
Danny meletakkan kasur busa itu bersebelahan dengan ranjang milik. Setelah tersusun dengan rapi. Danny menyuruh Nia untuk tidur. Nia menurut. Wanita itu tanpa mengatakan apapun langsung berbaring di kasur busa. Sedangkan Danny masih di kamar itu dengan memainkan ponselnya di sisi ranjang milik Sisil. Setelah lebih kurang sepuluh menit. Danny menyimpan ponselnya ke dalam saku. Pria itu mencium kening Sisil kemudian beralih ke kasur busa dan mencium kening Naya. Danny menatap Nia sebentar. Sebenarnya, dia ingin mencium kening istrinya itu tapi Danny berusaha menahannya. Danny hanya mengusap wajah Nia sebentar kemudian berdiri.
Danny keluar dari kamar Sisil dengan senyum di bibirnya. Sebenarnya jika mau. Danny bisa memaksakan dirinya tidur di kamar itu di ranjang yang sama dengan Sisil. Tapi pria itu berusaha untuk tidak terburu buru karena tidak ingin Nia berpikir yang negative kepada dirinya.
Danny sudah memastikan jika dengan kasur busa itu. Nia dan Naya bisa tidur dengan nyaman. Sebenarnya masih ada kamar tamu yang kosong yang bisa ditempati oleh Nia dan Naya tapi Danny tidak menawarkan kamar tersebut karena Danny sadar jika Nia bersedia menginap di rumah itu karena Sisil.
Danny menatap tiga perempuan masa depannya itu yang semuanya sudah memejamkan mata sebelum menutup pintu. Melihat Nia tidur satu kamar dengan Sisil. Tidak bisa dipungkiri jika Danny merasa jika Nia adalah wanita yang tepat untuk menjadi mama sambung putrinya. Danny benar benar menghargai sikap Nia yang mau menurunkan ego nya demi Sisil.
Di dalam kamar. Setelah pintu tertutup. Nia membuka bola matanya. Sebenarnya, Nia belum tidur. Wanita itu sengaja memejamkan matanya supaya Danny cepat cepat keluar dari kamar itu. Sebenarnya suasana hatinya belum baik baik saja. Rasa kecewa dan marah kepada Alex belum hilang dari hatinya itu.
Tidak ada lagi orang dewasa di sekitarnya. Nia akhirnya menumpahkan kesedihannya dengan menangis. Wanita itu menangis dengan menggigit jarinya supaya Naya dan Sisil tidak terganggu. Ini lah salah satu alasannya tidak ingin dulu tinggal satu atap dengan Danny. Nia tidak tahu sampai kapan dirinya masih dalam kesedihan itu. Dan dirinya tidak ingin menangisi pria lain di rumah suaminya.
Entah berapa jam wanita itu menangis yang pasti dini hari Naya menangis hendak minum susu. Mungkin karena kelelahan sehingga wanita itu tidur pulas sehingga tidak mendengar tangisan Naya. Danny yang tidur di sebelah kamar Sisil terbangun mendengar tangisan putrinya. Pria itu masuk ke kamar Sisil dan langsung membuat susu untuk Naya. Danny tidak kesulitan melakukan itu karena dirinya sudah berpengalaman mengasuh Sisil sejak kecil.
Danny sama sekali tidak membangunkan Nia. Danny benar benar melakukan tanggung jawabnya sebagai ayah bagi Naya. Pria itu kembali ke kamarnya setelah Naya kembali tertidur.
Pagi hari, Nia terbangun kesiangan. Sebagai pengantin baru. Dirinya tidak melakukan ritual malam pertama tapi terlambat bangun karena tadi malam kelelahan menangisi pria yang bukan suaminya.
Nia terkejut. Di kamar itu. Sisil dan Naya tidak ada lagi. Melihat putrinya tidak di kamar itu. Nia tidak panik. Dia menduga jika Naya pasti bersama Danny. Wanita itu memilih membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Nia mempercepat langkahnya menuruni tangga ketika mendengar suara yang sangat di kenal ada di rumah itu. Dan setelah dirinya menemukan sumber suara. Nia semakin terkejut. Jessi ada di ruang tamu itu dan sedang berbincang bincang dengan kedua mertuanya dan juga Danny. Naya ada di pangkuan mama Tiara sedangkan Sisil ada pangkuan Gunawan. Anak itu tersenyum manis kepada Nia.
