Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Wanita Terbaik


__ADS_3

Melihat Adelia hari ini ternyata membawa pengaruh yang buruk akan semangat Evan untuk bekerja. Di kursi kebesarannya, pria itu mengepalkan tangannya karena masih marah. Rico yang sudah masuk ke dalam ruangan itu tidak berani berbicara duluan yang akan bisa menambah kekesalan pria itu.


Rico mengerjakan pekerjaan dengan duduk di sofa dan laptop di hadapannya. Keterlambatan mereka datang ke kantor karena terlebih dahulu menjumpai klien mereka. Dan rencananya mereka akan mempelajari tawaran kerja sama itu di ruangan Evan saat ini. Dan melihat mood atasannya yang kurang baik akhirnya Rico mempelajari sendiri tawaran kerja sama tersebut.


Di tempat duduknya, Evan masih berpikir. Dia memikirkan perasaan Anggita jika wanita itu mengetahui Adelia masih berusaha menemui dirinya. Dia tidak ingin ada kesalahan pahaman apapun yang membuat istrinya itu terluka perasaan. Dia sangat sadar jika dirinya sudah banyak membuat Anggita terluka. Dan tidak akan membiarkan siapapun termasuk dirinya sendiri untuk menyakiti wanita miliknya itu. Selain itu, Evan juga merasa takut. Adelia adalah wanita yang sangat jahat dan sadis. Evan takut jika Adelia bertindak jahat yang melukai istri dan putrinya.


"Rico," panggil Evan tanpa menatap pria itu. Rico mengalihkan perhatiannya dari laptop itu.


"Ratakan rumah milik Adelia dengan tanah."


Evan tidak main main dengan perkataannya. Dia tidak ingin bersikap lembek kepada Adelia yang akan membuat wanita itu tidak sadar akan kejahatannya.


Rico beranjak dari duduknya. Kini Rico sudah duduk berhadapan dengan Evan dengan meja kerja sebagai penghalang.


"Apa kamu sangat yakin?" tanya Rico. Evan menganggukkan kepalanya.


"Jangan terburu buru mengambil keputusan. Jaman sekarang tidak mudah untuk melakukan sesuatu apalagi meratakan rumah dengan tanah. Aku khawatir jika tindakan itu nantinya akan viral di media social. Apalagi tindakan itu berkaitan dengan asmara antara kamu dan Adelia."


"Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Evan frustasi. Penjelasan Rico sangat masuk akal. Dia tidak ingin reputasi hancur hanya gara gara Adelia.


"Sebaiknya kamu, pulang dulu ke rumah. Aku sangat yakin, karena kedatangan Adelia membuat kamu tidak bersemangat bekerja. Kita akan pikirkan solusi untuk mengatasi Adelia setelah mood kamu membaik."


"Ah kamu benar, daripada di sini aku harus menahan amarah. Lebih baik aku pulang ke rumah bertemu istri cantikku," jawab Evan. Senyum terbit di bibirnya karena usul asistennya itu.


"Sudah, pergi sana. Tentang pekerjaan tidak perlu kamu khawatirkan. Yang terpenting saat ini, mood kamu membaik. Dan aku sangat yakin hanya Anggita yang bisa memperbaiki mood kamu itu," kata Rico. Dia tersenyum mengejek sahabatnya itu.


"Nanti, kalau kamu sudah menikah. Kamu pasti mengetahui bagaimana nikmatnya punya istri. Apalagi kalau sudah di kamar berduaan. Beugh, semua yang sesak akan terasa plong," kata Evan sambil berdiri. Pria itu melangkah mantap ke arah pintu setelah menepuk bahu asistennya itu.


Rico menggelengkan kepalanya menatap kepergian sahabatnya itu. Rico menarik nafas lega. Daripada melihat Evan di ruangan ini yang sedang marah akan membuat dirinya kerepotan dan karyawannya lainnya akan serba salah. Lebih baik pria itu bersenang senang dengan istrinya dan tentu saja membuat Rico bisa bekerja dengan tenang.


Sesampai di rumah, Anggita terkejut melihat suaminya yang pulang terlalu cepat.


"Mana Cahaya?" tanya Evan sambil memeluk istrinya itu menuju rumah.


"Cahaya baru saja pergi dibawa papa Gunawan dan mama Tiara," jawab Anggita. Mereka sama sama mendaratkan tubuh di sofa.


"Mama Feli?"


"Mama lagi ke luar. Mama berencana menggugat cerai om Indra."


