
Anggita dan Oci saling terdiam memikirkan kira kira rencana apa yang sudah disusun sebagian dari pekerja itu. Mereka menebak dalam hati. Bagaimanapun, Anggita berprasangka buruk akan maksud dari pemadaman lampu dari meteran listrik itu. Sambil menunggu kedatangan Gunawan, Anggita merasakan ketakutan luar biasa. Anggita memandangi putrinya Cahaya yang dia ketahui sebagai sasaran dari mama Anita dan si pengkhianat.
Satu jam sudah berlalu sejak Anggita berkomunikasi dengan Gunawan. Tapi sampai saat ini. Belum ada tanda tanda akan kedatangan pria tersebut. Anggita semakin ketakutan membayangkan hal Hal buruk yang terjadi pada tiga laki laki generasi penerus kakek Martin. Berkali kali menghubungi tiga pria itu, Gunawan, Evan dan Rendra tidak menjawab panggilan dari dirinya.
Anggita tidak habis akal. Dia akhirnya menghubungi Rico sang asisten suaminya. Tapi sama seperti tiga pria lainnya. Sang asisten itu juga tidak menjawab. Anggita semakin khawatir. Tapi tidak bisa berbuat apa apa selain berpikir apa yang terjadi pada pria pria kebanggaan nenek Rieta itu.
Marah, kesal dan takut bercampur di hati wanita cantik itu. Di saat genting seperti ini, keberadaan pria pria kebanggaan nenek Rieta itu tidak dapat diandalkan.
Ditengah rasa kegelisahan dan rasa khawatir akan suami dan mertuanya. Anggita terkejut dengan ketukan pintu kamar. Dia memandang Oci yang juga memandangi dirinya. Ketakutan membuat mereka berprasangka buruk. Anggita dan Oci menarik nafas lega saat mendengar suara Nenek Rieta yang memanggil nama mama Feli. Anggita berjalan cepat menuju pintu kamar. Terlalu ketakutan dan khawatir, Anggita melupakan nenek Rieta yang mempunyai kamar tersendiri di lantai satu sedangkan mereka berada di lantai dua.
"Nenek," kata Anggita. Nenek Rieta tidak sendiri di depan pintu kamar itu. Anggita terkejut melihat orang yang berdiri di sebelah nenek Rieta. Wanita itu adalah Bibi si tukang masak.
"Bibi ini ingin membicarakan hal penting dengan kamu Anggita," kata Nenek Rieta sambil menggerakkan kepalanya menyuruh Bibi itu masuk ke kamar mama Feli. Anggita terdiam mematung mendengar perkataan Nenek Rieta.
"Anggita, kamu mendengar apa yang aku katakan?" tanya Nenek Rieta sambil menyentuh tangan Anggita. Anggita seketika gugup tapi akhirnya mengajak nenek Rieta masuk ke dalam kamar.
"Bagaimana kamu bisa masuk ke dalam rumah?" tanya Anggita setelah dia berhadapan dengan Bibi tukang masak yang duduk di bangku kayu yang ada di kamar itu. Anggita sengaja menanyakan hal itu untuk mengetahui sejauh mana si Bibi ikut terlibat dengan si pengkhianat. Jika Bibi bisa membuka pintu penghubung dapur dan area belakang. Itu artinya si Bibi ikut dalam persengkolan pengkhianat itu. Begitulah kira Kira yang ada di pemikiran Anggita saat ini.
"Aku yang membuka pintu. Entah siapa yang mengunci pintu itu. Bibi menghubungi aku untuk membuka pintu tersebut. Mengganggu tidur saja," gerutu nenek Rieta. Bibi terlihat menundukkan kepalanya. Mungkin merasa bersalah karena lancang meminta sang nyonya besar membukakan pintu untuk dirinya di tengah malam seperti ini.
Anggita menatap Bibi dengan penuh selidik. Sedangkan Oci sudah memikirkan hal lain tentang keberanian si Bibi mengganggu nenek Rieta tengah malam seperti ini. Seperti perkataan sebelumnya, Oci mencurigai sesuatu dibalik keberanian Bibi tersebut.
