
Cinta sudah selesai mandi pagi, pun juga sudah selesai merias diri walau hanya riasan tipis diwajahnya. Segera gadis itu keluar kamar untuk menemui suaminya lagi. Sedangkan rasa laparnya mulai hinggap, rasanya sarapan pagi ini akan terasa nikmat apalagi membayangkan akan ditemani suami tersayang.
Tetapi saat sudah berada diruang keluarga itu Cinta tidak menemukan keberadaan Keanu. Sedangkan susu hangat yang dibuatkannya itu sudah terminum tersisa separuhnya. Gadis itu membawa sisa suhangat itu ke dapur, sembari akan bertanya kepada mbok Nah kemana suaminya.
"Sarapan sudah selesai, Non. Mari..." seru mbok Nah, saat menjumpai Cinta yang melintas diruang makan.
"Iya, setelah ini Mbok. Mas Keanu kemana ya Mbok?"
"Den Keanu sudah pergi, Non."
"Kemana?"
"Mungkin berangkat ke restoran," ujarnya sedikit tidak yakin karena saat pergi tadi Keanu tidak mengatakannya dengan jelas kemana perginya.
Cinta menghela nafas beratnya. Seakan selera makannya tiba-tiba musnah pagi ini. Mendadak kenyang mendapati perlakuan suaminya yang tidak menganggapnya ada di rumah ini.
Gadis itu perlahan duduk di kursi makan sambil menopang dagu. Berbagai menu sarapan pagi ini sudah tersaji didepan mata, namun tidak membuatnya berselera sama sekali. Sedangkan mbok Nah hanya bisa menatap sendu dengan kondisi Cinta. Merasa prihatin namun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Silahkan dimakan, Non. Jangan tunggu Den Keanu. Kalau lapar mah makan saja. Apa-apa itu jangan terlalu dipikirin, biar gemuk kayak si mbok. Hehe..." seloroh mbok Nah, yang memang memiliki tubuh agak berisi.
Cinta hanya tersenyum getir menanggapinya. Masih bersyukur memiliki orang yang mau peduli dengannya. Rasa-rasanya mbok Nah dapat ia jadikan teman curhat sekaligus pengganti sosok ibunya yang mendadak ia rindukan saat ini. Dengan tiada minat akhirnya Cinta menyendokkan nasi dan juga lauknya sedikit saja dipiringnya. Karena ia sadar, sakit hati itu juga butuh tenaga untuk menjalani segala prosesnya. Duh, mengsad.
"Ayo, Mbok, temani aku sarapan," ajaknya, yang tanpa banyak ini itu si mbok langsung mengangguk setuju.
"Apa aku harus ceritakan ini sama nyonya Ratih? Kasihan non Cinta, kalau seterusnya akan dibeginikan terus sama den Keanu," batin mbok Nah bermonolog sendiri.
Mereka berdua akhirnya menikmati sarapan pagi ini dengan sedikit minat.
"Setelah ini mbok Nah nggak kemana-mana?" tanya Cinta ketika mereka berdua sudah selesai sarapannya.
"Mm.. Rencana mbok mau ke pasar. Mau belanja keperluan dapur. Stok ikan hari ini kebetulan habis total," jelasnya, sambil membereskan meja makannya yang dibantu oleh Cinta juga.
"Eh, nggak usah bantu Non. Non Cinta duduk saja, ini pekerjaan mbok." cegahnya, merasa tak enak sendiri menantu majikannya itu ikut membantu pekerjaannya.
"Nggak papalah, Mbok. Dari pada aku terus diem nggak ada kerjaan, mending bantu-bantu mbok Nah kan?"
__ADS_1
Mbok Nah hanya bisa pasrah, membiarkan Cinta turut sibuk membantunya. Biar saja kegiatan begini akan sedikit mengalihkan dirinya dari rasa entah dihatinya saat ini.
"Mbok, aku ikut ke pasar ya?"
"Eh, buat apa Non? Ini Mbok ke pasar tradisional loh, bukan ke supermarket." terangnya, karena mbok Nah beranggapan Cinta tak mungkin pernah pergi ke pasar tradisional, padahal mah sudah biasa saat di Yogyakarta dulu.
"Nggak papa, Mbok. Di rumah aku juga sering ikut ibu ke pasar tradisional."
"Ya kalau non Cinta mau ikut Mbok, ya monggo..." Akhirnya mbok Nah hanya bisa setuju saja. Ditinggal sendiri di rumah ini kasihan juga.
