaring dulu Anggita?" pinta Dokter Angga. Sebelum pulang beberapa jam lagi dokter harus memastikan terlebih dahulu bekas operasi itu. Apakah sudah bagus atau masih perlu perawatan khusus di rumah sakit itu.
Evan mengulurkan tangannya hendak membantu Anggita berbaring. Anggita masih terlihat kesulitan ketika hendak berbaring ataupun bangun dari tidurnya.
"Aku bisa sendiri mas," kata Anggita sambil berusia sendiri untuk berbaring. Evan tidak bisa berbuat apa selain hanya menatap wanita itu. Anggita benar benar menjaga jarak dengan dirinya.
Dokter Angga menyuruh perawat untuk menyingkapkan piyama Anggita. Kemudian dokter Angga memeriksa bekas luka operasi itu. Evan yang tidak jauh berdiri dari dokter Angga mencoba untuk melihat bekas luka itu. Pria itu seketika merinding melihat bekas luka itu. Ketika perawat mengganti perban. Evan bisa melihat luka operasi itu dengan jelas.
Evan langsung mundur beberapa langkah. Dua Hari yang lalu dirinya dan mama Feli melihat bagaimana Anggita merasakan kesakitan. Dan Hari ini dia bisa melihat penyebab dari rasa sakit tersebut. Dia kemudian menatap Anggita dengan raut wajah yang tidak terbaca. Evan benar benar menyadari jika kebahagiaan dirinya menjadi seorang ayah. Ada pengorbanan seorang Anggita yang tidak bisa dibalas dalam hal apapun.
Kini tidak hanya rasa bersalah yang hinggap di hatinya. Evan juga merasakan rasa sayangnya kepada Anggita semakin bertambah. Tidak perduli dirinya hanya sebagai mantan suami. Pria itu bertekad akan menjadikan Anggita menjadi miliknya kembali.
"Tidak Ada masalah. Obatnya teratur dimakan Dan jangan sampai terlewat," kata Dokter Angga setelah perban itu selesai diganti. Anggita hanya menganggukkan kepalanya dengan kaku. Dokter Angga sudah memegang perutnya membuat Anggita malu. Dia tidak berani bertatapan dengan Dokter itu.
"Siapa nanti yang mengantar pulang?" tanya Dokter Angga lagi. Seandainya Evan tidak ada di ruangan itu. Dokter Angga pasti tidak akan menanyakan itu. Dia akan menawarkan diri untuk mengantarkan Anggita dan bayinya pulang ke rumah. Lagi lagi dokter Angga menghargai Evan.
"Aku sendiri Dokter," jawab Evan cepat. Dia sudah berjanji dalam hatinya tidak akan membiarkan Anggita dan putrinya ada masalah sedikit pun termasuk hal kepulangan dari rumah sakit tersebut.
"Oke baiklah," kata dokter Angga. Pria itu langsung pamit kepada Anggita dan Evan setelah terlebih dahulu melemparkan senyum manis kepada ibu muda itu.
Evan benci akan keadaan itu. Melihat Anggita membalas senyuman itu. Evan juga ingin melihat senyuman Anggita untuk dirinya. Selama tiga hari ini menemani Anggita. Evan tidak pernah melihat senyuman wanita itu untuk dirinya. Anggita bersikap datar kepada dirinya. Evan benar benar merasakan dirinya seperti orang lain. Dan Evan memaklumi sikap Anggita itu karena perbuatan dirinya di Masa lalu.
"Tidak perlu mengantar kami pulang mas. Kami bisa naik taksi," tolak Anggita setelah dokter dan perawat itu sudah pergi dari ruangan itu. Kini hanya mantan suami istri itu di ruangan. Sebenarnya Anggita tidak senang dengan situasi ini. Mama Feli terlalu sibuk di rumah mempersiapkan kedatangan cucu kesayangannya.
