Cinta Milik Keanu

Cinta Milik Keanu
Eps 99


__ADS_3

Keanu masih belum beranjak dari tempatnya. Pria itu segera menyeka air matanya dengan kasar, begitu tersadar jika ia menangis karena rasa kecewa itu. Saat ini tiada guna menangis. Harusnya ia berpikir dengan jernih untuk nanti menanyakan hal ini kepada Cinta.


Sekali lagi Keanu meraih pil KB itu yang semula teronggok di atas meja. Dilihatnya lagi lekat-lekat, sampai menghitung jumlah pil yang mungkin sudah terminum oleh Cinta.


"Baru separuh. Apa ini artinya Cinta sudah berhenti dan dia nggak minum lagi?" batin Keanu menerka-nerka sendiri.


Seketika Keanu teringat dengan beberapa waktu kemarin, saat tak sengaja melihat Cinta seperti menelan obat. Dan perasaan kecewa itu kembali hinggap di hatinya.


"Bodoh! Kenapa selama ini aku bisa tidak tahu?" rutuk Keanu seorang diri.


"Tapi--"


Mendadak Keanu teringat sesuatu lagi. Kemarin lusa istrinya itu tidak terlihat sedang meminum sesuatu yang mencurigakan. Bahkan sampai kemarin pun Cinta tidak terlihat sedang meminum obat, karena selama itu Keanu selalu di sampingnya.


"Apa itu karena ada aku, jadi Cinta sengaja tidak minum." Keanu terus saja berpikir seorang diri.


"Ya Allah... Aku harus gimana?" Keanu sampai menggaruk kepalanya merasa frustasi.


Deru nafasnya ia atur serelaks mungkin, agar tidak sampai disulut emosi yang menguasai jiwa nantinya. Setelah merenung cukup lama, akhirnya ia pun menemukan jalan keluarnya.


"Oke, Cinta! Aku maafkan kamu untuk sekarang. Aku akan tetap pura-pura tidak tahu. Tapi untuk bulan depan, aku jamin kamu tidak akan minum ini lagi, sampai akhirnya kamu mengaku sendiri apa alasan kamu meminum ini."


Setelah itu Keanu beranjak dari tempatnya. Pria itu berencana akan menyusul Cinta sekarang juga dengan menaiki pesawat agar cepat sampai.


"Pak Seto," panggil Keanu pada sopir pribadinya itu.


"Iya, Den Keanu." Pak Seto yang kebetulan sedang berada di dapur untuk mengambil air minum, berjalan mendekat kepada Keanu.


"Tolong antar saya ke bandara," kata Keanu to the point.


"Sekarang, Den?"


Keanu mengangguk cepat. Dan pak Seto pun mengangguk patuh, yang kemudian segera pergi untuk menyiapkan kendaraan yang akan dibawanya.


"Ee... Mbok Nah," sapa Keanu kepada mbok Nah yang sedang lewat didepannya.


"Iya, Den." Suara mbok Nah masih terdengar gugup karena perasaan rasa bersalahnya.


"Mbok," Keanu menyentuh bahu mbok Nah, dan ART itu mengangkat wajahnya menatap Keanu.

__ADS_1


"Soal pil itu, tolong rahasiakan dari mama," kata Keanu.


Mbok Nah langsung mengangguk patuh.


"Maafkan mbok, Den. Karena mbok, Den Keanu jadi sedih. Mbok sama sekali nggak ada maksud." Mbok Nah mengatakannya dengan sendu.


"Nggak pa-pa, Mbok. Sudah mbok nggak usah sedih juga. Adakalanya suatu rahasia itu pasti terbongkar, iya kan?"


Mbok Nah mengangguk lagi. Senyum getir wanita paruh baya itu mengembang tipis. Tiba-tiba tangannya terulur mengusap lengan Keanu.


"Semoga Den Keanu segera diberi momongan oleh Allah. Semua bisa jadi, Den. Kun fayakun! Manusia hanya bisa berusaha, selebihnya Allah yang mentakdirkan. Mbok Nah akan selalu berdoa semoga setelah ini Den Keanu akan mendapatkan kabar bahagia dengan kehamilan Non Cinta," ucap mbok Nah dengan tulus.


"Aamiin..." Keanu langsung mengamininya.


"Eh, tapi bisa ya mbok, orang pakai KB bisa hamil, ada gitu?"


"Ada, Den. Yang pakai IUD saja masih bisa bobol, apalagi cuma pil. Lupa minum sehari dua hari aja kadang bisa hamil loh, Den," cerita mbok Nah sesuai fakta yang pernah ia ketahui.


Sekilas senyum tipis itu terukir di bibir Keanu. Iya, benar kata mbok Nah. Kun fayakun! Setelah ini Keanu menjadi semangat sendiri untuk segera membuat istrinya hamil. Walau bibit unggulnya harus dihadang oleh pil kontrasepsi itu, Keanu tak akan pantang menyerah. Bila perlu ia akan mengerecoki Cinta agar sering lupa mengkonsumsinya nanti.


