
Dokter Angga merasakan amarah yang luar biasa melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Wanita yang sudah biasa melayani dirinya itu kini sedang terikat dengan tubuh yang tidak lengkap berpakaian. Bagian atas tubuh wanita itu tidak tertutup sama sekali sedangkan tubuh bagian bawah hanya tertutup kain segitiga pengaman. Sedangkan Bronson, sudah tidak mengenakan pakaian lagi. Walau Dokter Angga adalah seorang pria sejati melihat Bronson tidak berpakaian seperti itu. Dokter Angga merasa jijik akan pria tua itu. Dokter Angga bahkan meludah ke lantai.
Selain marah, dokter Angga merasakan sangat kasihan akan wanita itu. Suara isak tangis dari mulut wanita itu pertanda bahwa dirinya tidak menginginkan kejadian seperti ini. Dokter Angga bisa melihat wanita itu merasa lega akan kedatangannya.
Dokter Angga tahu apa yang harus diperbuatnya sekarang. Ketika Bronson bertanya akan kedatangannya. Dokter Angga tidak perduli. Dokter Angga memajukan langkahnya kemudian menerjang Bronson. Pria tua itu terdengar menjerit ketika kaki dokter Angga mendarat sempurna di perutnya. Bronson terjungkal ke belakang dan terjatuh.
Tidak ingin memberikan ampunan kepada Bronson. Dokter Angga melampiaskan kemarahannya kepada pria itu. Mendaratkan kakinya ke tangan, kaki bahkan ke wajah milik Bronson. Posisi Bronson yang terlentang dan tidak berpakaian membuat pria itu tidak berdaya dan tidak bisa membalas serangan dokter Angga. Berkali kali, Elena menjerit karena tidak tega melihat serangan dokter Angga ke Bronson. Tapi dokter Angga tidak perduli. Dia melampiaskan kemarahan dan kekesalannya selama ini kepada Bronson.
"Apa aku perlu mengubah nama kamu sekarang. Dari Bronson menjadi jenasah Bronson?" tanya dokter Angga sambil menginjakkan kakinya ke tangan Bronson. Kata katanya terdengar mengerikan dan Wajahnya menyerah karena marah.
"Dasar anak kurang ajar dan anak tidak tahu terima kasih. Inikah balasan dari semua apa yang aku lakukan atas semua jasa baik yang sudah aku berikan kepada kami?" tanya Bronson lemah tapi marah. Semua jejak kaki dokter Angga di tubuhnya masih jelas terasa sakit. Bronson mengaduh kesakitan tapi dokter Angga tidak merasa kasihan sama sekali.
Dokter Angga menjawab perkataan Bronson dengan menekan kakinya lebih kuat lagi Dan bergantian menginjak tangan pria tua itu. Bronson merasakan kesakitan luar biasa. Di tengah rasa sakitnya. Bronson mengerahkan semua tenaganya melawan dokter Angga. Dengan menggunakan tangan kirinya dia berusaha menyisihkan kaki dokter Angga dari tangannya. Usahanya tidak berhasil tapi kemudian dokter Angga mengangkat kakinya karena cengkraman kuat tangan kiri Bronson di kakinya terasa sakit.
Bronson dengan cepat bangkit mempergunakan kesempatan yang ada. Pria itu berdiri dan langsung mendorong tubuh dokter Angga. Tapi dokter Angga bisa menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak terjatuh. Dan kini dokter Angga berusaha menghindar dari benda benda yang dilemparkan oleh Bronson kepadanya.
Kamar yang rapi sebelumnya. Kini sudah terlihat berantakan. Vas bunga, buku dan bantal berserakan berserakan di lantai karena Bronson melawan dokter Angga dengan benda benda tersebut.
"Lihat dirimu pak Bronson. Apa kamu tidak malu dengan keadaan seperti ini. Apa kamu tidak pernah berpikir bagaimana jika ibu Tisa istrimu tercinta itu mengetahui kebejatan mu ini," kata dokter Angga sambil menghindar dari gelas yang melayang ke arah dirinya. Ketika dokter Angga bisa merasakan menginjak pakaian. Pria itu menunduk dan mengambil pakaian milik Elena itu. Dokter Angga melemparkan pakaian itu ke arah Elena dan mendarat di bagian dadanya walau tidak bisa menutupi tubuh bagian atas wanita itu. Tapi itu lebih baik daripada keadaannya semula. Elena yang masih terikat tidak bisa mengenakan pakaiannya sendiri.
