
Malam sudah melebihi dari setengahnya. Tetapi ibu Ratih sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Rasa kantuknya seakan lenyap. Pikirannya terlampau penuh tentang Reno.
Bukan tanpa sebab ia tadi menanyakan Reno kepada Keanu. Beberapa hari yang lalu, di jalan saat dirinya sudah mau pulang setelah keluar untuk belanja beberapa keperluan sebelum acara tasyakuran kemarin, tanpa sengaja ia bertemu dengan seorang wanita yang sebenarnya tidak ingin ia jumpai lagi. Sayangnya saat itu wanita itu terlihat kurang sehat. Terus-menerus memegang dada kirinya dengan wajah yang meringis.
Ibu Ratih memandang wanita itu cukup lama, tetapi sepertinya wanita itu tidak sadar dengan keberadaannya.
"Ternyata masih hidup," batin ibu Ratih mengumpat.
Baru akan beranjak pergi dari tempat itu, tiba-tiba saja wanita itu ambruk. Ibu Ratih celingukan ke sekitar. Sialnya tidak ada orang sama sekali saat itu. Untuk mencoba acuh, rasanya terlalu kejam. Karma itu pasti berlaku. Dan ibu Ratih takut suatu saat nanti dirinya akan menerima karma itu, karena dengan tega membiarkan orang yang membutuhkan pertolongannya.
"Seto!" pekik ibu Ratih memanggil pak Seto yang standby di dalam mobil.
Pak Seto keluar. Dan lekas menghampiri ibu Ratih yang sedang menunjuk ke arah wanita itu.
"Bantu dia, Seto!" titahnya tanpa mau menatap lagi pada wajah wanita itu.
Pak seto segera menghampiri wanita yang sedang pingsan itu. Perlahan ia mengangkat tubuh wanita itu.
"Mau dibawa kemana, Nyonya?" tanya Seto dengan wajah yang nampak keberatan mengangkat tubuh wanita dengan postur sedikit berisi.
"Ke rumah sakit," sahut ibu Ratih, kemudian beranjak ke mobilnya untuk membukakan pintu penumpang agar pak Seto mudah memasukkan tubuh wanita itu.
"Dia siapa, Nyonya?" tanya pak Seto saat mobil mereka kembali melaju menuju rumah sakit.
Ibu Ratih bergeming saja. Malas menjawab.
Melihat ada yang berbeda dari raut wajah ibu Ratih, maka Seto pun memilih diam. Terus fokus melajukan kendaraannya. Dan akhirnya mereka tiba di rumah sakit terdekat yang mereka tuju.
Lekas wanita itu dibawa masuk ke rumah sakit menggunakan brankar dorong. Tetapi ibu Ratih hanya menunggu di lobby saja, memasrahkan wanita itu kepada pak Seto yang mengurusnya.
Lama menunggu akhirnya pak Seto keluar. Ia memberitahu kepada ibu Ratih jika wanita itu kemungkinan memang memiliki riwayat penyakit jantung. Bersyukurnya wanita itu sudah sadarkan diri tadi saat dokter sedang menanganinya. Tinggal menunggu kedatangan pihak keluarga yang sudah di telpon tadi.
"Ayo pulang, Seto," kata ibu Ratih setelah pak Seto selesai berbicara.
__ADS_1
Pak Seto mengangguk patuh. Walau sejujurnya dalam hati sedikit curiga, tumben sekali majikannya itu terkesan acuh dengan orang yang jelas-jelas sedang sakit. Karena setahunya rasa empati Ibu Ratih terhadap orang lain teramat besar. Soal kepedulian, ibu Ratih tidak pernah membedakan orang, baik dari kalangan bawah ataupun atas. Rasa belas kasihnya seakan menjadi watak baik ibu Ratih. Tetapi untuk yang satu ini sungguh berbeda dari sikap yang biasanya.
Baru ibu Ratih akan masuk ke mobilnya, ia melihat Reno sedikit berlari masuk ke rumah sakit.
"Reno," panggil ibu Ratih sedikit mengeraskan suaranya.
Reno menoleh. Begitu tahu yang memanggilnya adalah ibu Ratih, Reno lekas menghampirinya.
"Kenapa terburu-buru? Mau jenguk siapa emang?" tanya ibu Ratih kepada Reno. Sebelumnya pria itu terlebih dulu bersalaman dengan ibu Ratih.
"Ibuku, Tante," kata Reno dengan sorot wajahnya yang sendu.
"Ibumu? Sakit apa?" Ibu Ratih ikut khawatir.
"Aku belum tahu. Seseorang menelpon ku barusan. Katanya dia yang menolong ibuku. Aku harus buru-buru, Tante. Maaf."
Setelah itu Reno kembali berjalan ke arah pintu masuk rumah sakit itu. Sedangkan ibu Ratih mendadak was-was perasaannya. Daripada hanya penasaran, maka ibu Ratih mengikuti Reno tanpa setahunya.
"Seto, ruangan wanita tadi ada di mana?" tanyanya kepada Seto.
Pak Seto tetap diam di parkiran, membiarkan ibu Ratih seorang diri masuk ke rumah sakit itu. Sedangkan ibu Ratih melangkahkan kakinya dengan sedikit cepat. Pikirannya mendadak kacau setelah tanpa sengaja bertemu wanita itu.