"Sebaiknya jangan hanya rencana. Langsung saja digugat," kata Evan. Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Terima kasih mas," kata Anggita setelah Evan selesai berbicara dengan orang di telepon. Ternyata orang itu adalah pengacara yang dibayar Evan untuk mendampingi mama Feli dalam perceraianya.


"Kamu adalah wanita yang paling aku cinta. Jadi sudah sepantasnya aku harus berbakti kepada mama Feli yang kini juga menjadi mama aku sendiri," kata Evan sambil melabuhkan ciuman hangat di kening istrinya. Anggita hanya tersenyum mendapatkan perlakuan seperti itu.


"Bibi Ani Mana?" tanya Evan lagi.


"Ikut dengan papa dan mama," kata Anggita.


Evan memperbaiki cara duduknya menjadi menyamping. Wajahnya dibuat sesedih mungkin. Tapi hatinya bersorak gembira.


"Ada apa dengan kamu mas. Apa ada masalah di kantor?" tanya Anggita khawatir. Evan menganggukkan kepalanya.


"Masalah apa?"


"Nanti aku cerita. Tapi ada masalah lain di tubuhku yang hanya kamu obatnya," kata Evan dengan wajah yang sedikit memelas. Anggita mencubit kedua pipi suaminya itu sambil tertawa. Dia mengerti kemana arah perkataan suaminya itu.

__ADS_1


Evan tentu saja memanfaatkan momen itu. Dia mendaratkan wajahnya di dada istrinya itu dengan tangan yang sudah melingkar di pinggang istrinya.


"Di kamar saja mas," bisik Anggita mesra tepat di telinga suaminya itu. Evan tertawa dan langsung mengangkat tubuh istrinya ke kamar. Sungguh, dia merasa bahagia dan tidak ingin kebahagiaan ini berakhir kecuali maut yang membuat harus berakhir. Wanita terbaik ini membuat Evan bahagia lahir dan batin.


Di jam yang sama, Di sebuah ruangan petinggi perusahaan. Rendra menatap sekretarisnya dengan kesal. Wanita itu sengaja berlama lama padahal dirinya sudah mengusir wanita itu secara halus.


"Salsa, tolong kamu panggilkan Anna wakil menager keuangan ke ruangan ini secepat mungkin."


Rendra akhirnya menemukan ide untuk mengusir sekretarisnya itu.


"Apa Ada masalah keuangan pak?. Salsa tidak langsung patuh atas perintah atasannya itu. Rendra semakin kesal. Dia menghembuskan nafasnya dengan kasar kemudian menggelengkan kepalanya.


"Salsa, apa kamu tidak mengetahui arti dari job description?.


"Saya mengetahui arti job description Pak," jawab Salsa senang. Wanita itu berpikir jika Rendra akan bertanya arti dari dua kata tersebut.


"Kalau begitu, sebutkan apa arti dari job description!.


Salsa menyebut kata demi kata yang merupakan pengertian dari dua kata tersebut. Dia merasa bangga karena jawabannya itu pasti benar.


"Kamu hanya mengetahui secara teori saja. Tapi Kamu tidak bisa mempraktekkan dengan benar. Sekarang juga, kamu panggil Anna ke ruangan ini," perintah Rendra tegas. Salsa berdiri. Dia berjalan sambil cemberut karena Rendra tidak mengubris perhatiannya.


Beberapa menir kemudian, Rendra merasakan hatinya berdetak kencang saat mendengar suara ketukan di pintu ruangannya. Dia memegang dadanya terlebih dahulu.


"Masuk."


Rendra berpura pura sibuk ketika mendengar suara pintu ruangan terbuka. Tapi lewat ekor matanya, Rendra berusaha mengenali siapa yang masuk ke ruangannya itu. Ketika wanita itu semakin mendekat, saat itu juga Rendra merasakan jantungnya semakin berdetak kencang.


"Selamat siang Pak."


"Ah, selamat siang Anna. Silahkan duduk," kata Rendra pura pura tekejut. Anna menarik bangku itu kemudian dengan gerakan yang sangat sopan mendaratkan tubuhnya di sofa bangku itu.


"Ah iya. Itu benar. Saya yang menyuruh sekretaris untuk memanggil kamu ke ruangan ini."


"Kalau boleh tahu pak. Untuk apa saya dipanggil menghadap bapak. Apa saya mempunyai kesalahan pak?" tanya wanita itu sangat sopan. Rendra seketika pura pura menatap layar laptop karena tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan itu.


"Kamu mempunyai kesalahan. Kesalahan karena membuat aku sakit jantung?"