"Diam bajingan. Kamu tidak akan bisa keluar dari rumah dengan utuh karena sudah berani mengganggu aku," jawab Bronson marah. Kemudian pria itu tertawa terbahak bahak sedangkan Elena menjerit karena piring keramik baru saja mengenai kepala dokter Angga. Piring tersebut pecah ketika mendarat di kepala dokter Angga. Suaranya terdengar jelas ketika piring itu jatuh di lantai.
Bronson merasa jika keamanan di rumah miliknya masih aman. Dia tidak tahu bahwa dua orang satpam sudah tertidur pulas di pos satpam.
"Dokter Angga. Tolong selamatkan aku," pekik Elena melihat darah yang sudah keluar dari kepala dokter Angga. Wanita itu ketakutan membayangkan jika Dokter Angga kalah dalam duel itu maka dirinya yang paling terancam.
Dokter Angga menoleh kepada Elena. Kedatangannya ke rumah ini bukan karena mengetahui Elena berada di rumah ini. Tapi dirinya juga lega karena menemukan Elena di temlat ini. Walau begitu. Dokter Angga berjanji dalam hati akan membawa wanita itu keluar dari rumah ini bagaimanapun caranya.
Melihat tangisan Elena yang sangat pilu. Keberanian dokter Angga seakan bertambah berlipat lipat. Dokter Angga tidak memperdulikan sakit akibat Luka di kepalanya. Pria itu maju bagaikan singa yang siap menerkam musuhnya. Di kamar yang tidak begitu luas itu. Dokter Angga menerkam Bronson dengan pukulan yang berkali Kali mendarat di kedua lengan dan wajah pria tua itu.
Bronson lemah. Dia terduduk di lantai dengan luka lebam di wajahnya. Dokter Angga benar benar menuruti perkataan Evan dengan membuat Bronson tidak bisa tertawa jika rencana jahat Bronson terlanjur berhasil esok hari. Kedua bibir Bronson terlihat pecah dan bengkak. Melihat keadaan pria tua itu saat ini. Bisa sebenarnya dokter Angga membuat pria itu semakin kesakitan dengan memukul bagian bagian tubuh vital milik Bronson. Tapi ternyata dokter Angga masih mempunyai sisi kemanusian dan tidak ingin membuat pria itu berganti alam lewat dirinya.
__ADS_1
Setelah melihat Bronson tidak berdaya lagi. Dokter Angga membuka ikatan yang ada di kedua tangan milik Elena. Dokter Angga juga membantu wanita itu mengenakan pakaiannya.
"Apa dia sudah melakukan hal yang sangat jauh terhadap kamu?" tanya dokter Angga kepada Elena. Wanita itu tidak langsung menjawab justru memeluk dokter Angga dengan erat dan suara isakan masih terdengar dari mulutnya. Pertanyaan dokter Angga bermaksud untuk mengetahui apakan Elena masih suci atau tidak. Mengingat Elena sudah dua hari di rumah itu. Dokter Angga khawatir Bronson sudah mengambil kesucian wanita muda itu.
Dokter Angga tidak sabar mendengar jawaban dari Elena. Hatinya berdenyut nyeri hanya membayangkan jawaban Elena tidak sesuai dengan yang diharapkan dirinya.
"Jawab Elena," kata dokter Angga menuntut. Dokter Angga melepaskan pelukan wanita itu.
"Aku masih suci dokter," jawab Elena membuat dokter Angga merasa lega. Selama ini dirinya menahan diri untuk tidak merusak gadis belia itu. Dirinya menginginkan kegiatan ranjang yang sebenarnya tapi mengingat dirinya dan gadis itu tidak ada ikatan suci. Selain itu, jauh di lubuk hatinya sebenarnya dia kasihan mendengar permohonan wanita itu setiap mereka berada di ranjang. Dan bagaimana Bronson memperlakukan wanita itu. Dokter Angga merasa sangat kasihan. Situasi yang membuat dirinya harus menjadikan wanita itu sebagai wanita simpanan miliknya. Secara tidak langsung. Bronson yang membuat dirinya harus mempunyai wanita simpanan. Tekanan dari Bronson membuat dokter Angga mencari mainan untuk mengalihkan tekanan itu. Sedangkan Elena juga seperti itu. Bukan keinginan menjadi wanita simpanan apalagi di usianya yang masih sangat tergolong muda. Kondisi perekenomian orang tua membuat Elena harus bersedia berkorban demi keluarganya.
