Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Kebaikan Anggita


__ADS_3

Hari pertama sebagai suami istri. Karena kelelahan melayani Evan tadi malam. Anggita terbangun jam delapan pagi. Wanita itu terkejut karena Hari sudah terang. Anggita duduk dan langsung menyingkapkan selimutnya. Anggita bergegas keluar dari kamar. Dia menyesali dirinya yang tidak menunjukkan baktinya sebagai istri yang baik di hari pertama resmi menjadi suami istri.


"Selamat pagi mas," sapa Anggita kepada Evan yang sedang bermain dengan Cahaya di ruang tamu.


"Eh, pagi sayang?. Sudah bangun?" tanya Evan. Anggita hanya tersenyum kemudian balik ke kamar. Evan terkekeh melihat wajah bantal istrinya.


Tidak lama kemudian, Anggita keluar lagi dari kamar. Kini wanita itu jauh lebih cantik. Aroma tubuhnya memancarkan wangi sabun merek terkenal.


"Maaf mas, aku telat bangun," kata Anggita merasa bersalah dan langsung menuju ke dapur. Di rumah itu belum ada jasa asisten rumah tangga. Anggita berpikir jika Evan belum sarapan pagi ini.


Evan tentu saja tidak marah hanya karena hal itu. Evan mengerti jika Anggita kurang tidur tadi malam. Setelah melayani dirinya, Anggita harus terbangun beberapa kali membuat susu untuk Cahaya.


"Mas Evan, ini untuk siapa?" teriak Anggita dari dapur. Di meja makan sudah tersedia sarapan berbagai jenis. Dari roti bakar, Segelas susu. Dan ada juga bubur sehat dan nasi goreng seafood.


"Untuk kamu sayang. Tidak ada yang cocok dengan selera kamu?" tanya Evan. Dia kini dekat meja makan dan Cahaya ada di gendongannya.


"Siapa yang masak ini mas?" tanya Anggita heran. Hatinya senang mendapatkan perhatian seperti ini. Evan menunjuk dadanya dengan bangga.


"Benarkah?" tanya Anggita tidak percaya.


"Roti bakarnya saja. Bubur dan nasi goreng. Aku pesan online," jawab Evan jujur. Karena ingin membuat istrinya senang. Evan sampai menyediakan tiga jenis sarapan untuk istrinya.


"Terima kasih mas. Ayo, Kita sarapan," ajak Anggita senang. Evan menganggukkan kepalanya kemudian duduk di bangku. Sedangkan Cahaya juga sudah duduk di bangku khusus bayi. Kemudian Evan melayani suaminya dengan senyuman manis.


Meraka sarapan sambil berbincang santai. Topik pembukaan mereka masih terkait dengan penataaan perobot rumah yang masih asal letak dan juga penataaan pekarangan rumah yang masih luas di depan dan di belakang rumah.


"Jangan terlalu lelah sayang. Untuk urusan kafe. Aku rasa biarkan orang orang kepercayaan kamu yang mengurus. Aku memastikan Bronson dan Dokter Angga tidak berani berkutik kepada keluarga Kita. Baru kamu boleh beraktivitas di luar rumah," kata Evan.


"Mas, aku ingin mengatakan sesuatu. Ini di luar topik tentang kita," kata Anggita pelan. Setelah memutuskan bersedia menikah kembali dengan Evan. Ada hal yang mengganjal di pikirannya. Dan kini adalah waktu yang tepat untuk mendiskusikan hal itu dengan Evan.


"Apa itu, katakan sayang," kata Evan.


"Ini tentang kafe bintang mas," kata Anggita. Dia sadar setelah menikah, dirinya tidak mungkin menjalankan usaha itu lagi. Selain karena masih takut dengan Bronson dan dokter Angga. Anggita juga berpikir jika tidak mungkin dirinya dengan Evan berjauhan.


"Mengapa dengan kafe bintang?" tanya Evan. Anggita terlihat menarik nafas sebelum mengatakan maksudnya yang sebenarnya.


"Mas, bolehkah aku memperkerjakan Nia di Sana?" tanya Anggita pelan pelan. Dia mengetahui dengan jelas keadaan sahabatnya itu. Apalagi saat ini dengan kondisi tidak bekerja dan hamil tanpa suami. Anggita ingin membantu sahabatnya itu dari segi keuangan. Karena untuk membantu Nia memperjuangkan restu dari kedua mertuanya dan nenek Rieta rasanya tidak mungkin.


