Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Ulang Tahun Adelia


__ADS_3

Seorang wanita memakai masker dan kaca mata hitam sedang berada di dalam sebuah mobil di depan sebuah gedung perkantoran. Sudah hampir satu wanita itu menunggu kedatangan orang yang ingin dilihatnya secara langsung. Tapi hingga jam menunjukkan jam sembilan pagi. Pria yang dia tunggu tak kunjung datang.


Wanita itu akhirnya membuka kaca pintu mobil. Dia menjulurkan kepala mengamati satu persatu mobil yang bisa dijangkau matanya. Dia memperhatikan dengan seksama mobil tersebut. Wanita itu kembali duduk dengan tenang di dalam mobil. Wanita itu menarik nafas lega. Beberapa mobil yang terparkir di parkiran itu. Satu pun diantaranya bukan mobil mantan kekasihnya. Sebenarnya tanpa mengamati satu persatu, dia bisa mengetahui jika mobil pria yang saat ini dia tunggu tidak ada di parkiran itu. Mobil mantan kekasihnya adalah Mobil mewah yang tentu saja berbeda dengan mobil mobil milik karyawan perusahaan itu. Tapi karena pikirannya bercabang banyak. Wanita itu tidak bisa berpikir jernih.


Wanita itu adalah Adelia. Dan pria yang dia tunggu adalah Evan. Kedatangannya ke tempat ini tidak ada hubungannya dengan rencana yang sudah disusun bersama Bronson. Adelia mempunyai maksud tersendiri untuk bertemu dengan Evan.


Menunggu hampir satu jam, tentu saja membuat Adelia sangat bosan. Adelia memutar musik dari ponselnya untuk membunuh rasa bosan itu.


Tapi sepertinya, Adelia salah memilih lagu. Kata kata yang mengalun indah itu membuat Adelia merasakan matanya memanas. Lagu itu adalah lagu yang sering diputar Evan di dalam mobil jika mereka sedang berduaan kala itu.


Adelia akhirnya menitikkan air mata. Kebaikan palsu yang dia lakukan bisa membuat Evan merasakan cinta yang begitu dalam kepada dirinya. Di dalam mobil itu, Adelia mengenang masa masa indah berpacaran dengan Evan. Bukan hanya materi yang melimpah. Dirinya juga dilimpahi kasih sayang yang tulus dari Evan dan mama Anita.


Adelia bisa mendapatkan apa yang dia mau hanya menyebutkan keinginannya kepada Evan. Pakaian, tas, sepatu dan aksesoris mahal dan mewah tersimpan rapi di dalam rumahnya. Bahkan dia mampu membeli rumah dari uang pemberian Evan.


Tidak hanya sandang Dan pangan yang dia dapatkan. Adelia juga mendapatkan ketenangan dan kenyaman hidup. Setelah lulus dari bangku perkuliahan. Adelia tidak pernah melamar pekerjaan. Wanita itu sama sekali belum pernah mempergunakan ilmu yang didapat di bangku perkuliahan. Materi dari Evan membuat Adelia malas untuk bekerja.


Saat saat Masa indah itu. Adelia merasa dirinya di atas angin. Kebahagiaan yang diberikan pacarnya Rudi kalah jauh dari kebahagiaan yang diberikan oleh Evan. Saat itu, Adelia berpikir jika dirinya adalah wanita yang benar benar beruntung karena mendapatkan pacar yang sangat baik seperti Evan.


Evan benar benar membalas kebaikan Adelia dengan memanjakan memanjakan wanita itu. Kurang lebih bersama sepuluh tahun. Tidak terhitung juga daerah wisata yang mereka kunjungi bersama baik di dalam maupun di luar negeri.


Adelia dapat merasakan jika kebaikan dan cinta Evan sangat tulus kepada dirinya. Sering pergi berdua bahkan berhari hari, Evan menjaga kesucian dirinya. Evan tidak pernah terlalu jauh memperlakukan Adelia. Cara pacaran mereka sangat sehat hanya sebatas memeluk dan bersentuhan bibir..


Adelia akhirnya menitikkan air mata juga. Kisah cinta dirinya dan Evan yang berawal dari kebaikan palsu mampu menjadikan dirinya seperti ratu. Tapi seakan tidak ada yang abadi di dunia ini termasuk kejahatan. Kisah cinta yang indah itu diuji dengan perjodohan bahkan pernikahan Evan dan Anggita.


