
"Hei!"
Cinta terjingkat kaget saat tiba-tiba seseorang merangkul pundaknya begitu saja.
"Astaga! Aku kira siapa?" pekik Cinta sambil menangkis tangan Hana dari pundaknya. Sebal sekali rasanya.
"Hahaha.... Kamu berharapnya siapa emang?" Hana langsung tertawa lucu melihat Cinta kaget karena ulah isengnya.
"Nggak lucu tauk!" gerutu Cinta sambil mengusap dadanya efek kaget barusan.
Sejujurnya saat Cinta mulai menginjakkan kakinya saat tiba tadi, ia sebenarnya sedikit ketakutan akan tiba-tiba bertemu seseorang yang sangat ingin ia hindari. Siapa lagi kalau bukan Reno orangnya. Karena kemarin saja Hana bilang kalau Reno datang menunggunya di kampus. Bisa jadi kan pria itu akan melakukan hal itu lagi hari ini?
"Ya deh, maaf... maaf," ucap Hana karena melihat wajah Cinta yang cemberut karenanya.
"Sudah sembuh, Ta? Sakit apaan sih emang?" tanya Hana masih penasaran sahabatnya itu kemarin sakit apa. Padahal kemarin saat bertelponan Cinta sudah mengatakan alasan sakitnya.
"Sakit hati!" Cinta menjawab asal.
"Aku paham kok, sabar ya bestie. Mencintai itu memang tidak enak, kalo aku sih mending di cintai," ujar Hana menganggap Cinta masih sedih karena ceritanya mengenai Keanu kemarin.
Dan Cinta hanya bisa mendengus nafasnya mendengar ucapan Hana.
"Buruan yuk," Hana mengaitkan tangannya pada lengan Cinta, mengajaknya untuk berjalan lebih cepat karena waktu masuk kelas sudah mepet.
"Iih... Jangan cepet-cepet. Aku susah jalannya." Cinta menarik tangan Hana agar berhenti sejenak.
Cinta terkesiap sesaat. Wanita itu membungkam mulutnya sendiri. Beruntung tidak keceplosan yang lain kepada Hana.
Spontan Hana menatap Cinta penuh heran. Gadis itu sampai meneliti Cinta dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sedangkan Cinta memilih berjalan pelan, mendahului Hana yang masih bengong di tempat. Berusaha tetap enjoy, meski sahabatnya itu terus menatapnya aneh.
Hingga jarak Cinta sudah lebih dari satu meter darinya berdiri, Hana masih terus saja memperhatikan Cinta. Semakin di perhatikan akhirnya Hana bisa melihat kalau cara berjalan Cinta memang agak sedikit aneh, semacam orang kesakitan.
"Ta, punggung sama kaki kamu sakit?" Hana bertanya lagi saat ia sudah bersejajar dengan Cinta.
Cinta berhenti sejenak. "Kentara banget ya? Emang pegel banget, pingin pijat," seru Cinta apa adanya.
"Kalau masih nggak enak body mending jangan masuk dulu," ujar Hana prihatin. Di tambah penampilan Cinta yang sedang mengenakan hoddy, membuat Hana beranggapan jika Cinta tidak benar-benar sembuh.
Padahal Cinta sengaja memakai hoddy karena ingin menutupi tanda merah yang berkerlipan di lehernya. Walau sudah ia samarkan dengan foundation tadi, setidaknya dengan memakai hoddy akan sedikit aman.
"Di rumah terus bete. Lagian sebentar lagi kan UAS, jadi mesti rajin kan?" kilah Cinta sehingga Hana ikutan manggut-manggut setuju dengan perkataannya.
__ADS_1
"Iya nih. Nggak kerasa ya kita sudah hampir separuh perjalanan kuliahnya. Duh, nggak sabar pingin cepet lulus, biar bisa cepet dapet kerja kantoran."
Cinta memilih diam tidak menanggapi sekata pun ucapan Hana. Di awal kuliah dulu ia dan Hana memang sama-sama ingin menjadi wanita karier. Berhubung statusnya sudah menikah sepertinya ekspektasi itu terpaksa pupus. Meminta kembali kerja di resto saja Keanu tidak mengijinkan, apalagi meminta ijin kerja sebagai pegawai kantoran. Sepertinya dirinya nanti akan menjadi ibu rumah tangga saja.
"Huft!" Cinta menghembus nafas kasarnya.
Hana yang berdiri di sampingnya langsung menatap heran. Sepertinya ada sesuatu yang di pikirkan Cinta. Akhir-akhir ini Cinta sedikit menutup diri darinya. Tetapi meski begitu tak membuat persahabatan mereka menjadi renggang hanya karena Cinta yang begitu. Hana begitu menjunjung istilah privacy seseorang. Jadi meski mereka saling bestie-an, tidak semua masalah pribadi harus di ceritakan kan?
