
Masih flashback
Keanu segera melajukan mobilnya begitu Cinta sudah masuk dan duduk tepat bersebelahan dengan mamanya di jok tengah. Meski dibenak pria itu banyak muncul tanda tanya tentang mengapa Cinta ikut hari ini, pria itu memilih bungkam. Rasa malas untuk terlibat komunikasi dengan gadis itu sangat kentara diwajahnya. Apalagi pria itu juga bisa membaca dari gelagat tiap hari Cinta, bahwa gadis itu sedang naksir kepadanya.
Tak jarang gadis itu selalu cari-cari perhatian disetiap ada kesempatan bertemu dengan Keanu saat berkunjung ke restoran. Bahkan mungkin dari sekian pegawai yang bekerja disana sudah tahu kalau Cinta tergila-gila dengan bos nya itu. Tergila-gila dalam artian tidak gampang menyerahkan sesuatu yang merangsang seduktif, tetapi gadis itu masih bisa sportif demi bisa meraih simpati bos dinginnya itu.
Tetapi berbeda kenyataan dengan saat ini. Gadis itu terlihat diam seribu bahasa dengan sorot matanya yang sendu dan kentara gelisah. Jemari tangannya saling memilin, pertanda sedang resah dengan sesuatu yang mungkin dipikirkannya.
"Sudah ada kabar lagi tentang ayahmu, Ta?" sapa ibu Ratih, setelah sedari tadi hanya diam memperhatikan Cinta disampingnya.
"Masih seperti yang semalam, Bu." Gadis itu menyahut lemah.
Ratih menghembus nafasnya. Tetiba tangannya merangkul pundak gadis itu dan menuntunnya untuk merebahkan kepalanya dipundaknya. Sumpah demi apapun, Keanu yang diam-diam memperhatikan keduanya seketika kaget saat melihat tontonan mamanya yang begitu perhatian sekali dengan pegawai somplaknya itu.
"Ken, sebelum ke Semarang kita harus antar Cinta dulu ke rumahnya." seru ibu Ratih kepada Keanu.
Keanu hanya bergeming. Dalam hati ia mulai paham ternyata gadis itu hanya sekedar nebeng tumpangan demi bisa pulang ke Yogyakarta.
Sebelumnya Keanu sudah menerima pesan singkat dari gadis itu subuh tadi, jika ia meminta cuti kerja beberapa hari ke depan karena hal mendesak yang mengharuskannya pulang kampung. Pria itu sangat tidak menyangka rupanya gadis itu akan bersama satu mobil dengannya dalam perjalanan yang cukup jauh.
"Sebelumnya aku ucapkan terimakasih banyak, Bu. Bukan maksud menolak niat baik Ibu, tapi nanti aku turun di terminal saja. Aku mau naik angkot saja, Bu."
Cinta berkata begitu semata agar tidak merepotkan ibu Ratih yang harus membuang waktu, yang seharusnya ia langsung ke Semarang tanpa harus direpotkan mengantar Cinta pulang hingga ke rumah.
"Setuju." Keanu menyahut ketus.
Ratih langsung menyorotnya heran. Tetapi pria itu tidak peduli dan tetap fokus mengemudikan kendaraannya.
__ADS_1
Semasa perjalanan itu Cinta dan ibu Ratih terlibat obrolan saling mengakrabkan antara keduanya. Terkadang Keanu terpaksa menimpali dengan singkat bila sedang ditanyai oleh Ratih. Hingga sampai Keanu terpaksa menyalakan musik lewat headphone yang dipakainya, demi tak mau mendengar obrolan mereka yang dirasa tidak berbobot.
Ratih juga tidak begitu mempedulikan masalah Keanu yang terkesan dingin dan seperti menghindar dari Cinta. Wanita itu hanya merasa kasihan saja dengan gadis baik itu, yang sejujurnya diam-diam ia mendambakan menantu manis seperti Cinta untuk Keanu.
Hingga sampai Keanu memilih beristirahat sejenak disebuah rest area jalan tol penghubung ke arah kota tujuan, mereka memilih bersantai sambil menikmati kopi dan cemilan ringan diemperan sebuah toko berlogo lebah yang ada disana sebelum nanti melanjutkan perjalanan lagi.
"Minum dulu kopinya, Ta. Biar lebih segar sedikit. Semalam nggak nyenyak tidur ya?" ujar ibu Ratih.
Menyodorkan secangkir kopi susu yang dibelinya. Ibu Ratih memang wanita penyanyang kepada siapapun. Tapi kali ini rasa sayangnya itu cukup membuat Keanu sedikit dongkol, merasa diduakan oleh kasih sayang mamanya itu.
