Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 127


__ADS_3

Sudah satu bulan berlalu.


Pesta pernikahan Rendra dan Anna sudah memasuki satu bulan. Selama satu bulan itu juga. Danny selalu didesak untuk melakukan pendekatan kepada Salsa. Nenek Rieta dan Gunawan terobsesi untuk memasukkan Salsa menjadi bagian dari keluarga mereka. Sedangkan Tante Tiara, Evan dan Anggita terlihat biasa saja. Tidak mendukung dan juga tidak melarang.


Danny tidak bisa berbuat apa apa. Desakan itu sangat menuntut apalagi nenek Rieta dan Gunawan membandingkan Clara mantan istri dan Danny, Nia yang nenjebak Danny dengan Salsa yang sangat baik, dewasa dan bertanggung jawab.


Penilaian itu bukan sekedar isapan jempol semata. Salsa sangat professional. Walau wanita itu ditinggal menikah oleh Rendra. Tidak lantas membuat dirinya bertindak seperti anak anak. Salsa tetap bekerja di perusahaan Rendra dan tetap bersikap professional. Mungkin jika wanita lain yang mengalami apa yang dialami oleh Salsa. Pasti sudah mengundurkan diri. Tapi tidak bagi Salsa. Melihat dengan jelas Rendra sudah ada yang punya. Wanita itu bisa bersikap sewajarnya bagaimana biasanya atasan dengan bawahan.


Danny dinilai tidak bisa mendapatkan perempuan baik baik untuk menjadi pendampingnya. Nenek Rieta dan Gunawan merasa jika Salsa adalah perempuan yang tepat bagi Danny.


Danny akhirnya menurut apa yang diinginkan oleh Nenek Rieta dan Gunawan. Awalnya pria itu terlihat terpaksa melakukan pendekatan kepada Salsa karena belum berniat memikirkan tentang pendamping hidup.


Tapi dalam dua minggu terakhir ini. Danny merasa nyaman dan tertarik kepada wanita itu. Salsa adalah wanita yang menyenangkan yang bisa menyeimbangkan diri dalam pembicaraan apapun. Salsa adalah wanita yang mudah akrab. Selain itu, Salsa adalah wanita yang tergolong cantik body dan wajah. Yang membuat Danny semakin menginginkan wanita itu adalah Salsa ternyata wanita yang humoris. Sangat cocok dengan dirinya yang juga humoris.


Tapi apa yang dirasakan oleh Danny berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Salsa. Sikap baik dan perhatian yang ditunjukkan oleh Danny dianggap biasa oleh Salsa. Wajah yang tampan dan jangkung serta harta yang dimiliki oleh Danny tidak menjadi daya tarik bagi Salsa.


"Salsa, aku serius. Mungkin ini terlalu cepat bagi kamu. Tapi aku benar benar jatuh hati kepada kamu," kata Danny untuk yang kesekian kalinya dalam dua minggu ini. Mereka saat ini berada di sebuah kafe menghabiskan weekend yang keempat kalinya.


Danny menatap wanita itu dengan serius. Salsa yang duduk di hadapannya terlihat menyesap minumannya dengan santai seakan apa yang dikatakan oleh Danny bukan hal yang serius.


"Sayangnya, aku tidak," kata Salsa santai. Dia balik menatap wajah Danny.


Danny menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Penolakan Salsa tidak membuat dirinya putus asa. Laki laki itu semakin tertantang untuk menaklukkan hati Salsa. Bagi Danny. Salsa adalah wanita yang layak diperjuangkan. Dan baru Kali dirinya mendapatkan penolakan dari wanita. Di masa pendidikannya entah berapa banyak yang mengejar dirinya termasuk Clara sang mantan istri.


"Apa yang membuat kamu tidak tertarik dengan aku?" tanya Danny.


"Semuanya."


"Apa kamu yakin. Bisa saja sekarang kamu berkata begitu. Tapi suatu saat kamu akan membalas perasaanku," kata Danny. Bagi pria itu tidak mengapa ditolak saat ini. Karena Danny sudah berjanji dalam hati akan memikat hati wanita itu dengan ketulusan perasaannya.


