
Evan merasakan hatinya lebih berbahagia setelah menyandang status baru. Statusnya kini menjadi duda dan ayah dari seorang putri yang bernama Cahaya. Evan bisa merasakan tidurnya lebih nyenyak dibandingkan dirinya ketika belum mengetahui keberadaan Anggita.
Evan terbangun di pagi hari ini dengan senyum yang terus tersungging di bibirnya. Sebenarnya dia ingin menghubungi Anggita dan putrinya terlebih dahulu. Tapi mengingat perkataan Anggita yang butuh ketenangan selama penyembuhan, Evan mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin Anggita risih dengan perhatiannya. Pagi hari ini, Evan hanya mengucapkan seuntai doa untuk putri dan kesembuhan mantan istrinya itu.
Evan memulai aktivitasnya seperti biasanya. Pria itu sarapan terlebih dahulu dan berbagi kebahagiaan dengan Bibi Ani dengan memberitahukan tentang kelahiran putrinya itu kepada asisten rumah tangga rasa saudara itu.
"Semoga tuan Evan Dan non Anggita bisa menjadi orang tua yang baik bagi Cahaya, tuan," kata Bibi Ani tulus.
"Amin Bibi. Doakan juga bi, semoga Anggita terketuk hatinya untuk rujuk denganku," jawab Evan sebelum memasukkan roti ke dalam mulutnya. Bibi Ani hanya menganggukkan kepalanya.
"Menurut Bibi. Anggita bersedia tidak ya. Rujuk denganku."
"Tuan harus berusaha keras meluluhkan hatinya tuan. Walau pun non Anggita adalah wanita yang baik dan tulus yang sudah memaafkan semua perbuatan tuan. Untuk bersedia rujuk kembali hanya non Anggita sendiri Dan yang Diatas yang mengetahuinya. Lagipula kalau kalian memang berjodoh, pasti ada jalan yang harus kalian lewati. Bisa saja jalannya harus berliku liku terlebih dahulu tuan."
"Benar itu Bibi. Sekarang yang mengejar dirinya bukan hanya aku Bibi."
"Itu hal wajar tuan. Non Anggita tidak hanya cantik wajah. Tapi hatinya juga cantik. Cara bersikapnya memancarkan hatinya yang tulus."
Evan menganggukkan kepalanya setuju dengan perkataan Bibi Ani. Tidak sulit baginya mendapatkan maaf dari Anggita. Jika mengingat semua perbuatannya dulu. Anggita bisa saja mengusir dirinya dari rumah sakit dan tidak memberi akses kepada dirinya untuk bertemu dengan Cahaya putrinya.
Jika Anggita mengaku jika dirinya masih terkenang dengan semua perbuatannya di Masa lalu. Evan bisa memaklumi itu.
Evan keluar dari rumah itu menuju kediaman nenek Rieta. Dia ingin mengabarkan kelahiran putrinya itu kepada keluarga besarnya.
Suasana rumah nenek Rieta sangat sepi ketika Evan tiba di rumah itu. Baik Rendra atau nenek Rieta tidak terlihat sama sekali. Evan langsung menuju taman di belakang rumah karena Evan menduga jika papa dan neneknya itu berjemur di taman ini. Sudah suatu kebiasan bagi Rendra dan Nenek Rieta menghabiskan waktu sekitar dua jam di taman setiap paginya. Sejak bercerai resmi dari Anita. Rendra tinggal di rumah itu sesuai permintaan nenek Rieta.
"Papa," panggil Evan pelan. Evan dapat melihat papanya sedang memeluk seorang wanita yang bukan nenek Rieta.
Rendra dan wanita itu terperanjat Dan saling melepaskan pelukan. Evan juga tidak kalah terkejut melihat siapa wanita yang sedang dipeluk oleh papanya. Wanita yang merupakan Nia itu seketika menundukkan kepalanya.
"Ada apa nak?" tanya Rendra tenang. Apa yang dilihat oleh Evan seperti hal biasa bagi Rendra.