Cinta tersenyum riang. Segera ia meraih ponselnya ingin memberitahu Keanu sekaligus meminta ijin. Satu kali panggilannya tidak dijawab, padahal sedang aktif di sana. Hingga dua sampai tiga kali panggilan, rupanya tetap tidak dijawab. Yang ada ketika panggilan ke empat rupanya telpon itu sudah tidak aktif setelah mendapat notif suara dari telponnya itu.
Cinta hanya bisa menghela nafas beratnya. Sekali lagi ia harus menekan kesabarannya sesabar mungkin.
"Aku nggak jadi ikut, Mbok," ucapnya kemudian.
"Loh kenapa, Non?"
Cinta hanya menggeleng kecil. Segera ia beranjak masuk ke kamarnya. Rasanya hanya di kamar itu Cinta bisa menumpahkan kegondokan hatinya itu. Walau tidak harus menangis, tetapi bisa puas merenung diri di sana.
Mbok Nah pergi ke pasar sambil diantar oleh sopir rumah yang biasa mengantarnya ke pasar. Dalam perjalanan itu ponsel kecil yang dipegang mbok Nah berdering, tertera nama nyonya Ratih yang menelponnya.
"Iya, Nyonya. Ada apa?" tanyanya ramah.
"Kedua anakku itu bagaimana, Mbok?"
"Ah, kebetulan sekali nyonya Ratih telpon. Lebih baik aku jujur saja tentang Den Keanu sama istrinya," batinnya mulai berpikir.
"Mm.. Begini, Nya--"
Lalu mbok Nah menceritakan semua yang terjadi dengan Keanu dan Cinta, dimulai dari kedatangan mereka yang tidak bersama, tidur di kamar terpisah, juga dengan kejadian pagi ini yang Keanu tiba-tiba main pamit entah kemana.
Ratih hanya bisa beristighfar sedalam-dalamnya begitu mendengar perlakuan semena-mena Keanu terhadap istrinya. Hingga muncullah ide yang mungkin bisa memicu perantara kedekatan mereka berdua saat dijalankan nanti.
"Mbok, kamu nggak mau pulang kampung gitu?" Ratih bertanya basa basi.
__ADS_1
"Ya kepingin lah, Nya. Hampir setahunan ini mbok nggak pulang kampung. Memang kenapa, Nya?"
"Aku kasi cuti agak lama dikit mau?"
"Demi apa dulu nih? Jangan bilang sebenarnya nyonya Ratih mau berhentiin Mbok. Aduh, jangan Nya..."
"Nggak lah, Mbok." Ratih sedikit terkekeh mendengar reaksi asistennya itu yang mendadak parno.
"Begini, Mbok. Sebenarnya aku ada ide nyuruh mbok pulang kampung itu biar Keanu sama Cinta bisa hidup berdua saja di rumah. Biar tambah dekat gitu loh, Mbok," jelas Ratih, sudah sangat yakin dengan idenya itu.
"Oooh.... Paham, paham. Waah... Boleh itu, Nya. Biar mereka jadi saling membutuhkan, bukan begitu, Nya?"
"Nah, itu dia!"
Sesaat Ratih dan mbok Nah hanya saling tertawa kecil. Mereka berdua sangat kompak dalam urusan mempersatukan Keanu dan Cinta agar semakin merekat erat.
"Trus, mbok bisa pulangnya mulai kapan, Nya?"
"Sekarang boleh. Lebih cepat lebih baik, Mbok."
"Haduh! Trus mbok mau pake alasan apa nih sama Den Keanu pamitnya?"
"Itu terserah, Mbok. Nggak usah pamit sama Keanu juga nggak papa lah. Kalau entar nanya bilang saja sudah pamit sama aku. Tapi kalau sama Cinta, mbok pamit ya... Takutnya entar Cinta kebingungan cari mbok,"
"Siap, Nyonya."
Lalu setelah itu mereka menyudahi telponnya.
"Duh, senengnya dapat jatah cuti dari nyonya Ratih," seloroh si sopir yang ikut mendengarkan percakapan mbok Nah dengan nyonya Ratih.
"Senang sekali dong. Eh, tapi kamu harus jaga rahasia ini. Kalau sampai terbongkar, berarti itu kamu yang ngasi tahu." ancam mbok Nah.
"Siap. In sya Allah amanah kok."
Setelah nanti mbok Nah pulang kampung, apa yang akan terjadi dengan Cinta dan Keanu? Adakah perkembangan yang lebih baik diantara hubungan mereka nanti?
__ADS_1
Bantu jawab yuk Readersku...