Di sudut kamar itu, Bronson mendengar pembicaraan dokter Angga dan Elena. Membayangkan Elena masih perawan, pria tua itu merasa menyesal karena tidak langsung mencicipi wanita itu. Bukannya berusaha memperbaiki diri karena kejadian ini. Pria tua itu justru menyayangkan dirinya yang tidak gerak cepat mengambil kesucian Elena. Membayangkan gadis perawan yang akan disentuh pertama kali membuat darah Bronson berdesir hingga pisang ambon yang sedari tadi tidak dibungkus terlihat gagah.
Bronson memang bajingan dalam banyak hal. Dirinya tidak hanya serakah di dunia bisnis. Bronson juga serakah akan sentuhan wanita. Dia rela mengeluarkan uang yang banyak demi mendapatkan gadis original. Dan kini di tengah rasa sakit di sekujur tubuhnya. Bronson bahkan menginginkan permainan ranjang yang tertunda itu di lampiaskan.
Bronson menatap dokter Angga dengan kesal. Bukan hanya tubuhnya yang kesakitan bagian inti tubuhnya juga harus tertunda merengkuh kenikmatan duniawi. Andaikan dirinya masih mempunyai tenaga saat ini. Bronson akan membalas dokter Angga. Tapi kondisinya tidak memungkinkan.
Dokter Angga menarik tangan Elena untuk turun dari ranjang. Wanita itu kini sudah terlihat lebih tenang. Dokter Angga membuka pintu kamar dan mempersilahkan Elena untuk keluar terlebih dahulu. Sedangkan dirinya mendekati Bronson dan menatap pria itu sebentar.
"Mengapa kamu menanyakan itu. Bukankah kamu yang membuat aku seperti ini. Keparat?. Menyesal aku membesarkan dan memberikan pendidikan terbaik kepada kamu."
Bronson masih saja memancing amarah dokter Angga. Pria itu masih saja mengungkit hal yang dia berikan kepada dokter Angga di Masa lalu.
"Kenapa harus menyalahkan aku pak Bronson. Pemberian kamu di masa lalu tidak seimbang dengan penderitaanku. Hanya kamu yang mengetahui secara pasti alasan mengapa kamu membesarkan dan memberikan pendidikan kepada Aku. Aku sudah mendengar tentang kematian kedua orang tuaku. Jika kamu ada kaitannya dengan kematian mereka. Maka kamu harus siap siap menerima hal dahsyat berikutnya."
Dokter Angga berkata sambil menunjuk wajah Bronson. Dia bisa melihat Bronson terkejut mendengar perkataannya tapi dokter Angga pura pura tidak perduli. Saat ini dirinya hanya menjalankan tugas dari Evan. Jika suatu hari nanti. Bronson terbukti terlibat dengan dengan kematian kedua orang tuanya. Dokter Angga sudah memikirkan dan merencanakan pembalasan yang akan dia berikan kepada Bronson.
"Kenakan pakaian kamu pak tua. Kamu terlihat menyedihkan dengan belalai yang masih berdiri tegak seperti itu."
Lagi lagi, dokter Angga menundukkan sisi kemanusiannya. Dia mengambil sprei dan melemparkan ke tubuh Bronson. Dokter Angga sengaja memberikan sprei bukan pakaian karena pria itu sudah merencanakan sesuatu kepada Bronson karena sudah berani menyetuh gadis mainannya.
"Aku masih mempunyai sisi kemanusian terhadap kamu. Kamu tahu mengapa?" tanya dokter Angga tajam. Bronson tidak menjawab pertanyaan dokter Angga itu yang sebenarnya bisa dijawab dengan menganggukkan atau menggelengkan kepala. Bronson hanya menatap dokter Angga sambil melilitkan sprei itu ke tubuhnya.
__ADS_1
"Itu karena, gadis belia itu masih suci. Andaikan kamu sudah merusaknya. Aku tidak akan membiarkan pisang ambon mu itu masih pada tempatnya," kata dokter Angga serius. Dia menunjuk tempat pisang ambon itu berada yang sudah tertutup oleh sprei. Kemudian pria itu menarik tangan Bronson supaya berdiri. Tapi jeritan pria tua itu yang merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuhnya membuat dokter Angga melepaskan tangan Bronson.
"Katakan, apa kamu masih tetap di sini atau aku seret ke bawah."
"Tetap di sini. Pergilah!" kata Bronson sambil meringis kesakitan. Dokter Angga tertawa melihat penderitaan Bronson. Dia tidak sebodoh itu membiarkan Bronson tetap berada di kamar itu.
