Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Saling Memaafkan


__ADS_3

"Danny!" panggil Evan sebelum Danny masuk ke dalam mobil.


"Ada apa bro?" tanya Danny tenang. Kedatangan Jessi pagi ini seakan tidak berpengaruh kepada dirinya untuk memikirkan pertanggungjawaban akan kehamilan Nia.


"Bagaimana pendapat kamu tentang kedatangan adiknya Nia tadi," kata Evan. Danny menyandarkan tubuhnya ke Mobil dan memainkan kunci mobil yang ada di tangannya.


"Wanita yang cukup berani," jawab Danny.


"Bukan itu maksud aku tolol. Cahaya juga jika ditanya pasti bisa mengatakan seperti yang kamu katakan itu," kata Evan kesal.


"Jadi pendapat apa yang kamu inginkan?.


"Apa kamu tidak tersentuh sedikitpun dengan kata kata Jessi tadi?" tanya Evan.


"Entahlah kak. Jujur, aku tidak mempunyai rasa apapun yang berkaitan dengan Nia. Mungkin karena aku melakukan hubungan suami istri itu tanpa sadar sehingga rasa ingin memperjuangkan Nia sulit muncul di hatiku," jawab Danny jujur. Danny sudah berusaha untuk merenungkan saran Evan yang meminta menikahi Nia dengan Siri terlebih dahulu. Tapi sampai detik ini keinginan menikah itu tidak terbersit sama sekali di dalam hatinya.


Danny masih mengingat bagaimana pagi itu, dia terbangun dan melihat kondisi mereka yang tanpa busana. Danny tidak mengingat apa yang dia lakukan karena Danny merasa dirinya seperti di alam mimpi ketika melakukan hal itu. Satu hal yang membuat Danny percaya melakukan hubungan suami istri itu dengan Nia karena adanya bercak darah keperawanan Nia dan bekas ciuman miliknya di tubuh Nia.


"Danny, kamu sudah dewasa dan aku rasa kamu cukup tahu apa yang terbaik dalam hidup kamu," kata Evan.


"Aku mengerti arah perkataan kamu itu kak. Justru semakin aku memikirkan keputusan ku semakin bulat untuk tidak terburu buru menikah meskipun dengan alasan kehamilan Nia. Aku yang akan menjalani kehidupanku sendiri," jawab Danny.


"Aku hanya ingin kamu tidak menyesal seperti yang aku alami dulu."


"Situasi kita berbeda kak. Kamu menyakiti Anggita dalam ikatan pernikahan. Sedangkan dalam situasi yang aku alami. Aku dan kehamilan Nia adalah korban dari jebakan Nia."


"Terserah kamu saja," kata Evan ketus. Evan berjalan melewati mobil Danny. Evan masuk ke dalam mobil meninggalkan Danny yang masih berdiri di samping mobilnya.


"Danny, Pikirkan apa yang dikatakan oleh Evan. Walau kamu adalah korban dari jebakan Nia. Kamu tidak bisa mengingkari jika janin itu adalah darah daging kamu," kata Rendra yang tiba tiba muncul di hadapan Danny. Rendra tidak sengaja mendengar pembicaraan dua bersaudara itu ketika hendak masuk ke dalam mobilnya.


"Aku sudah memutuskan pertanggungjawaban seperti apa yang harus aku berikan kepada Nia om. Semua dari perbuatan ada konsekuensinya. Termasuk perbuatan yang dilakukan oleh Nia. Bisa saja aku diam diam menikahi Nia secara Siri tanpa sepengetahuan papa, mama dan nenek Rieta. Tapi apa itu akan menyelesaikan masalah?. Aku rasa tidak om. Untuk saat ini. Biarlah dulu seperti ini."


"Tapi ada nasib janin yang harus kamu pikirkan."


"Om benar. Aku memang memikirkan janin itu. Itulah sebabnya aku memberikan pertanggungjawaban materi kepada Nia. Tapi om lihat sendiri apa yang terjadi pagi ini. Kedatangan adiknya tadi merupakan pemutusan hubungan antara aku dan janin itu. Kita sudah beritikad baik. Apa Nia mempunyai itikad baik juga?"


Danny sebenarnya sangat kesal akan kedatangan Jessi pagi ini. Bagi Danny, apa salahnya Nia menjalani kehidupan ini tanpa membuat drama dehidrasi dan pengembalian cek itu. Danny menilai Nia belum dewasa dan mementingkan ego nya saja. Tidak ingin menperpanjang pembicaraan itu. Danny masuk ke dalam mobilnya begitu juga dengan Rendra.