Evan menatap wajah Anggita sebelum menjawab pertanyaan istrinya itu. Tapi dalam hati, Evan semakin memuji sifat istrinya itu. Kafe bintang adalah usaha Anggita tanpa campur tangan dari keluarga kakek Martin. Walau begitu, Anggita tidak langsung memutuskan sendiri akan kelangsungan kafe tersebut.


"Kalau aku mengatakan tidak boleh. Bagaimana?"


Anggita menatap wajah suaminya dengan tatapan memohon. Evan menyadari hal itu tapi pura pura tidak melihat.


"Ya sudah, kalau tidak diijinkan. Kalau begitu bagaimana kalau aku menjualnya saja?" tanya Anggita lagi. Rumah dan kafe bintang itu memang sudah atas nama Anggita sejak tiga bulan yang lalu. Evan kembali menatap Anggita. Yang dia tahu, Anggita hanya sebagai penyewa di rumah dan kafe tersebut.


"Mengapa harus dijual?" tanya Evan lagi. Dia ingin memancing Anggita akan kejujuran wanita itu terkait dengan kepemilikan rumah tersebut.


"Sebenarnya hanya itu aset yang aku beli dengan uang sendiri mas. Jika kamu tidak setuju Nia di Sana. Aku berpikir sebaiknya di jual saja. Rasanya aku tidak sanggup jika harus mengurus dua kafe sekaligus di Kota yang berbeda. Belum lagi, kalau misalnya nanti aku hamil lagi."


Evan bangkit dari duduknya. Dia memutari meja makan. Evan langsung memeluk Anggita dan menciumi wajah istrinya itu.


"Terima kasih karena menjadikan aku sebagai pria terhormat. Aku merasa beruntung memiliki istri yang sangat menghargai diriku. Anggita, Tentang kafe bintang. Jika kamu merasa Nia yang menjadi penanggung jawab di sana. Tentu saja aku tidak keberatan. Tapi jika kamu menjualnya aku juga tidak keberatan," kata Evan senang.

__ADS_1


"Semoga adiknya Cahaya akan bertumbuh di sini secepat mungkin," kata Evan lagi. Evan mengelus perut istrinya dengan lembut. Anggita mengaminkan perkataan suaminya di dalam hati karena Anggita ingin mempunyai anak yang banyak. Dia tidak ingin Cahaya seperti dirinya yang anak tunggal.


"Mas, bolehkah aku ke rumah Nia?" tanya Anggita lagi. Sebagai sahabat, Anggita bisa mengerti jika sahabatnya itu tidak dalam keadaan baik baik saja saat ini.


"Boleh tapi jangan sendirian. Dan nanti siang saja kamu kesana. Aku mau tidur sebentar," jawab Evan. Dia kini duduk di bangku sebelah Anggita duduk.


"Kenapa kamu harus tidur dulu mas. Apa hubungannya?" tanya Anggita heran. Pikirannya sudah ke arah olahraga ranjang.


"Aku mengantuk sayang. Aku takut tidak fokus menjaga Cahaya kalau tidak tidur sebentar. Kamu sudah berpikiran yang aneh aneh kan?" tanya Evan tersenyum jahil. Anggita tersenyum malu malu karena Evan bisa menebak apa yang Ada di pikirannya.


Satu hal yang tidak diketahui oleh Anggita. Evan adalah seseorang yang selalu menepati janjinya. Seperti hari ini. Dia sudah memberikan cuti tiga hari kepada Bibi Ani maka Evan memilih menjaga Cahaya daripada melanggar janjinya.


"Tapi kalau kamu menginginkan. Mas mu ini tidak menolak. Dengan senang hati akan melayani kamu sepenuh hati."


Evan tertawa terbahak bahak karena berhasil membuat wajah Anggita merona.


"Mau?. Biar aku tidurkan Cahaya sekarang," goda Evan lagi.


"Tidak mas, nanti malam saja."


Anggita menolak tapi menyandarkan kepalanya di lengan suaminya.


"Jangan membahas hal begituan di depan Cahaya," kata Anggita lagi. Evan langsung menatap putrinya yang fokus melihat bahkan memencet mainan yang ada di depan bangkunya.


"Maaf, maaf sayang," jawab Evan dengan perasaan bersalah.


"Iya, iya mas dimaafkan. Tapi suapin dulu," kata Anggita manja. Roti bakar yang dia pilih sebagai sarapan pagi ini masih ada di hadapannya.