"Makasih, Mbok. Berkat mbok, aku ada ide," aku Keanu dengan berbinar di depan mbok Nah.


"Jadi Den Keanu jadi ke Yogyakarta sekarang?" tanya mbok Nah sekedar memastikan.


"Iya. Kalau begitu aku siap-siap dulu, Mbok," kata Keanu yang kemudian segera beranjak ke kamarnya untuk mengemasi barang yang akan ia bawa.


Tak lama setelah itu Keanu sudah terlihat berpenampilan rapi. Di tangannya menenteng tas berukuran sedang. Pria itu berjalan ke teras depan untuk segera masuk ke mobil yang sudah disiapkan oleh pak Seto sebelumnya.


"Den Keanu," sapa mbok Nah yang saat itu turut mengantar Keanu hingga duduk di dalam mobilnya.


"Semangat, Den, jangan kasih kendor!" pekik mbok Nah dengan menggebu, lengkap dengan tangannya yang mengepal semangat.


Keanu tersenyum sumringah melihatnya.


"Mbok, aku pergi, assalamu'alaikum," kata Keanu yang kemudian mobil yang ditumpanginya itu melesat pergi.


"Waalaikumsalam," jawab mbok Nah sambil melambaikan tangannya kepada Keanu.


Sedangkan keadaan di rumah sakit, tepatnya di ruang kamar tempat Shelyn dirawat, wanita itu terus saja histeris sejadi-jadinya. Dan ibu Ratih yang menemani Shelyn saat itu, tentu merasa sangat iba dengan nasib hidup Shelyn.

__ADS_1


"Tante, aku sudah tidak punya siapa-siapa sekarang. Aku tidak punya siapa-siapa lagi," kata Shelyn, sedangkan derai air matanya sudah sedikit mereda, efek lelah mungkin.


"Sudah, yang ikhlas, Shel. Papa mama kamu sekarang sudah tenang di sana. Tugas kamu sekarang hanya mendoakannya. Kalau kamu terus-terusan meratap seperti ini, mereka di sana juga ikut sedih." Ibu Ratih menenangkan Shelyn sambil mendekapnya.


Shelyn masih tergugu. Sejenak keadaan menjadi hening, karena Shelyn yang sudah diam tidak menangis lagi. Tetapi tiba-tiba Shelyn melerai dekapan ibu Ratih. Matanya celingukan ke sekitar, seperti mencari seseorang di ruang kamarnya.


"Keanu mana, Tante?" tanya Shelyn tiba-tiba.


Ibu Ratih terkesiap mendengarnya. Jujur ia masih bingung harus beralasan seperti apa agar tidak mengguncang jiwa Shelyn lagi, yang disinyalir masih menyimpan rasa kepada Keanu.


"Keanu mana, Tante!" Dan benar saja, suara Shelyn tiba-tiba meninggi lagi. Sepertinya wanita itu juga mengharapkan Keanu datang menemuinya, tetapi tentu hal itu tidak akan ibu Ratih biarkan. Sampai kapanpun!


Karena ibu Ratih yang hanya membungkam, tak ayal Shelyn mengamuk lagi. Berteriak-teriak memanggil nama Keanu, yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan kedukaannya yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya.


Dokter dan beberapa perawat sampai masuk lagi ke ruang kamar itu. Mereka semua ikut berusaha menenangkan Shelyn.


"Keanu itu siapa?" tanya sang dokter kepada ibu Ratih.


"Keanu anak saya, Dok," sahutnya.


"Mm... Apa mungkin lebih baik ibu panggilkan anak ibu ke sini. Siapa tahu dengan anak ibu datang, rasa trauma pasien bisa sedikit terobati," kata dokter itu memberi solusi yang mungkin bisa membantu jiwa terguncang nya Shelyn sekarang.


Ibu Ratih langsung menggeleng dengan tegas. Lalu tanpa sungkan, ibu Ratih menarik lengan dokter pria itu, membawanya hingga ke luar ruangan.


"Dokter, saya tidak mungkin membawa anak saya ke sini. Karena itu bisa menjadi fatal untuk kedamaian rumah tangga anak saya," kata ibu Ratih dengan tegas.


"Maksud ibu?"


"Dia itu bibit pelakor!" Ibu Ratih mengatakannya sambil menatap ke dalam kamar melalui celah kaca yang nempel di pintu kamar rawat itu.


Dokter itu terdiam seketika.


"Dokter cari solusi lain saja, asal bukan anak saya. Kalau perlu bawa saja ke psikiater. Permisi, Dok, saya harus pulang dulu, mau istirahat. Kalau ada apa-apa dokter bisa telpon nomor ini."


Setelah menyerahkan sebuah kartu nama milik kerabatnya yang lain kepada dokter itu, ibu Ratih segera melangkah pergi dari rumah sakit itu.


"Huh, enak saja!" gumam ibu Ratih dengan langkah lebarnya menuju jalan utama. Rasanya kembali dongkol, ketika teringat Shelyn yang teriak-teriak sambil memanggil nama Keanu. Dasar caper!


*

__ADS_1


__ADS_2