"Apa pak?. Bapak sakit jantung karena saya. Sumpah pak. Saya tidak melakukan apa pun tentang keuangan perusahaan."


Anna tentu saja terkejut sekaligus ketakutan mendengar perkataan atasannya itu. Dia berpikir jika Rendra menemukan kecurigaan tentang keuangan yang membuat pria itu sakit jantung. Dan seingatnya dirinya juga tidak melakukan kesalahan yang mengakibatkan kerugian perusahaan.


Sedangkan Rendra mengutuk dirinya sendiri. Dia merasa jika dirinya mengatakan hal itu dalam hati tapi ternyata keluar juga dari mulut Mungkin karena faktor umur atau karena grogi, Rendra tidak bisa mengajak otak dan mulutnya bekerja sama dengan benar.


"Maaf Anna. Maksud Saya tidak seperti itu. Selama dua hari ini, manager keuangan tidak masuk kerja. Apa kamu melihat ada kesalahan di setiap kebijakan keuangan yang diambil manager itu?" tanya Rendra. Akhirnya dirinya menemukan pertanyaan yang bisa menyelamatkan dirinya dari kesalahannya tadi. Anna menarik nafas lega.


"Saya tidak menemukan kesalahan apapun pak. Karena pak manager mengambil keputusan yang berkaitan dengan keuangan sesuai dengan apa yang bapak setujui," jawab Anna. Rendra menatap wanita itu dengan kagum. Bagi sebagian orang, kesempatan seperti ini akan dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menjatuhkan atasannya dengan tujuaan supaya dirinya yang bisa menggantikan posisi tersebut. Rendra tidak menemukan sifat sifat menjilat dalam pekerjaan.


"Bagus. Saya bangga memiliki manager dan wakil Manager keuangan seperti kalian. Apa kamu tidak menemukan kesulitan selama dua Hari ini?.


Rendah berharap wanita itu menjawab adanya kesulitan selama dua hari ditinggal sang manager. Jika itu terjadi, Rendra akan memanfaatkan kesempatan itu untuk bisa bertemu dengan wanita itu. Selama dua Hari, ini dia menunggu Anna untuk bertanya mengenai hal kesulitan yang dialami. Tapi wanita itu tak kunjung datang sehingga Rendra menyuruh Salsa memanggil wanita itu ke tempat ini.


"Tidak pak. Pak manager sudah memberikan job list, yang harus kami kerjakan selama beliau cuti."


Rendra kembali memutar otak supaya ada alasan bertemu dengan wanita itu lagi. Jika mengingat rasa kagum akan wanita itu. Ingin rasanya Rendra langsung mengatakan perasaannya kepada Anna saat ini juga. Tapi Rendra tidak melakukan hal itu. Karena ingin memastikan jika wanita itu benar benar layak menjadi pendampingnya. Rendra tidak ingin terburu buru mengingat kegagalan pernikahannya bersama Nia. Sungguh, Rendra tidak ingin kecolongan untuk kedua kalinya.


"Apa saya sudah bisa kembali ke ruangan saya pak?" tanya Anna membuat Rendra gugup. Dia masih ingin berlama lama bersama wanita itu tapi dia tidak menemukan alasan untuk menahan wanita itu di ruangannya.

__ADS_1


"Boleh, sebelum ke luar dari ruangan ini. Tolong kamu ambilkan air mineral itu untuk Saya," kata Rendra sambil menunjuk lemari pendingin. Anna menganggukkan kepalanya kemudian beranjak dari duduknya.


"Ini Pak," kata Anna sambil mengulurkan tangannya memberikan air mineral itu kepada Rendra.


"Bisa kah kamu membuka tutup botolnya."


Anna langsung memutar tutup botol air mineral itu. Setelah terbuka, Anna meletakkan botol minuman itu di meja tepat di hadapan Rendra.


Rendra tersenyum. Dia menjangkau air mineral itu. Sikap sopan Anna membuat Rendra semakin tertantang untuk mengenal wanita itu lebih dalam. Tadi berpikir jika Anna akan memberikan air mineral itu ke tangannya. Rendra sudah punya rencana akan menyenggol botol air mineral itu hingga isinya tumpah ke celananya. Tapi kenyataan tidak seperti itu. Rendra bisa menilai jika Anna adalah wanita yang benar benar menjaga harga dirinya.


"Terima kasih Anna."


"Sama sama Pak. Saya ijin kembali ke ruangan saya Pak."


"Silahkan Anna," kata Rendra tapi hatinya menahan Anna tetap bertahan di ruangan itu.