"Mana nenek?.
"Mungkin di kamarnya."
"Oke pa. Maaf aku mengganggu. Selesaikan urusan papa dengan Nia. Aku dan nenek di ruang tamu. Yang lain sudah on the way menuju rumah ini."
Evan meninggalkan dua insan itu. Evan tidak ingin campur urusan papanya dengan Nia walaupun itu bukan urusan tentang kafe pelangi. Papanya sudah duda. Bukan hal yang memalukan jika berhubungan dengan wanita muda seperti Nia.
Evan langsung menuju kamar nenek Rieta itu. Dia membuka pintu perlahan. Dia ingin memberikan kejutan akan kedatangan kepada nenek tua itu. Evan mengendap masuk ke kamar. Matanya melihat nenek Rieta sedang berdiri di depan lemari besar. Sepertinya wanita tua itu sedang memilih pakaian yang hendak di pakainya.
Evan berjalan pelan tanpa menutup pintu. Ketika dirinya sudah tepat berada di belakang sang nenek. Evan langsung menutup mata wanita tua itu.
"Lepaskan. Nenek tahu kamu pasti Evan."
Evan langsung tertawa mendengar tebakan neneknya yang seratus persen benar.
"Hal apa yang membuat kamu bahagia nak. Sudah lama kamu tidak memberikan kejutan seperti ini," kata Nenek Rieta sambil memilih pakaian itu. Sudah suatu kebiasan Evan di masa dulu sebelum menikah dengan Anggita melakukan hal seperti jika hatinya dalam suasana senang.
"Nenek yang lebih berbahagia jika aku memberitahukan sumber kebahagiaan aku." Kini Evan sudah memeluk nenek Rieta dari belakang. Sikapnya sangat manja membuat Nenek Rieta tersenyum. Nenek Rieta ikut senang dengan sikap Evan yang perlahan lahan kembali seperti dulu lagi.
"Oya. Beritahu nenek sekarang."
"Tidak sekarang. Kita berkumpul di ruang keluarga. Yang lain sudah di jalan."
__ADS_1
"Baiklah. Keluarlah dulu. Nenek hendak mengganti pakaian."
"Jangan pakai yang ini. Pakai pakaian yang cerah seperti kemeja aku," kata Evan sambil mengambil pakaian warna coklat dari tangan nenek Rieta. Kemudian pria itu memilih pakaian warna cerah untuk neneknya. Nenek Rieta hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan menerima pakaian warna kuning yang dipilihkan oleh Evan untuk dirinya.
Evan, Rendra dan Nenek Rieta sudah di ruang keluarga. Mereka menunggu kedatangan tante Tiara, Gunawan. Dia tidak mengundang Danny karena Evan merasa bahwa Danny sudah mengetahui tentang kelahiran putrinya.
"Nek, tadi Ada yang berpacaran di taman," kata Evan bermaksud mengerjai papanya. Rendra yang sedang asyik bermain ponsel langsung menatap Evan.
"Siapa?. Kurang kerjaan tuh orang berpacaran di taman. Siapa orangnya Evan. Nenek harus memberikan hukuman yang menjadikan tamanku tempat berpacaran."
Nenek menanggapi candaan Evan dengan serius. Nenek mengira jika orang yang berpacaran yang dikatakan oleh Evan adalah para pekerja di rumah itu.
"Tanya papa nek. Papa juga tadi ada di taman itu." Evan tersenyum melihat matanya papanya yang membulat.
"Siapa Rendra?.
"Ti..tidak ada lihat mama." Evan tertawa melihat kegugupan papanya.
"Jangan bohong kamu Rendra. Jangan melindungi para pekerja yang tidak displin waktu dan seenaknya berpacaran di taman."
"Iya ma. Serius. Aku tidak melihat orang berpacaran tadi di taman."
"Papa tidak melihat karena papa pelakunya. Tadi papa dan Nia berpacaran di taman nek." Evan kembali tertawa. Sedangkan Rendra menatap Evan dengan tajam.
