
"Kamu hari ini ada jadwal kuliah, Ta?" sapa ibu Ratih kepada Cinta saat mereka sedang sarapan bersama.
"Ada, Ma. Nanti masuk jam sebelas, cuma ada satu kelas aja hari ini," jawab Cinta.
Ibu Ratih tersenyum tipis. Lalu ia menatap Keanu yang dari tadi hanya diam tidak ikut bicara apa pun selain hanya menikmati sarapannya.
"Ken,"
Keanu mengangkat wajahnya menatap ibu Ratih.
"Kamu nggak ke resto kan?"
Pria itu menggeleng kepala. Mana mungkin ia datang ke restoran sedang wajahnya saja saat ini masih begini.
"Dari pada diem di rumah kamu antar Cinta ke kampusnya," usul ibu Ratih.
Keanu langsung menoleh kepada Cinta. Berharap gadis itu akan menolak. Tetapi tatapan mereka hanya saling beradu pandang dalam keheningan. Cinta yang sebenarnya tidak begitu berharap Keanu mau mengantarnya karena itu rasanya mustahil, sedangkan Keanu kentara sekali jika ia keberatan dengan permintaan mamanya itu.
"Yang sakit kan muka kamu. Tangan sama kaki sehat-sehat saja kan?" ucap ibu Ratih lagi.
Pria itu menghentak nafasnya begitu saja. Lalu mengangguk pelan kepada mamanya. Ibu Ratih bukannya tidak peka melihat anaknya yang jelas keberatan dan tidak senang, tetapi demi kebaikan bersama maka ibu Ratih harus senantiasa menggiring nya hingga sampai pada jalan yang semestinya orang berumah tangga itu seperti apa.
"Alhamdulillah... Mama sudah sarapannya, kalian lanjut aja dulu, mama masih ada keperluan mau minta anter pak Seto keluar," ucap ibu Ratih sambil lalu beranjak dari tempatnya.
"Ken, nanti di jalan hati-hati ya," pesannya lagi lalu melangkah keluar dari rumah itu.
Tinggal lah Cinta dan Keanu yang ada di ruang makan itu. Keduanya masih saling diam hingga akhirnya makanan mereka sudah habis di makan.
"Sini biar mbok saja yang beresin, Non," cegah mbok Nah saat Cinta akan membawa piring kotor itu ke dapur.
Cinta memilih menurut saja, karena ia tersita dengan suaminya yang tiba-tiba dingin lagi saat tidak ada ibu Ratih.
__ADS_1
"Mas Keanu," sapa Cinta saat suaminya itu akan beranjak pergi ke taman belakang.
Pria itu berhenti melangkah, tetapi tidak menoleh kepada Cinta.
"Kenapa kamu nggak terus terang saja sama mama, kalau kamu sebenarnya keberatan mengantarku ke kampus." Gadis itu semakin berani mengeluarkan uneg-uneg yang mengganggu pikirannya tanpa menunggu nanti.
"Kamu maunya apa?" Keanu balik tanya yang sebenarnya tidak nyambung dengan pertanyaan Cinta.
"Aku maunya kamu jujur, nggak perlu sandiwara mau di depan mama. Aku capek, Mas! Sebenarnya aku tidak tega melihat ibu Ratih sedih karena aku yang tidak bisa menjadi istri yang di cintai sama kamu."
Keanu tertegun. Lebih tepatnya bingung sendiri. Kenapa bahasannya malah semakin dalam sampai bawa-bawa nama ibu Ratih. Cinta merasa capek, apakah itu pertanda ia akan meminta cerai?
"Tidak bisakah kita mencoba membahagiakan hati orang tua kita, Mas? Aku tahu kamu terpaksa menikah denganku. Aku pun sebenarnya juga tidak terlalu senang enak-enak kuliah malah harus menikah. Tapi aku belajar menerima takdir. Mungkin ini sudah jalannya Tuhan mendekatkan aku sama kamu."
Keanu semakin terdiam mendengar ucapan Cinta.
"Maaf kalau aku terlalu egois menerima lamaran ibu Ratih tanpa memikirkan perasaan kamu. Maaf kalau aku cinta sama kamu, Mas. Aku akan selalu ingat, kalau kamu pernah bilang jangan terlalu berharap. Sekarang aku pasrah kamu mau bawa kemana hubungan ini," ujar Cinta lalu pergi dari tempat itu dengan linangan air matanya yang tak kuat ia bendung lagi.