Siang Hari, Anggita benar benar pergi ke rumah Nia. Dia Sepemikiran dengan Tante Tiara yang juga ingin menjumpai Nia hari ini. Mereka tidak ada janji bertemu di rumah Nia. Tapi Mobil yang membawa kedua wanita baik itu hampir bersamaan berhenti di depan rumah Nia.


"Anggita."


"Mama."


"Kamu kok tidak bilang bilang mau kemari. Kan bisa kita satu mobil tadi," kata Tante Tiara.


"Aku Kira mama tidak ingin menemui Nia lagi," jawab Anggita. Tante Tiara menggandeng Anggita memasuki rumah Nia. Tante Tiara tersenyum melihat bibir bawah milik Anggita membengkak sedikit.


"Tante, Anggita."


Nia menatap tidak percaya melihat Anggita dan tante Tiara yang memasuki rumahnya.


"Nia, kamu baik baik saja kan?" tanya Anggita langsung memeluk sahabatnya itu. Sedangkan tante Tiara langsung duduk. Tapi matanya mengitari keadaan rumah. Ini yang pertama kalinya dia ke rumah ini Dan baru mengetahui keadaan Nia yang sangat sederhana.


"Duduk, Gita. Aku ambil minum dulu."


Nia sengaja menjauhkan dirinya dari hadapan tante Tiara. Nia merasa tidak sanggup jika kedatangan tante Tiara ke rumah ini untuk memojokkan dirinya.


"Ganas banget sih, anak orang," kata Tante Tiara sambil memandangi layar ponselnya.


"Kenapa ma?. Anak siapa?.


"Ini, ada anak orang. Karena ganasnya bibir istrinya jadi bengkak," kata Tante Tiara. Anggita cemberut karena dia sadar jika mama mertuanya itu menyindir dirinya. Karena foto yang ditunjukkan tante Tiara yang ada di ponsel itu adalah foto Evan.

__ADS_1


"Mama menyindir aku. Dan anak orang yang mama maksud itu Evan kan? tanya Anggita dengan wajah yang pura pura marah.


"Yea, marah ya. Kan kenyataan," jawab Tante Tiara kemudian tertawa terbahak bahak. Tante Tiara bahkan mencubit pipi Anggita karena gemas melihat menantunya yang memasang wajah cemberut. Tante Tiara tidak mengetahui jika Nia melihat kedekatan dirinya dengan Anggita dari dapur.


Nia ikut tersenyum melihat interaksi tante Tiara dan Anggita. Dia juga ingin diperlakukan seperti Anggita oleh tante Tiara. Nia merasa jika dirinya hampir sama dengan Anggita. Sama sama melahirkan cucu untuk wanita tua itu hanya status yang kini membedakan.


Dari dapur itu, kini Nia menatap Anggita dengan sendu. Anggita jauh lebih beruntung dari dirinya dari berbagai Hal. Sejak dulu, Anggita adalah sasaran Mata para laki laki. Banyak pria yang jatuh cinta pada sahabatnya itu. Sedangkan dirinya, baru pertama jatuh cinta. Cinta sesaat yang menghancurkan dirinya. Jatuh cinta kepada Danny. Dan cinta tidak berpihak kepadanya. Danny sama sekali tidak mencintai dirinya.


"Diminum tante, Anggita," kata Nia menawarkan dua gelas teh yang sudah terletak di atas meja.


"Nia, sebenarnya kedatanganku ke rumah ini. Untuk memberikan ini kepada kamu," kata Tante Tiara sambil membuka tasnya. Kemudian mengeluarkan selembar cek dari dan menyodorkannya ke Anggita.


"Tante. Maaf. Kami memang miskin dan yatim piatu. Tapi jangan perlakuan aku seperti ini Tante," tolak Nia halus.


"Nia, sebagai seorang wanita. Aku pun sesungguhnya memikirkan keadaan kamu saat ini. Aku mengerti penderitaan kamu. Tapi aku tidak membenarkan perbuatan kamu. Dan aku juga tidak bisa berbuat banyak untuk membantu kamu. Aku sudah mendengar semuanya dari Rendra. Ini tabungan pribadiku. Tolong pergunakan dengan baik untuk keperluan adik adik kamu," kata Tante Tiara tulus. Wanita itu meletakkan cek itu tepat di hadapan Nia.


"Tante, aku mohon. Sebentar lagi kandungan ini akan membesar. Aku pasti bahan gosip disini Tante. Tolong aku Tante," kata Nia. Dia berharap tante Tiara bersedia memperjuangkan restu untuk dirinya dengan Evan.


