Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Dukungan Keluarga


__ADS_3

"Nia, aku tahu ini berat untuk kamu. Tapi kamu juga harus tahu bahwa situasi ini juga berat untuk aku. Pernikahan yang kamu inginkan tidak semudah yang kamu pikirkan. Pernikahan itu bukan ajang coba coba. Aku bukan tipe pria yang suka mempermainkan pernikahan walau kenyataannya aku dipermainkan perempuan di dalam ikatan pernikahan. Lebih baik Kita seperti ini daripada semakin berdosa karena menikah demi menutupi kehamilan kamu kemudian akhirnya berpisah lagi. Aku menghargai apapun keputusan kamu Nia. Dan aku berharap apapun keputusan kamu saat ini adalah jalan kamu untuk mendapatkan kebahagiaan," kata Danny.


Danny keluar dari ruangan itu. Dan saat itu juga air mata Nia berhamburan di kedua pipinya. Nia menangisi semua yang apa yang terjadi pada hidupnya. Kebodohan yang membawa dirinya ke jalan kehidupan rumit seperti ini.


"Ikhlas, Aku harus ihklas menerima ini semua. Aku begini karena kesalahanku. Bukankah setiap orang yang bersalah mendapatkan hukuman. Dan ini adalah hukuman bagiku," gumam Nia. Semakin dia berusaha ihklas menerima kenyataan hidup. Nia merasakan kesedihan yang luar biasa. Hukuman ini terlalu berat untuk dirinya. Nia merasa jika hidup ini tidak adil. Di luar sana banyak laki laki yang berbuat jahat kepada seorang wanita. Banyak laki laki yang berselingkuh atau bahkan ada yang lebih parah yaitu memperkosa. Tapi banyak dari wanita yang tersakiti karena kasus kasus tersebut akan memaafkan si laki laki dan bahkan bisa menerima kembali.


Nia menangis. Sepanjang hidupnya dia selalu berusaha berbuat baik. Tapi sekali saja dirinya tergelincir Nia langsung jatuh ke jurang yang paling dalam. Dan yang lebih parah tidak ada yang berusaha menolong dirinya dari jurang tersebut.


Dalam situasi seperti ini, Nia mengingat sahabatnya Anggita. Dia tidak menyangka jika nasibnya jauh lebih menyedihkan dari nasib Anggita. Nia merindukan sahabatnya itu. Tapi Nia menahan diri untuk tidak menghubungi Anggita karena Nia sadar Anggita sudah berbahagia dengan keluarga kecilnya. Nia tidak ingin mengganggu kebahagiaan sahabatnya itu.


"Apa aku tidak layak dimaafkan?" tanya Nia dalam hati.


Nia memang sudah memutuskan tidak akan mengemis kepada Danny dan keluarganya. Tapi tidak bisa dipungkiri jika Nia khawatir akan Masa depannya sendiri dan masa depan anaknya. Membayangkan kehamilan yang semakin membesar tanpa suami membuat Nia semakin sedih dan air mata itu tidak kunjung berhenti mengalir dari kedua matanya.


Bukan hanya dirinya yang dia pikirkan. Nia juga takut membayangkan reaksi kedua adiknya setelah mengetahui kehamilannya. Sampai detik ini, Nia memang masih bisa menyembunyikan kehamilan itu.


Nia mengusap air matanya dengan kasar. Nia bangkit dari tempat tidur itu dan memutuskan untuk pulang dari rumah sakit itu sekarang juga. Nia menjumpai perawat yang berjaga dan mengungkapkan keinginan. Sang perawat mengusulkan Nia untuk pulang besok pagi saja. Tapi Nia bersikeras untuk pulang malam ini. Akhirnya, sang perawat mengijinkan karena tidak ada kendala pembiayaan. Danny sudah membayar semua urusan administrasi.


Nia pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan itu, Nia masih tetap menangis. Perjuangannya sudah berakhir sampai malam ini saja. Dia bertekad untuk tidak menangis setelah nanti sudah di rumah.