"Nia, kemari!. Duduk sini," panggil mama Tiara. Nia duduk di sofa tapi matanya penuh tanda tanya akan kedatangan adiknya itu di rumah ini. Jessi terlihat biasa saja bahkan berpura pura menatap Naya.
"Nia, kamu sudah menjadi menantu kami. Jadi mama minta. Jangan memanggil kami dengan sebutan tuan atau nyonya."
Nia memilih mengganggukan kepalanya daripada langsung menjawab secara lisan perkataan mama mertuanya itu. Dia menundukkan kepalanya karena merasa malu atas mata bengkak karena kelamaan menangis tadi malam.
"Mbak Nia, aku terburu buru. Aku ada jam kuliah jam sepuluh. Koper yang mbak minta sudah aku bawa ya!. Kak Danny sudah menyimpan koper itu," kata Jessi. sekarang sudah jam delapan lewat dan Jessi harus secepatnya pergi dari rumah itu. Bukan karena jarak dari rumah itu dengan universitas tempatnya kuliah. Tapi Jessi ingin menghindari berdebat dengan saudaranya itu.
Nia membulatkan matanya karena merasa tidak menyuruh Jessi mengantarkan koper miliknya ke rumah itu. Wanita itu menatap Jessi dengan tajam. Tapi wanita itu tidak terpengaruh sedikit pun dengan tatapan tajam Nia. Jessi menemukan ide itu karena Nia tidak jadi pulang ke rumah tadi malam. Jessi sangat senang mengetahui Nia menginap di rumah ini setelah mendapatkan pesan dari Nia tadi malam. Jessi langsung mengantarkan semua pakaian milik Nia ke rumah ini supaya tidak ada lagi alasan Nia untuk pulang ke rumah.
Sedangkan Danny juga menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan senyuman di bibirnya. Sungguh, dia menyukai cara Jessi untuk membuat Nia tinggal di rumah itu. Danny berencana dalam hati akan memberikan hadiah nantinya kepada adik iparnya itu.
__ADS_1
"Kamu kuliah dimana?" tanya Gunawan kepada Jessi. Gunawan dan Jessi tidak terlihat seperti musuh lagi. Gunawan terlihat sangat baik kepada Jessi dan Jessi juga bersikap baik kepada pria itu. Jessi menyebutkan nama universitas tempat dirinya kuliah.
"Kebetulan sekali. Kami juga akan melewati universitas itu. Tapi sebelumnya ada hal ingin kami katakan kepada Danny dan Nia. Katakan sekarang pa," kata mama Tiara kepada Gunawan. Jessi tentu saja menolak tawaran itu karena dirinya membawa dua koper Nia ke rumah ini dengan motor. Jessi mengikat dua koper itu di belakang supaya tidak jatuh.
"Jadi begini Nia. Kalau Danny sudah mengetahui hal ini tadi sebelum kamu di sini. Kami berdua. Aku dan mama akan berangkat ke luar negeri Hari ini dan dua jam lagi akan terbang. Ada hal penting yang harus kami kerjakan di sana dan jangka waktu yang lumayan lama. Kami menitipkan rumah ini kepada kamu Nia," kata Gunawan. Setelah memberitahukan tentang keberangkatan mereka pagi ini. Gunawan dan mama Tiara bergantian menasehati Nia dan Danny. Mama Tiara juga memberikan satu kartu Atm untuk kebutuhan di rumah itu termasuk untuk membayar para pekerja. Mama Tiara memberikan tugas kepada Nia apa yang selama ini menjadi tugasnya di rumah itu.