Adelia masih mempunyai harapan kala Evan menjanjikan kebahagiaan setelah menceraikan Anggita nantinya. Dan untuk menyenangkan diri. Lagi lagi Evan membiayai dirinya hidup di luar negeri selama satu tahun. Adelia bersorak senang setelah mama Anita mendesak dirinya untuk kembali ke tanah air karena Evan akan segera menceraikan Anggita.


Adelia seakan menemukan kebahagiaannya kembali. Tapi siapa sangka. Pertemuannya yang pertama setelah satu tahun berpisah, Adelia bisa melihat jika Evan sudah berubah. Tidak ada lagi tatapan cinta. Adelia dapat merasakan jika Evan mengakhiri pernikahannya dengan Anggita bukan karena cinta mati kepada dirinya. Melainkan karena balas budi.


Sungguh, Adelia tidak ingin kehilangan itu semua. Sifat jahat yang lama tersembunyi karena kebahagiaan dari Evan kembali muncul. Dia sangat membenci Anggita yang dia anggap sebagai penghalang kebahagiaan dirinya bersama Evan. Dia tidak ingin Evan menggagalkan perceraian itu dengan alasan apapun termasuk janin buah pernikahan Evan dan Anggita. Adelia tidak memikirkan dampak dari kejahatannya karena berpikir jika apa yang dia lakukan akan tertutupi sama dengan kebohongan terkait dengan pendonor darah bagi Evan yang sebenarnya.


Di dalam mobil itu. Adelia mengenang semua kisah bersama Evan. Air mata karena kehilangan Evan terus membanjari kedua pipinya. Adelia menangis sesunggukan. Hidup seakan terbanting setelah dirinya masuk penjara untuk mempertanggung jawabkan semua tindakannya.


Adelia mengusap air matanya dengan kasar. Dia membenci air mata itu karena bukan itu tujuannya datang ke tempat itu. Matanya kembali mengawasi mobil mobil yang masuk ke parkiran itu. Hatinya bersorak senang ketika melihat mobil yang sangat dikenalnya memasuki parkir khusus untuk para petinggi perusahaan itu.


Adelia bergegas keluar dari mobil. Dia menutup pintu mobil dengan cepat kemudian berlari menuju mobil Evan. Sesampai di dekat mobil, Adelia langsung mengetuk pintu mobil itu.

__ADS_1


Evan dan Rico yang bisa melihat Adelia ada di luar spontan berpandangan. Adelia saat ini di luar pintu dimana Rico sebagai supir. Rico langsung mengambil kartu undangan Rendra dan Nia yang masih tersimpan di belakang sandaran kursi. Ketika Adelia menempel kedua matanya di kaca itu. Rico juga menempelkan kartu undangan itu di kaca tepat dimana kedua mata milik Adelia menempel. Adelia tentu saja tidak bisa melihat ke dalam mobil karena hanya kegelapan yang dia lihat ketika menempelkan matanya ke kaca Mobil tersebut. Ketika wanita itu berpindah hendak ke pintu sebelah. Evan yang duduk di sebelah Rico mengambil kartu undangan itu Dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Rico.


Kedua pria itu menahan untuk tertawa melihat wajah Adelia yang kebingungan. Mereka menempelkan kartu undangan itu ketika Adelia selalu berusaha melihat ke dalam mobil.


"Dimana dia?" gumam Adelia. Dia memandang ke arah pintu masuk gedung itu. Sejak keluar dari mobilnya dan berlari ke arah mobil Evan. Matanya mengawasi mobil itu dan tidak ada yang keluar dari mobil Evan sampai dirinya berdiri bahkan melihat ke dalam Mobil tersebut.


Di dalam mobil. Evan mengepalkan tangannya karena marah. Adelia masih berusaha untuk bertemu dengan dirinya itu artinya Adelia mengabaikan peringatan keras yang sudah dia katakan pada wanita itu.


Evan menatap Adelia dari dalam mobil itu dengan rahang yang mengeras dan wajah yang memerah. Mengingat wanita itu sudah bersengkongkol dengan Bronson membuat Evan semakin marah. Rico tentu saja bisa melihat kemarahan itu. Sebagai seorang sahabat, Rico khawatir Evan lepas kendali menghadapi wanita itu dan akhirnya berbuntut panjang.


