
Roti bakar dengan slei kacang juga susu hangat sudah tersedia di meja makan sebagai sarapan pagi ini. Karena Keanu tak kunjung keluar kamar maka Cinta berencana menyusulnya lagi. Ternyata setelah gadis itu masuk ke kamarnya suaminya itu masih belum selesai dari kamar mandi. Entah butuh waktu berapa lama pria itu bisa selesai membersihkan diri, padahal saat ini Cinta juga ingin segera mandi mengingat hari ini ada mata kuliah.
Sambil menunggu Keanu selesai, Cinta teringat jika ia masih belum menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya itu. Segera ia membuka lemari pakaian milik suaminya untuk mengambilkan pakaian yang akan dikenakannya hari ini.
Pintu lemari itu sudah terbuka lebar, tetapi Cinta masih kebingungan mau mengambilkan pakaian yang seperti apa. Karena memang masih belum tahu suaminya itu hari ini mau kemana, terus terang ia takut nanti akan salah kostum yang dipilihnya.
Sambil berpikir mulut gadis itu mulai berdecak kagum. Melihat tatanan isi lemari pakaian milik Keanu yang terjejer rapih dan wangi, membuatnya semakin kagum kepada sosok suaminya itu. Bukan lagi mau mengambilkan pakaian untuk Keanu, melainkan gadis itu mulai meraba satu persatu pakaian yang tergantung rapih.
Satu kemeja berwarna navy Cinta ambil dari gantungan lemari. Gadis itu memeluk dan mencium aroma wangi baju itu berulang-ulang. Cinta sangat suka saat Keanu memakai baju itu.
Merasa dirinya sudah seperti orang tidak waras karena senyum-senyum sendiri sambil memegang baju itu, Cinta mengembalikannya lagi pada tempatnya. Matanya tersita pada sekumpulan underwear milik Keanu. Dengan lancangnya karena juga penasaran, Cinta mengambil asal dengan menjepitkan kedua jarinya.
"Waduh! Bagaimana dengan isinya ya?" gadis itu bergumam sendiri.
Tangannya masih menenteng satu celana berbentuk segitiga milik Keanu.
"Ah, otakku sudah mulai nggak beres!"
Tanpa Cinta sadari rupanya sesosok pria pemilik benda itu tengah menatap nyalang dibelakangnya.
"Ehem!!!"
"Eh?" Cinta lekas menoleh ke arah sumber suara.
Terlihat Keanu sedang menatapnya tajam dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Mas Ken..."
Cinta sampai lupa jika tangannya masih memegang benda keramat milik suaminya itu.
"Ehem!!!"
Sekali lagi Keanu berdeham, kentara dibuat-buat, sambil matanya melirik memberi kode ke arah tangan Cinta.
Cinta mengikuti kemana arah mata Keanu menunjuk. Dan betapa terkejutnya ia setelah sadar jika ia sedang ketahuan memegang benda intim itu.
Spontan saja Cinta melempar yang dipegangnya itu ke sembarang arah.
__ADS_1
"Ngapain kamu di sini?!" Suara Keanu langsung meninggi.
"A-aku... Aku--"
Seketika lidah Cinta terasa kelu untuk berterus terang akan keberadaannya di situ. Degup jantungnya yang begitu gugup membuatnya kesulitan untuk berbicara.
Keanu berjalan maju sambil berkacak pinggang. Sorot matanya kentara sangat marah kepada keberadaan Cinta yang dianggapnya begitu lancang mengutak-atik barang miliknya. Sedangkan Cinta perlahan mulai mundur ketakutan. Kali ini suaminya itu benar-benar marah karena perbuatannya.
"Mas, sebenarnya aku--"
Gadis itu berusaha akan menjelaskan, tetapi lagi-lagi urung setelah melihat sorot mata Keanu yang tersulut amarah.
"Maaf, Mas."
Akhirnya hanya kata maaf yang mampu Cinta ucapkan.
"Aku peringatkan! Dan kamu dengarkan, karena aku tidak akan mengulangnya lagi!" ucap Keanu penuh penekanan.
Wajah Cinta seketika tertunduk. Sudah siap mendengarkan apa yang akan dikatakan suaminya itu.
"Jangan kau sekali lagi lancang menyentuh barang-barangku! Paham!!!"
Gadis yang semula tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar di keluarganya itu, saat ini hanya bisa tertunduk dalam. Kedua netranya sudah mengembun, tetapi ia masih berusaha menyekanya.
"Sekarang kau keluar dari kamar ini!"
Tak cukup di situ, Keanu lantas mengusir Cinta agar secepatnya keluar dari kamarnya. Sedikit gemetar, gadis itu akhirnya melangkah keluar. Wajahnya masih tertunduk, sama sekali tidak berani menatap wajah Keanu lagi. Sedangkan setitik buliran bening itu telah lolos keluar dari pelupuk matanya.
