Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Mama Anita dan Nia


__ADS_3

"Berani kamu berbohong kepada aku?" tanya seorang wanita tua yang sedang marah kepada seorang wanita yang jauh lebih muda dari dirinya. Wanita muda itu terlihat ketakutan. Dia tidak berani menatap wanita tua itu.


"Jawab!" bentak wanita itu. Suara keras itu menggelar memenuhi ruang tamu sempit itu. Wanita muda itu semakin ketakutan. Dia merasa sudah melakukan hal yang diinginkan wanita itu. Tapi wanita itu masih saja mengganggu dirinya. Tidak sekedar mengganggu, wanita tua marah seakan wanita muda itu melakukan kesalahan besar yang merugikan dirinya. Dan benar saja, setelah memberanikan diri menatap wanita tua itu. Dirinya seakan mempunyai keberanian.


Wanita muda yang tidak lain dari Nia itu menegakkan kepalanya. Dia mencoba memberanikan diri menatap wanita itu.


"Jawab," ulang wanita tua itu. Wajah marah itu masih terlihat jelas terlihat. Dia tidak memikirkan sedikit pun perasaan Nia.


Nia merapatkan giginya. Dia menatap garang mama Anita. Nia sadar jika dirinya beberapa bulan ini mempunyai banyak penderitaan yang sudah dialami olehnya karena menuruti semua keinginan mama Anita. Menanggung malu karena kegagalan pernikahan dan yang paling menyakitkan adalah hamil tanpa suami.


"Aku sudah melakukan apa yang ibu inginkan. Tidak ada alasan bagi kita untuk bertemu kembali," kata Nia dingin. Nia membuat dirinya dingin dan sinis supaya wanita itu sudi. berkunjung ke rumah Nia.


"Melakukan yang aku inginkan kamu bilang?. Kamu pembohong. Kamu bahkan kembali merencanakan pernikahan dengan Rendra. Ternyata kamu licik juga ya. Jangan bilang jika janin yang kamu kandung itu adalah benih Rendra. Jika itu benar maka kamu akan menerima kemarahanku. Sekarang katakan janin itu benih siapa?"


Nia tentu saja bingung mendengar perkataan mama Anita. Hubungan dirinya dengan Rendra tidak lagi hubungan pria dan wanita yang merencanakan pernikahan melainkan hubungan baik yang saling memaafkan dan melupakan masa lalu.


"Apa ada yang mengatakan jika janin ini adalah benih pak Rendra. Siapa orang itu?" tanya Nia kencang. Dia harus mengetahui terlebih dahulu tentang siapa yang memberikan informasi yang salah itu kepada mama Anita.


"Aku mendapatkan informasi dari orang yang bisa dipercaya. Sekarang, aku hanya butuh jawaban. Janin itu benih Rendra atau tidak."

__ADS_1


"Tidak," jawab Nia cepat. Memang seperti itu kenyataannya dan Nia tidak ingin karena kelamaan menjawab membuat Mama Anita percaya bahwa janin itu adalah benih Rendra.


"Jadi apa alasan kamu ingin menikah kembali dengan Rendra. Apakah tidak takut mendengar ancaman aku tempo hari?.


"Jika pak Rendra akan menikah kembali. Aku bisa pastikan jika bukan aku orangnya. Jadi jangan mencari alasan untuk menindas aku seperti ini."


"Jangan bohong kamu. Aku mendengar dengan jelas nama kamu yang disebut oleh Evan sebagai calon istri Rendra."


"Yang bernama Nia di kota ini bukan hanya aku saja. Ada puluhan bahkan ratusan orang bernama Nia. Tujuan utama kamu tidak ingin melihat pak Rendra bahagia kan. Sekarang kamu pergi sana, Kamu salah orang," usir Nia ketus. Mama Anita menatap Nia dengan marah. Diusir oleh wanita yang dianggapnya sebagai anak kecil. Membuat mama Anita semakin marah.


"Jangan banyak kata kata kamu Nia."