Evan membuka pintu mobil setelah melihat Adelia hendak melangkah menuju pintu masuk. Dia tidak akan membiarkan wanita itu hanya menyentuh pintu masuk itu. Rico juga melakukan hal yang sama. Pria itu membuka pintu Dan memutari mobil dan mendekati Evan. Rico berniat mencegah hal hal yang tidak diinginkan melihat betapa merah wajah Evan saat ini.


"Evan," kata Adelia seketika berbalik setelah mendengar pintu mobil yang ditutup.


Wanita itu memberikan senyum terbaik seakan tidak ada masalah diantara mereka. Mengabaikan tatapan sinis dari Evan.


"Rico, urus dia. Jika dia tidak bisa siusir baik baik. Suruh satpam yang menyeret dia keluar dari wilayahku. Satu lagi Rico, jika dia masih berani menampakan wajahnya sekali lagi di hadapanku, di depan istri dan anak aku. Aku anggap kamu gagal mengerjakan tanggung jawab kamu selama satu minggu ini," kata Evan tanpa melihat Adelia. Dia sengaja berbicara keras kepada Rico supaya asistennya itu bersikap keras juga kepada Adelia. Evan benar benar tidak ingin berhadapan dengan wanita itu sekalipun hanya berhadapan dengan bayangannya. Evan benar benar muak kepada Adelia.


"Evan, Hari ini adalah hari ulang tahun ku yang ke tiga puluh tiga. Bukankah kamu menyukai tanggal cantik itu. Tahun lalu kita merayakan ulang tahun kamu yang ke tiga puluh tiga. Saat itu kamu berjanji. Kita akan mendatangi tempat itu di ulang tahun ku yang ke tiga puluh tiga ini."


Adelia berkata sambil berjalan mengikuti langkah Evan yang tidak ingin mendengar perkataannya.


Evan benar benar tidak memperdulikan perkataan Adelia. Dia terus melangkah yang diikuti oleh Adelia. Di belakang Adelia. Rico juga mengikuti langkah Adelia.


Evan membuka pintu kaca itu dengan kasar dan menutupnya dengan kasar. Dia tidak perduli mendengar jeritan kesakitan Adelia yang terkena pintu kaca tersebut. Pria itu seakan sudah buta hati jika berkaitan dengan Adelia.


"Adelia, pergi lah dari sini. Tidak ada gunanya kamu mengejar Evan seperti ini," kata Rico. Pria itu juga tidak berniat untuk bertanya akan kening Adelia yang sudah memerah. Tapi Rico masih berusaha berbicara normal daripada berbicara keras kepada wanita itu.


"Aku hanya menagih janjinya Rico. Kamu tidak perlu ikut campur," jawab Adelia sambil meraba keningnya. Dia hendak menarik pintu kaca dan Rico juga langsung menarik tangannya. Rico menggelengkan kepalanya melihat tindakan Adelia yang benar benar tidak tahu malu.


"Jangankan merayakan ulang tahun kamu. Melihat kamu saja. Evan sangat muak. Jadi, seharusnya kamu secepatnya tersadar dari mimpi itu Adelia."


Rico masih berusaha menjaga sikap dengan berkata pelan. Rico berpikir jika dia berkata keras hanya membuat Adelia semakin bertindak di luar batas.


"Tidak Rico. Evan tidak boleh mengingkari janjinya. Malam ini, kami harus makan malam bersama merayakan ulang tahun ku."

__ADS_1


"Kamu kira, kamu siapa untuk Evan. Kamu hanyalah wanita penipu ulung yang membuat perangkap sempurna untuk Evan. Kesalahan kamu sudah berlapis lapis Adelia. Manusia normal pasti akan malu berhadapan dengan orang yang sudah mengetahui kejahatannya. Tapi mengapa kamu tidak Ada rasa malu sama sekali. Apa Bronson sudah memutuskan beberapa saraf kamu sehingga kamu bertindak gila seperti ini," kata Rico kesal. Dia sudah tidak ingin berdiri di tempat itu berhadapan dengan Adelia. Tapi mengingat perkataan Evan. Rico harus berusaha mempengaruhi Adelia supaya tidak menampakan diri di hadapan keluarga Evan.