"Semoga saja itu tidak akan pernah terjadi."


"Mengapa kamu berkata seperti itu. Apa yang membuat kamu ragu kepada aku?"


"Karena aku tidak menginginkan hal apapun yang berkaitan dengan kamu apalagi hubungan yang serius. Aku juga meminta kamu supaya tidak menjumpai aku di hari hari berikutnya. Ini pertemuan terakhir kita."


Danny terdiam. Salsa mematikan langkahnya yang hendak berjuang. Beberapa kali mereka bertemu dan mengopi bersama di sore hari seperti ini memang karena sedikit paksaan dari Danny. Salsa selalu menolak. Tapi Danny berhasil memaksakan kehendaknya sehingga mereka berada di kafe itu seperti saat ini.


"Katakan satu alasan yang membuat kamu menolak aku mentah mentah seperti ini Salsa," kata Danny pelan.


"Karena aku tidak ingin menjalin kasih dengan pria duda yang mempunyai anak dari wanita yang tidak pernah dinikahinya."


Danny tertegun. Ternyata alasan penolakan Salsa kepada dirinya karena berkaitan dengan dirinya yang akan mempunyai anak dari Nia. Danny menduga jika penolakan Salsa ini karena Salsa menilai dirinya sebagai pria brengsek dan tidak bertanggung jawab. Tanpa mengetahui apa yang terjadi yang sebenarnya.


Salsa bersikap biasa. Setelah mengatakan hal itu. Dia berharap Danny berhenti mengejar dirinya. Bukan status Danny yang seorang duda membuat dirinya tidak membuka hati. Tapi lebih kenapa masalah yang dihadapi pria itu dengan wanita yang tidak pernah dinikahinya tapi mempunyai anak dari wanita tersebut. Salsa memang belum mengetahui permasalahan yang sesungguhnya. Dia pun mengetahui masalah itu dari Evan yang keceplosan ketika dirinya diundang ke rumah Nenek Rieta saat itu. Dan Salsa setuju dengan pendapat Evan. Menghargai perasaan Nia sampai wanita itu melahirkan. Salsa bahkan mengingat nama Nia sampai saat ini.


Salsa bisa merasakan ketulusan hati Danny. Tapi bagi Salsa. Membangun hubungan itu tidak cukup hanya mengandalkan ketulusan. Perlu sikap bagaimana Danny menghadapi masalah dengan wanita lain.


"Jika kamu mendengar cerita yang sesungguhnya. Kamu pasti bisa mengerti diriku," kata Danny. Salsa tidak menjawab. Bahkan wanita itu. Terlihat menghabiskan minumannya.


"Aku tidak ingin mendengar apapun pak Danny. Tapi sebagai wanita. Aku sangat yakin wanita yang sedang mengandung benih kamu saat ini butuh pertanggungjawaban," kata Salsa. Sebagai wanita, Salsa merasa jika hamil tanpa suami bukan keinginan satu orangpun wanita di dunia ini. Wanita yang hamil di luar nikah pasti menggunakan banyak cara supaya pria yang menghamili dirinya bertanggung jawab. Perkataan Evan yang mengatakan menjaga perasaan Nia. Salsa menyimpulkan jika wanita itu juga menginginkan pertanggungjawaban dari Danny.


"Bisakah kamu duduk sebentar lagi Salsa. Setidaknya dengar dulu cerita yang sebenarnya baru memberikan penilaian kepada aku," kata Danny ikut berdiri yang melihat Salsa berdiri hendak meninggalkan dirinya.


"Please!. Dengar dulu.. Setelah itu kamu boleh percaya atau tidak."


Salsa akhirnya duduk. Dia menghargai permohonan Danny.


