
Usai kelas berakhir, Cinta langsung pergi ke rumah kakaknya, Zayn, dengan diantar pak Seto ke sana. Sedangkan Keanu yang akan menjemputnya nanti setelah dirinya selesai dari pekerjaannya di resto.
Kedatangan Cinta ke rumah Zayn bisa jadi sebagai kejutan. Karena memang Cinta tidak memberi kabar kepada tuan rumah itu. Saat ini Cinta telah tiba di rumah Zayn. Tetapi baru saja pak Seto pergi, ponsel Cinta berbunyi. Siapa lagi yang menelpon kalau bukan suami tersayang. Yang mendadak sedikit posesif setelah tahu dirinya sedang mengandung.
"Iya, Mas," sapa Cinta dengan lembut.
"Aku lupa bilang, kamu jangan banyak gerak, jangan capek-capek. Aku takut kamu lupa loncat-loncat karena keasyikan main sama Ziyyan," ucap Keanu memperingatkan, karena sangat cemas takut Cinta bisa ceroboh walaupun tak sengaja.
"Iya, Mas. Kamu pikir aku bocil, mau ikut loncat-loncat," balas Cinta. Walau suaminya itu terbilang agak cerewet memperingatinya, tetapi jujur Cinta suka dengan perhatiannya itu.
"Aku memperingatkan, Dek. Aku takut kamu lupa, kalau di perut kamu itu ada babby nya," Keanu merespon dengan lembut.
"Iya. I love you, Mas. Jan lupa jemput ya. Eh, lupa juga nggak pa-pa sih, aku bisa nginep sini, sekalian bobok sama Ziyyan," kata Cinta sambil cekikikan.
"Hem, ngarep ya? Sudah ya, Sayang, aku lanjut kerja. Ingat pesan aku tadi. Nanti aku kabari kalau sudah otw. Love you too."
Lalu sambungan telepon itu berakhir. Tepat saat Cinta akan mengetuk pintu utama rumah besar itu, tiba-tiba pintu itu sudah terbuka dari dalam. Muncullah Ziyyan yang saat itu sedang ditemani Inah, datang menghampiri Cinta sambil berlarian kecil.
"Aunty Cinta," pekik bocah itu dengan riang.
"Hai, Ziyyan," Cinta ikut memekikkan suaranya, melambaikan tangan menyapa bocah itu. Kemudian duduk berjongkok, bersiap menerima pelukan Ziyyan.
"Aunty kangen banget sama Iyyan," seru Cinta yang kemudian menciumi pipi Ziyyan berulang-ulang.
Ziyyan menarik pelukannya.
"Ziyyan, Aunty, bukan iyyan," kata bocah itu. Protes karena dipanggil iyyan.
Cinta terkekeh sambil mencubit gemas pipi chubby ponakannya itu.
__ADS_1
"Baiklah ponakan aunty yang cakep." Lalu Cinta berdiri, kemudian saling bergandengan tangan mereka masuk ke rumah itu.
"Kak Ara di mana, Bi?" tanya Cinta kepada bibi Inah. Karena tidak melihat keberadaan kakak iparnya itu. Sedangkan Zayn percuma ditanya. Jam segini abangnya itu pasti masih sibuk di kantor.
"Keluar, Mbak. Katanya mau belanja keperluan buat si kecil," jelas bibi Narsih.
"Sendiri?" Cinta langsung kaget mendengarnya.
Inah langsung mengangguk.
Ara sedang mengandung tujuh bulan. Dengan perut besar seperti itu jalan-jalan sendiri ke Mall. Wah, nekat sekali?
"Jadi tidak ada siapa-siapa nih?"
Belum juga dijawab oleh Inah, Ziyyan ikut bicara.
"Kan sudah ada aunty Cinta yang nemenin Ziyyan," katanya dengan riang.
"Memang mbak Cinta sebelumnya tidak telpon neng Ara dulu?" Inah datang lagi sambil membawakan segelas jus jeruk dingin untuk Cinta.
Cinta menggeleng kepala sebagai jawabannya. Matanya langsung berbinar begitu melihat jus buah rasa asam manis itu ada didepannya. Lekas Cinta meraihnya, kemudian meminumnya hingga tersisa separuhnya.