"Hal penting apa yang hendak Bibi bicara dengan diriku," kata Anggita. Bibi itu meremas tangannya kemudian memberanikan diri menatap Anggita dan Nenek Rieta secara bergantian.
"Nyonya muda. Maafkan aku. Baru malam ini aku menemukan orang yang memakai ponselku tanpa ijin," kata Bibi itu pelan. Anggita mengerutkan keningnya. Menatap Bibi itu kembali. Perkataan bibi itu dengan apa yang mereka lihat adalah sejalan. Tapi Anggita tidak langsung merasa mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sang bibi. Anggita merasa perlu berpura pura tidak tahu mengerti supaya mendapatkan informasi yang lebih.
"Maksud Bibi?" tanya Anggita. Dia ingin memperjelas apa yang dikatakan oleh Bibi tersebut tanpa bertanya siapa orangnya yang memakai ponsel tersebut. Karena Anggita dan Oci sudah mengetahui orang tersebut. Anggita ingin melihat kejujuran Bibi tukang masak itu.
"Orang yang memakai ponsel milikku untuk menghubungi ibu Anita. Orang itu adalah Indi," kata Bibi. Anggita tidak langsung menanggapi sedangkan Nenek Rieta dan mama Feli terlihat kebingungan.
__ADS_1
"Apa maksud kamu bi," tanya nenek Rieta. Wanita tua itu tentu saja tidak mengetahui apa yang dimaksudkan oleh si Bibi. Bibi menjelaskan dari awal ketika Anggita melihat isi Chat dan kecurigaan Anggita kepada dirinya.
"Bagaimana kamu mengetahui bahwa Indi yang memakai ponsel kamu untuk berkomunikasi dengan si Anita?" tanya Nenek Rieta. Kini wanita tua itu yang terlihat ingin mengerti lebih banyak tentang apa yang dikatakan oleh Bibi.
"Sejak kecurigaan nyonya muda. Aku berusaha keras untuk menyelidiki nyonya. Aku menebar isu ke sesama pekerja yang menyatakan bahwa tuan Rendra akan menikah dalam waktu dekat ini. Aku sangat yakin informasi ini akan perlu disampaikan ke ibu Anita. Dan terbukti, malam ini. Indi masuk ke kamarku mengambil ponsel dan mengembalikannya setelah selesai dia memakainya," kata Bibi. Wanita itu mengulurkan tangannya yang berisi ponsel ke Anggita supaya Anggita melihat chat yang tidak sempat dihapus oleh Indi.
Anggita Dan Oci bersama sama membaca isi Chat yang terdapat di ponsel Bibi yang sepertinya lupa menghapus. Isi chat yang memberikan informasi tentang pernikahan Rendra dalam waktu dekat ini.
"Aku harus mendengar informasi besok pagi yang membuat hati sangat puas akan kinerja kalian."
Anggita mengepalkan tangannya membaca balasan chat dari mama Anita. Anggita menduga jika balasan itu erat kaitannya dengan apa yang didengar oleh Oci.
"Ini adalah ponsel kamu. Tidak mungkin orang lain yang memakai ponsel ini karena kamu pasti memakai kata Sandi," kata Nenek Rieta setelah mengambil ponsel itu dari tangan Anggita dan membaca isi chat tersebut.
Mendengar perkataan Nenek Rieta, Anggita juga menjadi bingung. Dia sulit mempercayai apa yang dikatakan oleh Bibi saat ini. Bisa saja kedatangan bibi malam ini ke kamar mama Feli untuk mengambil simpati dan bagian dari rencana para pengkhianat.
Oci bertindak cepat. Dia meminta Anggita membuka layar ponsel miliknya dan mengambil kembali ponsel milik Bibi dari tangan nenek Rieta. Oci mencocokkan waktu di cctv yang memperlihatkan Indi di kamar mandi dan waktu yang digunakan saat berkirim pesan di ponsel Bibi. Ternyata waktunya bersamaan. Itu artinya, perkataan si Bibi bisa dipercaya. Oci menunjukkan hal itu kepada Anggita.