Danny menarik nafas panjang sebelum bercerita. Sebenarnya pria itu merasa malu menceritakan kisah itu yang menyebabkan benih miliknya bersemayam di rahim Nia. Tapi demi menyakinkan Salsa, Danny akhirnya menceritakan penjebakan Nia atas dirinya. Benih itu tumbuh subur di rahim wanita itu yang menyebabkan gagalnya pernikahan Rendra dan Nia. Danny juga bercerita jika awalnya dirinya ingin bertanggung jawab. Tapi semua keluarga menentang selain Evan dan Anggita. Keluarga menilai jika Nia sangat licik dan pembohong. Seiring waktu, dirinya juga merasa kesal dengan tindakan bodoh yang dilakukan oleh Nia demi mendapatkan pertanggungjawaban dari dirinya.

__ADS_1


Salsa terlihat mengerutkan dahinya mendengar cerita Danny. Dari raut wajahnya. Salsa sepertinya tidak percaya.


"Aku akan meminta seseorang ke tempat ini sekarang juga supaya kamu percaya," kata Danny. Dia sudah menceraikan kisahnya tapi Salsa tidak memberikan tanggapan apapun selain menatap dirinya.


Danny membuka layar ponselnya. Seseorang yang sudah lama dia blokir selama ini. Kini Danny membuka pemblokiran itu. Dia menghubungi orang itu yang langsung cepat dijawab dari seberang. Danny meminta orang itu untuk datang ke tempat dimana dirinya dan Salsa berada sekarang juga. Orang itu menyanggupi permintaan Danny.


"Dia bersedia datang," kata Danny sambil meletakkan ponselnya di atas meja. Salsa tidak menjawab. Tapi wanita itu masih duduk di hadapan Danny. Entah mengapa dirinya ingin mendengar keterangan dari orang yang dimaksudkan oleh Danny. Biasanya Salsa tidak suka ikut campur dengan urusan orang lain seperti saat ini.


Salsa tidak mengeluarkan kata kata lagi. Dia kini memainkan ponselnya dengan serius. Melihat hal itu. Danny enggan mengajak wanita itu untuk berbicara. Dua orang itu kini sibuk dengan ponsel masing masing. Dan sesekali Danny melirik ke arah wanita yang membuat dirinya tidak bisa tidur.


Jika Salsa sangat serius memainkan ponselnya. Danny hanya memandangi layar ponselnya. Salsa tidak hanya di hadapannya tapi juga di pikirannya. Dari tadi otaknya hanya memikirkan Salsa. Dia pernah berpikir akan mudah menaklukkan hati Salsa. Karena Danny berpikir jika dirinya sangat jauh dari semua hal dibandingkan Rendra yang jelas bukan tandingannya. Dirinya masih muda, berotot dan energik. Harta juga cukup tapi masa lalu membuat dirinya terhambat menggapai Salsa.


Satu jam berlalu, dan hari juga hampir gelap. Tapi orang yang dimaksudkan oleh Danny tidak juga muncul di hadapan mereka.


"Sabar lah sebentar lagi Salsa. Mungkin sebentar lagi dia akan datang," kata Danny yang melihat Salsa melihat jam di pergelangan tangannya.


"Tapi ini sudah satu jam pak. Aku harus pulang," kata Salsa dengan nada khawatir. Jarak dari kafe itu ke rumahnya lumayan jauh dan juga langit kurang bersahabat. Petir sudah berkali kali terdengar dan sepertinya hujan akan turun sebentar lagi.


"Duduklah dulu. Aku bisa mengantarkan kamu pulang nanti," kata Danny. Bersamaan dengan itu ponsel milik Danny berbunyi.


"Ini dia sudah menghubungi," kata Danny. Salsa kembali duduk. Dia mendengar Danny menjawab panggilan itu dan mengarahkan orang itu ke meja mereka.


"Dia sudah di luar dan akan segera masuk," kata Danny lagi. Salsa hanya menganggukkan kepalanya. Matanya berkeliling ke penjuru kafe melihat siapa saja yang datang dari pintu masuk.


"Nia, sini." Ternyata orang yang dimaksudkan oleh Danny untuk memberikan keterangan kepada Salsa adalah Nia.