Pria itu tidak begitu memikirkan ucapan Cinta karena ia mengira gadis itu hanya lagi gampang baper lantaran sedang period. Walau apa yang di katakan nya itu cukup dalam, tetapi semua terlanjur terjadi. Semalam saja pria itu sudah berjanji akan belajar menerima keadaan Cinta kepada mamanya. Hanya tidak mungkin kan jika Keanu mengatakan perihal mau belajar itu kepada Cinta.
Sekilas Keanu melirik pada jam yang tertera di ponselnya. Waktu masih menunjukkan hampir pukul sembilan. Itu berarti masih ada sekitar satu jam lebih sebelum Keanu nanti mengantarnya ke kampus. Sementara ini biarkan saja Cinta puas-puasin menangis atau apalah yang bisa melegakan emosinya di kamar.
Waktu perlahan merambat naik. Tetapi rupanya Cinta masih betah mengurung diri di kamar. Hingga sampai ibu Ratih menelpon Keanu, memastikan dirinya benar-benar mengantar Cinta atau tidak, maka terpaksa Keanu menyusul Cinta ke kamarnya.
Pria itu masuk ke kamarnya yang beruntungnya tidak di kunci oleh Cinta. Ternyata setelah melihat ke dalam, Cinta tidak ada di kamar itu. Membuat Keanu mendadak panik. Apa jangan-jangan gadis itu nekat kabur dengan loncat jendela kamar.
Hingga pria itu mengecek jendela kamarnya yang ternyata masih tertutup rapat, barulah pria itu keluar dari kamarnya berencana akan mencari Cinta di tempat lain.
Tetapi langkah kaki pria itu tertahan saat melihat kamar di sebelahnya pintunya sedikit terbuka. Pria itu langsung masuk ke sana, berharap Cinta ada di kamar itu.
"Ya ampun! Aku kira nangis-nangis, ternyata tidur," gumam Keanu gemas sendiri karena berhasil di buat panik oleh Cinta yang ternyata orangnya malah asyik molor.
__ADS_1
Pria itu mendekat bermaksud akan membangunkan Cinta untuk berangkat kuliah. Tetapi keburu gadis itu terbangun lebih dulu.
"Ngapain ke sini, Mas?" tanya Cinta tak suka melihat Keanu datang.
"Kamu yang ngapain tidur di sini?"
"Kebiasaan deh, orang nanya ikutan nanya juga," sewot Cinta sambil beranjak turun dari kasurnya.
Gadis itu pergi begitu saja lalu masuk ke kamar Keanu. Dan Keanu terus saja mengikutinya menyusul ke kamar. Di dalam kamar itu rupanya Cinta sedang merias diri dengan bedak tipis-tipis. Pasti sedang bersiap untuk berangkat ke kampus menurut Keanu. Setelah selesai dengan kegiatannya, Cinta hanya mengambil tas kecilnya dan akan beranjak keluar kamar tetapi langsung di cegah oleh Keanu.
"Ayo aku antar ke kampus," ucap Keanu menahan Cinta sambil berdiri di ambang pintu.
"Aku nggak mau kuliah. Sudah titip ijin sama teman," sahut Cinta agak ketus.
"Trus rapi begini mau ke mana?"
"Mau ke resto, aku mau kerja lagi." Lalu Cinta mendorong bahu Keanu agar bisa keluar dari kamarnya.
"Eh, siapa yang ngijinin ke sana?" Keanu meraih tangan Cinta, mencekalnya cukup erat.
"Lepasin, Mas. Aku sudah terlanjur janji sama Hana." Cinta berusaha melepas cengkraman tangan Keanu, tetapi tak bisa.
"Aku sudah pernah melarang kamu untuk tidak bekerja lagi. Apa kamu akan membantah perintah suami?"
"Huh! Suami?" Cinta tersenyum getir.
"Bahkan kamu saja tidak pernah menganggap aku istri kamu," ucap Cinta penuh penekanan.
Hingga cengkraman tangan Keanu perlahan bisa terlepas, karena merasa tersentil dengan omongan Cinta.
*
__ADS_1