
Keanu segera beranjak ke kasur setelah meminum habis susu hangat yang dibuatkan oleh Cinta. Pria itu melangkah ragu sambil melirik kecil pada istrinya yang juga mengekor dibelakangnya. Sebenarnya dari lubuk hati terdalam ia tidak tega mengusir gadis itu keluar dari kamarnya walau seberapa besar ingin ia lakukan saat ini. Karena sejatinya gadis itu tidak pernah bersalah kepadanya. Dirinya lah yang masih terlalu angkuh hati untuk bisa menerima kehadiran Cinta sebagai istrinya.
Mendadak ia ada ide untuk bisa menghindar dari Cinta. Tiba-tiba ia membalik badan saat Cinta sendiri sudah duduk di bibir ranjang bagiannya.
"Mas mau kemana?" tanya Cinta.
"Aku masih ada pekerjaan yang belum selesai," jawabnya yang sudah pasti itu hanya lah alasan.
"Ini sudah hampir tengah malam loh, Mas? Apa iya nggak bisa dilanjutkan besok saja?"
Keanu hanya menggeleng. Lalu pria itu melangkahkan kakinya akan keluar kamar. Menghela nafas lega saat tiada pertanyaan lagi yang keluar dari Cinta.
"Mas..."
Cinta menyapa lagi saat pria itu sudah berada diambang pintu kamarnya.
Keanu menghentikan langkahnya, tetapi tidak menoleh kepada istrinya yang menatapnya sendu.
Cinta masih terdiam. Mendadak hatinya terasa pilu. Sangat tahu betul jika suaminya itu hanya beralibi agar bisa menghindarinya saja. Walau ingin mengatakan suara hatinya itu, tetapi gadis itu memilih menahannya lagi. Ia tidak ingin menambah keruh suasana. Melihat suaminya sudah mau berbicara padanya sudah lebih dari syukur.
"Kalau sudah selesai lekas tidur, Mas. Jangan capek-capek, aku tunggu kamu disini," ujar Cinta kemudian.
Keanu hanya bergeming. Hatinya seakan tertutup oleh kerasnya batu sehingga tidak mau peduli akan ungkapan perhatian dari istrinya itu.
Pria itu kembali melangkahkan kakinya keluar kamar. Menutup pintunya cukup pelan, sama sekali tak mau menoleh kepada istrinya yang masih saja menatapnya penuh harap.
Setitik kristal bening itu kembali menetes dari sudut mata Cinta. Gadis itu menangis dalam diam. Meringkuk seorang diri, merasakan betapa sesak dadanya saat ini. Perlakuan suaminya itu memang bukan suatu tindakan kekerasan. Tetapi rasa sakit hati yang dirasakan Cinta kali ini melebihi dari tertikam beribu busur panah dalam tubuhnya.
__ADS_1
Sampai kapan Keanu mau membuka hati untuk Cinta?
Sedangkan Keanu sendiri sudah mulai masuk dalam ruang kerja yang ada di lantai dasar rumahnya. Sebenarnya pria itu tidak ada yang akan dikerjakan di sana, karena sudah terhandle semua siang tadi. Tubuh yang terasa lelah membuat langkah kaki Keanu mengayun pada sebuah sofa yang juga ada di ruangan itu. Segera pria itu merebahkan diri di sana sambil berbantalkan bantal kecil pasangan sofa itu. Mencoba menutup matanya rapat-rapat, tetapi rupanya tak semudah itu ia bisa terlelap.
Mendadak ia kepikiran Cinta. Sebenarnya jauh sebelum ikatan pernikahan ini terjalin, ia sendiri sudah mengenal Cinta tetapi tidak begitu dekat. Bahkan sempat terjadi insiden pertukaran saliva antara keduanya beberapa tahun lalu, tepatnya saat Cinta masih duduk di bangku SMA saat itu.
Keanu juga tahu betul jika perempuan yang sudah menjadi istrinya itu perempuan yang baik. Tidak ditampik pula jika parasnya memang cantik dan menawan. Tetapi yang namanya hati memang tidak bisa dipaksakan. Seakan sudah enggan untuk bermain cinta. Pengalaman pahit sebelumnya membuat pria itu terlihat dingin dengan urusan hati.
Entah sudah berapa lama pria itu melamun seorang diri. Rasa kantuk yang semestinya hinggap bagai musnah diterpa dinginnya angin malam ini. Bolak-balik memindah posisi tubuh agar nyaman, tetapi tetap saja tak kunjung mengantuk.
Merasa frustasi sendiri, pria itu memilih duduk lagi. Mengatur ritme nafasnya agar menjadi santai, menghembusnya dengan perlahan, tetapi tetap saja itu sia-sia. Matanya semakin berbinar saja.
