
Sepanjang malam itu, Evan mengurung diri di kamarnya. Bahkan makan malam dia lewatkan karena tenggelam dalam pikiran tentang kehidupannya yang rumit. Evan merasa kehidupannya penuh dengan teka teki. Dia pernah merasakan sebagai putra tunggal dari Rendra dan Tiara dan merasa hidupnya sempurna. Ternyata dirinya hanyalah sebagai keponakan bagi kedua orang itu. Dia pernah merasakan mencintai wanita sangat dalam ternyata tidak menikah dengan wanita itu.
Dia pernah memuja Adelia ternyata wanita itu adalah wanita paling jahat yang pernah dia kenal. Dia pernah berpikir tidak akan pernah mencintai Anggita. Tapi kepergian wanita itu adalah luka terdalam sepanjang hidup.
Ya, ternyata hal yang menyakitkan bagi Evan adalah kepergian Anggita. Bahkan dia tidak pernah sesakit ini karena wanita. Termasuk ketika dirinya memutuskan Adelia dulu sebelum meninggalkan Anggita.
"Mungkinkah aku sudah mencintai kamu Anggita?" tanya Evan dalam hati. Evan bertanya kepada langit langit kamarnya yang menjadi saksi bisu kebersamaan dirinya dengan Anggita. Evan memandangi langit langit itu dengan tidur terlentang di atas ranjang seakan menunggu jawaban dari pertanyaannya itu. Jawaban itu sebenarnya ada dalam dirinya.
Evan berusaha memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak dari banyaknya beban yang menemani hidupnya selama beberapa bulan itu.
Ternyata apa yang diinginkan tidak bisa sesuai dengan yang dia pikirkan. Niat hati untuk beristirahat. Yang ada wajah Anggita menghinggapi pikirannya. Kebersamaan dirinya dan Anggita di kamar ini mengganggu ketenangan hatinya.
"Ternyata aku sudah mencintai mu Anggita," gumam Evan kemudian duduk dari tidurnya. Evan bisa menyadari rasa cintanya sekarang setelah menyadari hanya masalah dirinya dengan Anggita yang yang terus menghantui dirinya dibandingkan masalah tentang orang tua kandungnya.
Evan mengusap wajahnya kasar. Dia merasa kesal kepada dirinya sendiri karena terlambat menyadari rasa cintanya itu. Dia pernah sakit karena Anggita menginap di kafe selama dua hari. Saat itu dia tidak ingin makan apapun selain masakan istrinya itu.
"Bahkan aku dapat merasakan kehadiran buah hati Kita," kata Evan lagi. Hatinya berdenyut nyeri sambil menghubungkan keinginannya makan sop iga buatan Anggita saat itu dengan kehamilan Anggita. Dia kembali mengingat bagaimana dia menghabiskan buah Kiwi sampai membuat Anggita menangis karena buah itu.
"Saat itu kamu menangis dan berani marah kepada aku. Ternyata ada darah dagingku bersemayam di rahim mu. Mengapa Anggita?, mengapa kamu menghukum diriku seberat ini?" tanya Evan lagi kencang. Suaranya memenuhi kamar itu bersamaan dengan air matanya yang juga sudah mengalir dari sudut matanya.
Evan meluapkan kesedihan dirinya dengan menangis. Dia merasa bodoh karena terlambat menyadari perasaannya yang sesungguhnya.
"Aku bodoh Anggita. Aku bahkan menggendong kamu dari lantai bawah ke kamar ini supaya Kita tidur bersama saat itu," kata Evan di sela sela tangisannya. Ingatannya semakin mundur ke Masa lalu. Bagaimana malam itu, dia tidak bisa tidur dan mencari Anggita ke kamar tamu.
"Mengapa kamu mengijinkan Adelia tidur dengan aku?. Evan terus berbicara sendiri. Saat itu sebenarnya dia kecewa karena melihat Adelia tidur bersama dirinya. Dan yang paling membuat Evan marah. Adelia mengatakan jika dia sudah mendapatkan ijin dari Anggita untuk hal itu. Evan semakin marah ketika besok paginya dia melihat Rico asistennya memakai bajunya. Sebagai laki laki dia merasa tidak dihargai. Itulah sebabnya dia marah kepada Anggita saat itu.
Mengingat Adelia, seketika pikirannya tertuju ke janinnya yang sudah gugur.
"Jangan jangan itu juga karena perbuatan Adelia," kata Evan lagi. Dia mengingat bagaimana Anggita tidak menunjukkan bukti tentang dirinya tidak bersalah saat kejadian di tangga. Mengingat itu. Evan menduga tidak tertutup kemungkinan jika Adelia adalah penyebabnya.