"Biarkan aku melakukan tanggung jawabku Anggita. Jangan buat aku menjadi pria yang tidak berguna bagi putri kita dan kamu. Aku siap membantu kamu dalam hal apapun. Jangan pernah sungkan. Aku adalah ayah dari bayi Kita. Jangan lupakan itu."
__ADS_1
"Tidak perlu mas. Fokuslah untuk kebahagiaan kamu dan pekerjaan mu. Tanpa tanggung jawab kamu terhadap putriku. Kamu tetap ayah biologisnya. Tolong biarkan aku mandiri dalam segala hal termasuk dalam hal putriku.
"Apa maksud kamu Anggita?.
Evan bisa menangkap hal tersirat atas perkataan mantan istrinya. Tapi dia ingin mendengar langsung maksud perkataan dari Anggita.
"Tolong jangan ganggu kami mas. Jujur, aku sangat bahagia menjalani hidupku saat ini. Aku bisa mengurus bayi kita. Aku berjanji akan menceritakan dirimu kepada bayi kita kelak."
"Apa aku pengganggu bagi kamu?" tanya Evan sedih.
"Sebenarnya, kalau boleh jujur. Melihat kamu disini. Aku terkenang dengan masa dimana diriku menjadi istrimu. Mas, aku butuh ketenangan untuk proses penyembuhan ini. Tolong. Aku minta tolong mas. Aku tidak nyaman jika kamu ada di sekitarku."
Apa yang dikatakan oleh Anggita apa adanya. Dia tidak hanya menahan sakit karena operasi itu. Tapi Anggita juga berusaha keras untuk mengelola pikirannya dengan baik supaya hatinya baik baik saja. Melihat Evan, sebenarnya membuat Luka hatinya yang hampir sembuh kini kembali meradang. Sebelum proses persalinan, Anggita sudah hampir terlupa akan Masa lalu rumah tangganya. Tapi perhatian demi perhatian yang diberikan Evan kepadanya mengingat luka yang diciptakan pria itu sendiri. Sungguh, dia tidak menyukai perhatian itu. Lebih baik tidak melihat Evan sama sekali daripada menerima perhatian dari mantan suaminya itu.
"Anggita. Apa segitu dalamnya sakit hatimu sehingga aku sebagai pengganggu bagi kamu. Aku akan buktikan jika aku sudah berubah Anggita. Akan lebih menghargai dan menyayangi kamu. Berikan aku kesempatan kedua. Bibi Ani menjadi saksi betapa aku merindukan kamu setelah perpisahan ini. Aku baru sadar akan cintaku kepada kamu setelah kamu pergi. Dan aku sadar ternyata jika aku yang paling tersakiti atas perbuatanku kepada kamu. Aku yang kehilangan kamu. Bukan kamu yang kehilangan aku. Anggita, seperti aku yang menyadari rasa cintaku kepada kamu. Apa tidak ada rasa cinta yang tumbuh di hati kamu selama kita menjadi suami istri?" tanya Evan sedih.
"Mas, menurut kamu. Apa cinta itu bisa tumbuh jika perlakuan yang tidak baik hampir setiap hari yang aku terima. Aku serba salah bagi kamu. Duduk salah, berdiri salah. Perhatian salah tidak perhatian semakin salah. Aku memperlakukan dirimu dengan baik di meja makan dan di ranjang. Tapi apa yang aku terima. Kamu menganggap aku sebagai pengobral tubuh. Kamu melemparkan Surat perjanjian perceraian di saat aku berjuang melawan morning sickness. Kamu memasukkan wanita impian ke rumah di saat aku masih sah masih istrimu. Kamu merencanakan program hamil dengan wanita itu di saat aku sudah mengandung benih kamu. Kamu percaya begitu saja ketika aku difitnah dan dijebloskan ke dalam penjara. Kamu menyebut aku sebagai pembunuh karena terlalu percaya dengan perkataan wanita itu. Mas, aku sengaja mengorbankan anakku demi kebahagiaan kamu bersama wanita itu. Kejar lah kebahagiaan kamu mas. Jangan sia siakan pengorbananku."