Dari pada hanya termenung tanpa melakukan kegiatan apa-apa, mendengarkan musik mungkin akan lebih baik. Tetapi sialnya ia baru ingat kalau ponsel miliknya tertinggal di kamarnya, saat ia merogoh saku celananya bermaksud ingin memutar musik melalui hapenya.
Ah, masak harus ke kamar lagi?
"Ya sudah lah, Cinta pasti sudah tidur," gumamnya seorang diri.
Lalu Keanu memberanikan diri kembali ke kamarnya. Karena sudah sangat yakin jika istrinya itu sudah tidur sangat lelap. Pelan-pelan sekali Keanu memutar handle pintu kamarnya. Begitu terbuka ia dibuat takjub oleh pemandangan menyejukkan mata dalam kamar itu.
Terlihat gadis itu tengah menengadahkan kedua tangannya dalam hamparan sajadahnya. Wajahnya tertunduk begitu khusyuk. Sampai-sampai tiada sadar jika Keanu sudah masuk ke kamar itu dengan sedikit mengendap-endap.
Ponsel pria itu sudah berada dalam genggaman tangan. Tetapi sudah tidak bisa kabur lagi saat melihat Cinta sudah selesai dengan do'anya.
"Mas," sapa Cinta dengan raut wajahnya yang adem terbalut mukenah.
Keanu hanya tersenyum getir. Lalu berpura-pura menyibukkan diri dengan ponselnya, saat istrinya itu melangkah mendekat kepadanya.
__ADS_1
"Jangan main hape terus. Mas Keanu lebih baik segera tidur. Seharian ini pasti sangat capek kan? Lihat, sudah jam berapa ini?" ucapnya bertambah lebih cerewet tetapi tetap bernada perhatian.
"Hem..."
Sudah kepalang mati kutu, akhirnya hanya bisa bergumam saja.
Kemudian pria itu meletakkan ponselnya ke atas nakas. Sebelumnya sudah mensilent ponselnya agar nanti tidurnya tidak terganggu oleh dering hapenya jika nanti ada yang menelpon. Aura kamar itu membuat matanya seketika mengantuk berat. Tanpa menghiraukan adanya Cinta yang masih berdiri memandangnya, pria itu segera menjatuhkan diri di kasur bagiannya. Dan secepatnya terlelap begitu saja.
Gadis itu tersenyum tipis melihat suaminya kembali ke kamar lagi. Padahal sebelumnya ia sudah putus asa menyangka suaminya itu akan memilih tidur terpisah lagi seperti kemarin. Rupanya Tuhan secepat ini mengabulkan doa yang dimintanya barusan. Pria itu datang lagi dengan sendirinya. Walau masih terkesan dingin, paling tidak dengan mau tidur sekamar dengannya saja Cinta sudah merasa bahagia.
Waktu subuh masih kurang dari satu setengah jam lagi. Dari pada hanya bengong menatapi suaminya yang sudah berada di alam mimpi indahnya, lebih baik ikut tidur saja. Dan semoga tidak kesiangan. Mengingat waktu subuh tinggal beberapa saat lagi berkumandang.
Sebelumnya gadis itu melepas mukenahnya, melipatnya dengan rapi lalu meletakkan kembali pada tempatnya. Tak mau mengulur waktu gadis itu segera berbaring pada kasur bagiannya. Menatap penuh senyum pada wujud suaminya yang terlihat begitu menenangkan hati saat sedang tidur begini. Posisi tidur Keanu yang tengkurap membuat Cinta terjaga lagi. Mencoba merubah posisi tidur suaminya itu agar berbaring dengan nyaman.
Saat tangan itu hampir berhasil membalik tubuh Keanu, tanpa disangka pria itu menarik lengan Cinta hingga membuat gadis itu tersungkur dalam pelukannya. Bahkan kaki Keanu ikut mengunci rapat tubuh Cinta. Entah sadar atau tidak, yang pasti kondisi Cinta saat ini persis guling yang lagi dipeluk oleh Keanu.
"Mas..."
Cinta berusaha membangunkan, karena sejujurnya ia merasa tidak nyaman dengan wajah yang tertekan rapat mencium dada pria itu.
Tetapi yang ada pria itu sangat nyaman dan begitu lelapnya. Sama sekali tak terusik oleh suara Cinta yang terus saja mencoba membangunkan.
"Ya ampun! Kamu pikir aku guling apa?" protesnya agak sebal.
Tubuh yang terhimpit dada bidang suaminya itu membuatnya sedikit kewalahan mengatur nafas. Memang ia menginginkan tidur berdua dengan romantis bersama suaminya itu. Tetapi tidak seperti ini juga konsepnya yang ia mau. Duh!
*
__ADS_1