Cinta Milik Keanu

Cinta Milik Keanu
Part 24


__ADS_3

"Cinta!"


Reno langsung kaget begitu melihat Cinta berderai air mata. Spontan Reno mendekat dan tanpa diduga gadis itu langsung merubuhkan tubuhnya dalam dekapan Reno.


Iya, Cinta menangis dalam pelukan hangat lelaki lain. Rasa perih hatinya yang telah menjalar ke seluruh tubuh membuatnya khilaf dan butuh sandaran untuk menopangkan tubuhnya yang tak lagi kuat untuk sekedar berdiri tegak.


Masih dalam dekapan Reno, pria itu menuntun Cinta untuk duduk. Saat ini gadis itu telah duduk di sofa, tetapi derai air matanya terus saja mengalir, bahkan semakin menjadi.


Reno beranjak lagi untuk menutup pintu yang masih terbuka, lalu kemudian ikut duduk disamping Cinta. Menatapnya dengan prihatin dan juga penuh rasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu.


Seakan tidak malu lagi Cinta menangis didepan pria itu. Rasa sakit hatinya itu seakan membuat gadis itu terlupa jika dirinya saat ini hanya berdua dengan lelaki lain dalam ruangan yang sama. Yang tentu hal ini akan menimbulkan fitnah bagi keduanya karena status Cinta yang sudah menjadi istri orang.


Perlahan tangis Cinta berangsur mereda, mungkin sudah lelah hati. Gadis itu memilih menyembunyikan wajahnya dengan duduk meringkuk memeluk kakinya.


"Ada apa, Ta? Apa yang terjadi?" tanya Reno sangat pelan, takut salah omong yang nantinya akan membuat Cinta menangis lagi.


Cinta tetap bergeming, membuat pria itu semakin resah melihatnya. Mata pria itu celingukan ke seluruh ruangan apartemen itu, lalu tertuju pada sebuah lemari pendingin yang ada di dapur.


Segera Reno beranjak menuju dapur berniat akan mengambilkan Cinta minuman supaya lebih terasa plong, tetapi setelah membuka kulkas itu rupanya isinya kosong. Wajar saja jika sudah tidak terisi apa-apa, sebab memang setelah ayahnya Cinta meninggal sebulan lalu, gadis itu sudah tak lagi tinggal di apartemen ini.


Reno kembali mendekati Cinta.


"Aku keluar sebentar. Kamu nggak pa-pa kan sendirian?" pamitnya tetapi masih sedikit cemas meninggalkannya seorang diri.


Cinta hanya mengangkat wajahnya menatap Reno, tetapi mulutnya tetap saja terkunci. Pria itu lantas tersenyum tipis. Menganggap tatapan Cinta itu pertanda oke.


Lalu pria itu keluar dari apartemen Cinta. Sebenarnya ia ingin ke swalayan didepan untuk membeli beberapa makanan ringan dan juga minuman buat Cinta. Tetapi melihat keadaan Cinta yang begitu, maka Reno pun berbelok arah masuk ke apartemennya.


Di sana Reno mengambil semua stok makanan dan minuman dari kulkasnya. Setelah mengemasnya ke dalam kantong plastik, lalu Reno kembali keluar menuju apartemen Cinta lagi.


Saat masuk ke apartemen itu rupanya Cinta sedang rebahan di sofanya. Matanya terpejam rapat. Entah tertidur atau hanya ingin memejamkan mata saja, Reno tidak yakin.


Pria itu berjalan menuju dapur, lalu mengisi kulkas Cinta dengan makanan yang dibawanya itu. Sambil membawa dua minuman kaleng di tangannya, Reno kembali ke sofa, duduk berseberangan dengan Cinta yang perlahan membuka matanya. Gadis itu pun ikut duduk saling berhadapan dengan Reno.


"Minum dulu, Ta." Reno meletakkan satu minuman kaleng itu di meja, menggesernya biar lebih dekat Cinta raih.


"Makasih, Kak," ucap Cinta. Lalu meraih minuman itu tetapi rupanya gadis itu kesulitan membuka tutup segelnya.

__ADS_1


Tangan Reno langsung mengambil minuman milik Cinta, menukar dengan miliknya yang sudah terbuka tetapi masih utuh belum sempat diminum.


Gadis itu menerimanya tanpa sungkan. Kerongkongan yang sudah dahaga membuatnya meminum soft drink itu dengan rakus sehingga minuman itu menetes di dadanya.


Reno hanya menyeringai tipis. Cinta memang sering begitu. Dia bukan tergolong tipe cewek yang jaim. Selalu tampil apa adanya. Walau kata sebagian orang hal yang dilakukan Cinta itu mungkin dianggap jorok.


