
Bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan tidak semudah dalam lisan. Kenyataannya pertanggungjawaban itu ternyata sangat susah. Seperti yang dialami oleh Nia. Wanita itu sudah berjanji dalam hati dan berjanji pada kedua adiknya untuk menerima dengan ihklas kenyataan hidup. Tapi yang terjadi. Nia masih saja dirundung kesedihan.
Tangisan kesedihan adalah lagu pengantar tidur setiap malam. Sedangkan siang hati Nia berpura pura tegar di hadapan kedua adiknya. Nia sadar, sudah membuat aib kepada keluarga mereka dan Nia tidak ingin kedua adiknya itu melihat kesedihan di wajahnya.
Nia memang tidak mengharapkan Danny lagi. Tapi kehamilannya itu menjadi beban bagi Nia. Sejak Jessi dan Santi mengetahui kehamilan itu. Nia mengurung diri di dalam rumah. Para tetangga belum mengetahui kehamilannya Nia sudah lebih dulu merasakan malu. Nia merasa jika pandangan para tetangga tertuju ke perutnya yang masih rata. Jessi dan Santi mengetahui hal itu. Tapi mereka memaklumi dan tidak memaksa Nia sesuai keinginan mereka.
Seperti hari ini, Nia berdiam diri di dalam rumah sementara tak jauh dari rumahnya, salah satu tetangga sedang menggelar pesta pernikahan. Tetangga tersebut memanfaatkan halaman rumah untuk tempat pesta pernikahan. Suasana meriah dari arah pesta tidak membuat Nia tertarik untuk ke luar. Baginya rumah adalah tempat yang paling aman untuk menyembunyikan diri dan kehamilannya.
"Mbak, jangan di rumah saja. Keluar Sana lihat orang ramai," kata Santi kepada Nia yang baru saja masuk ke dalam rumah. Nia tidak menjawab. Wanita itu tiduran di sofa dengan mata yang menerawang.
"Mbak," ulang Santi. Santi menepuk kaki kakak nya dengan pelan.
"Mbak di rumah saja. Mbak malas keluar rumah."
Santi menatap Nia dengan tatapan sedih. Tadi di luar, Santi tidak sengaja mendengar perkataan beberapa tetangganya tentang Nia. Ternyata beberapa ibu ibu mencurigai Nia hamil dan kecurigaan mereka diperkuat dengan adanya kotak susu hamil yang ada di tong sampah milik keluarga Nia.
"Apa mbak Nia sudah mengetahui jika sebagian tetangga sudah curiga dengan kehamilan mbak Nia," kata Santi dalam hati.
Santi memperhatikan raut wajah Nia. Sekilas, Nia terlihat baik baik saja. Tapi semakin diperhatikan akan terlihat kesedihan di wajah itu.
"Mbak, kenapa seperti ini. Bukankah mbak sudah berjanji akan ihklas dan menerima kenyataan hidup ini?" tanya Santi sedih. Seketika juga terlihat Nia menutup wajahnya dan tubuhnya terguncang.
Mbak ihklas, tapi sepertinya belum siap menghadapi esok San. Bagaimana kalau tetangga mengetahui kehamilan ini. Mereka pasti menghina dan menjadikan mbak jadi bahan gosip."
Santi memikirkan kata kata Nia. Jika dirinya di posisi Nia saat ini pasti dirinya juga tidak mampu untuk menghadapinya.
"Jadi mau bagaimana lagi mbak. Atau bagaimana jika kita pindah saja dari tempat ini?" usul Santi. Pergi dari tempat ini mungkin jalan satu satunya untuk terhindar dari rasa malu.
__ADS_1
"Pindah kemana, Rumah peninggalan kakek sudah kita gadaikan untuk keperluan kuliah kalian," kata Nia. Atas usul Jessi mereka menggadaikan rumah peninggalan sang kakek nenek untuk mengganti uang Lima juta pemberian Rendra.
Santi menghembuskan nafasnya kasar. Merasa kasihan kepada Nia tapi tidak bisa berbuat apapun untuk membantu Nia.
"Jalan satu satunya, mbak harus siap menerima resiko apapun," kata Santi.
Nia terdiam. Itulah yang sulit bagi dirinya. Tapi mengingat bahwa kehamilan itu tidak dapat disembunyikan Nia akhirnya beranjak dari duduknya. Dia masuk ke kamar untuk berhias seadanya. Tidak berapa lama kemudian. Nia keluar dengan pakaian rapi dan riasan tipis. Dia bersiap untuk menerima konsekuensi dari semua perbuatannya.
Nia keluar dari rumah. Dia berencana akan bergabung dengan para tetangga yang ada di pesta tersebut. Dia tidak mengetahui jika Santi mengintip dirinya dari rumah dengan cemas.
Nia disambut dengan senyum palsu para tetangganya. Para tetangga itu baru saja membicarakan dirinya karena tidak pernah keluar dan juga tentang kotak bekas susu hamil.