"Anggita." Evan merasakan hatinya berdenyut nyeri mendengar Anggita menyebut satu persatu kesalahannya di masa lalu.
"Aku belum selesai berbicara mas. Mas, jalan Kita sudah berbeda. Jujur, tidak ada cinta sedikitpun di hati ini untuk kamu mas. Yang ada adalah luka. Aku hanya manusia biasa. Akan terluka jika disakiti dan akan tersentuh jika dihargai. Ke depannya hubungan kita hanya karena putri Kita. Kejarlah kebahagiaan kamu mas. Supaya pengorbanan aku tidak sia sia."
"Jangan berjuang untuk aku mas. Karena perjuangan kamu tidak akan meluluhkan hatiku."
"Tapi itu janjiku. Aku akan menghukum diriku sendiri atas kebodohan dan kesalahan aku kepadamu dan putri Kita. Ingat lah ini Anggita. Aku bekerja demi kalian berdua dan aku tidak akan menikah lagi jika tidak dengan kamu." Evan berjanji dengan sungguh sungguh.
"Jangan berlebihan berjanji mas. Tidak bagus itu."
"Aku serius Anggita. Aku ingin menjadi pria bertanggung jawab bagi istri Dan anakku. Tidak adil rasanya jika aku berubah tapi orang lain yang merasakan perubahan itu. Kamu boleh percaya atau tidak. Waktu akan menjawabnya. Dan aku mohon. Jangan menutup akses antara aku dan putri Kita. Jika kamu belum bersedia rujuk denganku. Ijinkan aku bertanggung jawab untuk putri Kita. Dan aku akan sabar menunggu sambil berusaha meluluhkan hati kamu."
"Akan aku pikirkan mas. Tapi untuk beberapa minggu ke depan biarkan aku tenang dalam penyembuhan ini. Untuk kembali dengan kamu. Aku tidak bisa memberikan harapan untuk it. Aku mohon kamu mengerti," kata Anggita mengulang perkataannya. Evan tidak menjawab. Pria itu hanya menatap Anggita dengan sendu. Pembicaraan mereka memang tanpa amarah dari Anggita dan dirinya. Tapi pembicaraan itu bisa membuat Evan terjatuh ke jurang yang paling dalam. Anggita benar benar tidak memberikan dirinya kesempatan kedua.
Sore Hari tiba, atas bujukan Evan. Anggita akhirnya bersedia diantar oleh Evan pulang ke rumah. Anggita bersedia diantar bukan karena sudah berubah pikiran memberikan Evan kesempatan. Tapi wanita itu terlalu malas berdebat di lobby rumah sakit itu hanya urusan pulang. Anggita tidak ingin menjadi tontonan para karyawan rumah sakit dan para pasien lainnya.
"Kafe bintang?" tanya Evan heran ketika Anggita memberitahukan alamatnya kepada Evan.
"Kenapa nak Evan?" tanya mama Feli yang juga ada di dalam mobil itu. Mama Feli bisa menangkap rasa heran yang ditunjukkan oleh mantan menantunya itu. Sikap mama Feli juga terlihat melunak kepada mantan mertuanya itu. Wanita tua itu sadar bahwa dirinya harus berdiri diantara Evan dan Anggita. Dia tidak boleh memihak salah satu karena ada bayi perempuan diantara mantan suami istri itu.
__ADS_1
"Dua bulan yang lalu, aku dan Rico sangat ingin singgah di kafe ini bu. Tapi karena masih jam sepuluh Kafe ini belum buka. Dua jam kemudian kami hendak singgah juga tapi bangku kosong karena ada yang membooking kafe untuk ulang tahun. Ternyata itu adalah tempat tinggal kalian." Evan menyadari jika ikatan batin antara bayinya dan dirinya sangat kuat.