Iya, Cinta menangis lagi. Menangis dalam diam. Rasanya begitu menyesakkan di dada. Dari ini semakin jelas jika suaminya itu benar-benar tidak pernah menganggapnya sama sekali.
Gadis itu berlari menuju kamar lain yang semula ia tempati sebelumnya. Langsung masuk ke kamar mandi dan menumpahkan tangisannya itu di sana. Menangis tersedu-sedu, menekan dadanya yang terasa sangat sesak. Rasanya ingin berteriak, tetapi tidak mungkin ia lakukan ditempat itu.
"Aku harus kuat! Aku harus kuat!"
Cinta menyemangati diri sendiri agar tetap tegar. Menikah dengan Keanu adalah takdirnya yang telah digariskan Tuhan kepadanya. Mencintai Keanu adalah murni pilihan hatinya. Sudah menjadi resiko mencintai seorang diri. Satu-satunya kunci yang menguatkan adalah bersabar. Bersabar dan terus bersabar. Hingga mungkin suatu saat nanti Keanu bisa mengakui akan keberadaannya.
"Aku tidak boleh menangis lagi. Aku harus kuat. Aku yakin Tuhan tidak akan diam. Ya Allah, wahai dzat yang mampu membolak-balikan hati, aku memohon berilah aku kekuatan. Berilah aku kesabaran untuk mencintai suamiku hingga nanti. Dan ku mohon, bukakan lah hati suamiku, hingga ia bisa menerima ku sebagai istrinya. Bisa mencintaiku dengan tulus, seperti aku yang mencintainya dengan sepenuh hati." lirih suara hati Cinta.
__ADS_1
Setelah itu Cinta mengusap air matanya. Membasuh mukanya agar terlihat sedikit segar. Setelah mampu mengendalikan sedih hatinya itu, Cinta keluar lagi dari kamarnya.
Gadis itu menghela nafasnya berulang-ulang, hingga merasa sedikit lebih lega. Saat ini ia sedang berdiri sambil melihat kamar Keanu. Meski sudah mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan darinya, ia harus tetap melayani suaminya itu sebagaimana mestinya.
Sekali lagi Cinta menghembus nafas beratnya, membuang jauh-jauh rasa yang sempat menyesakkan dada. Lalu kemudian turun menapaki satu persatu undakan tangga, menuju ruang makan untuk kemudian menyambut suaminya untuk bisa sarapan pagi bersama.
Tak lama setelah ditunggu, pria itu juga mulai turun dari lantai atas. Cinta berdiri menyambut kedatangannya, masih dengan senyum manis yang selalu terukir di bibirnya.
"Mas, ayo sarapan dulu," sapanya dengan lembut.
Keanu hanya melirik sekilas. Gadis itu masih mau melayaninya sekalipun sudah dibentaknya tadi.
"Setidaknya minum saja, kalau mas Ken tidak mau sarapan."
Kali ini Cinta mendekat dengan membawa segelas susu yang tak lagi hangat di tangannya. Memberikannya kepada Keanu, tetapi pria itu hanya meliriknya saja.
"Aku minta maaf, Mas. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Sungguh tadi itu hanya aku ingin menyiapkan pakaian buat mas Ken. Bukan berniat untuk--"
Cinta menghentikan bicaranya setelah Keanu mengambil susu itu dari tangannya. Pria itu meminumnya walau hanya separuh. Tetapi dengan begini saja sudah membuat Cinta senang luar biasa.
Meski sikap suaminya itu masih dingin, tetapi dengan mau meminum apa yang sudah dibuatkannya itu Cinta sangat bahagia.
"Rotinya juga, Mas," tawar Cinta lagi.
Keanu hanya menggeleng.
"Kalau begitu buat bekal Mas saja, Mas mau ke restoran kan?"
Tanpa menunggu jawabannya, Cinta segera menyalin roti itu ke dalam kotak makan. Setelah selesai gadis itu langsung meletakkan ke tangan Keanu.
"Kalau nggak dimakan nanti mubadzir," seru Cinta.
Keanu hanya terdiam. Tak bisa lagi mengucapkan kata apa-apa lagi. Dalam hati sebenarnya ia menyesal telah membentak Cinta tadi. Sungguh ia tidak pernah di didik seperti itu oleh mamanya. Meski dulu papa Keanu sering berlaku kasar dan semena-mena kepada mamanya, sungguh Keanu membenci hal itu. Lantas mengapa ia tadi sampai hati memperlakukan Cinta seperti itu?
Padahal sudah jelas mata Cinta begitu sembab. Pertanda jika gadis itu habis menangis. Tetapi meski begitu mulut Keanu juga ikut angkuh seperti hatinya, sangat sulit mengucap maaf seperti yang dilakukan Cinta padanya.
"Hati-hati di jalan, Mas."
__ADS_1
Cinta langsung meraih tangan suaminya lalu menciumnya takdzim. Setelah itu Keanu melangkah keluar rumah, masih ditemani Cinta yang terus mengekor hingga sampai pria itu masuk ke mobilnya.
*