
Beberapa bulan kemudian
Kehamilan Cinta sudah mendekati masa HPL. Dari prediksi dokter sekitar seminggu lagi Cinta akan melahirkan. Sementara kuliah wanita itu sudah mengambil cuti sebulan yang lalu, saat kehamilan Cinta masih menginjak delapan bulan. Mengandung anak kembar tentu berbeda dengan mengandung satu anak pastinya. Hal yang paling menonjol ialah ukuran perutnya yang pasti lebih besar dari kandungan biasanya.
Sebenarnya Cinta sudah mulai merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Punggungnya sedari pagi terasa sedikit nyeri, tetapi ia masih betah bertahan dan mencoba tetap tenang sambil bergerak santai didalam rumah. Bahkan Keanu dan juga ibu Ratih tidak tahu hal itu, karena Cinta yang sengaja tidak mengatakannya. Wanita itu hanya tidak ingin membuat orang rumah panik dan cemas kepadanya. Cinta takut, belum apa-apa sudah keburu dibawa ke rumah sakit. Sebab Cinta berkeinginan untuk melahirkan secara normal. Akan tetapi bila harus menemukan kendala lainnya, saecar pun tidak masalah buatnya.
Sedangkan Keanu sendiri pagi tadi seusai sarapan sudah berangkat ke resto. Itupun karena paksaan Cinta untuk Keanu berangkat kerja. Akhir-akhir ini Keanu sangat siaga menemani Cinta. Hanya hari ini ia pergi ke resto karena ada sesuatu hal yang harus segera diurus di sana.
Waktu perlahan beranjak siang. Cinta masih terlihat berjalan mondar-mandir di taman belakang rumah. Rasa mules di perutnya perlahan mulai terasa. Maka ia pun memutuskan untuk masuk ke kamar, bermaksud akan menghubungi Keanu, melihat yang dirasanya mirip seperti tanda-tanda mau melahirkan.
Sebelum mengambil ponselnya yang ia tinggal di atas nakas, Cinta lebih dulu masuk ke kamar mandi. Tiba-tiba ingin mengecek ********** yang terasa sedikit lengket. Dan benar saja, ada noda darah yang muncul di CD nya. Cinta semakin yakin jika itu pertanda akan melahirkan. Sekali lagi Cinta mengatur ritme nafasnya untuk tetap rileks. Begitulah yang ia pelajari dari dokter kandungan selama ia berkonsultasi kemarin.
Lalu Cinta keluar dari kamar mandinya, dan segera mengambil ponselnya, kemudian mendial nomor telepon Keanu.
"Iya, Sayang," sapa Keanu dari seberang sana.
"Mas, bisa pulang sekarang nggak?" kata Cinta masih bisa tenang.
"Bisa. Mm... Kamu tidak apa-apa kan?" Keanu sedikit curiga.
"Nggak pa-pa. Anak kamu nih kangen ayahnya," kilah Cinta. Sengaja Cinta menutupi, karena tidak ingin membuat Keanu panik saat di perjalanan nanti.
Keanu tertawa kecil mendengarnya. Sekilas melirik jam yang menempel di dinding ruang kerjanya, sudah waktunya istirahat siang memang. Mungkin istrinya itu ingin tidur siang, tetapi sedang mode manja ingin dikelon menurut Keanu.
"Cepetan ya, Mas," kata Cinta lagi.
"Iya, Sayang. Ini aku sudah siap-siap." Keanu mulai beranjak keluar dari ruang kerjanya.
"Mau nitip makanan nggak? Minuman mungkin?" tawar Keanu seperti biasanya.
"Nggak, Mas. Aku cuma mau kamu datang."
"Oke, istriku!"
"Hati-hati di jalan ya, Mas. Jangan ngebut. Aku sabar kok nunggu kamu," ucap Cinta sebelum akhirnya sambungan telepon itu berakhir.
Sambil menunggu Keanu datang, Cinta mulai menyiapkan beberapa keperluan yang harus ia bawa ke rumah sakit, seperti perlengkapan baju bayi yang sudah ia siapkan sebelumnya. Semua persiapannya sudah masuk dalam tas, tinggal menunggu kedatangan Keanu.
Hingga setengah jam kemudian, barulah Keanu tiba di rumahnya. Cinta yang sedari tadi menunggunya sambil berdiri di teras balkon kamarnya, tersenyum lega melihat kedatangan Keanu. Wanita itu lekas beranjak untuk membukakan pintu kamarnya. Tak lama setelah itu muncullah Keanu.