Kepulangan Nia disambut dengan wajah penuh tanda tanya oleh kedua adiknya. Wajah Nia yang sembab dan mata yang membengkak tidak bisa ditutupi oleh apapun. Tiga hari yang lalu, Nia pamit kepada mereka untuk berlibur.


"Ada apa dengan kamu mbak," tanya Santi adiknya Nia yang kedua. Santi bahkan memegang tubuh Nia menuju sofa.


"Duduklah dek, ada yang mau mbak ceritakan kepada kalian berdua. Tolong panggilkan Jessi," kata Nia. Santi menurut dan memanggil Jessi.


"Apa yang mau mbak katakan?" tanya Jessi setelah mereka duduk bertiga mengelilingi meja.


Nia menatap wajah adiknya satu persatu. Dia menebak dalam hati tanggapan adiknya itu akan kehamilannya nanti berdasarkan karakter kedua adiknya itu. Dia menatap Jessi. Adiknya itu sangat berbeda dengan Santi adiknya yang paling bungsu.


"Kalian masih penasaran mengapa aku membatalkan pernikahan dengan pak Rendra?" tanya Nia. Santi menganggukkan kepalanya pelan sedangkan Jessi tidak memberikan reaksi apapun. Sampai hari ini, Nia tidak memberikan penjelasan apapun terkait kegagalan pernikahannya itu.

__ADS_1


Dibandingkan Santi, Jessi memang yang terlihat paling kecewa dengan kegagalan pernikahan itu. Hidup enak sudah di depan Mata, tapi Nia membatalkan pernikahannya dengan Rendra. Jessi berkali Kali mengatakan Nia adalah wanita bodoh yang membuang kesempatan emas untuk hidup enak.


Sedangkan Santi adik Nia yang paling bungsu. Tidak menyalahkan Nia akan hal itu. Santi walau usianya lebih muda dibandingkan Jessi. Santi lebih berpikir dewasa. Santi berpikir jika keputusan membatalkan pernikahan itu adalah hal yang terbaik dibandingkan meneruskan pernikahan itu tapi dengan hati yang terpaksa.


"Apapun yang kalian dengar nantinya. Tolong jangan pernah meniru perbuatan kakak yang jelas sangat salah."


"Mbak, langsung saja. Jangan bertele tele. Aku juga masih banyak pekerjaan dan tugas dari kampus," kata Jessi tidak sabaran. Santi memajukan bibirnya beberapa senti karena tidak suka dengan perkataan Jessi yang sepertinya mendesak. Sedangkan Nia menarik nafas panjang. Melihat sikap Jessi seperti ini. Nia takut, Jessi semakin menyalahkan dirinya.


"Mbak membatalkan pernikahan itu karena mbak mengandung benih pria lain," kata Nia pelan dan menundukkan kepalanya.


Santi dan Jessi sama sama menutup mulutnya mendengar perkataan Nia yang jelas membuat mereka terkejut. Selama ini, mereka tidak melihat hal yang mencurigakan akan tingkah Nia.


"Mbak bercanda kan?" tanya Santi. Santi merasakan matanya memanas mendengar perkataan Nia. Mereka bertiga tidak hanya diuji dengan kehilangan kedua orang tua mereka. Tapi juga diuji dengan kedatangan anggota keluarga yang baru yang tidak lain adalah janin yang kini ada di dalam perut. Sayangnya kedatangan anggota baru itu tidak terlahir dari pernikahan suci melainkan lahir dari wanita polos tanpa ikatan pernikahan.


Anggita menggelengkan kepalanya. Perkataannya bukanlah candaan melainkan kenyataan. Melihat wajah sedih Nia, Santi juga ikut sedih dan kini bahkan sudah memeluk Nia. Tanpa mendengar langsung cerita selanjutnya, Santi seakan dapat merasakan jika Nia mempunyai masalah karena kehamilan itu. Santi dan Nia saling memeluk dengan tangisan yang terdengar di ruang tamu itu. Sikap yang ditunjukkan oleh Santi. Nia merasa lega.