"Oo itu. Nenek sih setuju kalau papa kamu pacaran dan secepatnya menikah. Juga dengan kamu dan Danny. Nenek berharap kalian menemukan pasangan hidup yang baik sebelum nenek menutup mata untuk selamanya.
Suasana di ruangan itu berubah sendu setelah nenek mengungkapkan keinginannya. Nenek terlihat sedih mengingat keturunannya ada tiga orang dengan status duda. Untung saja Tante Tiara dan Gunawan serta Danny tiba di ruangan sehingga suasana sendu itu cepat berlalu. Kini sudah terdengar canda dan tawa di ruang keluarga itu.
"Ada apa Evan?. Apa ada hal penting yang ingin kamu sampaikan?" tanya Gunawan lembut setelah berbasi basi sebentar sesama mereka.
Nenek Rieta, tante Tiara, Rendra dan juga Gunawan tertegun mendengar perkataan Evan. Meraka menatap Evan tidak percaya seolah olah pria itu salah bicara.
"Maksud kamu Anggita melahirkan?" tanya Rendra tidak percaya. Ketika Evan menganggukkan kepalanya. Pria itu langsung bersorak. Nenek Rieta dan Tante Tiara bersorak karena terlalu bahagia mendengar kabar itu.
"Aku sudah menjadi kakek. Kita satu sama bro," kata Rendra senang dan mengulurkan tangannya ke Gunawan untuk melakukan tos. Gunawan menganggukkan kepalanya juga senang. Rendra sangat menunjukkan rasa senangnya.
Sedangkan Tante Tiara dan nenek Rieta kini terlihat meneteskan air mata mendengar kabar bahagia itu. Di benak dua wanita itu, mereka membayangkan Anggita menjalani kehamilan itu dengan sendiri. Mereka jelas mengingat jika Anggita pernah keguguran. Tapi mendengar Anggita melahirkan, nenek Rieta dan Tante Tiara menduga bahwa Anggita sengaja berbohong supaya secepatnya lepas dari Evan saat itu.
"Mereka bukan di kota ini," kata Evan ketika Gunawan menanyakan dimana alamat Anggita. Dia pun akhirnya memberitahukan alamat Anggita.
"Kita harus kesana sekarang. Aku ingin melihat cucuku dan mengembalikan kafe pelangi kepada Anggita," kata Rendra bersemangat. Nenek Rieta dan Tante Tiara menganggukkan kepalanya dengan senang.
"Kalian tidak ikut?" tanya tante Tiara kepada Evan dan Danny yang masih duduk tenang di ruang keluarga itu. Sedangkan Nenek Rieta, Gunawan dan Rendra sudah keluar dari ruangan itu.
"Aku baru pulang tadi malam dari Kota itu ma." Evan sengaja memberikan alasan yang masuk akal padahal hatinya sebenarnya sangat ingin ke Kota itu untuk melihat dua perempuan yang kini sudah bertahta di hatinya.
"Aku lain Kali saja kesana ma. Dua jam lagi aku ada rapat." Danny sebenarnya ingin mengatakan jika sudah melihat wajah keponakannya itu. Tapi karena ada Evan di tempat itu. Danny takut mengatakan sejujurnya. Dia takut Evan marah.
Evan dan Danny menjawab pertanyaan tante Tiara. Wanita itu mengangguk dan berlalu dari ruangan itu.
"Mengapa kamu menyembunyikan mereka dari aku, Danny. Tidakkah kamu bisa melihat jika aku sampai hampir stress karena tidak menemukan Anggita?" tanya Evan pelan. Cara bicaranya tidak menunjukkan rasa marah sama sekali tapi jelas terdengar jika Evan sangat kecewa.