Gunawan dan mama Tiara sengaja pergi ke luar negeri untuk mengawasi perusahaan Danny di sana. Gunawan mengambil keputusan itu karena tidak mungkin Danny ke Sana. Jika pun memungkinkan Danny kesana. Tapi tidak bisa dijamin jika Nia bersedia ikut. Gunawan dan Tiara berpikir jika alangkah lebih baik mereka yang ke luar negeri dan memberikan waktu kepada Danny dan Nia sebagai tuan dan nyonya di rumah ini. Mereka berharap dengan tidak adanya mereka di rumah itu. Nia tidak canggung dan secepatnya hubungan Danny dan Nia cepat membaik. Gunawan juga menyadari tidak muda bagi Nia melupakan semua penghinaan yang dia tujukan kepada Nia sebelumnya.
Nia hanya menatap kedua mertuanya dengan rasa sungkan. Dirinya belum mengatakan apapun. Dua orang pekerja sudah menyeret koper masing masing milik Gunawan dan Tiara.
"Kami berangkat ya Nia. Danny. Aku titip Sisil Nia. Aku percaya kamu bisa menjadi mama yang baik bagi Sisil," kata mama Tiara ketika mereka sudah sama sama berdiri dari sofa. Tidak ada jalan lain bagi Nia selain menganggukkan kepalanya. Mama Tiara tersenyum kemudian melangkah dari ruang tamu itu dengan Naya masih di tangannya. Danny dan Nia juga mengikuti langkah Gunawan dan mama Tiara. Sisil sudah masih terlihat lemah dan mengulurkan tangannya kepada Nia supaya wanita itu yang menggendongnya. Nia menerima uluran tangan itu. Kini, dirinya yang menggendong Sisil.
"Mbak aku pamit ya. Baik baik disini. Ciptakan kebahagiaan kamu di rumah ini dengan keluarga kecil mu. Jangan pikirkan Alex. Pria itu akan baik baik saja. Jangan khawatirkan dia. Jika Alex menyatakan cinta kepada ku. Mbak tenang saja. Aku pasti menerima nya," kata Jessi bercanda. Mereka kini sudah ada di halaman rumah dengan Mobil yang sudah siap berangkat.
Gunawan tertawa terbahak bahak mendengar candaan Jessi. Apalagi melihat Jessi yang cepat lari menghindar dari Nia supaya tidak mendapatkan cubitan dari wanita itu.
"Benar itu Nia. Jangan pikirkan Alex. Alex lebih cocok menjadi adik ipar kita," kata Danny membuat Jessi yang sudah duduk di atas motor tertawa. Mama Tiara tersenyum melihat Nia dan Jessi. Jessi terlihat orang yang berani jauh berbeda dengan sikap Nia.
Sebelum masuk ke dalam Mobil. Terlebih dahulu mama Tiara memeluk Danny, Nia dan menciumi wajah kedua cucunya. Sedangkan Gunawan hanya bersalaman dengan Nia dan Danny. Pria itu terlihat sedih berpisah dari Sisil dan Naya.
Danny mendengar perintah Gunawan kepada sang supir. Pria itu memandangi mobil yang sudah bergerak. Danny merasa bangga kepada kedua orang tuanya itu yang rela melakukan hal apapun demi kebahagiaan dirinya.
"Tunggu Jessi," teriak Nia ketika melihat Jessi mengikuti mobil yang membawa Gunawan dan mama Tiara bergerak keluar dari gerbang.
Menyadari dirinya dipanggil dan tidak ingin berdebat dengan Nia. Jessi mempercepat laju motornya dan mendahulukan mobil itu keluar dari mobil.
Nia menarik nafas panjang. Dirinya tidak bisa mengejar Jessi karena Sisil masih di tangannya. Nia menunjukkan kekesalan kepada Jessi yang langsung mengantarkan pakaiannya tanpa bertanya terlebih dahulu.
"Ayo masuk," ajak Danny setelah mobil tidak terlihat lagi. Nia menurut bahkan wanita itu melangkah terlebih dahulu.
"Nia, kamu belum sarapan. Sarapan lah dulu," kata Danny lagi. Nia sudah bersiap hendak menaiki tangga. Mendengar perkataan Danny. Nia pun menghentikan langkahnya. Danny membawa wanita itu ke ruang makan. Danny juga memanggil pengasuh Sisil supaya membawa Naya ke atas.