"Baiklah, aku percaya dengan yang Bibi katakan. Selain informasi ini. Adakah informasi lainnya tentang para pengkhianat itu. Berapa orang mereka bersengkongkol?" tanya Anggita. Bibi itu menggelengkan kepalanya.
"Maaf nyonya. Kalau soal itu aku tidak mengetahuinya," jawab Bibi itu. Semua mata melihat Bibi penuh selidik.
"Baiklah, kalau begitu kembali lah ke kamar kamu Bibi. Besok, Bibi harus cepat membuat sarapan untuk keluarga ini. Aku minta Bibi membawa sarapan itu ke kamarku besok pagi. Aku, nenek Rieta dan yang lainnya berencana sarapan di kamarku. Bibi tahu sendiri kan. Pemandangan dari kamar sangat indah yang bisa langsung melihat taman belakang," kata Anggita. Ada alasan tersendiri mengapa Anggita mengatakan hal itu. Bibi itu terlihat bingung tapi untuk menunjukkan kepatuhannya akhirnya sang bibi menganggukkan kepalanya. Bibi beranjak dari duduknya setelah Anggita memberikan isyarat kepada Bibi itu untuk keluar dari kamar itu.
Setelah di luar kamar. Bibi mengusap dadanya kemudian menarik nafas. Bibi merasa lega karena sudah memberitahukan tentang kelancangan Indi memakai ponselnya tanpa ijin.
"Kita sebaiknya keluar dari rumah ini sekarang juga tanpa sepengetahuan para pekerja. Kita tidak mengetahui apa rencana jahat mereka. Kita harus menghindar secepat mungkin," kata Anggita setelah Bibi itu tidak lagi di area lantai dua. Anggita tidak lagi berani mengambil resiko untuk tetap bertahan di rumah itu. Mengungsi untuk sementara adalah jalan terbaik. Anggita takut disaat mereka terlelap dalam tidur. Para pekerja itu menjalankan rencana jahatnya.
"Rencana jahat apa?" tanya Nenek Rieta. Anggita pun akhirnya menceritakan tentang pemadaman lampu itu. Dan Anggita sangat yakin jika rencana jahat sebagian para pekerja itu berkaitan dengan Bronson. Anggita juga khawatir jika Evan, Rendra dan Gunawan tidak bisa dihubungi saat ini pasti karena perbuatan Bronson.
__ADS_1
Sama seperti Anggita nenek Rieta juga mempunyai pemikiran yang sama. Nenek Rieta setuju untuk keluar sementara dari rumah itu. Nenek Rieta sudah menebak jauh akan rencana jahat para pengkhianat itu. Bagi Nenek itu. Nyawa lebih berharga dibandingkan dengan harta benda apapun yang ada di rumah itu.
Mereka keluar dari rumah itu sekarang juga tanpa sepengetahuan para pekerja. Mereka akan membiarkan para pengkhianat itu menjalankan rencananya tanpa mereka menjadi korban. Dan Anggita sudah menyiapkan rencana untuk membuat para pengkhianat itu tidak berkutik.
"Mau kemana nek?" tanya Anggita. Mereka kini berada di lantai satu dan sudah siap keluar. Cahaya berada di gendongan Anggita sedangkan mama Feli membawa perlengkapan Cahaya seadanya saja. Oci sibuk melakukan panggilan kepada seseorang yang bisa menjemput mereka di tengah malam seperti ini.
"Tunggu disini sebentar," kata Nenek Rieta. Wanita tua itu masuk ke dalam kamarnya. Setelah di kamar, dia membuka lemari besi tempat Surat Surat berharga miliknya. Wanita tua itu mengganti kata sandi pembuka lemari tersebut. Nenek Rieta mengamankan Surat Surat berharga itu dengan mengganti sandi pengaman. Hal itu dia lakukan karena berpikir jika rencana jahat para pengkhianat tersebut pasti untuk mencuri selain mencelakai Cahaya. Nenek Rieta melakukan hal itu bukan karena terlalu sayang kepada harta harta bendanya. Nenek tua itu hanya ingin membuat para pengkhianat itu tidak mendapatkan apa apa atas pengkhianatan mereka.
