
Rencana yang awalnya akan ke apartemen siang hari, terpaksa tertunda menjadi sore hari. Akibat penyatuan tubuh yang melelahkan tetapi berujung kenikmatan, Cinta dan Keanu memilih tidur siang dulu, sebelum kemudian berangkat ke apartemen.
Sebenarnya baik Cinta maupun Keanu merasa was-was untuk datang ke apartemen itu, karena apartemen yang akan mereka datangi bersebelahan dengan apartemen Reno. Tetapi demi menuruti permintaan Cinta yang hampir mirip dengan ngidam bila tidak dituruti, maka dengan siaga tiga Keanu harus mengantarnya, juga harus siap menahan ego bila nanti tidak sengaja bertemu dengan Reno di sana.
Bersyukurnya hingga sampai mereka masuk ke apartemen itu, takdir tidak mempertemukan mereka dengan Reno.
"Apa kak Reno ada di rumah sakit ya, Mas? Itu bisa jadi kan? Dia kan kemarin kecelakaan?" tutur Cinta tiba-tiba, saat mereka sudah duduk santai di ruang tamu dalam apartemen itu.
"Ehem! Ehem!" Keanu hanya merespon dengan dehamannya yang kentara dibuat-buat.
Cinta terkesiap mendengarnya. Terlihat jelas di wajah Keanu percikan api kecemburuan. Membuat Cinta langsung membungkam mulutnya sendiri, karena tak sengaja membahas tentang Reno bersama Keanu.
"Katanya mau cari cincin? Ditaruh mana?" Keanu berdiri, sudah mulai membuka satu persatu laci yang yang ada di ruang itu.
"Sepertinya di kamar," jawab Cinta, yang kemudian masuk ke kamarnya disusul Keanu juga ikut masuk.
Cinta mulai mencari di laci nakas, dan Keanu membantu mencari di lemari.
"Penting banget ya cincinnya?" tanya Keanu, sedikit frustasi karena yang dicari tak kunjung ketemu.
"Cincinnya sih nggak seberapa penting, storynya yang penting," sahut Cinta, yang saat ini sudah berpindah mencari di meja rias.
Mendengar jawaban Cinta, Keanu seketika menghentikan pencariannya. Ia berjalan mendekati Cinta, sedikit terusik dengan istilah story yang dikatakan Cinta barusan.
"Yeeiiy..... Ketemu!" pekik Cinta kegirangan, sampai tak terasa loncat-loncat saking senangnya.
Keanu yang melihat Cinta lompat-lompat, spontan langsung menahan tubuh Cinta dengan memeluknya.
"Hati-hati, Dek! Senang boleh, tapi harus ingat di perut kamu ada anak kita," kata Keanu memperingatkan.
Cinta hanya nyengir menanggapinya. Setelah itu keduanya memilih duduk di tepi ranjang, dengan Cinta yang menatap lekat pada cincin permata putih yang dipegangnya. Senyum riangnya terus mengembang, sangat nyata bahwa cincin itu adalah sesuatu yang kemungkinan memiliki sejarah penting bagi Cinta.
"Coba aku lihat," tiba-tiba Keanu mengambil cincin itu dari tangan Cinta.
Cinta tidak protes ataupun mengomel. Ia malah semakin melebarkan senyumnya sambil menatap lekat pada Keanu.
"Punya kamu?" tanya Keanu.
Cinta mengangguk, tetapi kemudian menggeleng.
__ADS_1
"Itu aku nemu di taman kota, sudah lama sekali sih." Cinta mulai menjelaskan.
Keanu terus saja memperhatikan cincin itu. Bagus dan indah. Tetapi kenapa seperti tidak asing?
Kemudian Cinta mengulurkan tangan kirinya. Keanu paham maksud Cinta, dan ia pun memasangkan cincin itu di jari manis Cinta.
"Kamu ingat nggak, Mas, ini ketiga kalinya kamu memasangkan cincin di jariku," ucap Cinta setelah cincin dengan permata putih itu terpasang di jarinya.
"Tiga?" Keanu berpikir keras. Seingatnya hanya dua kali. Pertama saat pernikahan, kedua ya saat ini.
"Coba tebak, pertama kali kamu pakein aku cincin di mana?"
"Setelah akad nikah," jawab Keanu dengan yakin.
"Salah!"
Keanu langsung mengerutkan keningnya.
"Diingat dong," rengek Cinta memaksa Keanu untuk mengingatnya.
"Nyerah! Beneran nggak ingat!" pasrah Keanu. Kemudian pria itu memilih berbaring di ranjang itu sambil merentangkan kedua tangannya, disusul Cinta yang ikutan berbaring, tentu sambil berbantalkan lengan Keanu.