"Jangan bawa bawa nama Bronson. Kedatanganku murni karena menagih janji. Tidak ada motif lain."


"Adelia, mengapa kamu sangat jahat. Padahal tanpa kamu mengaku sebagai pendonor darah untuk Evan saat itu. Aku sangat yakin jika Evan pasti akan bersikap baik juga kepada kamu seperti kepadaku. Untuk memenuhi hidup yang berkecukupan kamu bisa saja bekerja di perusahaan Evan. Tapi kamu memilih jalan yang salah demi hidup tenang dan nyaman. Tapi lihat diri kami sekarang ini. Apa hidup kamu bahagia dan tenang?" kata Rico. Dia tidak ingin membahas ulang tahun dan soal menagih janji. Dia ingin Adelia sadar dengan perkataannya.


Dan benar saja. Wanita itu kini terdiam dengan terlihat berpikir. Apa yang dikatakan oleh Rico benar adanya. Evan sangat menghargai orang yang sudah berbuat baik kepadaa dirinya. Bukan hanya kepada Rico, kepada teman teman mereka yang lain. Evan juga berusaha membantu.


"Aku sangat mencintai Evan, Rico. Sudah lama," jawab Adelia tenang. Rico terkejut mendengar pengakuan Adelia.


"Kamu bohong. Kamu hanya menginginkan hartanya," kata Rico. Perkataan Rico jelas menunjukkan jika dirinya tidak percaya dengan pernyataan Adelia.


"Aku tidak berbohong Rico." Kini Adelia menundukkan wajahnya.


"Bahkan ketika Rudi juga masih hidup?"


Adelia menggelengkan kepalanya.


"Aku sangat mencintai Evan setelah merasakan semua keterangan dan kenyaman yang dia ciptakan untuk aku," kata Adelia sendu.


"Dan sekarang kamu merasakan neraka karena kebohongan kamu sendiri. Adelia, jangan ganggu lagi Evan. Cara kamu seperti ini menunjukkan jika kamu tidak punya harga diri sama sekali. Pergilah, dan jangan ganggu lagi keluarga Evan. Dia sudah berbahagia dengan istri dan putrinya. Evan masih membiarkan kamu hidup bebas seperti ini seharusnya kamu bersyukur. Jangan memancing amarahnya lagi," kata Rico. Dia menasehati Adelia supaya bisa belajar dari pengalaman yang lalu yang langsung memasukkan Adelia ke penjara setelah kebusukannya terbongkar.


"Tolong biarkan aku masuk Rico," kata Adelia memohon. Rico menatap kesal kepada wanita itu. Nasehatnya seperti angin lalu bagi Adelia. Rico merasa sia sia bersikap baik untuk menyadarkan wanita itu.


"Adelia. Pergi dari tempat ini sekarang juga. Nanti aku akan berusaha membujuk dia supaya kamu punya teman makan malam merayakan ulang tahun kamu."


"Benar kah Rico. Terima kasih ya!" kata Adelia senang. Matanya berbinar penuh harapan.


"Jangan terima kasih dulu. Bukan Evan yang aku maksud untuk menemani kamu makan malam. Melainkan si pria jahat itu. Bronson."


Rico tertawa melihat wajah Adelia yang berubah masam. Rico sengaja berkata seperti itu supaya Adelia mengetahui jika dirinya dan Evan sudah mengetahui bahwa Adelia bebas dari penjara karena jaminan Bronson.


"Aku tidak akan pergi sebelum Evan setuju untuk memenuhinya janjinya," kata Adelia bersikeras. Wajah cemberut karena kesal kepada Rico.


"Dasar wanita gila. Entah dimana otak kamu sehingga kamu tidak tahu malu seperti ini."

__ADS_1


Akhirnya Rico marah juga. Dia sampai membentak Adelia supaya secepatnya pergi dari tempat itu.


Melihat betapa keras kepalanya Adelia. Akhirnya Rico memanggil stapam untuk menyeret wanita itu. Satpam itu melakukan tugasnya dengan baik. Menyeret Adelia hingga pintu keluar gerbang. Rico memandangi wanita itu yang berteriak untuk dilepaskan. Setelah memastikan Adelia masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari parkiran itu. Rico masuk ke dalam gedung perkantoran itu.


__ADS_2