"Ayo, Mas," ajak Cinta tiba-tiba. Bahkan saat Keanu masih berdiri di ambang pintu kamarnya.
Keanu tercengang di tempat. Kenapa istrinya tidak sabar sekali menurutnya?
Cinta masuk ke kamarnya, untuk mengambil tas yang sudah ia siapkan. Keanu yang ternyata membuntutinya tentu langsung penasaran.
"Mau ke mana, Dek?" tanyanya melihat Cinta menenteng tas itu.
"Ke rumah sakit," sahut Cinta dengan tenang.
__ADS_1
Keanu langsung meraih tas itu dari tangan Cinta. Pria itu masih mematung di tempatnya, menatap lekat wajah Cinta yang terlihat tenang tetapi bibirnya sesekali digigit.
"Kamu nggak kenapa-napa kan, Sayang? Apa yang kamu rasakan?" kata Keanu sambil merangkum bahu Cinta. Wajahnya langsung berubah panik.
"Sepertinya hari ini aku mau melahirkan, Mas," jawab Cinta dengan tenang.
"Loh! Ayo cepat berangkat ke rumah sakit!" pekik Keanu begitu kaget.
"Ssssttt..." Cinta menautkan jari telunjuknya di bibir, meminta Keanu untuk tidak membuat keramaian.
"Kita berangkat diam-diam, Mas," pinta Cinta. Sungguh Cinta sangat ingin momen persalinannya hanya ditemani berdua oleh suami tercinta saja.
"Nggak pamit mama dulu?"
"Kelamaan, Mas. Nanti aja kita kabari kalau sudah di rumah sakit," kata Cinta sambil berjalan lebih dulu di depan Keanu.
Keanu hanya bisa menuruti kemauan Cinta. Baginya yang terpenting kenyamanan Cinta dulu maunya seperti apa.
"Masih kuat, Sayang?" Keanu memegangi pundak Cinta saat wanita itu mulai turun dari undakan tangga menuju lantai dasar.
Cinta mengangguk kecil. Sesekali wajahnya meringis kesakitan saat perutnya terasa kembali mules. Beruntungnya saat mereka berada di lantai bawah, mereka tidak menjumpai satu orang pun termasuk mbok Nah. Sedangkan ibu Ratih kemungkinan siang-siang begini sedang istirahat di kamarnya.
Hingga sampai Cinta sudah duduk tenang di mobil, mereka kepergok oleh pak Seto yang kebetulan sedang lewat.
"Mau ke mana, Den?" sapa pak Seto kepada Keanu.
"Mau ke rumah sakit, Pak. Tolong bilang sama mama," ujar Keanu.
"Mau periksa saja, Pak," kilah Cinta yang kemudian mengajak Keanu segera berangkat.
Kemudian mobil yang membawa mereka keluar dari rumah itu. Pak Seto yang masih curiga langsung masuk ke rumah untuk mencari mbok Nah. Dan ternyata mbok Nah terlihat keluar dari kamar ibu Ratih. Maka pak Seto langsung menemuinya.
"Ada apa?" tanya mbok Nah melihat wajah pak Seto yang terlihat panik.
"Nyonya mana?"
Mendengar namanya dicari, ibu Ratih keluar dari kamarnya.
"Ada apa, Seto?" tanya ibu Ratih.
"Ee... anu, Nyonya, barusan Den Keanu sama non Cinta ke rumah sakit," tuturnya langsung.
"Ke rumah sakit?" Ibu Ratih langsung melongo ke arah kamar anaknya.
"Kok mereka tidak bilang-bilang?" Ibu Ratih ikut curiga. Lalu ia mengambil ponselnya untuk kemudian menelpon Cinta.
"Nak, kamu tidak apa-apa kan?" tanyanya langsung begitu telponnya terjawab oleh Cinta.
"Tidak apa-apa, Ma. Mm... Aku minta do'a mama ya, kemungkinan hari ini aku mau lahiran," tutur Cinta masih bisa berbicara tenang walau kontraksi di perutnya semakin terasa.
__ADS_1
"Ya Allah Cinta... Kenapa kamu tidak ngomong ke mama, Nak?" heran ibu Ratih.
"Tidak apa-apa, Ma. Mama jangan panik begitu."
