
Malam sudah merambat semakin larut. Tetapi Keanu masih betah berdiam diri di teras rumah sederhana itu. Pria itu sudah tak sabar menunggu esok datang, setelah tadi ia sempat menghubungi sopirnya untuk menjemput besok pagi.
Sedangkan Cinta masih belum juga mengantuk. Sedari tadi gadis itu hanya berbaring gelisah sembari menunggu suaminya masuk ke kamar. Bagi seorang pengantin baru seperti Cinta, tentu sangat wajar bila merasakan resah luar biasa. Berulangkali darahnya berdesir aneh, tatkala sesuatu yang mesti dilewati di malam pertama itu tiba-tiba menggelitik benaknya.
Padahal sebelumnya gadis itu berusaha untuk biasa-biasa saja dan berharap akan cepat terlelap demi menghindari malam panjang bersama suaminya. Sudah paham jika itu kewajibannya untuk menyerahkan seluruh raganya kepada sang suami, tetapi bila harus terjadi malam ini sejujurnya Cinta masih belum siap melakukannya.
Banyak cerita tentang kisah malam pertama yang ia baca maupun dengar dari teman-temannya yang sudah menikah lebih dulu. Dan karena hal itulah gadis itu menjadi meringis sendiri, membayangkan bagaimana sakitnya pecah perawan, seperti yang diceritakan temannya itu.
Menyadari handle pintu kamarnya bergerak, Cinta memilih merapatkan selimut ditubuhnya hingga sebatas leher. Biar lebih afdol gadis itu juga memejamkan matanya alias pura-pura tidur. Tetapi masih menyempatkan diri untuk mengintip apakah benar suaminya yang masuk kamar.
Deg deg deg deg
Degup jantung Cinta tiba-tiba bergetar seakan melebihi dari batas denyutan normalnya. Setelah tahu jika yang datang adalah benar-benar suaminya, gadis itu semakin tersengal dan seperti tiba-tiba kesulitan mengatur nafasnya sendiri.
Melihat tiada pergerakan diarea kasurnya, Cinta mengintip lagi. Rupanya suaminya itu lagi berada di kamar mandi dan entah sedang apa. Lama menunggu kemunculan suaminya lagi, membuat Cinta kembali melebarkan matanya. Netranya terus saja menyorot ke arah kamar mandi, yang terdengar sepi seperti tak ada aktifitas apa-apa didalamnya.
"Lagi ngapain sih? Kalau pun lagi kebelet nggak mungkin selama ini kali." gumam Cinta, sambil melirik pada jam kecil diatas nakasnya yang ternyata suaminya itu sudah betah didalam sekitar hampir lima belas menitan.
Ceklek
Tiba-tiba suara pintu kamar mandi itu terbuka, membuat Cinta harus kembali mendrama pura-pura tidur demi menutupi rasa gugupnya dimalam pengantinnya ini.
Keanu masih berdiri diambang pintu kamar mandi. Matanya menatap entah pada gadis ayu yang sudah tidur dikasurnya. Yang membuat pikirannya sedikit tergelitik geli, saat memperhatikan selimut yang dikenakan gadis itu sudah terlihat acak, tak seperti beberapa menit yang lalu yang terlihat lebih rapi dan menawan dengan adanya gadis dibalik selimut bermotif hati itu.
__ADS_1
Merasa butuh segera istirahat Keanu melangkahkan kakinya menuju ranjang. Karena ia menganggap Cinta sudah benar-benar tidur maksimal, setelah sengaja berdiam diri cukup lama didalam kamar mandi. Andai di kamar itu ada sofa, mungkin ia akan memilih tidur di sofa saja.
Sejujurnya pria itu merasa was was andai naluri lelakinya sulit terkontrol dan terlepas jika harus tidur berdampingan dengan seorang gadis yang Keanu akui memang cantik. Ditambah lagi gadis itu sudah berlabel halal baginya, yang sah-sah saja untuk ia gauli kapanpun sesuka hati.
Cinta turut merasakan tempat dibagian Keanu tidur bergerak samar. Membuat gadis itu semakin nervous hingga tak kuat menahan pipis seketika itu.
"Sial! Pake kebelet pipis lagi!" umpatnya dalam hati.