"Kamu jangan takut bi. Secepatnya aku akan mencari pengasuh untuk Naya putriku," kata Danny kepada pengasuh itu. Pengasuh itu terlihat terkejut dengan perkataan Danny. Selama ini Danny dikenal dengan duda anak satu. Dia tidak menyangka jika tamu tadi malam yang tidak lain adalah Nia dan Naya adalah istri dan putrinya Danny. Danny langsung mengatakan itu supaya sang pengasuh tidak berpikir jika dirinya harus menjaga dua anak sekaligus.
__ADS_1
"Tidak perlu kak. Aku bisa mengasuh Naya sendiri tanpa pengasuh," jawab Nia. Wanita itu lupa jika selama ini dirinya dibantu dua orang adiknya mengasuh Naya. Dirinya harus bekerja menjalankan usaha kecil yang sudah memberikan dirinya pendapatan beberapa bulan ini.
Danny tidak memperdulikan perkataan Nia. Danny merasa jika Nia akan kerepotan nantinya tanpa pengasuh bagi Naya. Danny menghubungi yayasan penyalur tenaga kerja khusus penyalur tenaga kerja sebagai pengasuh. Danny menyebutkan kriteria pengasuh yang dia inginkan dan kalau boleh secepatnya dikirim ke rumah.
Nia tidak protes dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Wanita itu sibuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya dan menyuapi Sisil. Sisil terlambat makan bukan karena terlambat bangun melainkan karena tidak ada yang berhasil membujuk anak itu untuk makan. Bahkan setelah makan. Nia tidak lagi membujuk anak itu untuk minum obat.
"Tante, nanti Kita main ya," kata Sisil. Mereka sudah selesai makan tapi masih di meja makan itu. Ternyata Sisil merindukan main bersama dengan Nia. Danny tidak melarang atau mengusulkan Sisil untuk memanggil Nia dengan sebutan mama. Danny berharap, Nia yang akan mengubah sendiri panggilan Sisil itu kepada Nia.
"Boleh. Tapi kamu harus sembuh dulu ya. Sekarang Sisil harus beristirahat supaya cepat sembuh," jawab Nia. Sisil menganggukkan kepalanya mengerti akan perkataan Nia.
"Aku mau istirahat," kata Sisil bersemangat. Anak itu ingin sembuh secepatnya supaya bisa bermain dengan Nia. Sisil mengulurkan tangannya supaya Nia menggendong dirinya ke lantai dua. Tapi gerakan tangan Danny mengisyaratkan supaya Nia tidak menggendong Sisil. Pria itu takut Nia kelelahan jika harus menggendong Sisil ke lantai dua.
"Aku mau digendong tante, pa," kata Sisil ketika melihat Danny yang hendak dirinya.
"Kamu berar. Nanti tante Nia kelelahan menggendong kamu. Kamu mau?"
Tanpa menjawab pertanyaan Danny. Sisil akhirnya bersedia digendong oleh Danny.
"Mana koper milikku kak?" tanya Nia setelah mereka di kamar Sisil. Naya sudah ada di kamar itu bersama pengasuh. Pengasuh itu pamit keluar karena Danny dan Nia ada di kamar tersebut.
"Sudah di kamar."
"Kamar Mana?" tanya Nia.
"Kamar sebelah."
"Aku kesana dulu ya kak," kata Nia. Dia berencana mengganti pakaiannya karena pakaian yang dia kenakan saat ini adalah pakaian yang tadi malam dipinjamkan Anggita kepada Nia.
Danny menganggukkan kepalanya dan tidak berniat untuk mengikuti langkah istrinya itu.
Nia terkejut setalah masuk ke kamar yang dimaksudkan oleh Danny. Tapi baru saja dirinya masuk ke kamar itu. Nia terkejut. Kamar itu tidak seperti kamar tamu. Ranjang yang tidak rapi. Itu artinya ada yang tidur di kamar itu tadi malam.
Semakin diperhatikan. Nia menduga jika kamu itu adalah kamar Danny dan ternyata itu benar.
__ADS_1
"Bisakah aku tinggal satu atap bahkan satu kamar dengan Danny," kata Nia dalam hati.