"Kurang?" Reno menawarkan minuman miliknya kepada Cinta.


Antara ingin mengangguk tapi kemudian menggeleng. Seketika gadis itu menjadi salah tingkah, baru sadar jika saat ini dirinya hanya berdua dengan Reno.


"Astaghfirullah..." seru Cinta sepenuh dada.


Dan Reno hanya terus menatapnya tanpa jemu.


"Seharusnya kita nggak berduaan di sini, Kak," ucap Cinta lagi.


"Bagaimana kamu sekarang? Kenapa tadi menangis?"


Reno malah mengalihkan topik. Ia paham dengan maksud ucapan Cinta, tetapi dirinya lebih kepo dengan penyebab gadis itu menangis lama barusan.


Cinta terdiam sesaat. Bolehkah ia bercerita masalah intern rumah tangganya kepada orang lain? Tetapi untuk tetap memendamnya rasanya Cinta akan stress lama-lama.


"Nggak ada apa-apa tapi kok nangis? Cerita aja, Ta. InsyaAllah nggak akan bocor. Kayak kita nggak pernah kenal aja."


Cinta hanya mengulas senyumnya tipis. Memang Reno termasuk orang yang pandai menyimpan rahasia orang. Termasuk rahasia hatinya yang sampai detik ini masih tersimpan rapat-rapat, tentang perasaannya yang sulit membuang wujud gadis didepannya itu dari hatinya.


"Mungkin akan sedikit plong setelah kamu curhat sama Tuhan," ucap Reno lagi.


"Sudah masuk ashar, Ta."


Senyum manis Cinta terbit. Pria itu telah mengingatkannya untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.


"Mau sholat bareng nggak?" tawar Reno saat Cinta sudah berdiri bersiap untuk mengambil wudhu.


"Eh, nggak usah." Cinta langsung menolak.


Sesungguhnya Cinta bingung. Menolak kebaikan tentunya itu tidak diperbolehkan. Tetapi masa iya dirinya yang sudah bersuami pantas berjamaah dengan pria lain, berdua pula?

__ADS_1


Melihat wajah Cinta yang kebingungan Reno malah terkekeh sendiri.


"Canda, Ta. Maaf..." Reno mengangkat kedua jarinya membentuk V.


"Sudah, kamu sholat yang khusyuk. Kabari kalau sudah selesai. Aku balik ke apartemen."


Setelah mengucapkannya, Reno langsung keluar dari ruangan itu dan kemudian kembali masuk ke apartemennya.


Pria itu langsung menghempas tubuhnya di atas ranjang besarnya begitu sudah masuk ke kamarnya. Matanya menatap nyalang ke plafon kamar. Masih kepikiran dengan apa yang sesungguhnya terjadi dengan Cinta.


Bila hanya ingat dengan orangtuanya, tidak mungkin gadis itu menangis sesenggukan seperti tadi. Tangisan Cinta itu nyata seperti orang yang patah hati. Tiba-tiba saja Reno teringat dengan Keanu. Mungkin pria itu bisa menyelidikinya dari suami Cinta itu.


Saat Reno menelponnya, Keanu segera menjawab panggilan telpon darinya.


"Ya, Ren. Ada apa?"


"Lagi di mana?" tanya Reno basa-basi.


"Biasa, masih di restoran. Ada apa?"


"Eh, VC dong?" Tetiba Reno sangat kepo dengan pernyataan Keanu.


"Tumben?" Keanu mulai cekikikan. Sedikit menganggap Reno lebay. Tetapi meski begitu akhirnya Keanu menuruti permintaan Reno.


Saat ini mereka sudah saling vicall.


"Sepertinya lumayan ramai pengunjung ya?" Reno berbasa-basi lagi sesuai kenyataan yang dilihat pada kondisi restoran Keanu saat ini.


"Iya, Alhamdulillah..." seru Keanu sangat bersyukur.


"Rejeki istri sholeha tuh," celetuk Reno memang di sengaja.


Keanu tertegun sesaat. Bukan tidak maksud omongan Reno, tetapi lebih ke rasa hatinya yang seperti tercubit saat mendengar istilah istri sholeha.


"Emang bener kata petuah, setelah menikah jangan khawatir masalah rejeki, akan bertambah semakin banyak karena itu sudah rejeki berdua yang dikumpul jadi satu dari Tuhan," ucap Reno lagi.


Keanu hanya tersenyum kecut. Tak tahu harus merespon apa.

__ADS_1


Saat mereka berdua sedang seru-serunya vicall, tiba-tiba seorang wanita datang dan langsung memeluk Keanu, melingkarkan tangannya pada leher Keanu dan menopang dagunya di bahu pria itu.


*


__ADS_2