"Aku tidak akan mengampuni kamu jika ternyata kamu penyebabnya."
Evan terus berputar putar dengan pikirannya. Mengingat masa lalu yang membuat dirinya semakin sadar jika dirinya ternyata sudah mencintai Anggita sejak lama. Bibirnya berucap tidak menginginkan Anggita tapi sebenarnya hatinya menginginkan wanita itu.
"Ternyata cinta tidak berpihak kepada Kita berdua Anggita," kata Evan sambil memukul dadanya. Dia masih mengingat jelas perkataan Anggita yang mengatakan cinta tidak berpihak kepadanya tapi kepada Evan dan Adelia. Tapi malam ini Evan sadar jika sebenarnya cinta itu tidak berpihak juga kepadanya.
Evan hanya bisa menarik nafas panjang ketika masih sangat jelas mengingat semua sikapnya yang tidak pernah bersahabat kepada Anggita. Dia sudah membuat rencana ke rumah sakit besok pagi untuk melakukan penyelidikan terkait keguguran yang dialami oleh Anggita dulu.
Kenangan pahit itu seakan mengantri satu persatu untuk hadir dalam ingatannya. Kenangan pahit yang dia lukis untuk kisah rumah tangganya dengan Anggita. Dan ternyata dirinya juga tersakiti dengan kenangan pahit itu. Evan bisa tertidur setelah jarum jam menunjukkan angka tiga.
Besok paginya, Evan bangun cepat. Dia sudah bangun di jarum jam menunjukkan angka lima. Dia hanya tidur selama dua jam. Rencananya untuk ke rumah sakit terbawa mimpi seakan ada yang mendesak dirinya untuk menyelidiki tentang keguguran itu.
"Bibi Ani, buatkan aku kopi hitam," kata Evan. Dia sudah duduk di meja makan. Dia sudah berpakaian rapi tapi pakaian itu tidak layak untuk dipakai ke kantor.
__ADS_1
"Baik tuan," jawab Bibi Ani. Tapi matanya seakan mencari tahu untuk apa tuannya itu berpakaian seperti itu.
"Aku hendak ke rumah sakit Bibi," kata Evan seakan mengerti akan rasa penasaran sang Bibi. Bibi Ani langsung melihat jam dinding. Masih di angka enam.
"Tuan sakit?" tanya bibi itu khawatir.
"Tidak. Aku ingin menyelidiki tentang keguguran Anggita Bibi. Aku rasa itu karena ulah Adelia."
Bibi hanya menarik nafas panjang. Bukankah terlalu cepat untuk ke rumah sakit kalau hanya menyelidiki itu?. Wanita tua itu langsung membuat kopi hitam permintaan tuannya.
"Terima kasih Bibi."
"Sama sama tuan,"
Evan meneguk kopi hitam itu. Matanya sebenarnya terlalu lelah untuk langsung beraktivitas. Tapi entah mengapa keinginannya sangat kuat untuk menyelidiki tentang keguguran.
Evan beranjak dari duduknya Dan berjalan menuju pintu utama. Dia terkejut bercampur marah karena ternyata Adelia masih di sekitar rumah dan sekarang tertidur di teras rumahnya. Sepertinya wanita itu sengaja supaya Evan luluh dan kasihan kepada dirinya.
Evan ingin melewati begitu saja wanita itu tapi ternyata hentakan kakinya ke lantai membangunkan Adelia. Dan wanita itu langsung berdiri dan mendekati Evan tanpa memperdulikan penampilannya.
"Evan, Evan. Dengarkan aku. Aku mohon. Jangan seperti ini. Aku rela melakukan apapun asal bisa mendapatkan maaf dari kamu," kata Adelia sambil memegang tangan Evan. Evan melepaskan tangan itu dengan kasar.
"Lepaskan aroma nafas kamu mencemari udara di sekitar rumahku," kata Evan sinis. Menyadari hal itu Adelia mundur beberapa langkah. Dia juga tidak ingin pujaan hatinya semakin menjauh hanya karena aroma nafas tersebut.
"Maafkan aku. Kejadian itu sebenarnya tidak sengaja. Tidakkah kamu lihat jika aku yang terjatuh?. Dan aku yang kesakitan akibat kejadian itu. Andaikan aku sengaja aku sudah berpegangan ke railing tangga. Percaya padaku Evan."
"Adelia dengarkan baik baik. Bagaimanapun usaha yang ingin kamu lakukan. Selamanya aku tidak percaya kepada kamu. Ternyata kakek tidak salah pilih istri untuk diriku tapi aku yang salah mempercayai kamu. Aku hanya menyuruh kamu sejauh mungkin dari hadapanku setelah mengetahui kejahatan kamu. Apa kamu tahu kenapa?" tanya Evan marah.