"Kamu Kira aku bodoh dengan meninggalkan kamu di kamar ini. Istri mu harus mengetahui perbuatan kamu ini. Apa kamu sudah siap jika ibu Tisa mengetahui kebejatan kamu?" tanya dokter Angga. Senyum di bibirnya menunjukkan senyum kemenangan.
Bronson seperti tersadar dari tidur. Dia terkejut dan terlihat ketakutan membayangkan sang istri mengetahui perbuatan bejad yang dilakukan di rumahnya sendiri.
"Jangan lakukan itu Angga," kata Bronson pelan dan menundukkan kepalanya.
Dokter Angga kembali tertawa mendengar jawaban Bronson.
"Kamu berusaha menutupi kebejatan kamu di hadapan ibu Tisa. Kamu berusaha keras menutupi semua kebohongan kamu. Demi apa. Demi keutuhan rumah tangga kalian kan. Kamu mengetahui dengan jelas arti keutuhan keluarga bagi anak anak. Tapi mengapa kamu berusaha menghancurkan kebahagiaan Evan dan Anggita. Kamu melibatkan aku di dalam rencana kamu sehingga aku menjadi pria penjahat perasaan. Dan besok kamu sudah mempunyai rencana untuk menghancurkan Evan kan?. Tapi satu hal yang harus kamu tahu. Sebelum rencana kamu terlaksana maka kebahagiaan dirimu lah yang lenyap terlebih dahulu. Keluarga, kekayaan dan kekuasaan kamu. Satu persatu akan pergi meninggalkan dirimu sendiri. Kamu menginginkan Evan dan keluarganya hancur. Maka besok pagi kamu yang merasakan kehancuran."
Dokter Angga menarik tangan Bronson dengan kasar. Kemudian pria itu menyeret Bronson keluar dari kamar. Bronson berusaha melawan dengan tenaga lemah tapi tidak mampu. Bronson diseret bagaikan binatang. Setelah keluar dari kamar dokter Angga terkejut. Ternyata Elena masih berdiri di tempat itu membuat dokter Angga tertegun sebentar. Dia tadi berpikir jika Elena akan memanfaatkan situasi ini untuk melarikan diri dari dia.
Ternyata Elena menunggu dirinya dan tidak memanfaatkan situasi itu untuk melarikan diri. Dokter Angga menatap wanita muda.
"Jalan," kata dokter Angga sambil menggerakkan kepalanya supaya Elena berjalan terlebih dahulu. Mereka bertiga menuruni anak tangga dengan Bronson yang ditarik paksa oleh dokter Angga. Dua pria yang pernah dalam status anak dan ayah angkat itu terkadang tarik menarik. Tapi akhirnya mereka berhasil turun ke lantai dua.
Bronson berusaha untuk melepaskan dirinya dari paksaan dokter Angga. Tapi karena terluka dan lemah. Pria tua itu kalah. Ketika tiga orang itu sudah menuruni tangga menuju lantai satu. Dokter Angga berteriak membangunkan seisi rumah. Di saat itulah Bronson merasakan ketakutan luar biasa hingga tubuhnya gemetar.
Bronson meronta di pertengahan tangga. Dia berusaha melawan dokter Angga dengan menendang tubuh pria itu yang berjalan di depan Bronson. Tapi karena tenaga Bronson yang tidak kuat lagi membuat tendangannya tidak berarti hanya membuat dokter Angga terkejut. Karena dokter Angga langsung berpegangan ke railing tangga membuat pria itu tidak terjatuh.
"Jangan melawan pak Bronson. Aku bisa mendorong kamu dari tangga ini," ancam dokter Angga. Bronson hanya bisa protes lewat matanya.
"Dokter Angga. Aku akan memberikan apapun kepada kamu. Asal kamu bersedia pergi secepatnya dari rumah ini," kata Bronson. Tapi Dokter Angga tidak berminat. Dari dulu, dirinya sudah berusaha lepas dari Bronson tapi ada ada saja alasan yang dibuat oleh Bronson supaya dirinya tidak bisa keluar dan merasa termakan budi.
"Sudah terlambat. Lihat itu!" kata dokter Angga sambil menunjuk ke arah salah satu kamar yang tak lain adalah kamar Bronson dan istrinya.
__ADS_1
Bronson menatap kamar miliknya itu. Wanita itu membuat dirinya takut. Istrinya berdiri di depan kamar itu dengan tatapan tajam.