Salsa menoleh ke Danny kemudian mengalihkan pandangannya ke arah beberapa wanita yang baru saja masuk ke kafe itu. Salsa melihat seorang wanita yang menghentikan langkah dan memandang ke arah meja mereka. Dan ketika Danny melambaikan tangannya, wanita tersebut terlihat melanjutkan langkahnya dan terlihat mendekati meja mereka.


"Duduk Nia," kata Danny setelah Nia berdiri di hadapan mereka. Nia menatap Danny dan Salsa secara bergantian kemudian menarik bangku dan mendaratkan tubuhnya..Raut wajahnya terlihat sangat datar.


"Salsa. Dia adalah Nia," kata Danny memperkenalkan dua wanita itu.


"Nia."


Wanita yang menginginkan Danny dan wanita yang diinginkan oleh Danny itu saling berjabatan tangan.


"Ada apa menyuruh aku datang kemari?" tanya Nia. Tapi Danny tidak langsung menjawab. Danny memanggil pelayan ke arah meja mereka.


"Kamu minum apa Nia?" tanya Danny setelah pelayan tiba di tempat itu. Sedangkan Danny sudah memesan kopi untuk yang kedua kalinya.


"Aku tidak memesan apa apa. Aku ada air minum," jawab Nia sambil menunjuk tasnya. Danny bertanya kepada Salsa hendak memesan minuman atau makanan apa. Tapi wanita itu juga menolak dengan alasan masih kenyang.


"Jus jeruk dua," kata Danny. Walau dua wanita itu menolak. Danny tetap memasan minuman untuk Nia dan Salsa.


Salsa memperhatikan interaksi Danny dan Nia . Keduanya tidak terlihat gugup ataupun canggung. Tapi Salsa bisa melihat bahwa ada hal yang disembunyikan oleh Nia di hatinya. Mendadak Salsa merasa tidak enak hati berada di hadapan dua manusia yang akan memiliki seorang anak tanpa ikatan itu.


"Nia, maaf karena harus merepotkan kamu saat ini. Aku meminta kamu datang karena aku ingin kamu menceritakan kebenaran tentang kita kepada Salsa," kata Danny. Nia terlihat menggerakkan kepalanya menatap Salsa dan Danny bergantian.


"Ini bukan keinginan Salsa. Tapi aku yang menginginkan," kata Danny lagi. Pria itu berkata seperti itu supaya Nia tidak berpikiran negative kepada Salsa. Salsa menundukkan kepalanya. Melihat sorot mata Nia. Salsa merasa menyesal karena mengikuti permintaan Danny untuk menunggu kedatangan wanita itu.


Nia menggigit bibirnya kemudian menganggukkan kepalanya. Dia pun akhirnya bercerita persis seperti apa yang sudah dideritakan oleh Danny sebelumnya. Danny terlihat lega mendengar cerita Nia yang sangat pas dengan apa yang mereka alami beberapa bulan yang lalu. Sedangkan Salsa tidak tahu harus berkata apa. Apa yang diceritakan oleh Danny ternyata benar. Wanita itu tidak bisa membenarkan perbuatan Nia dan tidak bisa juga membenarkan perlakuan Danny dan keluarganya. Kisah Danny dan Nia memang Nia tidak bisa dibenarkan.


Sedangkan Nia menundukkan kepalanya. Menggerakkan tangannya untuk mengusap air mata yang sudah tidak terbendung lagi.. Dirinya menangis bukan untuk menarik simpati dari Salsa atapun menarik belas kasihan dari Danny. Hanya saja, tidak mudah bagi wanita itu menceritakan kebodohannya yang membuat dirinya kesusahan sendirian.


Dia tidak bodoh. Wanita itu mengetahui apa maksud dari Danny meminta dirinya untuk menceritakan kisah bodoh dirinya kepada Salsa. Nia berpikir jika Danny melakukan itu untuk menyakinkan Salsa akan dirinya sendiri. Nia juga bisa melihat tatapan Danny yang tidak biasa terhadap Salsa.


"Terima kasih Nia," kata Danny kemudian menoleh ke arah Salsa. Nia menganggukkan kepalanya.