Sedangkan Jessi masih duduk mematung. Sejak mendengar pengakuan Nia. Jessi merasakan amarah yang sudah memuncak di kepala.


"Siapa ayah kandungnya?" tanya Jessi tajam. Nia memandangi wajah Nia hingga ke bagian perit.


"Apa mbak seperti ini karena dipaksa?" tanya Jessi lagi. Selama ini, Nia adalah anak gadis yang sopan dan tidak pernah terlihat berpacaran dengan siapapun. Rendra juga agak jarang datang ke rumah mereka.


Lagi lagi Nia menggelengkan kepalanya. Dia sengaja menyembunyikan cerita tentang penjebakan itu. Selain karena Nia menyadari jika penjebakan itu adalah kesalahan besar, Nia takut jika Jessy akan marah dan semakin menyalahkan dirinya.


"Karena suka sama suka?" tanya Jessi lagi. Nia tidak menjawab. Nia hanya menatap adiknya itu sebentar kemudian menundukkan kepalanya.


"Mbak benar benar salah. Mbak minta maaf karena mungkin aib ini akan membuat kalian malu mempunyai mbak seperti aku. Mbak mohon kepada kalian berdua, jangan meniru mbak apapun alasan walaupun alasan cinta. Cukup mbak yang seperti ini," kata Nia. Dia sadar jika dirinya sudah gagal memberikan contoh kepada kedua adiknya itu. Dan Nia tidak ingin salah satu adiknya itu mengalami hal yang sama dengan dirinya.


"Artinya, pria itu tidak bersedia bertanggung jawab kan?" tanya Jessi lagi. Mendengar perkataan Nia. Jessi langsung menebak sendiri apalagi dengan kondisi wajah Nia yang jelas terlihat seperti orang yang terbebani masalah berat.


"Karena ini kesalahan mbak. Jadi pria itu tidak perlu bertanggung jawab. Mbak terlalu murahan memberikan tubuh ini tanpa ikatan pernikahan. Mbak sudah ikhlas menjalani kehamilan ini sendirian."

__ADS_1


"Bukan hanya mbak yang mengalami seperti ini. Di luar sana banyak wanita menikah karena hamil duluan. Seharusnya pria itu tidak enaknya saja mbak. Seharusnya mbak harus bersikeras supaya dinikahi," kata Santi lembut.


"Benar kata kamu dek. Tapi apa yang mbak alami berbeda dengan yang dialami wanita di luar sana yang hamil di luar nikah. Mbak sudah berusaha untuk mendapatkan pertanggungjawaban supaya dinikahi. Tapi karena ini salah aku sendiri. Mbak ihklas."


"Tidak bisa seperti itu mbak. Mbak hamil karena kerjasama berdua maka yang bertanggung jawab juga harus berdua. Siapa laki laki itu mbak. Beri tahu aku. Aku yang akan mendatangi pria itu. Jika dia memang benar benar tidak mau bertanggung jawab. Setidaknya dia tahu bahwa mbak masih berharga bagi Kita berdua. Jangan memperlakukan mbak seenaknya seperti ini," kata Jessi marah.


Hanya mendengar perkataan Nia. Jessi sudah merasakan terhina karena pria yang menghamili Nia tidak bersedia bertanggung jawab.


"Siapa dia mbak. Jangan sampai aku mencari tahu sendiri dan bertindak dengan caraku sendiri," kata Jessi lagi.


Nia menatap adiknya itu. Dia sudah mengetahui watak Jessi yang keras kepala Dan jika menginginkan sesuatu selalu berusaha untuk mendapatkannya. Termasuk tentang pria yang disembunyikan Nia. Nia sangat yakin jika Jessi akan menyelidiki sendiri. Nia tidak dapat membayangkan jika Jessi berhasil mengetahui jika Danny adalah ayah dari janin yang dikandungnya. Apalagi jika mendengar cerita yang sesungguhnya.


