
Usia yang sudah matang bahkan sudah hampir senja. Membuat Rendra tidak ingin berlama lama menjalin status yang tidak halal dengan kekasihnya. Rendra sangat serius membawa wanita itu ke jenjang pernikahan dan menjadikan wanita itu sebagai ratu di rumah dan di hatinya. Anak bukan lagi prioritas untuk menikah. Rendra hanya ingin bahagia di masa tua dengan wanita yang tulus menerima dirinya sebagai suami tanpa memandang dirinya sebagai pria kaya. Jika pun nantinya dirinya di anugerahi keturunan di pernikahannya yang kedua. Rendra akan lebih bersyukur.
Keseriusan Rendra bukan hanya sekedar kata kata. Sebelum menentukan hari pernikahan. Rendra berniat memperkenalkan wanita pujaannya kepada seluruh keluarga besar kakek Martin. Keluarga besar menyambut niat Rendra itu dengan senang hati. Mereka juga ingin secepatnya melihat Rendra bahagia. Dan waktu itu telah tiba. Semua keluarga kakek Martin kini sudah berkumpul di rumah nenek Rieta atas permintaan Rendra. Hari ini, Rendra berencana akan membawa dan memperkenalkan wanita pujaannya kepada seluruh keluarga besar.
Semua antusias menunggu kedatangan Rendra dan wanita pujaannya. Mereka penasaran siapakah wanita yang beruntung yang mampu memikat hati Rendra setelah tersakiti karena kegagalan pernikahan dengan Nia. Nenek Rieta bahkan memesan banyak makanan enak. Wanita itu yang paling bahagia mengetahui jika Rendra sudah mempunyai calon istri. Selama ini, nenek Rieta berusaha memperkenalkan wanita wanita yang dia anggap baik kepada Rendra. Tapi satupun dari wanita yang dia perkenalkan tidak menarik perhatian Rendra. Wanita tua itu pernah berpikiran jika Rendra tidak akan menikah lagi.
"Papa sangat beruntung. Mendapatkan salsa yang baik dan pemberani!" kata Anggita. Mereka sedang membicarakan tentang calon istri dari Rendra. Sekilas mereka juga membicarakan tentang Nia. Anggita yang tidak ingin membahas lebih lanjut dengan sahabatnya terpaksa harus mengalihkan pembicaraan dengan menyebut nama calon istri Rendra. Bukan karena dirinya membenci Nia. Tapi Anggita tidak tahan jika ada diantara mereka yang berkata negative tentang Nia. Apalagi melihat wajah Danny yang berubah datar setelah nama sahabatnya disebut. Nia memang tidak mempunyai ruang khusus sedikit pun di hati nenek Rieta dan Gunawan. Dua orang itu masih terlihat membenci Nia walau hanya sekedar menyebut nama wanita itu.
"Bukan Salsa yang menjadi calon istri papa, sayang. Tapi ibu Anna," kata Evan. Anggita mengerutkan keningnya.
"Loh kok ibu Anna?" tanya Anggita heran. Melihat bagaimana Salsa mengkhawatirkan keadaan Rendra ketika di rumah mama Anita ditambah dengan kata kata Salsa. Anggita tidak menyangka jika bukan Salsa yang menjadi calon istri Rendra. Anggita bisa melihat jika Salsa sangat tulus.
"Iya. Memang ibu Anna. Bukan Salsa," jawab Evan mempertegas jawaban sebelumnya. Evan tidak asal bicara. Sebelum memutuskan serius dengan Anna. Rendra terlebih dahulu meminta pendapat Evan. Evan tidak keberatan siapapun yang menjadi pendamping papanya sejauh wanita itu tulus dan baik. Evan yang merekomedasikan Anna tentu saja, Evan sudah mengetahui sedikit sifat dari wanita wanita yang dia rekomendasikan tersebut. Hampir semuanya bukan wanita yang menghalalkan cara untuk mendapatkan harta termasuk Anna dan Salsa. Baik Anna maupun Salsa adalah dua wanita yang pekerja keras dan pintar.
Anggita bermain dengan pikirannya sendiri. Sejujurnya dia tidak suka dengan cara Rendra yang memberikan harapan palsu saat berada di hadapan mama Anita. Itu artinya Rendra hanya memanfaatkan Salsa untuk membuat mama Anita berhenti mengejarnya sama seperti dulu Nia yang dibayar sebagai calon istri dan benar benar calon istri tapi gagal menikah. Anggita masih mengingat bagaimana Rendra memeluk Salsa di hadapan dirinya dan di hadapan mama Anita.