Nenek Rieta sebenarnya sangat marah. Dibandingkan Anggita nenek itu lebih bisa mengendalikan amarahnya. Nenek Rieta merasa sangat kecewa atas pengkhianatan sebagian para pekerja itu. Dia berusaha melakukan hal terbaik kepada para pekerjanya. Meskipun para pekerja itu adalah pelayan yang dia bayar sendiri. Tapi nenek Rieta dan kakek Martin di Masa hidupnya selalu memperlakukan para pekerja dengan baik. Baik dari segi imbalan maupun perlakuan mereka di interaksi setiap harinya. Nenek Rieta dan kakek Martin tidak semena mena memperlakukan para pekerjanya. Perlakuan itu turun ke anak anaknya bahkan kepada Evan dan Danny. Mereka sangat menghargai dan menghormati para pelayan. Meskipun status sosial mereka jelas jauh berbeda.
Tiba luar rumah Nenek Rieta menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang satpam yang tertidur pulas di pos penjaga. Walau situasi itu menguntungkan mereka untuk keluar dari rumah tanpa sepengetahuan para pekerja. Tetap juga Nenek Rieta tidak membenarkan kelalaian sang satpam tersebut. Nenek Rieta merasa jika sang satpam tidak bekerja dengan baik padahal tugasnya adalah menjaga keamanan rumah itu.
Sedangkan Anggita tidak ambil pusing dengan sang satpam tersebut. Anggita menyuruh Oci mengambil kunci gerbang yang terletak tidak jauh dari sang satpam tidur berbantalkan lengannya sendiri.
Oci berhasil mengambil kunci tersebut tanpa membangunkan sang satpam. Hingga pintu gerbang terbuka sedikit. Satpam itu tidak terganggu Sama sekali dengan suara gerbang. Oci yang paling terakhir keluar menutup gerbang itu kembali.
"Kita kemana?" tanya mama Feli setelah mereka sudah duduk di mobil milik teman Oci.
"Ke hotel."
Suasana mobil menjadi hening. Hanya butuh beberapa menit. Anggita Dan yang lainnya tiba di hotel. Anggita dan Oci mengantarkan nenek Rieta, mama Feli dan Cahaya ke dalam hotel.
"Mau kemana kalian?" tanya mama Feli yang melihat Anggita dan Oci bergegas hendak pergi.
"Aku dan Oci berencana mencari keberadaan Evan dan papa Rendra ma," kata Anggita. Nenek Rieta terlihat tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Anggita. Tapi Anggita bersikeras. Anggita mempunyai firasat yang buruk yang terjadi kepada suami dan Rendra. Evan tidak pernah mengabaikan panggilan dari dirinya. Jika pun tidak memungkinkan menjawab panggilan dari dirinya. Evan biasanya langsung mengirim pesan bahwa dirinya sibuk.
"Jangan nak. Kita beristirahat saja sekarang. Evan pasti bisa mengatasi apa yang dia hadapi saat ini. Jika tidak ada kabar dari Evan sampai besok pagi. Kamu boleh bertanya kepada karyawannya besok. Jangan sekarang," larang Nenek Rieta khawatir. Wanita tua itu takut terjadi sesuatu kepada Anggita.
"Tidak bisa nek. Nenek tidak perlu khawatir. Aku juga sudah mengirim pesan kepada Danny untuk segera datang ke kota ini. Sekarang juga. Aku dan Oci akan mencari Evan."
__ADS_1
Nenek Rieta dan mama Feli tidak bisa melarang keinginan Anggita untuk mencari keberadaan Evan saat ini juga. Dua wanita itu hanya dapat berdoa. Berharap tidak terjadi hal buruk apapun kepada salah satu Anggota keluarga mereka.