
Nia benar Benar bertekad menjadi istri dan mama yang baik bagi Danny dan kedua putri mereka. Setelah beberapa malam. Nia sudah tidur satu ranjang dengan Danny. Kini pagi hari ini. Nia membuat sarapan khusus untuk keluarga kecilnya. Sarapan yang dibuat Nia memang sarapan biasa. Tapi ketika menyajikan sarapan itu. Pelayanan Nia sungguh luar biasa.
Nia membuat suasana yang berbeda di pagi hari ini. Ketika Danny sedang membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Nia menyajikan sarapan hasil buatannya di atas meja di balkon kamar mereka.
Nia tidak butuh waktu lama untuk membuat makanan sederhana itu untuk keluar kecilnya. Nia tersenyum. Di pagi hari ini. Nia sudah berjanji akan memulai hari ini dengan menyenangkan hati suaminya.
Nia kembali masuk ke kamar setelah merasa suaminya sudah selesai membersihkan tubuhnya. Nia merasakan hatinya berdebar. Sejak tadi malam dirinya sudah merencanakan sarapan pagi di balkon tapi untuk mengajak Danny sarapan disana. Nia masih merasa canggung. Dia berdiri di membelakangi kamar mandi. Ternyata suaminya itu belum keluar dari kamar mandi.
"Se.. selamat pagi kak," sapa Nia gugup. Dari tadi pagi mereka belum saling menyapa. Setelah bangun tadi pagi. Nia meninggalkan Danny di ranjang masih tertidur. Ketika dirinya melewati kamar menuju balkon. Danny sedang di kamar mandi.
Danny tersenyum mendengar sapaan istrinya. Lagi lagi Danny merasakan jika pagi Hari ini terasa berbeda dengan pagi hari sebelumnya. Danny tidak langsung menjawab sapaan Nia. Pria itu mendekati Nia tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.
Entah apa yang terjadi dengan jantung wanita itu. Nia benar benar merasakan jantungnya tidak sehat. Nia berdiri tegak bagaikan patung setelah menyadari suaminya sudah berdiri sangat dekat dirinya. Dia berusaha tidak menggerakkan tangannya. Dia takut pergerakan tangannya akan membuat handuk yang melilit di bagian pinggang suaminya itu akan terlepas.
"Selamat pagi juga istriku."
Nia membulatkan matanya. Danny tidak hanya membalas sapaan tapi juga mencium pipinya. Bukan hanya itu. Nia berhenti bernafas sesaat karena Danny kini memeluk tubuhnya. Nia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di tubuhnya dan dia mengetahui jika yang mengganjal itu adalah benda pusaka milik suaminya.
Menyadari jika mereka harus sarapan secepatnya. Nia berusaha melepaskan pelukan itu dari tubuhnya.
"Kamu nakal sekali sayang. Ini masih pagi. Apa tidak bisa nanti malam," bisik Danny. Nia langsung menatap wajah suaminya.
"Kamu menjatuhkan handukku," kata Danny. Nia spontan melihat ke bawah dan benar saja handuk itu terlepas dari pinggang suaminya.
Nia merasakan wajahnya memerah. Tonjolan itu jelas terlihat olehnya dan untung saja ada segitiga pengaman di Sana sehingga tonjolan itu bisa bersembunyi di balik kain pengaman tersebut. Jika tidak, bisa dipastikan tonjolan itu akan tegak lurus dan menundukkan wujudnya.
"Kenakan kembali handuk kamu kak. Kita harus sarapan secepatnya," kata Nia. Wanita itu masih berdiri merapat dengan Danny dengan kepala yang mendongak ke atas supaya tidak melihat bagian bawah suaminya.
Danny tertawa melihat tingkah istrinya itu. Apalagi melihat Nia tidak berniat meninggalkan tempat itu sehingga Danny ingin mengerjai istrinya itu.
"Sudah, tidak perlu mendongak ke atas. Nikmati saja pemandangan indah di depan kamu. Nanti juga kamu akan terbiasa melihat nya," kata Danny sambil berjalan santai ke arah lemari mewah yang besar di kamar itu tanpa handuk di pinggangnya.
Nia membulatkan matanya. Demi apapun, dia merasa malu. Dia masih ingat bagaimana besar dan perkasanya tonjolan di balik kain pengaman milik suaminya itu. Bukan hanya mengingat wujudnya. Nia juga masih mengingat bagaimana rasanya.
