
Flashback
Dua minggu sebelumnya....
Cinta tergugu dengan tangisannya di toilet tempat kerjanya. Gadis itu tidak sendiri, ada Hana sahabat karibnya yang sedang menemaninya saat ini.
"Sudah, Ta... Kamu harus rileks dulu pikirannya. Jangan panik gini. Sambil kita berdoa semoga ayahmu tidak kenapa-napa." ucap Hana, sambil mengusap lembut pundak Cinta memberinya rasa semangat.
Tetapi Cinta masih saja menangis. Gadis itu kelewat shocked saat sebelumnya sang ibu mengabari jika ayahnya mendadak drop dan saat ini sedang berada di rumah sakit.
"Tapi aku harus pulang secepatnya, Na." seru Cinta, sambil sesenggukan akibat menangis terlalu dalam.
"Iya, aku tahu. Masalahnya nggak mungkin kamu harus pulang malam ini juga kan? Jakarta Yogyakarta nggak dekat loh, Ta. Ini sudah malam. Kamu harus sabar nunggu besok pulangnya." Hana mencoba memperingati. Karena memang saat ini jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam, setidaknya kurang setengah jam lagi mereka akan selesai kerjanya.
Cinta menggeleng tak setuju. Sebelumnya gadis itu sering mimpi buruk tentang ayahnya, makanya setelah mendengar kabar ini Cinta langsung panik tak terkendali.
"Duh, mana abang Zayn nggak bisa dihubungi!" gerutunya, sambil terus mendail nomor Zayn berulang-ulang.
Kebetulan sudah tiga hari ini Zayn sedang berada di luar negeri demi menjalani bisnisnya. Tak tinggal diam Cinta juga berusaha menghubungi kakak iparnya, Ara, yang rupanya sambungan telponnya juga sedang tidak aktif.
Gadis itu semakin gusar. Pasti disana ibunya sangat sedih seorang diri. Kedua anaknya tak satu pun ikut menemani saat ini. Mendadak Cinta berdiri dan kemudian beranjak ingin keluar dari toilet itu tetapi kemudian berpapasan dengan Ratih saat membuka pintu utama toilet, yang kebetulan ingin ke toilet juga.
"Loh, Cinta?" sapanya panik, setelah melihat gadis itu berderai airmata.
"Apa yang terjadi?" tanyanya, bergantian memandangi Cinta dan Hana penuh tanda tanya tetapi keduanya sama-sama terdiam.
Ratih menghela nafas gundah. Wanita itu kemudian menuntun Cinta untuk duduk di kursi kosong tak jauh dari sana.
Cinta masih dengan tangisannya yang tak bisa surut. Seakan ia terlupa jika saat ini ia sedang diperhatikan langsung oleh ibu dari bos tempat ia bekerja di restoran ini.
"Ada apa, Cinta? Ayo coba cerita sama ibu." Ratih membujuknya. Ia sangat penasaran akan apa yang terjadi dengan pegawai kesayangan Ratih itu.
__ADS_1
Cinta masih bergeming. Mendadak dadanya terlalu sesak untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada ibu Ratih.
"Dia kenapa, Hana?" Ratih bertanya kepada Hana.
Wanita paruh baya itu memang dikenal begitu ramah meski dengan pegawai restoran milik anaknya itu. Hampir lebih dari separuh pegawainya disini Ratih tahu namanya satu persatu. Dan dengan Cinta sendiri Ratih memang lebih dekat, karena tak jarang Ratih mendapat perlakuan spesial dari Cinta. Padahal itu hanya tak tik Cinta demi bisa akrab dengan mama dari bosnya yang sejak dulu disukainya. Beruntungnya ibu Ratih sendiri belum tahu masalah Cinta yang naksir anaknya, Keanu.
"Cinta baru dapat kabar dari ibunya kalau ayahnya malam ini dirawat di rumah sakit." jelas Hana.
Ratih mengangguk paham. Lalu dengan isyarat matanya ia mengintrupsi Hana untuk segera kembali bekerja. Dan gadis itu pun langsung pergi dengan patuh.
Tiba-tiba Ratih merangkul pundak Cinta penuh kasih. Tangannya mengusap lembut memberinya tambahan semangat agar tidak sesedih seperti ini.
"Aku mau ijin cuti dulu, Bu." seru Cinta kemudian.