Tepat saat ibu Ratih melihat Reno sedang berbicara dengan dokter, ibu Ratih menghentikan langkahnya. Berdiam diri di tempat yang dirasa aman untuk menguping obrolan Reno dan dokter itu.
Tak lama setelah itu, seorang suster keluar dari dalam ruangan itu.
"Dokter, pasien kritis!" ucap suster itu yang kemudian dokter dan juga Reno ikut masuk ke ruangan itu.
Karena penasaran, ibu Ratih mendekat ke arah ruangan itu. Mengintip dari luar pintu yang tidak tertutup rapat. Betapa terkejutnya ia saat tahu siapa orang yang ada di dalam ruangan itu. Wanita tadi yang ditolongnya rupanya sedang kritis. Dan sedang dilakukan pertolongan darurat oleh dokter. Satu pemandangan yang membuat ibu Ratih semakin shocked ialah keberadaan Reno di ruangan itu. Apakah wanita itu adalah ibunya Reno?
Ibu Ratih terus saja menggeleng kepala, serasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Perlahan langkahnya mulai mundur. Setitik air matanya menetes begitu saja. Rasa sakit itu kembali hadir dalam hatinya. Sebuah luka lama yang pernah ditoreh oleh sang suami. Yang pada akhirnya luka itu kembali datang setelah melihat kenyataan didepannya.
Rasa sesak itu seakan memenuhi rongga pernafasan nya. Ibu Ratih menangis seorang diri di luar ruangan itu. Dan tiba-tiba saja dari dalam ruangan itu terdengar Reno berteriak menyeru ibunya. Apa yang terjadi di dalam?
__ADS_1
Ibu Ratih segera menyusut air matanya. Ia kembali mengintip dari luar pintu. Dan lagi, ia kembali dibuat kaget setelah melihat kenyataan yang lain. Wanita itu dinyatakan meninggal dunia. Dan Reno yang menangis menjerit disampingnya.
"Ibu! Ibu! Kenapa ibu meninggalkanku sendiri! Aku sayang ibu! Kenapa Ibu meninggalkanku!" pekik Reno dengan tangisannya yang meronta. Tangannya terus mengguncang tubuh ibunya yang sudah tidak bergerak lagi. Terasa pilu melihatnya. Membuat ibu Ratih sangat tidak tega, dan memutuskan untuk ikut masuk ke ruangan itu.
"Reno!" sapa ibu Ratih, mendekati Reno yang terlihat sangat sedih.
"Jangan begini, Reno. Ikhlaskan ibumu," kata ibu Ratih sambil mengangkat tubuh Reno yang sedang memeluk ibunya.
"Tante," Reno semakin menangis setelah melihat keberadaan ibu Ratih disampingnya.
Ibu Ratih menyambut pelukan Reno yang memeluknya. Pria itu semakin jadi tangisnya. Dan ibu Ratih membiarkan saja. Hanya bisa mengusap punggungnya, yang mungkin bisa sedikit menenangkannya.
"Ikhlaskan ibumu, Reno. Ibumu tidak akan tenang kalau melihatmu begini," kata ibu Ratih sambil terus mengusapi punggung Reno.
"Maafkan ibuku, Tante. Maafkan ibuku," ucap Reno tiba-tiba.
Spontan Ibu Ratih melepas pelukannya. Menatap lekat mata Reno. Ia yakin, jika selama ini Reno pasti sudah tahu dengan apa yang sudah terjadi di masa lalu. Bodohnya ia yang baru tahu sekarang.
"Tolong maafkan kesalahan ibuku, Tante. Tolong..." Tiba-tiba Reno bersimpuh sambil memeluk kaki ibu Ratih, masih dengan tangisannya yang berderai.
Ibu Ratih terdiam saja. Semua yang terjadi saat ini membuatnya merasa entah. Semenit yang lalu ia merasa sakit hatinya kembali lagi. Tetapi setelah melihat Reno yang pasti akan hidup seorang diri setelah ini, membuat naluri keibuannya tersentuh. Merasa terenyuh, terbayang hal ini jika terjadi kepada Keanu juga.
"Berdirilah, Reno," titah ibu Ratih yang tidak diindahkan oleh Reno.
Pria itu terus menangis, sambil mulutnya terus berseru memintakan maaf untuk ibunya.
"Iya, tante memaafkan ibumu. Ayo berdirilah! Jangan seperti ini."
Akhirnya ibu Ratih menarik paksa bahu Reno, hingga akhirnya pria itu mau berdiri. Kemudian Reno kembali histeris menangisi ibunya. Dan ibu Ratih hanya bisa diam melihatnya.
Entahlah! Sebenarnya tidak mudah mengucap ampunan maaf bagi seseorang yang pernah melukainya. Akan tetapi ibu Ratih ingin hidup tenang dalam masa tuanya. Ia tidak mau hidup dalam rasa dendam. Walau tak ditampik rasa sakit itu tadi kembali hadir. Tetapi seketika musnah setelah melihat orang yang dulu membuatnya terluka telah menutup usia.
Dan Reno, seorang anak dari hasil perselingkuhan suaminya itu, akankah ia juga harus menerimanya?
__ADS_1
*