Anggita merasakan hatinya sedih. Mengingat binar mata Salsa. Anggita sangat yakin jika cinta Salsa tidak hanya tulus tapi sangat besar untuk Rendra. Perhatian dan kekhawatiran sangat jelas terlihat di wajah Salsa melihat keadaan Rendra saat itu. Anggita membayangkan Salsa yang bersedih.
"Kasihan Salsa," kata Anggita pelan. Tapi karena suasana ruang tamu itu hening. Beberapa orang mendengar perkataan Anggita.
"Apa maksud kamu Anggita?" tanya Gunawan. Gunawan belum mengenal Anna dan Salsa apalagi mengetahui kisah dua wanita itu dengan Rendra. Anna yang dikejar oleh Rendra dan Rendra yang dikejar oleh Salsa. Cinta segitiga yang membuat Salsa patah hati.
Evan akhirnya bercerita tentang Anna dan Salsa. Mendengar cerita dari Evan. Mereka langsung menyukai Anna dan Salsa. Tapi untuk menjadi pendamping Rendra. Nenek Rieta, Gunawan dan tante Tiara lebih memilih Anna sebagai istri Rendra kelak. Perbedaaan umur dengan rentang yang sangat jauh dan pertimbangan lainnya membuat nenek Rieta dan yang lainnya tidak memilih Salsa. Mereka masih mengingat perbuatan Nia yang masih labil dan plin plan.
"Aku juga mengakui jika Salsa itu baik. Aku suka dengan sikapnya yang pemberani, Aku sangat yakin dia benar benar mencintai papa bukan karena harta," kata Evan setelah nenek Rieta dan yang lainnya memberikan pendapat positif tentang Salsa.
"Sok yakin kamu," kata Danny.
"Aku bukan asal bicara," kata Evan. Dirinya sudah pernah bekerja bersama Salsa di luar kota. Saat itu Rendra sedang sakit dan tidak bisa mengurus perusahaan. Evan mengambil alih untuk sementara. Saat itulah dirinya menilai Salsa orang baik. Salsa bekerja professional dan tidak ada sedikitpun menunjukkan sifat genit. Jika Salsa seorang wanita yang tidak baik bisa dipastikan moment itu dimanfaatkan oleh Salsa untuk menggoda dirinya. Evan berpikir. Keberanian Salsa menunjukkan cintanya kepada Rendra karena benar benar mencintai Rendra. Cinta Salsa apa adanya. Tidak memandang usia diantara mereka.
Evan terlihat serius berbicara. Dia tidak menyadari jika di seberang meja seseorang menatap dirinya dengan tajam. Seseorang itu adalah Anggita. Wanita itu merasa cemburu karena di depannya sang suami mengaku menyukai sikap wanita lain dan memuji wanita tersebut. Evan dan Anggita tidak duduk bersebelahan. Anggita duduk di sebelah tante Tiara. Sedangkan Evan duduk bersebelahan dengan Danny.
__ADS_1
"Menyukai sikapnya saja sayang. Bukan mencintai dirinya," kata Evan kepada Anggita kala menyadari tatapan tajam wanita itu. Evan bahkan memberikan contoh perbedaaan menyukai dan mencintai supaya Anggita yakin jika perkataannya tentang Salsa. Bahwa rasa suka itu tidak mengandung unsur cinta.
Anggita tidak menanggapi penjelasan suaminya itu. Dia hanya memajukan bibirnya ke depan jika dirinya tidak perduli dengan penjelasan apapun dari suaminya itu. Dia tidak marah. Tapi sikap ini adalah sikap protes kepada Evan.
"Seharusnya wanita seperti Salsa tidak boleh dilepas karena tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta. Kira kira Salsa mau gak ya sama Danny," kata Nenek Rieta bercanda tapi penuh harap. Wanita tua itu pantang mendengar ada wanita baik dan tulus. Dia pasti ingin menjadikan wanita itu tersebut bagian dari keluarganya apalagi salah satu Anggota keluarganya masih belum mempunyai pasangan.
"Jangan menilai seseorang itu terlalu cepat nek," kata Danny datar. Ternyata karena Nia dan mantan istrinya. Danny lebih hati hati menilai perempuan terutama perempuan muda.