Saat ini saja sang mama tidak begitu peduli dengan adanya Keanu. Wanita itu terlanjur asyik mempedulikan Cinta yang masih berwajah kusut banyak pikiran.
Setengguk kopi hangat mengalir lewat kerongkongannya. Setidaknya muncul sedikit tenaga pada jiwa Cinta yang memang tiada bergairah.
Tak lama mereka duduk disitu, tetiba berbunyi sebuah panggilan masuk dari hape Cinta. Tertulis nama Ibu dilayar ponselnya.
"Kamu pulang sendiri?"
"Tidak, Bu. Aku diantar sama ibu Ratih juga."
Sengaja gadis itu tidak menyebut nama Keanu. Sedari tadi pria itu diam-diam menyorotnya tajam bagai ingin menguliti tubuh Cinta, membuat mulut gadis itu tiba-tiba kelu untuk menyebut namanya.
"Kalau begitu tetap hati-hati ya, Nak. Dijalan jangan ugal. Disini ayah sudah sadar. Dari bangun tadi ayah manggil-manggil kamu."
"Alhamdulillah kalau ayah beneran sudah sadar, Bu." Mata Cinta mulai berkaca-kaca saat mengucapkan kalimat syukur itu.
Walau sudah mendengar kondisi ayahnya yang sudah sadarkan diri, tetapi perjalanan ini harus tetap berlanjut.
__ADS_1
"Abang gimana, Bu? Semalam aku terus hubungi abang tapi nggak bisa. Ibu nggak coba hubungi abang lagi?" tanya Cinta, merasa penasaran bagaimana dengan Zayn yang sampai saat ini belum membalas pesan singkat yang dikirim Cinta padanya.
Entah sibuk seperti apa Zayn disana. Hingga tidak menelpon balik kepada Cinta, bahkan Ara sekalipun.
"Alhamdulillah barusan sudah ibu telpon. Abangmu bilang mau langsung pulang hari ini." tutur Rahayu.
Terhembus helaan nafas lega dari Cinta. Ratih yang memang memperhatikannya turut tersenyum lega juga.
Setelah itu telpon berakhir. Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan hati tenang, sebab apa yang dikhawatirkan sudah stabil kembali.
Hingga beberapa jam kemudian Cinta telah sampai di rumah sakit tempat ayahnya dirawat, karena ibu Ratih berkenan mengantar gadis itu ke sana. Tak sampai disitu wanita itu rupanya juga ikut turun untuk sekalian membesuk ayahnya Cinta. Awalnya Keanu merasa keberatan saat mamanya mengajaknya ikut juga, tetapi karena malas saling berdebat dengan sang mama akhirnya pria itu menurut dengan setengah hati saja.
Didepan pintu kamar tempat ayah Cinta dirawat, Rahayu sudah menunggu menyambut kedatangan mereka. Gadis itu langsung menyalim takdzim kepada ibunya, bergantian Ratih dan juga Keanu saling berjabat tangan memperkenalkan diri masing-masing.
Diam-diam Rahayu tersenyum kecil sambil melirik kepada Cinta setelah tahu rupanya anak gadisnya itu pulang diantar oleh lelaki yang selama ini disukainya. Yah, Cinta memang selalu menceritakan apa-apa yang sedang dialaminya. Sedari kecil gadis itu sangat dekat dengan sang ibu. Hingga masalah terkecil apapun keduanya sudah tidak ada batas rahasia.
Lalu mereka semua masuk ke dalam ruangan itu dengan tenang. Terlihat Malik, ayah Cinta, rupanya tengah tidur terlelap saat mereka datang. Cinta menghampinya dengan maksud tidak akan membangunkannya. Perlahan gadis itu menyentuh tangan sang ayah, yang ternyata Malik terbangun dan langsung mengulas senyumnya saat tahu anak gadisnya sudah datang disampingnya.
"Cinta," sapanya dengan lemah.
Cinta tersenyum hangat. "Iya, Ayah. Aku pulang. Aku mau disini menemani Ayah."
Malik tersenyum lagi. Netra tuanya melihat ke sekitar. Terlihat dua wanita berbeda usia itu perlahan mendekatinya. Sang istri dan satu wanita asing bagi Malik.
Tetapi tatapan mata Malik lebih menyorot tajam kepada seorang pria yang juga berada diruangan itu. Bergantian Malik menatap kepada Cinta, lalu kepada pria itu lagi. Tak disangka saat itu juga Malik kembali drop. Membuat semua yang ada disitu tiba-tiba merasa panik dan berhambur mendekat kepada Malik yang berbaring lemah diatas brankarnya.
*
__ADS_1