"Pikiran apa ini," kata Nia dalam hati sambil memukul kepalanya. Hanya karena melihat tonjolan milik Danny. Bayang bayang malam panas itu menari nari di pikirannya.
Danny tertawa. Ternyata dia melihat tingkah Nia yang memukul kepalanya sendiri. Dengan santai. Danny mengenakan celana pendek berbahan chinos berwarna coklat dan kaos oblong berwarna hitam. Danny sengaja berpakaian santai karena hari ini mereka akan berkumpul di rumah nenek Rieta. Sungguh, Danny terlihat sangat tampan di mata Nia.
"Pantas saja si pengasuh sialan itu ingin merebut suamiku," kata Nia lagi dalam hati. Ternyata pesona suaminya itu bisa menarik perhatian para wanita termasuk sang pengasuh itu. Nia semakin merasakan tidak rela suaminya itu berpaling dari dirinya.
"Sudah. Mengapa kamu masih berdiri di sini. Apa kamu kurang puas menikmati tubuhku?" tanya Danny. Pria itu merasa tidak puas mengerjai istrinya itu. Kini pria itu kembali berdiri dengan jarak yang dekat dengan Nia.
"Ti.. tidak kak. Ayo kita sarapan," jawab Nia. Tanpa sadar, Nia menarik tangan suaminya menuju balkon.
"Papa, mama. Kok, lama sekali."
Danny dan Nia masih berdiri di pintu penghubung kamar dan balkon. Suara cerewet Sisil sudah menyambut sepasang suami istri itu. Untung saja Nia berpesan kepada Sisil untuk menjaga Naya yang sedang diletakkan di stroller sehingga anak kecil itu tidak menyusul Nia ke kamar karena sudah lumayan lama menunggu.
"Maaf, maaf sayang. Papa tadi baru siap mandi," jawab Danny langsung menghampiri Sisil yang sudah cemberut. Danny mencium kening Sisil dengan lembut kemudian mencium pipi Naya. Setelah mencium Kedua putrinya itu. Danny menatap istrinya. Sungguh Danny menyukai pelayanan Nia pagi hari ini. Danny dapat melihat jika Nia tidak hanya berusaha menjadi istri yang baik bagi dirinya. Tapi juga berusaha menjadi mama yang baik bagi Sisil. Nia tidak hanya menerima dirinya tapi juga menerima Sisil. Tidak semua mama sambung seperti Nia.
__ADS_1
Bukan hanya itu yang membuat Danny sangat bahagia. Pria itu sangat jelas mendengar jika Sisil sudah mengganti panggilannya kepada Nia. Itu artinya jika Nia memang sudah siap lahir dan batin menjadi istrinya dan mama bagi Sisil.
"Putri papa sudah lapar ya!. Kita makan sekarang ya!" kata Danny lagi. Sisil menganggukkan kepalanya dengan senang. Sejak Nia berada di rumah itu. Sisil tidak susah lagi untuk makan. Memang porsinya tidak banyak tapi itu sudah lebih baik daripada hanya minum susu saja setiap hari. Satu kemajuan bagi Sisil setelah mempunyai mama baru.
"Mama,.Aku mau omelette yang paling besar," kata Sisil. Nia sedang meletakkan makanan itu di piring Danny.
"Iya sayang," jawab Nia. Seperti keinginan Sisil. Nia memindahkan makanan yang sempat dia letakkan di piring Danny karena itu yang terlihat paling besar.
"Tidak apa apa kan kak. Kalau ini untuk Sisil," kata Nia minta ijin kepada suaminya.
"Tidak apa apa. Pindahkan saja ma," jawab Danny. Nia kembali merasakan wajahnya memerah. Danny mengganti panggilannya dengan menyebut dirinya mama bukan lagi menyebut namanya. Nia merasakan hatinya berbunga bunga. Dan tanpa sadar Nia menunjukkan suasana hatinya itu dengan tersenyum malu malu.
"Roti tawar nya.Mau juga kan sayang?" tanya Nia lagi kepada Sisil.
"Mau ma. Pakai selai. Boleh?.
"Boleh." Nia memberikan apa yang menjadi keinginan putrinya itu.