"Mmm, kecutnya pas! Enak, Bi," ucap Cinta dengan semangat.
"Sudah isi ya, Mbak?" Tiba-tiba Inah bertanya seperti itu, siapa tahu tebakannya benar.
Cinta antara ingin mengangguk dan menggeleng.
"Do'a kan saja, Bi. Ini juga masih belum periksa pastinya ke dokter," aku Cinta pada akhirnya.
__ADS_1
"Waaah... Semoga sehat-sehat ya, Mbak. Dan semoga calon bayinya jadi anak yang sholeh atau sholehah."
"Aamiin..."
Bersamaan Cinta dan bibi Inah mengucap kata amin.
Hingga tak terasa waktu sudah merambat sore. Tetapi Ara belum juga pulang. Sedangkan Ziyyan sudah terlihat segar karena sudah selesai mandi. Bocah kecil itu kembali bermain, karena dunia bocil memang tentang bermain saja.
Cinta tak pernah jenuh menemani Ziyyan. Ada-ada saja tingkah bocah itu yang membuatnya gemas dan lucu. Hingga sampai waktu masuk maghrib, barulah Cinta segera menunaikan kewajiban tiga rakaatnya di rumah itu. Sambil menunggu kedatangan Keanu yang berjanji akan menjemputnya bila sudah petang.
Sebenarnya Cinta sudah memberi kabar kepada Zayn sore tadi, soal kedatangannya ke rumah ini. Tetapi pesan yang dikirim Cinta itu sepertinya belum terbaca oleh Zayn, karena garis centangnya tetap satu dan berwarna abu. Hingga sampai waktu menunjukkan pukul delapan malam, baik Keanu, Zayn, maupun Ara, belum ada yang datang. Membuat Cinta terkantuk-kantuk menunggunya. Hingga tiada sadar ikut tertidur di kamar Ziyyan, saat tadi Cinta menidurkan Ziyyan.
Sedangkan seseorang yang ditunggu Cinta itu saat ini sedang berkutat di rumah sakit. Hampir maghrib tadi, saat Keanu berencana akan menjemput Cinta ke rumah Zayn, pria itu hampir menabrak mobil yang tiba-tiba berhenti mendadak di depannya. Keanu sudah berulang-ulang mengklakson mobilnya, agar penumpang yang membawa mobil didepannya itu bisa minggir, tidak menghalangi jalannya. Karena orang itu tak kunjung meminggirkan mobilnya, dengan perasaan yang sudah pasti dongkol, Keanu keluar dari mobilnya bermaksud ingin menegur sopir dari mobil yang berhenti mendadak itu.
Tetapi alangkah terkejutnya Keanu saat tahu siapa orang di dalam mobil itu. Keanu langsung mengetuk pintu mobil itu, karena khawatir melihat ekpresi orang itu seperti kesakitan.
"Ara! Ara!" pekik Keanu sambil terus mengetuk pintu mobil yang dinaiki Ara.
Kemudian Ara membukakan pintu mobilnya. Wajahnya meringis sambil memegangi perutnya.
"Ken, tolong aku," ucap Ara sambil meraih tangan Keanu sebagai pegangan.
Tanpa banyak bicara Keanu membawa Ara keluar dari mobilnya. Kemudian membawanya masuk ke mobilnya sendiri. Tak lupa Keanu menepikan mobil milik Ara dulu untuk mengamankannya. Setelah itu kembali masuk ke mobilnya dan melajukannya.
"Tolong bawa aku ke rumah sakit," pinta Ara dalam perjalanan itu.
Keanu langsung mengangguk. Ia tidak tahu berapa usia kandungan Ara saat ini. Tetapi melihat ekspresi Ara yang begitu, bisa dipastikan jika wanita itu akan segera melahirkan.
Saking paniknya karena selama ini tidak pernah membawa orang mau melahirkan, hingga Keanu terlupa untuk mengabari Cinta yang mungkin sudah menunggu kedatangannya. Di tambah ketika Ara semakin meringis kesakitan di dekatnya, membuat pikiran pria itu bertambah panik. Bersyukurnya semua bisa segera tertangani setelah mereka berdua tiba di rumah sakit dalam waktu yang sangat tepat.
__ADS_1
*