
Cinta terbangun saat jam masih menunjukkan pukul empat pagi. Tubuhnya tiba-tiba berkeringat dingin, sedang kepalanya terasa berdenyut sekali. Segera ia beranjak duduk untuk mengambil air minum yang memang selalu disiapkan di atas nakas samping tempat tidurnya. Tetapi baru setengguk air yang mengalir di kerongkongannya perutnya tiba-tiba terasa bergejolak.
Segera Cinta beranjak menuju kamar mandi, walau jalannya sedikit sempoyongan. Lalu di sana ia memuntahkan semua isi perutnya, hingga aliran kerongkongannya terasa sedikit pahit.
Keanu yang mendengar suara itu langsung terbangun. Begitu menyadari bahwa suara itu berasal dari Cinta, lekas ia menyusul Cinta ke kamar mandi.
"Sayang," panik Keanu, sambil lalu memijiti tengkuk Cinta, terkadang punggungnya juga ia pijat dengan pelan.
Ueeekk....
Ueeeekk....
Cinta terus saja muntah-muntah. Dari sini Keanu semakin yakin jika istrinya itu benar-benar sedang berbadan dua.
Setelah dirasa lebih membaik, Cinta menyandarkan tubuhnya pada dekapan Keanu. Tanpa ragu pria itu langsung mengangkat tubuh Cinta dalam gendongannya, membawanya kembali berbaring di kasur.
"Ini minum dulu." Keanu menawarkan segelas air putih yang tadi urung diminum Cinta.
Cinta langsung menggeleng.
"Mau minum apa? Aku buatkan," kata Keanu menawarkan lagi. Setidaknya dengan minum sesuatu, perut Cinta akan terisi walau hanya berupa air.
"Mau lemon hangat," jawab Cinta pada akhirnya.
Lekas Keanu keluar dari kamarnya. Di dapur, pria itu sibuk sendiri mencari buah masam itu di kulkas. Beruntungnya ada stok, walau cuma sisa sebiji. Setelah itu segera Keanu menyeduh air hangat dan membuatkan minuman lemon hangat seperti permintaan Cinta.
Setelah masuk ke kamar lagi, Keanu segera memberikannya kepada Cinta. Wanita itu langsung meminumnya sedikit demi sedikit. Wajahnya nampak sedikit berbinar. Walau tak ditampik kepalanya masih terasa pening.
"Gimana, sudah enakan?" tanya Keanu memastikan.
Cinta mengangguk. Walau sejujurnya tidak begitu enakan, demi menghindari rasa cemas berlebihan yang akan dirasa Keanu, lebih baik mengangguk saja.
Sayup-sayup terdengar suara dzikiran yang diputar oleh takmir masjid tak jauh dari rumah itu, dzikiran yang selalu dibunyikan setengah jam sebelum masuk waktu subuh.
"Mas, aku mau tidur lagi. Adzan subuh tolong bangunkan aku," ucap Cinta kepada Keanu. Tubuhnya yang merasa lemas bagai tak bertenaga, membuatnya ingin tidur saja.
"Iya, tidurlah." Lalu Keanu mencium kening Cinta, dan wanita itu mulai memejamkan matanya.
Keanu terus saja memperhatikan Cinta, masih tetap duduk di sampingnya. Pikirannya terus berputar-putar tentang gejala kehamilan awal. Jika semua wanita akan mengalami seperti ini tiap hamil, bagaimana cara dirinya sebagai seorang suami untuk bisa membantu meringankan semua perjuangan rasa tak enak itu? Keanu benar-benar tidak tega melihat Cinta seperti ini.
"Mama. Aku harus tanya ke mama," gumam Keanu, tiba-tiba teringat dengan mamanya. Siapa tahu setelah bercerita, dirinya bisa menemukan solusinya.
Keanu memilih pindah duduk di sofa dalam kamar itu, agar obrolan dengan mamanya akan nyaman, dan Cinta tidak terganggu tidurnya karena suaranya. Setelah mencoba dua kali panggilan telpon, barulah ibu Ratih menjawabnya.
"Ada apa, Ken? Tumben pagi banget sudah telpon mama," sapa ibu Ratih heran.
"Ma, aku mau tanya sesuatu," kata Keanu.
__ADS_1
"Soal apa?"
"Cinta."
"Cinta kenapa? Ada apa dengan Cinta, Ken?" Ibu Ratih jadi panik.
"Nggak kenapa-napa, Ma. Mama jangan langsung panik gitu. Aku cuma mau tanya-tanya, siapa tahu mama bisa bantu."
"Ooh...." Terdengar helaan nafas panjang ibu Ratih.
"Jadi Cinta belakangan ini sering mual--"
"Hamil?" pekik ibu Ratih, memotong bicara Keanu yang belum selesai.
"Belum tahu." Keanu menjawab lemas.
"Kita belum periksakan ini ke dokter. Rencananya pagi ini mau coba testpack dulu."
"Mama do'akan semoga hasilnya positif, Ken. Aamiin..." Suara ibu Ratih terdengar sangat gembira.
"Aamiin..." Keanu juga mengamini ucapan mamanya.