Rendra masih terngiang semua perkataan Jessi. Kehamilan itu adalah anugerah dan bukan kehendak manusia tapi karena Pemilik Hidup yang memberikan kepercayaan kepada wanita untuk hamil. Memikirkan kata kata Jessi, terbersit rasa kasihan di hati Rendra kepada Nia. Bagaimana pun sekarang kisah mereka. Rendra tetap sudah pernah menerima kebaikan dari Nia. Berkat wanita itu, Rendra tidak lagi dikejar oleh sang mantan istri.


Rendra meminta kepada sang supir untuk tidak mengantarkan dirinya ke kantor melainkan ke satu alamat.


"Pak Rendra,,,," gumam Nia setelah melihat Rendra berdiri di depan pintunya. Sejak kepergian adik adiknya ke kampus, Nia membiarkan pintu itu terbuka supaya udara masuk ke dalam rumahnya.


"Maaf Nia, bisakah kita berbicara di luar saja" tanya Rendra kepada Nia. Rendra masih berdiri di pintu itu dan tidak berniat masuk ke dalam rumah. Rendra mengetahui jika hanya Nia yang ada di rumah itu Dan Rendra tidak ingin ada fitnah jika mereka berduaan di dalam rumah apalagi Nia saat ini dalam keadaan hamil.


Nia menganggukkan kepalanya. Dengan menunduk Nia berjalan ke arah pintu.


"Silahkan duduk pak," kata Nia gugup sambil menggeser bangku rotan ke arah Rendra. Rendra duduk. Dia menatap Nia yang sudah duduk juga dengan menundukkan kepalanya. Ini pertama kalinya mereka bertemu setelah Nia membatalkan pernikahan itu.

__ADS_1


"Mengapa kamu mengembalikan uang Lima puluh juta itu. Uang itu tidak ada kaitannya dengan kehamilan kamu saat ini. Itu adalah hak kamu karena sudah membantu aku."


"Maaf jika dengan mengembalikan uang itu membuat bapak tersinggung. Tapi aku mengembalikan uang itu karena masalah yang aku hadapi ini berawal dari uang yang bapak tawarkan. Andaikan aku menolak tawaran bapak, mungkin jalan cerita kehidupanku tidak seperti ini. Jadi, untuk memperbaiki hidupku yang penuh dosa. Aku ingin memulai hidupku dari titik nol tanpa bantuan materi dari bapak maupun dari keluarga bapak."


"Aku menghargai keputusan kamu Nia. Nia, maafkan aku. Aku sudah mendengar dari Danny alasan kamu melakukan penjebakan itu. Andaikan kamu mengatakan baik baik membatalkan pernikahan itu. Aku pasti tidak mungkin memaksa kamu. Aku pasti akan melepaskan kamu."


Rendra sadar, Apa yang dialami Nia saat ini tidak lepas dari ambisinya yang ingin menikah dan mempunyai keluarga kecil. Andaikan dirinya tidak menawarkan pernikahan dan jaminan masa depan untuk kedua adiknya mungkin saja Nia juga masih bahagia saat ini menjalani kehidupanya sebagai pegawai kafe pelangi.


"Bapak tidak salah, aku yang salah pak. Maafkan aku pak yang membuat kegaduhan di keluarga bapak," kata Nia. Mengingat semua kesalahannya. Nia menangis.


"Sudah, jangan menangis Nia. Aku sudah ihklas memaafkan kamu. Dan aku juga berharap kamu ihklas memaafkan aku. Kita harus saling memaafkan dan mendoakan supaya Tuhan memberikan jodoh terbaik yang bisa menerima kekurangan kita masing masing. Aku mendoakan kamu mendapatkan kehidupan yang baik dan jodoh yang baik walau bukan Danny orangnya."


Nia terisak, dia memberanikan diri menatap pria yang dihancurkan karena perbuatannya oleh dirinya sendiri. Nia sangat merasa bersalah melihat tatapan teduh dari Rendra untuk dirinya.


"Terima kasih atas doanya pak. Aku juga sangat berharap bapak mendapatkan wanita terbaik yang mencintai bapak dengan tulus."


"Terima kasih atas doanya Nia. Jangan menangis lagi ya. Kamu harus kuat menjalani kehidupan ini demi adik adik Dan janin kamu. Aku percaya kamu orang baik yang sedang mendapatkan ujian kehidupan. Aku percaya kamu bisa melewati ujian kehidupan ini walau tanpa tanggung jawab Danny."