Pembicaraan itu berhenti. Orang yang ditunggu telah tiba. Semua mata menatap ke arah pintu utama. Dimana Rendra dan Anna sudah berjalan mendekati ruang tamu dengan bergandengan tangan. Rendra dan Anna terlihat serasi walau usia mereka jelas jauh berbeda. Wajah Anna yang sudah terlihat sangat dewasa sangat serasi dengan Rendra yang sudah terlihat tua sedikit. Pakaian mereka juga terlihat senada. Anna menggunakan dress bunga bunga dengan kain berwarna dasar navy sedangkan Rendra mengenakan kemeja polos berwarna navy.
"Silahkan duduk Anna," kata nenek Rieta setelah Anna memperkenalkan dirinya dan sudah bersalaman dengan semua orang yang ada di ruang tamu itu. Anna menjadi pusat perhatian dengan memperhatikan gerak gerik wanita itu.
Anna duduk. Sikapnya santai dan tenang apa adanya. Sedangkan Rendra tersenyum bangga duduk di sebelah wanita itu. Banyak pertanyaan dari Nenek Rieta yang dijawab wanita itu sesuai dengan kenyataan termasuk bahwa dirinya belum pernah hamil ketika di pernikahan pertamanya. Anna juga mengatakan jika dirinya bercerai karena sang mantan memberikan madu kepada dirinya.
Para wanita terlihat sedih mendengar kisah Anna. Mereka menatap Anna penuh simpati. Seakan bisa merasakan masa Masa sulit yang dialami oleh wanita itu.
Sedangkan Nenek Rieta menghela nafas panjang mendengar jika wanita itu belum pernah hamil. Tidak ada yang tahu arti helaan nafas itu. Tapi bersamaan dengan nenek Rieta menghela nafas panjang. Rendra dan Anna saling berpandangan. Mereka mengartikan lain akan helaan nafas sang nenek. Tidak ingin membuat wanita pujaannya ragu akan dirinya. Rendra menggerakkan tangannya meraih tangan Anna dan menggenggam tangan itu sangat erat. Rendra menunjukkan jika mereka tidak dapat dipisahkan lagi terlepas punya atau tidak punya anak nantinya.
"Ma, untuk keturunan. Aku tidak terlalu memikirkannya lagi. Aku sudah mempunyai Evan. Jika aku ditakdirkan tidak mempunyai keturunan. Aku sudah ihklas dan bisa menerima takdirku. Semua hasil jerih payahku akan jatuh kepada Evan," kata Rendra meyakinkan nenek Rieta akan pilihannya Anna.
Lagi lagi semua orang langsung memperhatikan raut wajah Anna. Mereka mencari tahu apakah Anna keberatan dengan perkataan Rendra atau tidak. Anna terlihat biasa saja. Tidak ada perubahan raut wajah mendengar perkataan Rendra. Semua orang membenarkan dalam hati jika wanita itu bersedia menjadi pendamping hidup Rendra bukan karena harta.
"Jangan langsung putus asa papa. Usia ibu Anna masih usia yang memungkinkan untuk hamil. Kalian bisa konsultasi ke dokter specialis nantinya. Jaman sekarang sudah canggih. Sudah banyak cara untuk mendapatkan keturunan," kata Evan untuk menyemangati papanya itu. Dirinya tidak langsung tergiur dengan harta yang disebutkan oleh Rendra karena dirinya juga sudah mempunyai banyak harta.
"Kamu benar nak. Jika Anna bersedia untuk itu aku akan senang hati," kata Rendra penuh harap sambil melirik ke arah Anna. Tapi yang dilirik bersikap biasa saja. Tidak mengiyakan dan juga tidak menolak apa yang dikatakan oleh Rendra.
Nenek Rieta tidak berbicara lagi. Dia kini menjadi pendengar setia. Wanita tua itu menginginkan Anna berkata jika dirinya siap menjalani pemeriksaan medis nantinya demi memberikan keturunan kepada Rendra. Melihat Anna diam dan tidak berusaha menyakinkan dirinya membuat nenek Rieta mempunyai penilaian tersendiri akan Anna.
"Kami berencana menikah secepatnya. Mungkin dalam minggu ini," kata Rendra kemudian seakan tidak perduli dengan aksi diam yang ditunjukkan oleh nenek Rieta.