Danny tersenyum bahagia. Dia memperhatikan gerak gerik Nia melayani dirinya dan Sisil di meja itu. Cara Nia memberikan sarapan untuk dirinya pagi hari ini. Danny benar benar merasakan mempunyai keluarga yang sebenarnya.
Danny menggigit omelette buatan istrinya itu. Walau makanan itu terlihat sederhana. Tapi Danny bisa melihat jika Nia memperhatikan gizi untuk keluarganya. Omelette itu tidak hanya terbuat dari telur dan bumbu. Tapi di dalamnya. Nia juga membuat beberapa sayuran dan juga sosis sehingga makanan itu terasa sangat enak di lidah Danny.
"Mama,.aku mau nambah tapi omelette saja ya," kata Sisil. Omelette milik Sisil sudah habis tapi tidak dengan roti tawarnya.
"Boleh sayang. Tapi habiskan dulu roti tawar milik mu itu."
"Tidak boleh seperti itu. Yang mau roti tawar tadi siapa. Tidak boleh buang makanan yang masih bagus. Kita harus bersyukur memiliki makanan ini karena banyak di luar sana. Ingin makan roti tawar tapi tidak mampu membeli."
Nia memberikan pengertian kepada Sisil supaya tidak membuang makanan. Dan anak itu juga menurut. Dia menghabiskan roti tawar yang ada di piringnya. Kemudian anak itu meminta kembali omelette kepada Nia. Nia tentu saja tidak menolak. Dia memberikan apa yang diinginkan putrinya itu.
Lagi lagi Danny memuji Nia dalam hati. Nia tidak hanya menyayangi Sisil tapi juga mendidik putrinya itu supaya menjadi anak yang baik. Danny menyukai sikap tegas Nia dalam mendidik Sisil. Danny semakin percaya, jika bersama Nia. Putrinya itu akan benar benar merasakan kasih sayang seperti kasih sayang seorang mama kandung.
"Kenyang, Enak sekali. Nanti nanti, masak seperti ini lagi ya ma," kata Sisil. Nia menganggukkan kepalanya.
Sarapan pagi itu akhirnya selesai juga. Bukan hanya Sisil yang kenyang tapi Sisil juga. Keluarga kecil itu tidak langsung meninggalkan balkon itu. Mereka duduk bersantai di sofa yang Ada di balkon tersebut. Sebelum ke rumah nenek Rieta. Danny ingin menikmati kebahagiaan bersama dengan keluarga kecilnya.
"Naya sudah makan ma," tanya Danny. Danny memanggil Nia dengan sebutan mama yang kedua kalinya. Danny juga mengulurkan tangannya mengambil Naya dari stroller. Naya terdengar berceloteh setelah duduk di pangkuan Danny.
"Sudah kak. Dia yang terlebih dahulu sarapan," jawab Nia. Ketika Nia sedang memasak makanan untuk mereka bertiga. Nia sudah membuat makanan untuk Naya terlebih dahulu dan pengasuhnya yang memberikan bayi itu makan.
"Apa tidak sebaiknya kita berangkat sekarang kak?. Kalau menunda waktu. Takutnya keburu hujan," kata Nia. Hari ini adalah hari minggu. Seperti biasanya. Keluarga kakek Martin akan berkumpul di rumah nenek Rieta untuk menghabiskan waktu bersama. Hampir satu bulan, Nia sudah menjadi istri Danny. Nia sudah semakin akrab dengan nenek Rieta. Nenek Rieta Benar benar berubah sikapnya terhadap Nia. Nenek tua itu menyayangi Nia dengan tulus sama seperti wanita itu menyayangi Anggita. Tidak sedikitpun, nenek Rieta membedakan cucu menantunya itu. Bahkan minggu lalu. Nenek memberikan hadiah yang nilainya sama kepada Anggita dan Nia. Nenek Rieta memberikan satu set perhiasan berlian masing masing kepada Nia dan Anggita.
Danny memperhatikan langit dari balkon itu. Langit yang diatas kepalanya memang terlihat cerah tapi dari jarak yang lumayan jauh dari tempat mereka. Langit itu terlihat gelap. Jika Angin bertiup bisa saja awan gelap itu akan menyelimuti langit di atas kepalanya mereka.
"Sebentar lagi. Masih kenyang. Kalau baru kenyang seperti ini tidak bagus langsung bergerak."
Entah darimana Danny mendapatkan teori itu. Yang pasti. Nia percaya dan terlihat sedang menatap awan.