Nia tidak sanggup berkata kata menjawab perkataan Rendra. Dia masih menangis bukan menangisi kehidupan pahit ini tapi Nia menangis melihat ketulusan hati Rendra memaafkan dirinya dan juga mendoakan dirinya.


"Uang Lima puluh juta itu aku transfer balik ke rekening kamu ya," bujuk Rendra setelah tangisan Nia sedikit mereda. Cara Rendra membujuk Nia persis seperti seorang ayah yang membujuk putrinya.


"Tolong, jangan Pak," larang Nia cepat.


"Tapi itu adalah hak kamu, uang kamu," kata Rendra berusaha mempengaruhi Nia. Nia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Mereka bertiga tadi malam sudah membuat rencana untuk berusaha tanpa memakai uang dari keluarga Danny.


"Kalau begitu. Begini saja Nia. Bagaimana kalau adik adik kamu bekerja di perusahaanku saja. Mereka bisa kuliah sambil bekerja," kata Rendra. Dari tadi, Rendra memikirkan bagaimana Nia Dan adik adiknya bisa bertahan hidup tanpa pekerjaan dan uang.


"Lalu bagaimana dengan kuliah adik adik kamu?" tanya Rendra. Dia masih ingat apa yang menjadi alasan Nia bersedia bekerja sama dengan dirinya. Nia bersedia karena memikirkan pendidikan adik adiknya.


"Aku sangat yakin jika kami pasti mampu bertahan tanpa mengorbankan pendidikan adik adikku pak," jawab Nia tenang.


"Baiklah kalau begitu. Hanya saja masih ada yang terganjal di hatiku selama ini. Apa motif kamu murni untuk menggagalkan pernikahan sehingga melakukan penjebakan itu Nia?" tanya Rendra membuat Nia terkejut.


"Maksud bapak?"


"Maksud aku. Apa tidak ada motif lain sehingga kamu nekat melakukan perbuatan hina itu?"


Nia kembali terkejut mendengar pertanyaan Rendra. Bahkan wajahnya terlihat pucat. Tidak mungkin dirinya menceritakan bahwa Danny meminta dirinya untuk memikirkan matang matang tentang pernikahan itu. Jika ingin membela diri, bisa saja Nia mengatakan hal itu dari dulu di hadapan keluarga besar Danny atau kepada Anggita dan Evan. Tapi Nia tidak ingin Rendra salah paham kepada Danny seperti dirinya yang salah paham mengartikan saran Danny sebagai bentuk perhatian kepada dirinya. Nia tidak ingin membuat masalah baru dalam keluarga itu dan menambah beban pikiran Rendra.


"Tidak ada pak,"


"Apa kamu yakin, bagaimana jika aku bisa menemukan fakta lain tentang motif kamu melakukan penjebakan itu.


Nia terlihat menundukkan kepalanya dan meramas ujung bajunya. Pertanyaan Rendra seperti ancaman kepada dirinya.


"Tidak ada Pak. Murni karena ingin terlepas dari pernikahan itu," jawab Nia setelah terdiam beberapa saat.


"Jika ada motif lain. Kamu boleh mengatakan kepadaku kapanpun kamu mau. Penjebakan ini membuat harga diri kamu terjun bebas. Dari wanita baik dan tulus menjadi wanita licik. Aku berharap kamu memikirkan untuk membersihkan nama baik kamu demi anak kamu juga nantinya," kata Rendra lagi.

__ADS_1


"Pikirkan baik baik perkataanku Nia. Terlepas dari penjebakan itu. Di mataku kamu tetap seperti Nia yang aku kenal dulu. Aku akan tetap menyayangi kamu dengan porsi yang berbeda. Karena kamu mengandung calon generasi dari kakek Martin. Aku akan menganggap kamu sebagai putriku. Jadi untuk kedepannya. Jangan sungkan untuk menceritakan masalah apapun yang menimpa kamu."


Nia terharu mendengar perkataan tulus dari pria yang dia sakiti. Dulu bersedia memutuskan untuk menikah dengan Rendra karena Nia dapat merasakan kasih sayang seorang ayah dari Rendra. Tapi semua hilang karena kebodohannya sendiri.


"Dan satu lagi Nia. Mulai hari ini buat kamu berharga di hadapan semua orang. Jaga kehamilan kamu baik baik," kata Rendra. Pria itu bangkit dari duduknya. Dia mengatakan hal itu kepada Nia supaya Nia tidak lagi mengharapkan Danny.