"Kak Danny. Aku sudah menceritakan kebodohanku kepada Salsa. Ini memang benar benar salahku. Jika tidak ada lagi yang lain. Aku pamit pulang. Terima kasih karena sudah membuka pemblokiran kontak aku hanya karena ini. Silahkan blokir kembali," kata Nia sambil membenarkan letak tasnya.

__ADS_1


"Minum dulu Nia," kata Danny sambil menahan tangan Nia. Minuman itu sudah sedari tadi tersaji di atas meja. Minuman Danny dan minuman milik Salsa sudah tinggal setengahnya saja. Sedangkan minuman milik Nia tidak berkurang setetes pun.


"Terima kasih kak. Aku harus pulang. Duluan ya Salsa," jawab Nia tanpa menghiraukan tawaran Danny. Wanita itu tetap berdiri dan memundurkan bangkunya kemudian melangkah menjauhi meja Danny dan Salsa.


Salsa menatap kepergian Nia. Apa yang dia takutkan akhirnya terjadi juga. Langit tidak hanya lagi mendung lagi, kini hujan sudah membasahi bumi. Petir dan kilat yang saling sebagai pertanda jika hujan sangat deras. Lewat dinding kaca, Danny dan Salsa bisa melihat pohon pohon bergerak cepat karena angin kencang.


"Pak Danny. Kita pulang sekarang. Pak Danny harus mengantarkan Nia pulang," kata Salsa. Salsa mengkhawatirkan kesehatan Nia yang sedang mengandung. Naik angkutan umum di kondisi saat ini tidak bagus bagi wanita hamil seperti Nia. Selain itu, Salsa juga melihat Nia yang sedang mengusap air matanya. Salsa mengetahui jika wanita itu sangat sedih tapi berusaha tegar dan menyembunyikan kesedihannya.


"Lalu bagaimana dengan kamu?" tanya Danny. Dia sudah berjanji mengantarkan Salsa pulang. Rumah Salsa dan rumah Nia tidak searah. Andaikan searah, Danny tidak akan menanyakan Salsa.


"Jangan pikirkan aku. Tapi pikirkan janin milikmu yang ada di kandungan Nia. Jika boleh pikirkan juga ibunya," kata Salsa sambil beranjak dari duduknya.


"Kita mengantar Nia bersama sama."


Salsa tidak menjawab. Wanita itu terus melangkah. Danny terlihat melambaikan tangannya ke arah pelayan kemudian meletakkan beberapa lembar uang merah di atas meja. Dengan langkah tergesa, Danny mengejar langkah Salsa.


Keluar dari kafe. Suara angin yang kencang menyambut Danny dan Salsa. Salsa mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Nia. Menurut perkiraannya, Nia pasti masih di sekitar parkiran itu. Dan bisa saja berteduh terlebih dahulu sebelum pulang.


Parkiran itu sepi. Yang terlihat hanya mobil yang terparkir. Beberapa orang yang berteduh dengan merapatkan diri ke dinding kafe terlihat masuk kembali ke dalam. Karena rembesan air dari atap mengenai siapa saja yang berteduh. Salsa memperhatikan orang orang itu tapi satupun diantara mereka bukan Nia.


"Mungkinkah Nia sudah pergi?" tanya Salsa. Danny mengangkat bahunya. Salsa tidak menyerah. Dia mencondongkan tubuhnya untuk melihat ke arah yang lebih jauh lagi. Dan benar saja. Di ujung paling kanan kafe itu. Salsa melihat sebuah tas yang sepertinya melindungi yang pemiliknya dari rembesan hujan.


"Itu Nia Pak?" tunjuk Salsa. Danny pun mencondongkan tubuhnya dan melihat kearah yang ditunjukkan oleh Salsa.


"Aku akan mengambil mobil," kata Danny. Mobilnya terparkir di parkiran belakang kafe itu sehingga Danny kembali masuk ke dalam kafe karena bisa keluar dari arah belakang kafe.


Salsa menghampiri Nia. Salsa bisa merasakan rembesan air itu membasahi dirinya tapi Salsa tetap melangkah mendekati Nia.