"Jadi aku harus gimana, Ma? Rasanya aku nggak tega sekali lihat Cinta muntah-muntah. Mana dari kemarin nggak keisi nasi, cuma makan semangka maunya." Keanu mulai curhat.
"Seperti itu sudah wajar dialami perempuan, Ken. Kamu sebagai suami, harus selalu siaga disampingnya. Harus selalu sabar. Maklumi saja kalau Cinta tiba-tiba berubah mood. Jangan sampai Cinta entar kapok nggak mau hamil lagi gara-gara kamu yang nggak peduliin dia pas lagi begini," kata ibu Ratih menasehati Keanu.
"Nah, bagus tuh. Jadi laki-laki jangan cuma mau enaknya doang. Istri hamil, harus ekstra perhatian. Entar melahirkan juga lebih ekstra lagi perjuangannya."
"Iya, Ma," sahut Keanu.
"Trus kamu mau mama bantu apa?"
"Aku cuma bingung, kasihan juga lihat Cinta seperti ini."
"Kamu jangan ikutan panik. Yang penting kamu selalu harus ada disamping Cinta, mama rasa Cinta akan tenang meski harus bolak-balik muntah. Terus semangati Cinta."
Ibu Ratih jadi terkenang saat masa dirinya hamil Keanu dulu. Almarhum suaminya itu tidak begitu perhatian dengannya. Jadilah ia berpesan kepada Keanu untuk selalu memperhatikan Cinta saat sedang begini. Karena ibu Ratih sangat tahu, bagaimana rasanya dicuekin suami saat masa-masa hamil muda itu menyedihkan.
"Mama, aku tutup dulu ya, Cinta bangun lagi," kata Keanu yang kemudian mengakhiri telponnya karena melihat Cinta bergerak duduk.
"Kenapa, Dek?" tanya Keanu sambil mendekat.
"Mau minum," sahut Cinta yang kemudian mengambil minum lemon hangat sisa tadi.
Keanu duduk disamping Cinta. Memperhatikan istrinya yang sudah menghabiskan minumannya.
"Masih mual?" tanya Keanu.
__ADS_1
Cinta menggeleng.
Melihat itu, tangan Keanu terulur untuk mengusap pucuk kepala Cinta. Dan memberinya kecupan hangat di sana.
"Dek, mau coba testpack nya sekarang?"
Cinta mengangguk setuju.
Wanita itu pun berjalan pelan menuju kamar mandi. Keanu turut mengekor Cinta, takut-takut istrinya itu mengeluh pusing dan ambruk di kamar mandi.
Saat Cinta sedang pipis, Keanu menunggu diluar bilik kamar mandi. Setelah Cinta selesai, sama-sama keduanya menunggu hasil testpack yang sebelumnya sudah Cinta celupkan pada urine nya.
Garis merah itu mulai muncul dengan samar. Tetapi hanya satu garis saja, bukan dua garis. Keanu mengangkat testpack itu, mencermatinya dengan heran.
"Satu garis, Mas. Itu artinya negatif," seru Cinta dengan lemah.
Perasaannya sudah sedih duluan. Ia telah mengecewakan harapan suaminya dengan hasil dari testpack itu.
Keanu meletakkan testpack itu lagi. Wajahnya menatap wajah istrinya yang berubah sendu. Lalu di peluknya tubuh Cinta. Sekali lagi menghujani kepala istrinya itu dengan ciumannya.
"Nggak pa-pa, Dek. Jangan sedih begitu," ucap Keanu mencoba menenangkan Cinta. Walau sebenarnya perasaannya juga sedang entah.
"Tapi kenapa aku mengalami gejala seperti orang hamil? Dan dokter itu kemarin juga bilang kalau aku hamil. Buktinya hasil testpack nya negatif."
"Langkah selanjutnya harus USG," seru Keanu memberi solusi yang lain. Jika dengan USG, maka semuanya akan nampak dengan nyata menurut Keanu.
Cinta menggelengkan kepala dalam pelukan Keanu.
"Kenapa, Dek?"
"Hasilnya negatif begini buat apa mau USG?" Cinta mulai minder, takut mengecewakan suaminya lagi.
"Trus mau kamu gimana?" Keanu bertanya dengan sabar. Sepertinya benar kata ibu Ratih, dirinya harus ekstra sabar.
Cinta bergeming saja.
"Nanti pulang ngampus USG ya?" tawar Keanu dengan lembut.
"Sudah aku bilang, pulang ngampus aku mau main sama Ziyyan. Jangan pura-pura lupa," sungut Cinta mendadak sensi lagi.
"Ya sudah. Lusa pergi USG. Jangan menolak lagi. Kalau tetap menolak, aku gendong kamu dari kampus ke rumah sakit," seloroh Keanu.
"Emang kuat?" cibir Cinta.
"Ya nggak juga sih. Hehehe...."
Lalu mereka berdua melerai pelukannya. Karena sudah saatnya masuk waktu subuh. Dan mereka harus segera menunaikan kewajiban dua rakaatnya setelahnya.
__ADS_1
*