"Sekali lagi, terima kasih pak," kata Nia ketika Rendra sudah melangkah ke arah mobilnya. Ketika Rendra hendak masuk ke dalam mobil. Rendra tersenyum ke arah Nia. Rendra merasa lega karena bisa bertemu Nia dan mereka saling memaafkan. Rendra merasa penting melakukan ini mengingat hubungan mereka yang sudah serius hingga ke jenjang pernikahan. Ibarat sepasang kekasih. Apa yang dilakukan oleh Rendra saat ini adalah memutuskan hubungan mereka. Karena sejak Nia memutuskan menggagalkan pernikahan itu. Rendra belum memutuskan Nia begitu juga sebaliknya walau sebenarnya sudah otomatis mereka tidak ada hubungan setelah mengetahui kehamilan Nia. Saat itu keluarga dari pihak Rendra sibuk mencari jalan keluar supaya tidak malu di Hari H. Sedangkan Nia juga sibuk dengan kesedihannya karena penolakan Danny dan keluarganya.


Rendra merasa lega. Dia berharap setelah memaafkan Nia dan meminta maaf kepada wanita itu. Rendra menemukan Kemudahan untuk mendapatkan wanita terbaik yang menjadi pendampingnya kelak. Begitu juga dengan Nia. Wanita itu merasa lega karena Rendra bersedia memaafkan dirinya. Nia mengucapkan doa doa yang baik di dalam hatinya sambil memperhatikan Mobil Rendra yang sudah bergerak meninggalkan pekarangan rumahnya.


Dan benar saja, baru saja Rendra duduk di kursi kebesarannya. Suara ketukan terdengar dari luar. Rendra tersenyum sangat manis melihat si wanita pujaan yang berjalan ke arah meja kerjanya. Tiga hari sejak tawaran pulang bersama wanita itu tidak membuahkan hasil sama sekali.


"Selamat pagi pak," sapa wanita itu sopan. Rendra menganggukkan kepalanya dan menggerakkan tangannya menyuruh wanita itu untuk duduk. Rendra juga langsung menyodorkan tangannya menerima berkas yang dibawa wanita itu.


Rendra terlihat serius membaca berkas berkas itu kemudian membubuhkan tanda tangan.


"Pak, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya wanita itu sopan.


"Silahkan."


"Apa benar cuti pak manager akan diperpanjang satu minggu lagi?" tanya Anna pelan.


"Benar, istrinya setelah dua hari melahirkan tiba tiba drop. Kenapa, apa kamu menemukan kendala?" tanya Rendra.


"Ada Pak, Lima Hari lagi sudah akhir bulan. Semua laporan keuangan butuh tanda tangan manager," jawab wanita itu sopan.


"Kamu tidak perlu khawatir. Bekerja lah seperti biasa. Tentang tanda tangan, kamu bisa menyuruh salah satu Anggota kamu membawa berkas yang akan dia tanda tangani ke rumahnya."


"Baik Pak, terima kasih."


"Tunggu dulu. Duduk dulu," kata Rendra cepat. Wanita itu kembali mendaratkan tubuhnya di kursi.


"Ada apa pak."


"Bisakah kamu pesankan makan siang untuk diriku nanti tepat jam 12?"


"Baik Pak," jawab wanita itu cepat.


"Dan harus kamu yang mengantarkan ke ruangan ini," kata Rendra lagi.


"Baik Pak."


"Kita makan siang bersama di ruangan ini nanti."


"Siap pak."


Rendra tersenyum mendengar jawaban cepat dari Anna.


"Eh, maaf Pak. Maksudnya tadi makan siang bagaimana pak?" tanya Anna bingung. Dia mencerna ulang perkataan Rendra itu.

__ADS_1


"Tidak Ada siaran ulang. Yang pasti Saya tidak suka melihat karyawan yang seenaknya saja mengingkari apa yang sudah disetujui. Nanti siang, Saya menunggu kamu di sini. No debat. Sekarang kembali ke ruangan kamu."


Anna keluar dari ruangan Rendra dengan malu dan mengutuk dirinya yang menjawab dengan cepat tanpa mencerna terlebih dahulu. Sedangkan di ruangannya. Rendra tersenyum dan bersorak dalam hati. Perpanjangan cuti sang manager keuangan seakan kesempatan emas baginya untuk berdekatan dengan Anna.


__ADS_2