"Boleh," Ratih langsung menyetujui tanpa ini dan itu. Masalahnya masalah perijinan Cinta harus langsung mengatakan kepada sang pemilik restoran, yaitu bos Keanu.
Cinta berdiri, berniat akan menemui si bos saat ini juga.
"Mau menemui bos Keanu, mau langsung pamit sekarang."
"Sekarang? Malam ini juga?"
Cinta mengangguk.
"Maksud kamu berarti kamu mau langsung pulang malam ini juga?"
Cinta mengangguk lagi.
Ratih menghembus nafas beratnya. Tentu ia sangat keberatan jika Cinta harus pulang malam ini juga. Ia tahu jika gadis itu berasal dari Yogyakarta, tetapi ia masih belum tahu jika Cinta adalah adik kandung Zayn. Termasuk Keanu juga masih belum mengetahuinya.
"Jangan, jangan!" cegahnya langsung.
__ADS_1
Kening gadis itu langsung berkerut. Aura wajahnya semakin sedih mendapat penolakan ijin dari ibu si bos.
"Tapi aku sangat khawatir bagaimana kondisi ayah sekarang. Disana ibu sendirian, Bu. Abangku coba dihubungi nomornya nggak aktif terus." Kali ini Cinta sudah sedikit stabil. Tangisannya perlahan surut demi mendapatkan ijin dari ibu Ratih agar tidak mencegahnya karena rasa khawatir melihat Cinta yang terguncang begini.
Ratih mengulas senyum tipisnya. Sekali lagi ia mengusap lengan Cinta penuh kasih.
"Kalau kamu mau bersabar sampai besok, ibu yang akan antar kamu langsung." serunya, yang mendadak membuat Cinta tercengang saat mendengarnya.
"Kebetulan besok pagi ibu ada acara di Semarang. Kamu bisa bareng ibu. Kalau kamu tetap kekeh ingin pulang malam ini juga, ibu tidak mengijinkan. Kamu melanggar, maka ibu akan mengadu ke Keanu biar kamu dipecat sekalian." ujarnya penuh nada ancaman, padahal sebenarnya hanya sekedar gertakan.
"Sambil kita berdoa malam ini semoga ayah kamu tidak kenapa-napa dan segera diberi kesembuhan. Kamu mau menunggu sampai besok pagi kan? Ini demi keselamatan kamu juga." ujarnya sangat lembut.
Cinta terdiam sejenak. Apa yang dikatakan ibu Ratih memang benar. Ia terlalu panik sehingga tidak memikirkan keselamatan diri. Seorang gadis harus menempuh perjalanan jauh seorang diri malam-malam begini tentu sangat rawan dari hal berbahaya diluar sana.
Setelah berpikir cukup lama akhirnya Cinta mengangguk setuju. Ratih pun tersenyum lega mendapati gadis itu mau patuh dengan ucapannya.
Karena kondisi Cinta yang begitu Ratih menyuruh gadis itu pulang lebih awal, dengan syarat harus segera pulang ke rumah tidak belok kemana-mana. Cinta memilih menurut. Bersama Hana gadis itu akhirnya pulang lebih awal dari biasanya.
Keesokan harinya, pagi masih menunjukkan pukul lima. Tetapi mobil yang akan menjemput Cinta sudah menunggu di basemen apartemen, tempat Cinta tinggal selama ini. Selama memutuskan untuk kuliah disini, Cinta memang menempati apartemen Zayn bersama Hana yang tinggal bersamanya juga.
"Ma, buat apa kita masih kesini?" tanya Keanu, yang kebetulan akan ikut mamanya ke Semarang hari ini.
"Tunggu saja sebentar." seru sang mama, tanpa mau menjelaskan tujuan utamanya.
Pria itu berpikir sendiri. Ia sangat kenal lingkungan apartemen ini, sebab teman karibnya, Reno, juga tinggal di apartemen ini. Hanya saja yang membuat penasaran tentang seseorang yang ditunggu mamanya itu. Dilihat dari rautnya sepertinya sangat serius, hingga harus rela menunggu demi menjemput seseorang yang Keanu tak tahu itu siapa.
Setelah kurang lebih sepuluh menit menunggu, akhirnya yang ditunggu muncul. Seorang gadis yang tak asing lagi bagi Keanu datang mendekati mobil mereka sambil menenteng tas cukup besar ditangannya.
"Cinta!"
*
__ADS_1