Setelah itu duo bestie itu sudah sampai di kelasnya. Dan hampir bersamaan dosen pemateri hari ini juga telah masuk kelas. Jadilah mereka mengikuti kelas hari ini dengan pikiran yang harus fokus, demi bisa menyerap materi yang di sampaikan dosen hari ini.
Tak terasa makul hari ini selesai dengan lancar. Hana yang harus masuk kerja itu langsung pergi usai kelas berakhir. Sedangkan Cinta memilih pergi ke perpustakaan untuk mencari buku bacaan sebagai referensi dari tugas yang di berikan dosen tadi. Dirinya yang memang sudah pamit akan pulang telat, membuatnya sangat enjoy berada di perpustakaan.
Hampir satu jam Cinta berada dalam perpustakaan. Setelah matanya cukup lelah untuk membaca buku bacaannya, wanita itu akhirnya memilih keluar dari ruangan itu. Lalu segera berjalan menuju maskam untuk melaksanakan ibadah dzuhur nya.
[Sudah pulang belum? ]
Sebuah chat masuk dari Keanu. Cinta membaca pesan itu setelah sepuluh menit chat itu masuk. Karena saat berada dalam masjid itu ponsel miliknya ia silent.
[Sudah.]
Cinta membalas chat itu yang ternyata langsung di baca oleh Keanu.
[Oke! Aku otw sekarang]
[Siap. Love you... ]
Tepat di akhir pesan itu Keanu mengirimi emoticon love cukup banyak, membuat Cinta tersenyum sendiri saat membacanya.
[Dek, kok nggak jawab? ]
Rupanya Keanu masih mengharapkan Cinta membalas ucapan cintanya.
[Love you too mas suami... ]
Tak lupa Cinta juga memberi stiker kartun sambil memegang love besar, membuat pria yang di seberang sana tersenyum-senyum sendiri.
Setelah berkirim pesan itu berakhir, Cinta masih betah duduk santai dalam masjid itu. Sambil menunggu Keanu datang menjemputnya, setidaknya berdiam diri di masjid membuatnya aman dari jangkauan Reno, andai pria itu datang lagi ke sini. Butuh waktu sekitar dua puluh menitan untuk Keanu tiba di kampus Cinta.
Tepat saat Cinta selesai melipat mukenah nya, ponsel miliknya bergetar menandakan ada telpon masuk yang ternyata dari Hana. Karena masih berada dalam masjid, Cinta terpaksa mereject nya. Tetapi setelah berada di luar area masjid, Cinta menelpon balik kepada Hana.
"Ada apa, Na?" tanya Cinta saat panggilan telponnya tersambung kepada Hana.
__ADS_1
"Ya ampun, Beib, gawat... gawat!" pekik Hana dari seberang sana.
"Apa lagi sih?" Cinta berhasil kepo.
"Bos Keanu," ucap Hana.
"Ada apa lagi?" tanyanya mulai lemas.
Sejujurnya Cinta mulai was-was lagi. Ia sangat takut mendengar kabar yang tidak-tidak soal Keanu di resto.
"Bos Keanu makin jadi, Ta. Makin serem!"
"Serem apanya?"
"Sumpah! Ngeri aku lihatnya. Iiih.... Amit-amit! Semoga aku kuat iman ya Allah..."
Cinta diam saja menunggu Hana bicara lagi.
"Cinta, andai kamu lihat sendiri hari ini, aku jamin kamu pasti langsung ilfil sama bos Keanu."
"Langsung aja deh, Na, kamu mau bicara apa? Soal wanita yang kemarin? Apa dia datang lagi ke resto?" tanya Cinta sudah tidak sabar mendengar kabar yang sebenarnya.
"Bukan. Soal cupp@ng di leher bos Keanu. Ya ampun... Banyak banget! Sumpah, brutal parah!" tutur Hana dengan gaya bicara yang meluap-luap.
Cinta yang mendengar itu seketika menghela nafasnya sangat lega. Ia pikir soal Shelyn lagi, ternyata hanya sekedar laporan penemuan tanda kepemilikan yang terpajang di leher Keanu karena ulah Cinta semalam.
"Ooh... Cuma itu," sahut Cinta santai sekali.
"Eh, kok kamu nggak kaget?"
"Ngapain kaget? Cupp@ng itu aku yang buat kok," ucap Cinta jujur.
"Hem... lagi tidur, Buk, Bangun woiy!" Hana malah menganggap Cinta sedang mimpi di siang bolong.
"Kamu nggak percaya? Tanya aja sana sama orangnya," Cinta menantang Hana untuk menanyakan langsung kepada Keanu.
"Huh, tauk ah! Aku serius kamu malah becanda."
Dan Cinta hanya tertawa kecil mendengar Hana yang mulai kesal kepadanya. Hingga sampai sambungan telepon itu berakhir, Cinta masih senyum-senyum sendiri merasa puas mengerjai sahabatnya itu.
"Cinta." Tetiba suara bariton pria menyapa Cinta.
__ADS_1
Saat tahu siapa yang menyapanya, kening Cinta seketika mengernyit menatapnya.
*