"Bagaimana kabar toko milik kamu," tanya Danny mengalihkan perhatian Nia dari awan gelap itu. Beberapa hari ini. Danny mengetahui jika Nia tidak pergi ke toko tanpa alasan. Pria itu tidak mengetahui jika Nia tidak ke toko karena ingin mengawasi pergerakan sang pengasuh sialan itu.
__ADS_1
"Lumayan baik kak. Tapi untuk saat ini. Aku serahkan kepada Jessi supaya dia yang mengelola," jawab Nia. Wanita itu memang sudah menyerahkan pengelolaan toko miliknya kepada Jessi. Nia memutuskan untuk mengurus rumah tangganya dan akan memikirkan membuka usaha tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Lokasi toko miliknya yang berada di pinggir kota membuat Nia harus berada di toko itu seharian penuh. Nia juga merasa lelah jika setiap Hari melakukan perjalanan yang membutuhkan waktu selama empat jam perjalanan pulang pergi.
"Aku rasa itu keputusan yang bijak sana. Tapi apa Jessi mampu. Dia kan kuliah. Apa tidak perlu menambah satu orang lagi pekerja di sana," kata Danny. Danny tentu saja setuju akan keputusan istrinya itu karena Danny merasa jika Nia akan kelelahan setiap hari jika masih tetap pergi ke toko.
"Jessi kuliah pagi kak. Pelanggan biasanya banyak jam sebelas ke atas," jawab Nia. Sebenarnya, Nia juga memikirkan akan menambah karyawan satu lagi di tokonya.. Tapi ketika Nia mengusulkan itu kepada Jessi. Jessi menolak. Hasil keuntungan dari toko kecil itu tidak hanya untuk kebutuhan kedua adiknya dan biaya operational lainnya. Tapi keuntungan itu juga untuk ditabung untuk membeli rumah sederhana untuk kedua adiknya itu. Rumah milik orang tua mereka sudah terjual untuk membeli rumah toko dan modal usaha. Tapi Nia tidak menceritakan itu kepada Danny. Walau dirinya sudah menjadi istri dari Danny. Nia tidak ingin Danny merasa kasihan kepada kedua adiknya. Nia ingin kedua adiknya itu berjuang dan berusaha untuk mendapatkan apa yang mereka mau.
"Jangan pernah sungkan meminta saran demi kemajuan toko itu," kata Danny. Nia menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana dengan pekerja di rumah ini. Apa yang ada berniat kurang ajar kepada kamu?" tanya Danny lagi. Dia tidak akan membiarkan salah satu pekerja di rumah itu tidak menghargai Nia.
"Tidak ada kak," jawab Nia. Dia menyembunyikan sikap pengasuh sialan itu kepada dirinya. Nia berencana akan memberikan pengasuh sialan itu pelajaran berharga jika sudah tiba waktunya. Saat ini. Nia memilih fokus untuk menjadi istri dan mama yang baik bagi Danny dan kedua putri mereka. Dia akan membuat pengasuh itu tidak berkutik. Sarapan di balkon ini adalah cara Nia supaya pengasuh itu tidak bisa melancarkan niat busuknya. Nia juga sudah berpesan kepada pengasuh Naya supaya tidak memberikan nomor kontak suaminya itu. Diantara para pekerja di rumah itu. Hanya pengasuh Naya yang mempunyai nomor kontak milik Danny. Pengasuh itu memiliki nomor kontak Danny karena pengasuh itu melaporkan kegiatan Sisil sewaktu dirinya menjadi pengasuh Sisil dulu.
"Jangan takut memberitahukan perlakuan mereka yang tidak baik kepada kamu. Meskipun itu, pekerja senior kepercayaan papa dan mama."
"Baik kak," jawab Nia singkat. Pikiran kini tertuju akan keberangkatan mereka ke rumah nenek Rieta. Awan gelap yang sedari tadi terlihat masih tetap disana tapi Angin terasa berhembus kencang.
"Jangan takut. Kita pasti ke rumah nenek Rieta. Awan yang terlihat gelap tidak selama ini menjadi hujan. Sebentar lagi. Angin akan membawa awan itu pergi," kata Danny. Dia bisa menangkap kekhawatiran istrinya itu. Danny menduga Nia tidak sabaran ke rumah nenek Rieta karena ingin bertemu dengan Anggita dan tante Anna. Tiga wanita itu sudah terlihat sangat akrab jika bertemu.