"Keanu mana?" Ibu Ratih bertanya Keanu karena kenapa bisa-bisanya ia juga tidak memberitahu dirinya.
"Lagi nyetir." Terdengar suara Cinta yang mendesis pelan, efek kontraksi nya terasa lagi.
"Baiklah, mama do'akan semoga lahirannya lancar. Kamu sehat dan cucu mama juga sehat. Tetap semangat ya, Sayang. Sebentar lagi mama susul," kata ibu Ratih. Lalu telpon mereka berakhir.
Bergantian Cinta juga menelpon ibunya. Wanita itu juga meminta do'a ibunya demi kelancaran proses bersalinnya. Ibu Rahayu yang mendapat kabar itu, tentu bahagia juga bercampur resah. Dan ibu Rahayu juga mengabarkan jika hari ini ia akan pergi ke Jakarta menemui Cinta.
Cinta dan Keanu sudah tiba di rumah sakit. Segera Cinta dibawa masuk ke ruang bersalin. Tak lama kemudian dokter yang biasa menangani Cinta datang, dan langsung memeriksa kondisi Cinta.
"Sudah pembukaan tiga," kata dokter itu.
"Apa bisa melahirkan normal, Dokter?" tanya Cinta.
"InsyaAllah bisa. Setelah diperiksa lagi tidak ada sesuatu yang fatal. Asal ibu kuat dan semangat, InsyaAllah bisa lahiran normal," jelas dokter itu.
Keanu yang senantiasa menemani Cinta sebenarnya sudah merasa tidak tega. Apalagi saat melihat wajah Cinta yang meringis menahan rasa sakit yang semakin terasa.
"Sayang, kalau tidak kuat ayo saecar," ucap Keanu. Ciuman sayangnya terus saja menghujam di kening Cinta.
"Aku kuat, Mas," jawab Cinta, tetapi cengkraman tangannya semakin mengerat di genggaman Keanu.
Berbagai kalimat dzikir terus saja dibaca oleh Cinta saat kontraksi nya semakin menjadi. Wanita itu pantang menyerah ingin melahirkan secara normal. Sedangkan Keanu tak terasa menitikkan air matanya, sangat tak tega melihat istrinya yang kesakitan seperti itu.
"Bilang kalau tidak kuat, Dek. Aku tidak tega melihatmu seperti ini," kata Keanu sambil sesenggukan. Pria itu sudah membuang gengsinya dan terus menangis meski ada suster yang turut menjaga di ruangan itu.
"Jangan menangis, Mas. Ah, calon ayah kok cengeng! Nanti saja nangisnya. Sekalian balapan nangis sama babby A." Cinta sengaja banyak bicara demi mengalihkan rasa sakitnya. Karena untuk nangis-nangis apalagi sampai teriak-teriak saat akan melahirkan, kok rasanya malu sekali.
"Ah, kamu masih bisa bercanda, Dek! Aku ini takut! Aku panik! Aku tidak tega lihat kamu begini. Tolong jangan kuat-kuatin kalau memang tidak kuat," omel Keanu. Tetapi kemudian ciumannya kembali bertandang di pipi Cinta.
"InsyaAllah aku kuat, Mas. Asal kamu tetap bersamaku."
"Suster, ini masih lama?" Keanu sudah tidak sabar, sehingga kembali bertanya kepada suster yang berjaga.
"Saya periksa dulu ya, Pak," kata suster itu.
"Ibu, apa sudah merasa seperti ingin pup?" tanya suster itu kepada Cinta.
"Sepertinya," Cinta menyahut ambigu.
Suster itu segera keluar ruangan untuk memanggil dokter.
"Mas, aku minta maaf ya... Maafkan segala salah dan dosaku selama ini. Tolong ikhlaskan aku jika terjadi apa-apa sama aku," kata Cinta dengan tulus kepada Keanu.
"Sayang, jangan bicara seperti itu. Kamu membuatku semakin takut." Tangisan Keanu semakin menjadi.
__ADS_1
Melahirkan anak ke dunia adalah perjuangan yang amat luar biasa. Bila akhirnya seorang ibu harus kehilangan nyawa saat melahirkan, Tuhan menjamin kematiannya adalah termasuk syahid. Dan wajar saja bila Cinta mengucap kata maaf kepada Keanu, karena apa yang akan terjadi padanya setelah ini semua misteri Ilahi.
*