Cinta Milik Keanu

Cinta Milik Keanu
Eps 130


__ADS_3

Pagi kembali menyapa. Setelah selesai sholat subuh, ibu Ratih beranjak ke dapur untuk membuat kopi. Semalam penuh ibu Ratih tidak bisa tidur. Pikirannya masih saja belum lepas tentang Reno.


Wanita itu memilih duduk seorang diri di kursi taman belakang sambil menikmati kopinya. Sesekali melirik pada ponselnya, menunggu sebuah jawaban dari pesan singkatnya yang semalam ia kirim kepada Reno. Tepatnya saat dirinya selesai mengerjakan sholat malamnya, dengan mantap ibu Ratih mengundang Reno hadir pada pesta resepsi Keanu yang akan di gelar nanti malam.


Sebenarnya pesan itu sudah dibaca oleh Reno, terbukti dari tanda centang yang sudah berubah biru. Tapi entah mengapa belum ada jawaban pasti darinya. Dan ibu Ratih sangat mengharapkan jawaban itu.


"Mama," sapa Keanu yang tiba-tiba muncul di sampingnya.


Ibu Ratih menoleh, senyum hangatnya seketika tersungging. Lalu Keanu ikut duduk menemani ibu Ratih.


"Tumben minum kopi?" tanya Keanu, tak biasanya mamanya itu meminum kopi hitam, biasanya teh hangat.


"Semalam mama tidak bisa tidur, Ken," jujur ibu Ratih.


"Kenapa?" Keanu bertanya sambil menyentuh pundak mamanya, memberinya pijitan pelan.


Ibu Ratih hanya tersenyum, tidak mau menjelaskan penyebabnya. Dan Keanu menduga mamanya itu pasti kepikiran dengan resepsi nanti. Wajar saja sebagai orang tua kepikiran itu, karena hal itu adalah pesta pernikahan anaknya menurut Keanu.


"Sudah cukup, Ken." Ibu Ratih meminta Keanu menghentikan memijitnya. Dan Keanu langsung menurut tanpa banyak protes, meski sebenarnya kasihan melihat aura wajah mamanya yang syarat kelelahan.


Ibu Ratih mengecek hapenya lagi, masih tidak ada jawaban dari Reno.


"Kalian bagaimana, apakah semalam tidurnya nyenyak?" Ibu Ratih balik bertanya kepada Keanu.


"Alhamdulillah nyenyak, Ma. Cuma--"


"Cuma apa?"


"Biasalah, Ma. Tiba-tiba Cinta pingin makan kue pukis jam 2 tadi malam," curhat Keanu sambil garuk-garuk kepalanya. Berasa selalu penuh kejutan menghadapi ngidamnya bumil yang terkadang tidak tahu sikon.


"Terus kamu belikan?"


Keanu menggeleng lemah.


"Gimana sih kamu, Ken," ibu Ratih sampai menimpuk gemas lengan Keanu.


"Semalam sudah dibuatkan mbok Nah, Ma. Jadi aku nggak beli," terang Keanu kemudian.

__ADS_1


"Astaga! Jadi kamu sampai merepotkan mbok Nah? Dia enak-enak tidur kamu bangunin?"


"Cinta yang pingin, Mama. Ah, tahulah." Keanu menghentak nafasnya.


"Sekarang Cinta di mana?"


"Ada di dapur bantu mbok Nah," jawab Keanu.


Ibu Ratih beranjak dari tempatnya. Berencana menyusul ke dapur. Tetapi kemudian notif pesan di hapenya berbunyi. Lekas ibu Ratih melihatnya, dan seketika senyum riangnya terbit setelah membaca pesan itu.


[ InsyaAllah, Tante. Terimakasih atas undangannya]


Begitulah jawaban Reno, membalas pesan undangan ibu Ratih kepadanya.


Sejenak ibu Ratih melirik kepada Keanu. Mereka berdua saling bertatapan.


"Ada apa, Ma?" tanya Keanu terpancing penasaran juga, setelah mamanya menatapnya lama.


Lalu senyum ibu Ratih terukir lagi. Tangannya menepuk pelan bahu Keanu. Kemudian pergi begitu saja.


***


"Mama mau ke mana?" tanya Cinta saat melihat penampilan ibu Ratih yang seperti bersiap akan keluar.


"Mama mau keluar sebentar. Paling cuma satu jam," jawab ibu Ratih. Wajahnya celingukan mencari keberadaan Keanu yang tidak ada disekitarnya.


"Tapi, Ma, sebentar lagi kita harus--"


"Iya, nanti mama akan langsung ke sana kok. Kamu sama Keanu berangkat dulu, tidak perlu menunggu mama." Ibu Ratih langsung menyela begitu saja omongannya Cinta.