Sepertinya hari ini, Nia tidak ingin bertindak sopan kepada wanita tua itu. Walau mama Anita belum pulang. Nia masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu kamar dengan kencang. Nia muak. Tidak hanya muak pada kehidupan dirinya sendiri tapi juga muak kepada mama Anita yang masih duduk santai di ruang tamu. Sebentar lagi Santi dan Jessi akan pulang itu tandanya wanita itu akan segera pulang. Mama Anita selalu pulang sebelum kedua adiknya itu pulang dan akan datang setelah kedua adiknya itu pergi dari rumah.


Mama Anita mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah. Otaknya sudah buntu akan kebencian akan Rendra hingga rela melakukan hal rendahan. Mama Anita beranjak dari duduknya. Kemudian mengelilingi ruang tamu itu. Nia mencari kartu undangan pernikahan Rendra dan Nia seperti yang dikatakan oleh. Entah mengapa dirinya percaya perkataan Evan Dinata.


Mama Anita memulai pencariannya dari meja televisi. Tidak ada disana. Mama Anita menyusuri setiap sudut ruang tamu itu dengan sangat teliti. Tapi apa yang dia cari tidak ditemukan. Akhirnya mama Anita mengetuk pintu kamar Nia. Dia nekat menanyakan perihal kartu undangan karena tidak ingin membiarkan Rendra bahagia.


"Mana kartu undangan nya Nia," tanya mama Anita setelah pintu kamar terbuka. Nia semakin bingung.

__ADS_1


"Kartu undangan apa?" tanya Nia.


"Kartu undangan pernikahan kamu dengan Rendra."


"Berapa kali lagi aku katakan bahwa aku tidak akan pernah menikah dengan pak Rendra. Apa kamu tuli atau gila?" tanya Nia kesal. Ternyata mama Anita lebih kesal mendengar perkataan Nia. Mama Anita menarik tangan Nia untuk keluar dari rumah. Tarikan itu tiba tiba dan kasar membuat Nia tidak hanya terkejut melainkan merasakan sakit di pergelangan tangannya. Bukan hanya itu. Nia hampir terjerembab ketika mama Anita melepaskan tangannya dari pergelangan tangan milk Nia.


"Aku tidak suka dipermainkan. Mengapa kamu melakukan ini. Apa kamu buta sehingga bersedia menikah dengan pria tua."


Nia tidak menjawab. Karena Nia merasa menjawab juga tidak ada artinya. Wanita itu tidak mempercayai apa yang dia katakan Dan lebih percaya kepada Evan. Nia lebih menginginkan jarum jam bergerak lebih cepat supaya wanita tua itu secepatnya pergi.


"Pergi sekarang juga dari rumahku," kata Nia marah. Tindakan kasar yang baru saja dilakukan oleh mama Anita, Nia takut wanita itu tidak terkendali dan melakukan hal yang lebih kasar lagi.


"Dengar ya Nia. Kamu sudah tahu apa yang kamu dapatkan setelah menikah dengan Rendra. Kamu akan janda tanpa melewati madu pernikahan. Aku tidak akan main dengan perkataanku. Siapapun wanita yang mendekati dan didekati oleh Rendra tidak akan pernah bahagia."


Mama Anita akhirnya keluar dari rumah itu setelah diusir oleh Nia beberapa kali. Baru saja dirinya menginjakkan kakinya di depan pintu. Mama Anita melihat sebuah mobil berhenti di sebelah mobilnya. Mama Anita panik ketika melihat siapa yang turun dari Mobil itu. Mama Anita memundurkan tubuhnya. Dia tidak ingin Evan melihat dirinya berada di rumah ini.


"Nia, tolong sembunyikan aku di dalam kamar kamu. Tolong aku Nia. Kali ini saja," kata mama Anita panik.


Mendengar permintaan tolong dari mama Anita, Nia tidak langsung menberi ijin. Nia justru melewati tubuh mama Anita untuk melihat situasi di luar rumah. Nia juga terkejut melihat Evan dan Anggita yang sudah bergandengan tangan menuju rumahnya. Di tangan Evan sebelah kanan terlihat menenteng keranjang buah.

__ADS_1


__ADS_2