"Boleh bergabung disini?" tanya Nia sebelum mendaratkan tubuhnya di bangku. Sebagian dari orang itu mempersilahkan dengan tulus. Dan sebagian lagi memalingkan wajah.
"Boleh. Silahkan Nia," kata salah satu dari mereka. Tanpa disadari oleh Nia, Seseorang dari kumpulan orang itu langsung menatap ke arah perut Nia.
Nia merasakan jantungnyanya berdetak kencang karena pertanyaan itu. Dalam hati Nia merasa menyesal karena bergabung ke pesta tersebut. Nia merasakan tatapan penasaran dari orang orang yang dekat dirinya saat ini. Sepertinya orang itu lebih tertarik tentang informasi tentang siapa yang hamil diantara mereka dibandingkan dengan suara seorang wanita yang mengalun indah dari punggung.
Nia meraba wajahnya yang terasa dingin karena memucat. Nia melakukan itu untuk menutupi kegugupannya. Nia merasakan pergulatan hati. Antara jujur akan kehamilan itu atau berbohong.
"Mengapa kamu pucat. Apa benar kecurigaan orang orang. Bahwa kamu sendiri yang hamil Nia?"
Nia menundukkan wajahnya dengan mata terpejam. Pertanyaan itu sangat menyudutkan dirinya. Nia juga menyadari cepat atau lambat. Orang orang akan mengetahui kehamilan itu. Dirinya akan semakin malu nantinya jika saat ini berbohong dan di kemudian hari kecurigaan para tetangga itu ternyata kenyataan.
Bukan hanya disitu. Nia juga berpikir bisa saja dirinya bersembunyi di dalam rumah selama kehamilan itu. Tapi setelah melahirkan. Bayi itu pasti akan bersuara dan akan kedengaran oleh tetangganya.
"Jujur saja Nia. Selain berbohong itu tidak bagus. Mata para ibu ibu di sekitar Kita bisa membedakan wanita yang sedang hamil atau Wanita yang tidak hamil."
__ADS_1
Nia semakin gugup mendengar desakan itu. Sepertinya hari ini adalah hari pertama dimana Nia memberitahukan kehamilannya kepada para tetangganya itu.
"Iya Nia. Untuk apa kamu menutupi jika salah satu dari kalian sedang hamil."
"Maaf mbak mbak semua. Jika boleh jujur. Memang diantara kami bertiga. Salah satunya sedang hamil. Dan itu adalah diriku," kata Nia jujur. Terdiam dengan wajah pucat akhirnya Nia memilih jujur daripada harus berbohong untuk menyembunyikan kehamilan itu.
Nia tidak perduli dengan apa tanggapan para tetangga itu. Yang pasti Nia ingin bertanggung jawab akan perbuatannya termasuk mengakui janin itu walau tanpa suami di sisinya.
Nia juga tidak perduli dengan wajah wajah terkejut itu. Setelah mengakui kehamilan itu. Nia merasa lega. Ini adalah tanggung jawab pertamanya sebagai seorang calon ibu dengan tidak mengingkari keberadaan sang janin itu di perutnya.
"Apa ayah dari janin kamu itu adalah pria yang gagal menjadi suamu kamu?" tanya seseorang lagi semakin kepo.
"Tidak. Pria itu adalah orang lain.
Beberapa dari orang itu menganggukkan kepalanya. Orang orang itu langsung menarik kesimpulan dalam hati akan kegagalan rencana pernikahan Nia itu ada kaitannya dengan kehamilan Nia saat ini. Mereka juga mengambil kesimpulan jika kehamilan Nia saat ini tidak mendapatkan pertanggungjawaban. Kesimpulan mereka benar setelah Nia akhirnya bercerita. Nia sengaja menyembunyikan penjebakan itu dan mengatakan jika kehamilan itu atas dasar cinta mau sama mau.
"Makanya jadi wanita itu jangan bodoh. Kamu berikan tubuh kamu tapi pria itu hanya berkeinginan setor benih tanpa memikirkan perbuatannya. Cari oria lain. Dan jika aku berada dalam situasi kamu seperti ini. Aku akan melepaskan dua duanya. Pacar dan juga janinnya itu sendiri."
"Aku juga seperti itu. Aku tidak akan bersedia mengandung jika prianya lari seperti itu. Enak enak tanggung bersama. Giliran sedih tanggung sendiri."
"Hamil di luar nikah itu tidak segampang seperti dugaan Kita. Selain cacian dan dianggap wanita murahan. Si anak setelah lahir nanti atau sudah mulai dewasa akan malu. Lebih baik Kita menanggung dosa sendiri daripada anak Kita ikut menanggung dosa tersebut.
Nia memikirkan perkataan demi perkataan itu. Timbul keraguan di dalam hatinya.
"Lanjut atau digugurkan," tanya Nia dalam hati. Nia membenarkan dalam hati jika hamil di luar nikah itu tidak gampang.
"Pikirkan matang matang Nia. Selagi hanya kami yang tahu sebaiknya kamu bertindak secepatnya."
__ADS_1