"Maaf,. kalau itu aku tidak bisa Nia."


Nia melemas. Harapan itu tidak ada lagi. Tante Tiara harapan satu satunya yang bisa menolongnya untuk menyakinkan Danny menikahi dirinya.


"Nia, bagaimana kalau kamu bekerja di kafe bintang saja. Orang orang di sana tidak usil," tawar Anggita. Tapi Nia menggelengkan kepalanya cepat.


"Aku tidak bisa meninggalkan adik adikku, Gita," jawab Nia cepat.


"Ya sudah. Hanya itu yang bisa aku bantu untuk menghindar kamu dari bahan gosip," jawab Anggita. Anggita tidak suka melihat Nia menghadapi masalah seperti ini. Mengaku malu jika menjadi bahan gosip tapi ketika ditawari solusi. Nia malah tidak bisa meninggalkan kedua adiknya. Padahal usia adik adiknya sudah dewasa.


"Rasanya aku ingin pindah sementara waktu dari tempat ini," kata Nia pelan. Anggita menatap Nia kasihan. Anggita sadar jika tidak mudah bagi Nia untuk menjalani kehidupannya saat ini.


"Nia, Kalau kamu bosan di rumah Ini. Kamu boleh berkunjung ke rumah aku," tawar Anggita. Tante Tiara langsung menundukkan wajah tidak senang dengan perkataan menantunya itu.


"Anggita, Kita pulang sekarang," ajak tante Tiara. Wanita itu langsung berdiri dan melangkah ke arah pintu utama.


"Kami pulang Nia," pamit Anggita. Dia juga langsung berdiri dan menyusul tante Tiara.


"Kita pulang sama sama. Suruh supir kamu pulang sendiri," kata Tante Tiara lagi. Anggita menuju mobilnya dan menyuruh supir itu pulang.


"Mama tidak suka kamu menawarkan Nia untuk berkunjung ke rumah mu," kata Tante Tiara tegas. Kini mereka sudah di mobil milik tante Tiara.


"Tapi kenapa ma. Nia sahabat aku. Dia pasti butuh teman curhat," kata Anggita. Dia sadar jika Evan sudah masuk kantor nantinya. Dia tidak bisa bebas seperti ini keluar rumah. Ada Cahaya yang harus dia jaga walau nantinya Bibi Ani bekerja pada dirinya.


"Anggita, dia memang sahabat kamu. Tapi mama yakin. Jika kamu tidak mengetahui sifat aslinya. Kamu harus menjada suami kamu dari wanita manapun termasuk sahabat sendiri. Kamu harus ingat, dia hamil karena menjebak Danny. Tidak tertutup kemungkinan dia akan mengulang kesalahan yang sama demi keinginannya."


"Dan satu lagi. Jangan memperkerjakan wanita muda di rumah kamu. Banyak wanita yang menghalalkan semua cara untuk hidup enak termasuk merebut suami beristri. Cari yang seperti Bibi Ani saja. Kamu mengerti kan maksud mama?" tanya tante Tiara. Anggita menganggukkan kepalanya karena memang sudah mengerti maksud perkataan mama mertuanya.


Tante Tiara merasa lega karena sudah menasehati Anggita. Tante Tiara berharap, Anggita lebih tegas dalam memperlakukan teman dibandingkan hanya menggunakan perasaan. Tante Tiara jelas mengetahui jika usul Anggita menawarkan Nia berkunjung ke rumahnya adalah sesuatu yang baik. Tapi mengingat bagaimana Nia bisa hamil, tante Tiara sudah menilai wanita itu dengan penilaian negatif.


"Mama, mengapa mama melakukan hal tadi pada Nia?" tanya Anggita. Dia ingin mengetahui apa maksud tante Tiara memberikan cek dengan nominal yang lumayan besar kepada Nia.


"Anggita, sebenarnya mama kasihan pada Nia. Tapi perbuatan dia itu membuat mama muak. Andaikan janin itu ada karena perbuatan suka sama suka. Mungkin mama juga akan meminta Danny segera menikahi dia. Danny sudah pernah bercerai. Mama ingin pernikahan yang kedua nantinya adalah pernikahan yang terakhir. Ada Sisil dan Cahaya yang harus diberi contoh yang baik," jawab Tante Tiara.


Tante Tiara terlihat sedih. Bukan hanya Nia yang menderita karena ulahnya itu. Setelah mengetahui kehamilan Nia, tante Tiara juga terus memikirkan nasib janin itu.

__ADS_1


__ADS_2