"Sudah Jessi. Jangan mencampuri urusan mbak yang satu ini. Aku harap kamu tidak mencari tahu siapa pria itu. Pria itu bukan bukan tandingan kita. Kita dengan keluarganya bagaikan langit dan bumi," kata Nia. Nia berpikir jika Jessi akan takut untuk mencari tahu akan pria itu setelah mendengar perkataannya.


"Aku tidak akan takut kepada siapapun mbak. Selagi masih memperjuangkan kebenaran. Aku akan ajak teman teman kampusku nanti demon di depan rumahnya. Jika perlu di tempat dia bekerja," kata Jessi berani membuat Nia semakin ketakutan.


"Jangan seperti itu dek. Aku mohon. Sekarang lebih baik kita memikirkan apa yang harus kita lakukan ke depannya."


"Oleh karena itu. Maka mbak juga harus jujur kepada Kita berdua tentang masalah yang mbak hadapi. Jangan setengah setengah seperti ini," kata Jessi kesal.


Jessi tidak suka dengan cara Nia yang terlihat lemah seperti ini. Terlihat sangat terbebani tapi terlihat seperti membela si pria.


Akhirnya Nia menceritakan perjalanan hidupnya selama dua bulan ini sehingga dirinya mengandung. Nia menceritakan itu karena Nia tidak ingin Jessi bertindak di luar sepengetahuanya dan membuat Danny dan keluarganya marah. Bagaimana pun, Nia masih bisa melihat sisi kebaikan tante Tiara yang sudah bersedia memberikan bantuan dan Danny bersedia bertanggung jawab secara materi.


"Wajar saja. Kak Danny tidak bersedia bertanggung jawab karena mbak sendiri yang membuat dirimu rendah mbak. Apapun alasan kamu melakukan itu. Orang akan menilai mbak sebagai orang yang licik. Bukan hanya itu. Mbak juga sudah membuat keluarga itu malu," kata Jessi kecewa. Kemarahannya surut mendengar kejujuran Nia berganti dengan rasa kecewa bercampur malu.


Mendengar perkataan Jessi, Nia semakin memaklumi sikap Danny dan keluarganya yang menolak dirinya. Jika Jessi yang merupakan saudara sedarah menilai dirinya rendah dan licik karena penjebakan apalagi orang yang bukan sedarah dengan dirinya.


"Apapun dan seperti apapun kamu mbak. Kamu adalah orang terbaik untuk aku. Mbak harus semangat ya. Aku sangat yakin mbak bisa melewati ujian hidup ini," kata Santi. Bagi Santi. Nia adalah tetap sosok pahlawan bagi dirinya sendiri. Terlepas bagaimana masalah Nia saat ini. Santi sadar jika tanpa Nia, dirinya tidak bisa hidup seperti ini walau dengan sederhana. Dia bisa melihat bagaimana perjuangan Nia membesarkan dirinya dan Jessi hingga beranjak dewasa seperti saat ini.


Jessi juga berpendapat yang sama dengan Santi. Dia memang sedih, kecewa dan marah mendapat ujian hidup lewat Nia. Tapi rasa sayang tidak berkurang sama sekali akan wanita tangguh yang memperjuangkan dirinya hingga jadi mahasiswa.

__ADS_1


Jessi bangkit dari duduknya. Dia mendekat ke Nia dan langsung memeluk wanita itu.


"Kamu sangat berharga bagi kami berdua mbak. Jadi tolong jaga dirimu dan kesehatan kamu. Kamu tidak sendiri. Kita ada bertiga. Kita akan sama sama menghadapi ujian ini," kata Jessi. Jessi memeluk Nia dengan sayang. Tiga kakak beradik itu saling berpelukan dengan suara tangisan terdengar dari mulut mereka. Nia lega. Dia bangga melihat kedua adiknya yang sangat bijak menyikapi masalah yang dia hadapi saat ini. Nia tidak mengetahui jika Jessi mengepalkan tangannya karena masih marah.


__ADS_2