"Nia," panggil Salsa kepada Nia yang tidak menyadari kedatangan Salsa. Pakaian Nia sudah hampir basah.


Nia menurunkan tas miliknya yang dia gunakan untuk melindungi kepalanya. Nia terlihat terkejut melihat Salsa. Dan saat itu juga. Salsa melihat jika Nia ternyata berlinang air mata. Salsa tidak bertanya mengapa wanita itu menangis karena Salsa sudah mengetahui jawabannya. Salsa menatap wanita itu dengan kasihan.


"Pak Danny akan mengantar kamu pulang Nia," kata Salsa dengan suara yang kencang.


"Tidak perlu Salsa. Aku bisa pulang sendiri," jawab Nia kemudian mengusap air dan air hujan yang secara bersama sama membasahi wajahnya.


Tidak lama kemudian. Mobil Danny terlihat menghampiri dua wanita itu.


"Salsa, Nia. Masuk lah," teriak Danny dari mobil. Salsa dan Nia sama sama melihat pria itu.


"Ayo Nia," ajak Salsa. Tapi Nia tidak bergeming sedangkan Salsa siap melangkah.


"Pergi lah Salsa. Terima kasih atas perhatian kamu. Aku bisa pulang sendiri," jawab Nia. Dia tidak ingin menerima kebaikan Danny yang nantinya di salah artikan oleh keluarga pria itu. Penghinaan Gunawan kepada dirinya belum hilang dari ingatannya ditambah hari ini Danny meminta dirinya menceritakan kebodohannya sendiri. Bagi Nia, apa yang dilakukan oleh Danny hari ini terhadap dirinya sama saja dengan mempermalukan dirinya sendiri. Hanya saja, Nia merasa beruntung jika wanita idaman Danny itu terlihat baik dan tidak melihat dirinya sebagai wanita yang tidak punya harga diri. Nia menilai jika Salsa adalah orang yang baik.


"Tapi ini hujan dan tidak bagus untuk kesehatan kamu dan janin kamu," kata Salsa lagi. Wanita itu terlihat tulus dan mengkhawatirkan Nia.


"Kamu tidak perlu khawatir. Itu taksi pesanan aku sudah datang," kata Nia sambil menunjuk sebuah mobil putih yang terlihat seperti penumpang. Nia terlihat melambaikan tangannya dan mobilnya itu juga mendekati mereka.


Nia melangkah cepat ke arah mobil itu setelah terlebih dahulu menganggukkan kepalanya kepada Salsa. Baru beberapa langkah Nia berjalan, hampir saja wanita itu tergelincir. Untung saja Salsa mengikuti langkah Nia sehingga wanita itu bisa menahan Nia supaya tidak terjatuh.


"Terima kasih."


Lagi lagi Nia mengucapkan terima kasih kepada Salsa. Kemudian wanita itu membuka pintu belakang mobil tanpa menoleh ke arah Danny yang sedari tadi menunggu dan memperhatikan gerak gerik Nia dan Salsa.


"Jalan Pak," kata Nia.


Salsa masih mematung melihat kepergian Nia. Dia terhenyak ketika Danny memanggil dirinya untuk segera masuk ke dalam mobil. Salsa terlihat ragu untuk masuk ke dalam mobil karena dirinya merasa tidak pantas duduk di mobil itu dan diantarkan Danny untuk pulang. Salsa merasa yang paling pantas itu adalah Nia karena darah daging Danny ada di rahim wanita itu sedangkan dirinya bukan siapa siapanya Danny.


"Ayo Salsa. Cepat masuk," kata Danny berteriak dari dalam mobil. Suara angin yang kencang berbaur dengan suara hujan deras membuat Salsa tidak bisa mendengar dengan baik apa yang dikatakan Danny. Salsa akhirnya mendekati mobil Danny ketika melihat pria itu hendak membuka pintu mobil. Cuaca yang buruk membuat Salsa tidak bisa menolak ajakan Danny untuk diantarkan pulang.

__ADS_1


__ADS_2