"Dua bulan lalu, juga kamu sudah kemari?" tanya mama Feli lagi. Evan menganggukkan kepalanya. Tanpa diminta pria itu menceritakan tentang ibu Lastri hingga alasan tiga hari yang lalu dia berada di Kota ini. Duka yang dirasakannya karena kehilangan ibu Lastri membawa dirinya bertemu dengan Anggita dan bayinya.
Anggita yang sejak masuk Mobil hanya diam bisa mendengar cerita mantan suaminya itu. Awalnya dia berpikir jika keberadaannya diketahui oleh Evan. Anggita menduga jika Danny lah yang membuka rahasia tentang keberadaannya.
Evan juga melanjutkan ceritanya hingga dia dan Rico berada di rumah sakit. Mulai beberapa bulan ini yang sering merasakan sakit perut yang aneh hingga tiga hari yang lalu sakit perut itu seakan tidak tertahankan.
"Ikatan batin kamu dan putri kalian terlalu kuat nak. Jika suatu saat kamu menemukan kebahagiaan kamu dengan wanita lain. Tetaplah mengingat jika kamu mempunyai seorang putri dari Anggita. Jangan pernah lupakan dia. Putri kalian sudah berjuang untuk tumbuh dan berkembang di rahim ibunya dengan berbagai ancaman."
Evan tetap fokus memegang setir tapi tidak menanggapi perkataan mantan ibu mertuanya. Kebahagiaan yang diinginkannya bukan kebahagiaan bersama wanita lain melainkan kebahagiaan bersama Anggita dan putrinya.
Evan menatap Anggita dari spion yang duduk di bangku belakang. Evan memelankan laju mobilnya karena melihat Anggita memegang perutnya. Evan takut laju mobilnya itu membuat Anggita kesakitan di area luka operasi itu.
Sesampai di depan rumah. Evan langsung cepat turun dari mobil dan membuka pintu mobil depan untuk mama Feli yang sedang menggendong si bayi. Setelah mama Feli turun dari mobil. Evan langsung menghampiri pintu belakang dan terlihat Anggita berusaha turun dari Mobil tersebut.
"Pegang tanganku Anggita," kata Evan setelah wanita itu menutup pintu.
"Aku bisa sendiri mas." Anggita berusaha berjalan pelan menuju rumah. Dia menoleh ke pekarangan kafe sebelum melanjutkan langkahnya. Di Pekarangan itu banyak terparkir motor membuat Anggita tersenyum.
Anggita kembali melangkahkan kakinya. Baru beberapa langkah, Anggita merasakan di sekitarnya gelap. Anggita merasakan kepalanya pening luar biasa.
"Anggita," kata Evan cepat dan menahan kedua tangan Anggita supaya tidak terjatuh. Anggita tidak merespon. Melihat kedua mata milik Anggita tertutup. Evan langsung menggendong wanita dengan hati hati menuju rumah.
"Apa yang terjadi?" tanya mama Feli terkejut. Wanita itu baru saja meletakkan bayi mungil itu di boks bayi.
"Sepertinya dia pingsan ibu," kata Evan juga panik. Dia membawa Anggita ke kamar yang pintunya sudah dibuka oleh mama Feli. Dia langsung mencari minyak kayu putih di tas bayi milik putrinya. Evan dengan sabar mengoleskan minyak kayu putih itu ke hidung wanita itu dan ke telapak kakinya.
"Bangun Anggita." Evan terlihat sangat khawatir melihat kondisi Anggita saat ini.
"Bangun nak."
Evan dan mama Feli berusaha membangunkan Anggita secara bersamaan.
Hanya dua puluh menit, Anggita dalam mode tidak sadar itu. Evan langsung bersyukur ketika Anggita sudah sadar. Evan dan mama Feli sama sama menarik nafas lega.
"Mas, kamu kok masih disini?" tanya Anggita terkejut. Pertanyaan itu membuat Evan merasa tidak berharga dan merasa sedih.
__ADS_1
"Ini juga mau pulang." Evan seketika mengingat perkataan Anggita yang tidak menginginkan dirinya karena ingin tenang dalam masa penyembuhan.