Danny menatap wajah kakaknya itu sebelum menjawab pertanyaan Evan. Jauh di lubuk hatinya dia juga kasihan melihat perjuangan kakaknya itu selama beberapa bulan ini. Selain karena terikat dengan janji dengan Anggita. Danny ingin melihat bagaimana perjuangan Evan mencari Anggita. Danny ingin Evan menyadari kesalahannya dengan sungguh sungguh sebelum menemukan Anggita.
"Bukan menyembunyikan bro. Aku sudah terikat janji kepada Anggita. Aku menemukan mereka bukan di Kota itu melainkan di desa yang sangat terpencil dan berbahaya. Berbahaya karena di desa itu banyak yang menyukai Anggita dengan cara yang kolot. Memperebutkan Anggita dengan datang setiap hari bergantian membuat Anggita terganggu. Terpencil karena layanan kesehatan sangat minim. Aku membujuk mereka pindah dari sana dengan sebuah janji tidak akan memberitahukan keberadaan mereka kepada kamu dan anggota keluaga lainnya. Pemikiran aku kala itu yang terpenting Anggita dan ibu Feli aman dan nyaman terlebih dahulu. Maaf bro. Aku tidak bisa mengingkari janji ku kepada Anggita. Jika kalian bertemu sekarang. Mungkin itu adalah jawaban dari doa doa kamu dan juga doa doa ku."
__ADS_1
Danny tidak bisa mengelak lagi. Dia memilih jujur karena merasa tidak ingkar janji kepada Anggita.
"Kalau begitu.Terima kasih Danny."
Mendengar perkataan Danny yang panjang lebar. Evan merasa bersyukur karena Danny sudah melakukan hal yang tepat untuk melindungi Anggita. Dia juga tidak dapat membayangkan jika Anggita berada di desa terpencil itu. Mengingat Anggita melahirkan secara Caesar. Entah apa yang terjadi jika Anggita berada di desa terpencil itu.
"Sama sama bro. Tapi ada satu hal yang ingin aku katakan kepada kamu."
"Apa itu?.
"Biarkan Anggita bahagia. Dan dia berhak bahagia. Jika harapan kamu tidak sesuai kenyataan jangan memaksakan kehendakmu kepadanya Anggita."
"Apa maksud kamu Danny?" tanya Evan lemas. Kata kata Danny sangat jelas untuk membuat Evan tidak boleh terlalu berharap banyak akan pertemuan Anggita dan Evan.
"Banyak pria yang memandang Anggita sebagai berlian. Dan ada satu pria yang beruntung. Perhatiannya ditanggapi Anggita dengan baik. Dia saingan berat kamu bro. Jika suatu saat Anggita memilih pria itu. Kamu harus ihklas."
Evan menundukkan kepalanya mendengar perkataan Danny. Dia mengetahui siapa pria yang dimaksudkan oleh Danny. Jauh di lubuk hatinya dia tidak ingin melepaskan Anggita.
"Jangan egois bro. Kamu harus ingat dan sadar. Jika Anggita adalah wanita yang tidak terikat dengan kamu walau ada anak diantara kalian. Tidak ada alasan bagi Anggita menurut hal apapun kepada kamu." Danny seakan bisa membaca pikiran Evan.
"Kamu mendukung siapa sebenarnya. Aku saudara kandung kamu atau dokter itu." Suara Evan terdengar sedikit kesal. Inilah alasan Danny mengatakan hal jujur yang sedang terjadi dengan Anggita. Karena Danny tidak ingin Evan akan bertindak egois nantinya jika harapannya tidak sesuai kenyataan. Apalagi sampai mengorbankan anak karena keegoisannya.
"Aku tidak mendukung siapapun. Jika boleh jujur. Aku sangat berharap Anggita kembali kepada kamu dengan syarat kamu sudah mencintai wanita itu bukan karena alasan anak. Tapi jika kenyataan tidak seperti itu. Aku tidak ingin Anggita tersakiti kembali. Jika itu terjadi maka aku yang berdiri paling depan untuk melindungi dia," kata Danny tegas. Tanpa mendengar tanggapan Evan. Pria itu bangkit dari duduknya dan meninggalkan Evan sendirian di ruang keluarga itu.