Keanu sudah merebahkan badannya cukup berjarak dengan Cinta. Sekilas ia melirik pada gadis disampingnya itu yang masih sama dengan posisi semula.
Disaat ia masih memandangi Cinta, tiba-tiba saja Cinta membuka matanya dan membuat Keanu terjengkit kaget karena merasa ketahuan memperhatikannya. Sesaat kedua netra itu saling beradu tajam, yang akhirnya Cinta memilih menyudahinya karena sudah tak tahan menahan hasrat ingin pipis.
Gadis itu menyingkap selimutnya dengan sekenanya. Lalu segera berlari kecil menuju kamar mandi dan menutup pintunya sedikit keras. Membuat Keanu terjengkit kaget kedua kalinya setelah melihat Cinta yang begitu.
"Hei, hati! Lo kan nggak suka sama Cinta? Jadi biasa aja bisa nggak sih?" batin Keanu mengumpat kesal pada diri sendiri yang sejujurnya sedikit merasa aneh dengan hatinya.
Cinta menatap lekat kepada Keanu yang ia kira sudah tertidur lebih dulu. Maka ia pun memberanikan diri untuk sekedar menyelimuti tubuh Keanu dengan selimut yang mana pria itu sengaja tidak memakainya.
Gadis itu sengaja berlama-lama agar bisa menatap wajah tampan Keanu sepuas hati. Terbesit senyum tipis dari bibirnya, merasa sangat bersyukur Tuhan telah menyatukan ikatan pernikahan dengannya.
Disaat tangan itu sudah sampai didada bidang Keanu, tiba-tiba Keanu membuka matanya.
"Maaf, Mas." ucap Cinta, merasa bersalah telah membangunkan tidur suaminya.
__ADS_1
Hingga gadis itu mundur selangkah setelah mendapati tatapan tajam dari Keanu. Ini bukan tatapan mata penuh hasrat. Selugu-lugunya Cinta, ia bisa membaca jika tatapan itu seperti penuh kebencian kepadanya. Hingga perlahan gadis itu tertunduk, demi menghindari tatapannya yang mengerikan.
"Maaf, Mas. Aku beneran nggak maksud mau bangunin kamu. Cuma mau pakein selimut, itu saja." ucapnya gugup.
Keanu hanya bergeming. Pria itu kembali menormalkan alur nafasnya, demi tidak membuat keributan bila ia berbicara tentang apa yang sebenarnya ia rasakan kepada gadis itu.
Pria itu malah membalik tubuhnya begitu saja, sengaja membelakangi Cinta yang masih terpaku ditempatnya. Seonggok daging yang bernama hati itu tiba-tiba tergores lagi, oleh sebab perlakuan Keanu yang kentara ingin menghindarinya.
Tubuhnya masih terpaku menatap punggung suaminya. Matanya yang berembun menatap nyalang pada lelaki yang selama ini dicintainya, yang rupanya dari ini Cinta sadar jika cinta suaminya itu akan sulit ia gapai.
"Mas," mulut Cinta sudah gemetar menyapanya lagi.
Dan Keanu masih betah memunggunginya, padahal kedua matanya masih terbuka dan mendengar jelas sapaan istrinya itu.
"Aku istrimu, Mas. Segenap jiwa raga ini mutlak milik kamu. Mungkin kamu tidak tahu jika kamu lah cinta pertamaku, dan akan tetap menjadi milik kamu sampai akhir hidupku nanti, Mas." serunya. Berusaha sekuat hati mencurahkannya demi pria itu tahu apa yang tengah ia rasakan selama ini.
"Jika bukan karena permintaan terakhir ayahmu, pernikahan ini tidak akan pernah terjadi. Jadi berhentilah mengharapkan yang lebih dariku." sahutnya, masih dengan posisi yang enggan menatap wajah Cinta.
Deg.
Demi apapun yang bisa menghancurkan isi bumi, seperti itulah hancurnya hati Cinta saat ini. Setelah mendengar jelas pengakuan suaminya yang menjalani pernikahan ini hanya karena sebuah kesalahpahaman yang berujung sebuah wasiat.
Bulir airmata itu lolos begitu saja. Cinta menangis. Menangis dengan lirih. Menangis perih. Merasakan sakitnya cinta sebelah hati yang begitu menyesakkan dadanya.
__ADS_1
*