"Karena saat kejadian itu. Anggita tidak kenapa kenapa. Tapi jika terbukti kamu berbohong saat Anggita keguguran. Maka aku pastikan kami tidak bisa menghirup udara bebas lagi," kata Evan lagi.
"Kamu terlalu mencari cari kesalahan aku Evan. Apa yang membuat kamu seperti ini. Setiap manusia mempunyai kesalahan dan berhak mendapatkan maaf. Tapi kamu seakan menutup Mata akan perjalanan kisah cinta Kita yang manis. Aku jujur kepada kamu bahwa aku tidak melakukan apapun terkait keguguran Anggita."
Adelia masih saja berusaha mengingatkan Evan akan Masa lalu mereka yang terlalu manis untuk dilupakan. Tapi itu bagi Anggita tidak bagi Evan. Pria itu sudah menutup buku kenangannya dengan Adelia setelah mengetahui kejahatan wanita itu.
"Kamu yakin. Bagaimana kalau aku menemukan bukti," kata Evan sinis.
"Silahkan saja kamu mencari bukti. Aku sangat yakin bukti itu tidak Ada karena aku tidak melakukan apapun saat itu. Tidak kah kamu ingat bahwa saat itu tubuh dan tanganku terluka?"
Evan memicingkan matanya. Dia mengingat jika saat itu Adelia memang benar benar sakit dan lemah. Hatinya mulai goyah tapi keinginannya semakin kuat untuk pergi ke rumah sakit.
Evan tidak ingin lagi berdebat. Dia melangkahkan kakinya menuju mobil yang terparkir di luar garasi. Dia mengambil ponsel dari saku celananya berniat untuk menghubungi Rico. Selain ingin mempercayakan perusahaan kepada asistennya itu Hari ini. Evan. juga ingin menyuruh Rico ke rumahnya terlebih dahulu sebelum ke kantor untuk mengusir Adelia dari rumahnya. Sepertinya Bibi Ani tidak sanggup mengusir wanita itu.
Baru saja Evan menggeser layar ponselnya. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Evan ingin mengabaikan nomor tidak bernama itu. Tapi pesan kedua masuk. Pesan kedua itu menyuruh Evan untuk membuka video itu.
__ADS_1
Evan masuk ke dalam mobil. Dia duduk di depan setir mobil. Mata dan tangannya masih fokus ke ponsel. Kini keterkejutan dan amarah berkali kali lipat yang hinggap ke hatinya setelah melihat video itu. Dia turun kembali dari Mobil dan berjalan cepat menuju Adelia yang masih berdiri di tempat tadi.
"Binatang kamu Adelia," pekik Evan marah dan menampar Adelia dengan sangat marah.
"Satpam. Kunci pintu gerbang," teriak Evan hingga satpam yang bertugas di pos penjagaan langsung tergesa menuju gerbang. Satpam itu mengunci gerbang itu dengan cepat.
Adelia mundur karena tamparan Evan. Dia merasakan nyeri yang dahsyat akibat tamparan itu. Sudut bibinya juga sudah mengeluarkan darah sedikit. Dia tentu saja terkejut mendapatkan tamparan itu. Adelia sudah berpikir jika Evan percaya akan kata katanya dan memberikan kesempatan kepadanya. Tadi dia sudah bersorak senang karena Evan langsung menuju mobil tanpa mengusirnya terlebih dahulu.
"Polisi akan datang sebentar lagi. Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan kamu yang menyebabkan Anggita keguguran," kata Evan sangat marah. Dia sudah menyuruh Rico untuk membuat pengaduan ke polisi Dan Evan juga mengirimkan video itu ke nomor ponsel milik Anggita. Setelah selesai mengirimkan video itu. Evan melemparkan ponselnya sendiri ke tembok rumah. Kini ponsel Mahal itu tergeletak di lantai dengan layar yang sudah hancur lebur.
"Ya ampun tuan. Kalau tidak suka lagi ponselnya. Kan bisa dikasih ama bibi," kata Bibi Ani yang baru muncul di depan pintu itu. Bibi sudah mendengar semua pembicaraan Adelia dan Evan. Tapi sejak tadi dia memilih bersembunyi karena tidak ingin ketahuan. Dan karena ingin melihat bagaimana bentuk wajah Adelia setelah mendapatkan tamparan itu. Bibi Ani akhirnya keluar dengan membawa sapu berpura pura hendak menyapu teras.
