Cinta Milik Keanu

Cinta Milik Keanu
Part 25


__ADS_3

Keanu sama sekali tidak terlihat risih dipeluk begitu oleh wanita seksi yang Reno masih belum tahu wanita itu siapa. Bahkan seperti tiada sungkan wanita itu terus saja memeluk meski tahu dirinya dipandang sinis oleh Reno.


"Ehem! Siapa, Ken? Bening amat," tanya Reno sengaja mengerling nakal menatap wanita itu.


"E-- Dia Shelyn." Keanu menjawabnya sedikit ragu.


"Ehem! Kenalin dong?"


"Oh ya Shel, ini Reno. Teman sekaligus kawan bisnis." Keanu pun akhirnya memperkenalkan mereka.


Shelyn dan Reno sama-sama saling melempar senyum. Tetapi setelah sesi perkenalan itu, Keanu melepas tangan Shelyn yang membelit lehernya. Tetapi wanita itu malah berbisik kepada Keanu. Entah apa yang dibicarakan, tetapi Reno dapat menebak jika itu mungkin hal penting. Dilihat dari kerutan di kening Keanu saat mendengarnya.


Dan benar saja, setelah wanita itu pergi Keanu menyudahi telponnya lebih dulu kepada Reno. Tanpa mau menjelaskan apa yang terjadi kepadanya.


"Hem, siapa Shelyn? Apa mungkin dia pacarnya Keanu? Tetapi setahuku Keanu tidak pernah dekat dengan wanita mana pun. Aku bisa jamin, selama ini Keanu tidak pernah pacaran dengan wanita mana pun." batin Reno menduga-duga sendiri tentang siapa sebenarnya wanita bernama Shelyn itu.


Tanpa terasa rupanya Reno telah meninggalkan Cinta hampir sejam-an. Buru-buru ia meraih ponselnya lagi untuk menelpon Cinta.


"Cinta," sapa Reno begitu telponnya itu dijawab oleh Cinta.


"Kamu nggak keburu pulang kan?" tanyanya lagi.


"Emang ada apa, Kak?"


"Aku masih mau mandi dulu bentar, trus masih belum sholat juga," jelas Reno.


"Ooh... Kirain ada apaan."


"Bisa nunggu sebentar kan?"


"Kak Reno nggak perlu repot-repot ngantar aku pulang. Barusan aku sudah pesan taksi, Kak," ujar Cinta.


Gadis itu memang sudah memesan taksi untuk mengantarnya pulang ke rumah Keanu. Saat selesai sholat itu Cinta sempat merenung cukup lama. Lalu kepikiran dengan rentannya timbul fitnah bila ia tetap pulang bareng Reno. Meski nantinya akan sedikit rempong karena akan membawa beberapa barang miliknya yang lumayan banyak.


"Kok udah pesan taksi?" Perasaan Reno tentunya agak kecewa.


"Iya, Kak, maaf... Tapi sebelumnya aku terimakasih banget sama kakak, karena sudah nganter aku ke sini."


"Hem," Reno hanya merespon malas.


Setelah itu sambungan telepon itu terputus setelah Cinta mengatakan jika taksi yang di pesannya itu sudah menunggu di bawah. Tetapi Reno malah ikutan beranjak keluar apartemen demi menemui Cinta lagi.

__ADS_1


"Loh, kakak kok ke sini?"


Cinta sedikit terkejut melihat Reno datang lagi dan tiba-tiba masuk begitu saja barusan. Gadis itu sudah bersiap pulang dengan kedua tangannya membawa barang bawaannya yang cukup berat bagi gadis itu.


"Sini aku bantu bawa. Ini pasti berat kan."


Reno langsung mengambil bawaan Cinta. Dan mempersilahkan Cinta berjalan lebih dulu untuk keluar dari apartemennya.


"Aku merepotkan nih," seru Cinta merasa tak enak sendiri.


Reno hanya mengulas senyumnya. Lalu mereka berdua berjalan beriringan menuju lift. Keduanya hanya saling diam saat berada didalam lift itu. Cinta tertunduk tanpa tahu apa yang ingin dibicarakan untuk mengurangi rasa kikuk yang tiba-tiba muncul. Sedangkan Reno sendiri sedari tadi terus mencuri-curi pandang menatap wajah ayu Cinta yang tak pernah membosankan.


Sebelumnya Cinta tidak pernah berdua cukup lama seperti ini bersama Reno. Jujur baru kali inilah mereka bersama, apalagi tadi sempat ada drama Cinta yang menangis. Sungguh gadis itu benar-benar malu mengingatnya. Sedikit banyak hal itu akan membuat Reno curiga kepadanya. Semoga saja pria itu tidak akan bertanya lagi tentang hal tadi. Begitulah pinta hati Cinta saat ini.


Pintu lift sudah terbuka. Seperti biasa Reno mempersilahkan Cinta keluar lebih dulu.


"Sini biar gantian aku yang bawa, Kak."