Setidaknya siang nanti Cinta dan Keanu harus sudah berada di hotel ternama yang disewa mereka sebagai tempat resepsi mereka.


"Sudah, jangan khawatir begitu. Mama cuma ada urusan mendadak sebentar. Dan itu tidak akan lama," kata ibu Ratih lagi sembari mengusap lembut pipi Cinta agar tidak mengkhawatirkannya.


Cinta hanya bisa mengangguk, melepas kepergian ibu mertuanya hingga ke teras depan. Setelah mobil yang membawa ibu Ratih keluar dari area rumahnya, Cinta masuk lagi.


"Mama mau ke mana, Dek?" tanya Keanu saat berpapasan dengan Cinta di ruang keluarga.

__ADS_1


"Loh, aku pikir kamu sudah tahu, Mas," jawab Cinta. Dengan begitu berarti keduanya sama-sama tidak tahu kemana ibu Ratih pergi.


Kecurigaan Keanu tentang apa yang mungkin disembunyikan oleh mamanya semakin menjadi. Maka pria itu pun merenung sendiri, tetapi segera ditepis lagi hal-hal apa yang bisa membuat otaknya negatif thinking. Ia tidak mau di hari spesial nya nanti akan berwajah cemberut karena kebanyakan mikir.


"Ada apa, Mas? Memangnya apa yang terjadi sama mama?" Cinta ikut bertanya, karena juga mulai curiga.


Keanu hanya menghedikkan kedua bahunya, pertanda entah. Kemudian Keanu merangkul pundak Cinta, membimbingnya duduk di sofa di ruang keluarga itu.


"Sini, ayah mau nyapa anak ayah," kata Keanu, mulai menciumi perut Cinta dengan sayang.


Sedangkan ibu Ratih saat ini sedang berada di sebuah TPU. Dengan pak Seto yang mengantarnya ke TPU tersebut. Rupanya ibu Ratih sedang berziarah ke makam suaminya. Termenung seorang diri cukup lama. Dan setelah do'a itu selesai dipanjatkan, barulah ibu Ratih mengajak sopirnya untuk pergi.


Akan tetapi perjalanan itu kembali lanjut ke TPU yang lain. Dan di TPU ini yang membuat pak Seto curiga. Karena setahunya, tiada satu kerabat pun yang dimakamkan di TPU ini. Apalagi ibu Ratih juga melarangnya untuk ikut masuk.


"Aku minta kamu tutup mulut tentang kedatanganku ke sini, Seto," pinta ibu Ratih sebagai peringatan kepada pak Seto.


Pak Seto langsung mengangguk patuh. Sebagai pelayan atau sopir, dirinya bisa apa terhadap nyonya majikan?


Di TPU ini pak Seto menunggu ibu Ratih cukup lama. Sebenarnya ingin menyusul takut terjadi apa-apa dengan nyonya majikannya itu, tetapi takut kedatangannya nanti malah tidak disukainya. Yang akhirnya memutuskan tetap diam di mobil, meski rasa khawatirnya lumayan terasa.


Dari kejauhan Ibu Ratih melihat seorang pria muda sedang duduk di sebuah makam yang juga ingin dikunjungi Ibu Ratih. Ibu Ratih paham siapa pria itu, tetapi ia memutuskan untuk tidak mendekatinya dan terus mengintai dari tempat yang dirasa aman menurutnya.


Tak lama kemudian pria tersebut mulai beranjak. Terlihat dari kejauhan pria tersebut sedang mengusap bersih air matanya. Dan bersyukurnya pria tersebut tidak melihat keberadaan ibu Ratih di sana. Maka setelah memastikan pria tersebut keluar, ibu Ratih mulai berjalan pelan mengunjungi makam yang mana gundukan tanahnya masih tidak begitu kering.


"Hai, Ajeng," sapa ibu Ratih dengan senyum getirnya.


"Aku tidak menyangka kalau aku akan bertemu kamu lagi. Sayangnya Tuhan lekas memanggilmu. Padahal aku masih ingin bertanya banyak sama kamu," kata ibu Ratih berbicara seorang diri sambil memegang nisan kayu yang bertuliskan nama Ajeng.


Pusara itu adalah tempat ibunya Reno dimakamkan.


"Tetapi-- Sudahlah! Nasi sudah terlanjur jadi bubur. Dan aku memaafkanmu, Ajeng. Sungguh! Jadi aku harap kamu bisa tenang di sana ya..."


Tangan ibu Ratih mulai menaburi bunga yang dibawanya. Tersemat doa juga yang ia panjatkan untuk wanita bernama Ajeng itu.


"Tante Ratih?"


*

__ADS_1


__ADS_2