Sesaat mereka berdua sama-sama diam, tetapi Cinta terus saja menatap cincinnya itu sambil senyum-senyum sendiri.
Cinta melirik jengah.
"Bukan! Sudah aku bilang ini nemu di taman kota. Entah sengaja dibuang sama yang punya atau nggak sengaja hilang aku nggak tahu. Ibu sudah sering menyuruhku buat pengumuman, tapi--"
"Kamu sayang karena cincinnya bagus," celetuk Keanu, menyela bicara Cinta.
Cinta nyengir saja, karena jawabannya tepat dugaan.
"Mas, cincin ini pertama kamu pakein ke aku pas di pesta resepsinya bang Zayn dan kak Ara. Kamu masih lupa?" Cinta mulai menceritakan soal story yang dimaksud Cinta tentang cincin itu.
Keanu terlihat berpikir, seperti sedang mengingat-ingat.
"Ah, pasti kamu lupa. Mana mungkin kamu ingat, sedangkan waktu itu adalah hari duka kamu karena ditinggal nikah sama kak Ara," celetuk Cinta tiba-tiba.
Keanu langsung menoleh, menatapnya tajam.
__ADS_1
"Aku ingat, Dek! Aku ingat!" kata Keanu, sambil kemudian mengangkat tangan Cinta yang sedang terpasang cincin tadi.
"Gadis bar-bar yang tiba-tiba minta dipakein cincin. Untung aku mau, bayangkan kalau aku nolak, bakal malu tujuh turunan kau. Hahaha...." Keanu dibuat terpingkal-pingkal setelah mengingatnya.
Seketika Cinta menimpuk lengan Keanu, merasa diejek.
"Ketawamu menghinaku, Mas!" sungut Cinta, tetapi ia tidak bisa marah karena memang kejadian itu sangat konyol bila diingat.
"Tunggu! Tadi kamu bilang nemu cincin ini di taman kota?" tanya Keanu, karena tiba-tiba merasa yakin kalau cincin itu adalah miliknya yang dulu hilang karena habis dicopet orang.
Cinta mengangguk menegaskan.
"Coba aku lihat." Lalu Keanu melepas cincin itu lagi dari jari Cinta.
Sejenak Keanu melihatnya lekat-lekat. Dan memang benar, dalam lingkaran cincin itu ada inisial huruf A. Dari ini Keanu semakin yakin, kalau cincin ini adalah cincinnya yang dulu telah disiapkan untuk melamar Ara, tetapi hilang karena keburu dicopet orang.
"Biar tidak ghoshob, mending disedekahkan saja, Dek," kata Keanu. Tidak mungkin juga ia akan berterus terang soal cerita yang sebenarnya tentang cincin itu. Bisa-bisa muncul perang dunia susulan jika Cinta tahu itu.
"Tapi aku sudah terlanjur sayang, gimana?" Cinta mengambil cincin itu lagi.
"Aku ganti yang lebih bagus. Atau apa mau satu set perhiasan?"
"Dih, sombong amat!" cibir Cinta. Tetapi kalaupun benar dibelikan, Keanu mampu membelinya.
"Mau nggak?" Keanu beranjak duduk, juga ia menarik tubuh Cinta agar duduk juga.
"Ya mau lah. Orang bilang, pamali nolak rejeki. Ayo, Mas!" kata Cinta langsung bersemangat.
"Tapi ini sudah maghrib, sholat dulu yuk, Dek?"
Cinta mengangguk patuh. Kemudian mereka berdua segera menunaikan kewajiban tiga rakaatnya usai mengambil air wudhu terlebih dahulu.
"Mas, jadi cincin ini mau disedekahkan ke siapa?" tanya Cinta, saat mereka berdua sedang berjalan menuju basement apartemen.
"Dijual, trus uangnya kita sedekahkan ke panti asuhan," jawab Keanu dengan mantap. Apalagi ia juga masih menyimpan surat penting dari cincin itu.
"Nggak mau! Aku nggak setuju!" tolak Cinta tak kalah tegas.
"Aku mau beri cincin ini ke mbok Nah. Aku dengar anak bungsu mbok Nah katanya mau tunangan bulan depan. Setidaknya kan irit, daripada anaknya mbok Nah harus beli."
__ADS_1
"Oke! Terserah kamu tuan putri," pasrah Keanu, yang terpenting sekarang cincin itu tidak dipakai Cinta lagi. Bila perlu harus secepatnya lenyap dari pandangannya.
*