Beberapa jam kemudian. Di rumah Anggita terlihat heboh. Tante Tiara, nenek Rieta, Gunawan dan Rendra sudah tiba di rumah Anggita. Mereka tidak kesulitan menemukan alamat Anggita karena kafe bintang sudah sangat dikenal di Kota itu.
Empat orang itu berebutan untuk menggendong Cahaya. Rendra sengaja paling belakangan menggendong tapi mendesak yang lainnya untuk segera memberikan Cahaya kepadanya. Pria itu terlihat sangat bahagia sambil tersenyum memandangi wajah cucunya. Gunawan dan tante Tiara sangat maklum akan rasa bahagia yang ditunjukkan oleh Rendra. Mengingat pria itu tidak mempunyai anak kandung. Sedangkan Nenek Rieta harus menyembunyikan rasa sedih melihat Rendra yang bisa dirasakan oleh nenek Rieta sangat merindukan kehadiran seorang anak di hidupnya.
"Maaf ya nenek. Aku terpaksa melakukan hal itu."
Anggita meminta maaf setelah menceritakan alasan mengapa dirinya menyembunyikan kehamilannya dulu. Dia menceritakan karena Gunawan menanyakan hal itu.
"Apapun itu, kamu melakukan hal yang terbaik nak. Andaikan nenek mengetahui jika kamu ternyata tidak keguguran. Nenek dan kakek pasti menahan kamu untuk tetap berada di rumah. Dan nenek tidak dapat membayangkan apa yang terjadi mengingat Adelia ternyata orang yang sangat jahat."
Anggita menarik nafas lega. Kedatangan keluarga kakek Martin hari ini membuat beban pikirannya berkurang.
"Anggita, Kafe pelangi tetap milik kamu. Karena kamu sudah ditemukan. Maka mulai bulan depan Nia yang akan memberikan laporan kepada kamu."
"Papa."
"Jangan ditolak nak. Rumah yang ditempati oleh Evan boleh kamu tolak. Tapi tidak dengan kafe," kata Rendra tegas.
"Terima nak. Sempurnakan kebahagiaan keluaga besar kakek Martin dengan menerima kafe itu. Andaikan kakek masih hidup. Dia pasti yang paling berbahagia karena mendapatkan keturunan dari wanita baik seperti kamu."
Anggita tidak kuasa menolak perkataan Nenek Rieta. Dia hanya menatap wanita tua itu dengan mata yang berkaca kaca.
"Iya benar. Papa pasti bahagia karena kedua cucunya sudah mempunyai masing masing keturunan," kata Gunawan membenarkan perkataan Nenek Rieta.
"Dan tidak lama lagi. Kita kembali berbahagia karena salah satu duda yang ada di keluaga kita akan melepaskan masa dudanya," kata Nenek Rieta sambil tersenyum. Gunawan dan tante Tiara tentu saja bertanya tanya dalam hati mereka siapa yang dimaksudkan oleh nenek Rieta. Sepasang suami istri itu langsung menoleh secara bersamaan kepada Anggita.
Anggita sadar ditatap oleh Gunawan dan tante Tiara. Dia mendadak tidak nyaman. Sejak kedatangan Nenek Rieta dan yang lainnya di rumah itu. Satu kalipun tidak ada yang menyinggung tentang nama Evan. Anggita menduga jika perkataan nenek Rieta itu untuk Evan dan dirinya.
"Benarkah ma?" tanya tante Rieta antusias.
"Benar. Iya kan Rendra. Rendra akan menikah sebentar lagi dengan wanita yang cantik dan juga baik. Jauh berbeda lah dari Anita."
__ADS_1
Anggita menarik nafas lega setelah mendengar perkataan Nenek Rieta. Walau dirinya bingung dengan apa yang dikatakan oleh nenek Rieta. Anggita tidak mau bertanya. Anggita sangat sadar jika dirinya bukan lagi bagian Anggota keluaga kakek Martin.