Cinta ingin mengambil barangnya dari tangan Reno, tetapi pria itu langsung menolak.


Lantas pria itu terus berjalan di depan Cinta. Melangkah cukup lebar sehingga gadis itu harus sedikit berlari di belakangnya.


Reno tak menggubris seruan Cinta. Pria itu bersikukuh tetap akan mengantar Cinta pulang.


"Kak!" Cinta menggapai lengan Reno.


Reno menoleh sekejap, tetapi kemudian kembali melangkah lagi.


"Biar aku antar kamu pulang. Aku khawatir kamu pulang sendiri naik taksi. Nggak takut apa kalo misalnya sopir taksinya jahat gitu?"


Cinta tiba-tiba menghentikan langkahnya. Reno pun begitu. Sesaat mereka saling berhadapan.


"Aku lebih takut kalau pulang sama kak Reno," ucap Cinta jujur sekali.


Wajah gadis itu menunduk dalam-dalam. Tetapi Reno tidak kaget mendengar ucapannya itu. Ia paham bagaimana perasaan Cinta. Dari itu Reno semakin kagum dengan Cinta. Hingga tiada sadar diam-diam hatinya mengharapkan suatu saat ingin memiliki perempuan yang pandai menjaga sikap bila sudah menjadi istrinya.


"Takut sama Keanu?" ucap Reno tiba-tiba.


Cinta hanya mendongak, tetapi tidak menjawab pertanyaan Reno yang sebenarnya jawabannya adalah benar.


"Tenang, Keanu nggak akan marah. Lagian barusan kita telponan. Dia masih belum pulang, masih di restoran," ucap Reno yang tanpa sadar membuat hati Cinta mencelos lagi saat mendengar suaminya itu masih berada di restoran.

__ADS_1


Pikiran Cinta kembali melayang, teringat akan foto yang di kirim Hana tadi. Jika Keanu belum pulang, pasti cewek tadi masih ada disana juga. Secuil hati Cinta merasa sakit lagi.


Sejujurnya ia ingin bertanya kepada Reno tentang Keanu. Ia penasaran apakah suaminya itu di sana masih bersama wanita itu. Tetapi tidak mungkin hal itu ia lakukan. Karena itu sama saja ia menunjukkan jika suaminya itu sedang berulah diluar sana. Padahal tanpa Cinta tahu, Reno sudah melihat hal itu juga barusan.


"Ayo!" ajak Reno lagi.


Cinta hanya bisa mengangguk, terpaksa menyetujui ajakan Reno. Tak lama setelah itu mereka berdua sudah berada di dalam mobil Reno. Sebelum itu Reno menghampiri taksi yang dipesan Cinta tadi untuk memberitahunya jika pesanannya batal. Sebagai gantinya Reno memberikan uang kepada sopir itu sebagai ganti uang lelah menunggu.


"Tadi bukannya kak Reno bilang masih belum sholat?" ucap Cinta saat mereka sudah berada dalam perjalanan.


"Hem," Reno hanya bergumam.


"Nanti aku numpang sholat di rumah kamu saja," ucapnya lagi enteng sekali.


"Tapi, Kak..."


"Nggak boleh ya?" Seakan tahu kalau Cinta agak keberatan Reno ikut masuk ke rumahnya, sedang Keanu masih belum pulang.


Cinta terdiam. Lebih tepatnya bingung mau menyikapi bagaimana kepada pria yang seharian ini begitu baik kepadanya.


Sesaat keduanya kembali hening. Hingga sampai mobil itu telah tiba di rumah Keanu, mereka masih sama-sama diam.


Reno langsung turun dari mobilnya dan langsung sigap membawakan barang milik Cinta lagi.


"Ini mau taruh dimana, Ta?" tanya Reno begitu mereka berdua sudah berada dalam rumah.


"Di sini saja, Kak. Terimakasih ya..."


Lalu Reno meletakkan barang itu di atas meja di ruang tengah.


"Aku boleh numpang sholat kan?" tanyanya lagi.


Dan Cinta pun akhirnya mengangguk setuju. Lagi pula waktu ashar sudah mepet mau habis. Akan berdosa bagi Cinta jika masih menghalang-halangi seseorang yang akan menunaikan kewajiban.


Reno menyeringai senang. Lalu pria itu segera menuju sebuah ruangan yang sudah di design menjadi musholla kecil di rumah itu. Reno yang sebelumnya sudah terbiasa main ke rumah ini tentu sudah paham betul setiap sudut isi rumah ini.


Saat pria itu sudah berada di kamar mandi, senyum liciknya seketika terbit. Reno mengambil ponselnya, lalu menyalakan kameranya untuk mengambil gambar dirinya di kamar mandi itu.


Tanpa ragu Reno mengirim hasil foto itu kepada Keanu. Seperti mau mencari gara-gara. Entah apa tujuannya. Senyum devilnya menyeringai lebar begitu saja saat melihat pesan yang dikirimnya itu sudah dilihat oleh Keanu.


*

__ADS_1


__ADS_2