"Lakukan apa yang terbaik demi kebahagiaan kamu," kata Nenek Rieta kemudian beranjak dari duduknya. Ada kecewa menyelinap di dalam hatinya melihat sikap pasrah dari diri Anna.
__ADS_1
Nenek Rieta tidak menilai Anna negative. Tapi sebagai wanita yang sudah berpengalaman puluhan tahun berumah tangga. Sikap baik, tulus tidak cukup untuk membuat rumah tangga akan tetap utuh dan bahagia. Perlu perjuangan untuk itu. Perlu pengorbanan. Mencintai suami dengan tulus tidak cukup untuk membuat sang suami selalu betah akan pasangannya.
Menyadari sikap nenek Rieta. Gunawan dan tante Tiara berusaha mengalihkan situasi supaya Anna betah dalam pertemuan itu. Gunawan mengajak semuanya untuk makan bersama tapi Anna menolak dengan halus. Dan bahkan wanita itu pamit untuk pulang tapi Rendra menahannya.
"Kenapa buru buru?" tanya Rendra. Anna bergerak gelisah ternyata dia menangkap gelagat tidak senang dari calon mertuanya. Dirinya seketika merasa tertolak sehingga tidak merasa nyaman lagi.
"Aku rasa ibu Rieta tidak menyukai aku," bisik Anna. Rendra langsung menarik tangan Anna. Sedangkan yang lain juga merasakan hal itu. Mereka sudah mengetahui sifat nenek Rieta. Wanita tua itu tidak segan segan meninggalkan lawan bicaranya. Dan begitu juga sebaliknya, Nenek Rieta akan betah berlama lama jika dirinya menyukai lawan bicaranya.
Rendra membawa wanita itu ke ruang keluarga. Mengajak wanita itu berbicara berdua supaya tidak merasa sungkan.
"Mengapa kamu berpikiran seperti itu?" tanya Rendra. Anna tidak menjawab. Wanita itu justru menundukkan kepalanya.
"Kamu serius dengan aku kan?" tanya Rendra lagi. Anna menganggukkan kepalanya.
"Kalau kamu serius. Tunjukkan keseriusan kamu. Jangan hanya melihat mama seperti itu kamu langsung menyerah. Berjuang sedikit supaya Kita bisa bersama."
Anna menggigit bibir miliknya. Dia tahu bahwa perubahan sikap nenek Rieta kepada setelah berbicara tentang keturunan. Anna bukan tidak mau berjuang. Tapi dia tidak mau mendahului kata kata yang nantinya hasilnya tidak memuaskan. Anna sadar jika menyangkut keturunan itu bukan urusan manusia tapi urusan Sang Pencipta. Wanita itu takut memberikan harapan palsu tapi nantinya harapan itu tidak terwujud. Baginya lebih baik tidak memberikan harapan tapi berusaha mewujudkan harapan itu menjadi kenyataan.
"Kamu bisa kan?" tanya Rendra lagi.
Anna menatap wajah Rendra. Wajah Rendra terlihat memohon dan penuh harap. Akhirnya Anna menganggukkan kepalanya karena dirinya benar benar serius dengan pria itu.
Rendra tersenyum. Dia menggapai tubuh Anna dan memeluk wanita itu. Desiran aneh memenuhi tubuh kedua manusia itu dan menginginkan lebih dari sebuah pelukan.
Satu bulan melakukan pendekatan. Mereka tidak pernah sedekat ini. Anna dan Rendra benar benar menjaga sikap walau mereka sudah pernah merasakan hidup berumah tangga.
Dan kini mereka berpelukan. Merasakan sentuhan kulit untuk yang pertama kalinya. Rendra tergoda. Pria itu tidak sanggup untuk tidak menikmati bibirnya dari calon istrinya itu.
Lumayan lama mereka melakukan adegan itu. Hanya sekedar ciuman. Rendra dan Anna tentu saja menginginkan lebih. Tapi keduanya tidak berniat melakukan hal yang lebih jauh. Bukan karena tempat yang tidak memungkinkan tapi karena mereka berdua merasa malu jika tergoda dengan dosa di usia mereka yang tidak muda lagi.
"Pergi lah ke kamar mama. Tunjukkan jika dirimu benar benar serius dan akan berjuang bersama aku," kata Rendra setelah mereka selesai bertarung bibir.
__ADS_1
"Sendiri?" tanya Anna menunjuk dirinya sendiri. Rendra menganggukkan kepalanya.