"Evan tidak menjawab perkataan Bibi Ani. Dia hanya ingin menghancurkan ponsel itu karena tidak ingin lagi memakai barang yang berkaitan dengan Adelia. Dengan ponsel itu, dia Dan Adelia bisa berkomunikasi.
Sedangkan Adelia terkejut melihat video itu ponselnya. Di ponsel itu. Adelia kembali menonton perbuatan jahatnya sendiri. Video itulah video dimana dirinya menjadi pelaku jahat yang menyebabkan Anggita kesakitan di rumah sakit itu. Dia sudah percaya diri mengatakan jika dirinya tidak bersalah akan kejadian itu karena dia sendiri sudah menyuap salah satu karyawan rumah sakit untuk menghapus rekaman cctv tersebut.
Adelia menoleh ke gerbang setelah menonton video itu. Sepertinya dia tidak bisa kabur. Dia mendekat ke Evan dan bersujud di bawah kaki pria itu.
"Evan aku mohon. Tolong kasihani aku. Kejadian di rumah sakit itu juga aku tidak sengaja. Tolong Evan. Biarkan aku pergi. Aku berjanji akan pergi sejauh mungkin dari kamu."
Adelia memohon sambil menangis. Dia tidak menyangka jika keras kepalanya untuk mendapatkan Evan kembali akan mengantarkan dirinya ke jeruji besi. Seketika Adelia menyesal bukan menyesali semua perbuatan jahatnya kepada Anggita melainkan menyesal karena kedatangannya ke rumah ini.
"Sudah terlambat Adelia. Aku sudah menyuruh kamu pergi. Sekarang aku akan memasukkan kamu ke dalam penjara."
"Evan. Kamu gila. Kamu jahat. Tega kamu ya!. Kamu Kira kamu bisa memasukkan aku ke penjara?. Kamu tidak punya bukti apapun. Ponsel kamu sudah hancur," kata Adelia marah. Ternyata wanita itu juga bisa marah menyadari jika usahanya untuk membuat Evan miliknya tidak akan berhasil.
Evan bersikap tenang supaya dia tidak terpancing amarah lagi. Ketika suara klakson Mobil terdengar dari luar gerbang. Evan menyuruh satpam untuk memegang tubuh Adelia. Sedangkan dirinya menuju gerbang untuk memastikan bahwa yang datang tersebut adalah polisi.
"Itu dia pak," kata Evan sambil menunjuk kepada Adelia yang meronta untuk terbebas dari cengkraman sang satpam.
Adelia akhirnya dimasukkan ke dalam mobil. Wanita itu terus meronta. Sedangkan Evan masih terdiam di tempatnya berdiri. Dia hanya melihat Mobil polisi itu keluar dari pekarangan rumahnya. Sebenarnya dia juga tidak tega membayangkan Adelia di penjara. Tapi mengingat wanita itu melukai janinnya sampai gugur membuat Evan tidak bisa lagi membiarkan Adelia hidup bebas.
Evan kembali merasakan hatinya berdenyut nyeri. Dia terpukul kehilangan janin itu. Dia masih mengingat samar Samar apa yang dia ucapkan kepada Anggita saat mabuk di malam terakhir mereka bisa berbicara.
"Ternyata kamu benar Anggita. Akulah yang menjadi pembunuh di rumah tangga Kita dulu," guman Evan pelan.
"Aku akan menghukum diriku sendiri Anggita. Aku tidak akan menikah lagi jika tidak dengan dirimu. Dan aku akan melepaskan kamu dari hatiku jika kamu bisa benar benar berbahagia dengan pria yang benar benar mencintai dan menghargai kamu."
Evan berjanji di dalam hatinya. Sampai saat ini dia ingin masih ingin memperbaiki dirinya demi bisa kembali demi Anggita. Tapi jikapun tidak. Evan akan ikut berbahagia jika mantan istrinya itu berbahagia dengan pria lain nantinya. Inilah penyesalan tertinggi yang dirasakan oleh Evan.
"Tuan, boleh saya ambil ponselnya. Kali saja masih bisa diperbaiki?" tanya Bibi Ani membuat Evan tersadar dari pikirannya sendiri.
"Silahkan ambil untuk Bibi sendiri. Nanti akan aku kasih uang untuk memperbaikinya," kata Evan sambil berlalu dari hadapan Bibi Ani.
__ADS_1
"Tuan, apakah tuan masih ingin ke rumah sakit?" tanya bibi Ani membuat Evan berhenti.
"Tidak Bibi. Aku mau ke rumah papa dulu," jawab Evan. Bibi Ani menganggukkan kepalanya sopan setelah Mobil milik Evan bergerak.