"Tunggu Anna," kata Rendra cepat ketika tangan Anna hampir menjangkau pintu. Anna berbalik menoleh ke Rendra. Sedangkan Rendra juga berdiri dan berjalan menuju Anna.


"Ada apa lagi Pak?" tanya Anna polos.


"Silahkan duduk di sofa dulu. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan kepada kamu."


Anna menatap Rendra bingung. Anna mengikuti langkah Rendra yang sudah berjalan menuju sofa.


"Anna, Saya ingin bertanya tentang hal pribadi. Aku harap kamu tidak tersinggung." Anna menganggukkan kepalanya sopan mempersilahkan atasannya itu untuk bertanya.


"Status kamu saat ini adalah seorang janda. Kalau boleh tahu, mengapa kamu berpisah dari mantan suami kamu."


Anna menarik nafas mendengar pertanyaan atasannya itu. Dia tidak ingin membeberkan aib rumah tangganya dulu.


"Maaf Pak, itu masalah pribadi Saya sendiri. Apakah seorang atasan wajib mengetahui masalah pribadi karyawannya?.


Rendra terkejut mendengar jawaban Anna. Dia berpikir jika wanita itu akan menjawab dengan polos. Tapi ternyata wanita itu juga tidak ingin menjelekkan mantan suaminya. Rendra jelas mendengar perdebatan antara Anna dengan mantan suaminya dua hari yang lalu.


"Baiklah, kalau kamu keberatan. Apa tidak ingin rujuk dengan sang mantan?.


"Tidak Pak. Sampai kapanpun tidak," kata Anna dengan menggelengkan kepalanya cepat. Anna tidak tahu bahwa jawaban itu membuat Rendra hampir berjoged karena senang.


"Anna. Kamu seorang janda. Tidak baik bagi kamu untuk sendirian. Apa kamu sudah ada calon yang tepat?" tanya Rendra. Lagi lagi Anna menggelengkan kepalanya.


"Kita sama Anna. Sama sama gagal dalam mempertahankan rumah tangga. Aku ingin mengenal kamu lebih jauh. Itu jika kamu tidak keberatan."


Anna tentu saja terkejut mendengar perkataan atasannya. Dia memang mengetahui jika Rendra adalah seorang duda dan bahkan hampir menikah. Tapi untuk mendengar perkataan seperti itu. Anna tidak pernah membayangkannya.


"Pak, saya adalah wanita yang banyak kekurangan. Keinginan bapak untuk mengenal aku lebih dalam akan membuang waktu percuma," kata Anna sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak tahan bertatapan dengan sang atasan.


"Mungkin kamu berpikir jika aku terkesan terburu buru. Seperti yang kamu katakan. Aku memang tidak ingin membuang waktu dengan percuma. Itulah sebabnya aku mengatakan apa yang aku inginkan sekarang ini. Tentang kekurangan. Aku juga manusia yang banyak kekurangan. Apa salahnya kita mencoba dekat. Semoga saja kekurangan kita berdua bisa membuat kita nantinya semakin mensyukuri apa yang kita punya."


Anna terlihat menundukkan kepalanya mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut sang atasannya. Jika boleh jujur, dia juga sebenarnya ingin menemukan pengganti mantan suaminya yang dapat menerima kekurangannya. Dia ragu untuk mengatakan iya karena menduga jika perceraian atasannya itu karena tidak hadirnya seorang anak dalam pernikahan itu.


"Pak, sebenarnya aku bercerai dari mantan karena tidak bisa memberikan anak kepada mantan suami."


Akhirnya Anna merasa perlu berterus terang akan masalah dalam rumah tangganya dulu.


Rendra tersenyum. Dia sudah mendengar hal itu. Tapi sikap terus terang Anna membuat Evan mempunyai penilaian plus akan wanita itu. Tapi entah mengapa, walau dirinya menginginkan seorang anak. Rendra semakin yakin untuk mengenal Anna lebih dalam.


"Tidak masalah. Pikirkan apa yang aku katakan tadi. Jika kamu bersedia. Kamu boleh menunggu aku di sebelah mobilku nanti sore, besok sore atau lusa sore. Aku beri kamu satu minggu ini untuk memikirkannya."

__ADS_1


Anna tidak menjawab apapun akan perkataan Rendra. Wanita itu justru pamit kembali ke ruangannya.


"Aku sangat yakin jika kamu adalah wanita terbaik untuk pendampingku," kata Rendra dalam hati. Dia memandangi tubuhnya Anna yang menghilang di balik pintu dengan tersenyum.


__ADS_2