Tapi apa yang dikatakan oleh Danny tidak menjadi kenyataan. Angin yang berhembus itu justru mengundang awan gelap yang awalnya terlihat jauh dari mereka kini awan gelap itu memenuhi langit di atas kepala mereka. Suasana menjadi gelap ditambah petir yang bersahutan.
"Ya..hujan," kata Nia lesu. Hujan deras memang sudah turun membasahi bumi. Sepertinya mereka akan menunda beberapa jam ke rumah nenek Rieta.
"Nanti kita ke sana setelah hujan berhenti," kata Danny. Nia hanya menganggukkan kepalanya.
"Tunggu disini. Jangan kemana mana," kata Danny. Nia menganggukkan kepalanya. Melihat Naya sudah tertidur. Nia menduga jika Danny hendak memindahkan bayinya itu ke box bayi di kamar mereka. Sisil sudah sejak tadi meninggalkan balkon itu dan ingin bermain dengan pengasuhnya di kamar miliknya.
Dugaan Nia salah besar. Danny meman memindahkan Naya tapi bukan ke box bayi. Danny membawa Naya ke kamar Sisil dan memberikan bayi itu ke pengasuh Sisil. Danny juga berpesan kepada pengasuh itu untuk menjaga Naya untuk beberapa jam.
Danny kembali menjumpai Nia yang setia menunggu dirinya di balkon itu. Danny duduk di sebelah Nia tanpa jarak. Kali ini, Nia membiarkan Danny melakukan apapun kepada dirinya. Termasuk menciumi rambut hitam milik istrinya itu.
Merasa tidak ada penolakan. Danny melanjutkan aksinya. Danny memegang kepala Nia supaya menhadap kepada dirinya. Dengan lembut. Danny melabuhkan bibirnya di bibir istrinya itu. Awalnya lembut. Ketika Danny melihat kedua mata istrinya terpejam. Danny memainkan bibir Dan lidahnya dengan sedikit ganas. Danny merasa senang karena Nia membalas ciuman itu.
Mereka bermain bibir di balkon itu dengan sangat ganas. Cuaca yang dingin dan gemuruh hujan membuat sepasang pengantin itu saling merapatkan tubuh masing masing.
Sepasang suami istri itu semakin terbuai dengan rasa yang memabukkan itu. Deru nafas mereka berdua yang terdengar seperti berburu kepuasan. Menandakan jika mereka berdua menginginkan hal lebih dari sekedar permainan bibir. Baik tangan Nia dan Danny sudah merayap di tubuh lawan main.
Danny membantu Nia berbaring di sofa itu. Kini bibirnya tidak hanya berlabuh di bibir istrinya tapi juga di leher jenjang milik Nia.
Demi apapun. Nia semakin menyukai apa yang dilakukan oleh Danny di tubuhnya. Bahkan Nia memeluk tubuh suaminya dengan erat karena Nia semakin merasakan sensasi yang berbeda dengan menempel tubuh bagian bawah mereka.
"Bolehkah aku meminta lebih dari ini sayang?" tanya Danny setelah melepaskan bibirnya dari leher Nia. Sebagai pria yang berpengalaman. Danny juga mengetahui jika Nia sudah menginginkan lebih. Tapi Danny sengaja bertanya karena Danny sangat menghargai istrinya itu.
Entah karena rasa itu belum tuntas atau karena Nia memang sudah siap melayani suaminya. Nia menganggukkan kepalanya dengan sorot mata penuh damba.
"Kita pindah ke kamar," kata Danny. Danny bergerak turun dari atas tubuh istrinya dan langsung menggendong Nia. Danny tidak ingin melakukan hubungan itu di balkon itu karena dirinya masih waras. Tidak jauh dari rumah itu. Rumah para tetangga juga banyak yang bertingkat. Danny tidak ingin menjadi tontonan gratis bagi siapa pun yang bisa melihat ke arah balkon itu.
"Bagaimana dengan anak anak?" tanya Nia. Di tengah rasa yang menuntut. Nia masih memikirkan anak anaknya. Dia tidak ingin,. Naya Ada di kamar mereka ketika melakukan itu apalagi dengan Sisil.
"Sudah aman."
__ADS_1