
"Kenapa kamu bisa di sini?" selidik Keanu kepada Shelyn.
Pria itu terlihat masih shocked dengan kemunculan Shelyn yang tiba-tiba saja muncul dari dalam rumahnya. Tatapannya menyorot tajam sambil melipat kedua tangan di dada.
"Kamu lupa kalo semalam aku ikut kamu?" Shelyn balik tanya dengan santainya.
Wanita itu memilih duduk dengan nyaman di tepi ranjang Keanu, sembari mengusap-usap sprei nya. Intinya tangannya tidak mau diam.
"Tapi aku fikir kamu sudah pulang," seru Keanu dengan helaan nafasnya yang terasa entah.
"Bukannya kemarin aku sudah ngomong kalo aku mau menginap?"
"Aku kira bukan sekarang," balas Keanu.
"Jadi itu artinya semalam kamu sudah tidur disini?" Keanu ingin memastikan lagi.
Dan Shelyn hanya mengangguk sembari berjalan mendekat kepada Keanu yang sedari tadi betah berdiri cukup berjarak dengannya.
"Tidur dimana emang?"
"Di kamar tamu. Masa iya aku mau tidur sekamar bareng kamu. Emang tante Ratih sudah merestui?"
Tanpa ragu Shelyn memeluk tubuh Keanu. Merebahkan kepalanya pada bahu Keanu.
"Maaf, lepas, Shel." Keanu melepas tangan Shelyn, dan segera menggeser jaraknya dari Shelyn.
"Dih! Pas di resto aja mau di peluk-peluk. Giliran ada di kamar nolak. Takut tergoda ya?" sorot mata Shelyn mengerling nakal.
Dari dulu setiap berbicara Shelyn memang ceplas-ceplos. Dan Keanu tidak pernah menganggap penting omongannya itu. Pria itu segera beranjak menuju balkon kamar. Pikirannya mendadak kacau. Bukan karena adanya Shelyn, karena selama ini Keanu tidak pernah menganggap Shelyn itu penting. Tetapi bagaimana seandainya istrinya itu mengadu hal ini kepada mamanya.
Sumpah! Keanu tidak akan pernah sanggup membuat mamanya bersedih hati lantaran hal ini. Tanpa ia hiraukan kalau dirinya telah menoreh luka pada hati Cinta sebagai istrinya.
Wanita bernama Shelyn itu sebenarnya masih ada ikatan saudara dengan Keanu dari papanya. Makanya sudah wajar jika Shelyn tahu setiap seluk beluk rumah ini. Sudah dari dulu pula Shelyn menyukai Keanu, di tambah lagi adanya dukungan dari kedua orang tua Shelyn, membuat wanita itu tak peduli malu untuk selalu mendekati Keanu.
Bahkan pernah kedua orang tua Shelyn datang ke rumah Keanu menemui ibu Ratih mengungkapkan keinginannya untuk menjodohkan Keanu dengan Shelyn. Padahal saat papanya Keanu masih hidup, keluarga mereka seperti saling menjauh. Dari sini sudah bisa ditebak jika tujuan rencana perjodohan itu tak lain karena ingin menikmati kekayaan Keanu sebagai pewaris tunggal. Dan saat itu pula ibu Ratih menolak rencana itu. Hingga sampai Shelyn terpaksa di kirim ke luar kota demi menghindari rasa malu karena sudah di tolak.
Tak di sangka wanita itu tiba-tiba muncul lagi kemarin. Bahkan kedatangannya itu lebih nekat dari sebelumnya. Lebih agresif kepada Keanu. Bisa jadi masih mengincar perjodohan itu. Seandainya Shelyn tahu jika Keanu sudah menikah, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sepertinya wanita itu sudah tahu jika tidak ada ibu Ratih di rumah ini. Makanya ia dengan lancangnya menginap di rumah ini tanpa permisi terlebih dulu.
"Keanu." Panggil Shelyn dari dalam kamar.
__ADS_1
Keanu menoleh malas.
Terlihat wanita itu sedang mencari sesuatu di lemari pakaian Keanu. Segera pria itu mendekat, sangat geram merasakannya.
"Ngapain? Nggak sopan banget jadi orang."
Keanu menarik tangan Shelyn, kemudian mengunci pintu lemarinya.
"Mau pinjem pakaian kamu, aku harus ganti baju. Nggak enak rasanya, gerah pingin mandi," ujarnya santai seperti tidak pernah bersalah.
Keanu hanya melirik jengah, tetapi kemudian membuka kembali lemarinya untuk mengambil kaos miliknya.
"Setelah ini lebih baik kamu pulang." Keanu mengucapkannya sambil memberikan kaosnya kepada Shelyn.
Wanita itu tidak menyahut, tetapi langsung melesat masuk ke kamar mandi milik Keanu.
"Astaga! Kok mandi di sini sih, Shel?"
Shelyn menoleh sekilas. Senyum nakalnya terbit seketika.
"Mau mandi bareng nggak?" ucapnya tambah hilang rasa malu.
Keanu hanya bisa menghela nafas sepenuh dada. Lalu memilih keluar dari kamar itu secepatnya. Selagi wanita nekat itu tidak bertambah nekat.
"Dimana dia?" gumamnya resah sambil terus mencari ke seluruh ruang yang ada di lantai bawah.
Keanu berpikir secepatnya ia harus menjelaskan hal ini kepada Cinta, mumpung tak sampai terdengar ke telinga ibu Ratih.
Puas mencari hampir di seluruh ruangan, pria itu naik lagi ke lantai atas menuju kamar Cinta. Tetapi di sana pria itu masih belum menemukan dimana keberadaan istrinya itu.
"Apa dia beneran kabur?" Mendadak pikirannya mulai was-was.
Segera pria itu kembali ke kamarnya untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di sana. Begitu mengaktifkan kembali ponselnya, notif panggilan tidak terjawab dari mamanya muncul berderet-deret.
"Sial! Pasti dia udah ngadu sama mama," gumamnya dengan menuduh Cinta.
Tetapi kemudian pria itu membuka satu pesan masuk dari Cinta sekitar sepuluh menit yang lalu. Seketika menghela nafas lega begitu tahu kalau Cinta hanya pergi ke mini market.
Sedangkan Cinta sendiri sudah selesai berbelanja kebutuhan penting milik perempuan. Termasuk beberapa stok pembalut, karena memang lagi mens. Saat sedang mengantri di kasir akan membayar belanjaannya, tiba-tiba seorang pria yang sudah di kenalnya itu membayarkan belanjaannya cuma-cuma.
"Santai, anggap saja rezeki anak soleha," ucap Reno lengkap dengan senyumnya yang meneduhkan.
__ADS_1
Cinta hanya mengangguk kikuk. Sejujurnya ia sangat sungkan menerima pemberian Reno, berhubung isi dompetnya yang pas-pasan, maka terpaksa Cinta menerimanya. Selama menjadi istri Keanu, Cinta memang tidak pernah diberi nafkah atau uang belanja olehnya. Entah lupa atau sengaja, tetapi Cinta sangat malu untuk meminta haknya itu.
"Setelah ini mau ke mana?" tanya Reno saat mereka sudah ada di luar mini market itu.
"Mau langsung pulang, Kak."
"Temani aku sarapan mau?"
Cinta menatap heran kepada Reno. Selama mereka saling mengenal, sebelumnya Reno tidak pernah affair begini. Apa karena ia sudah menjadi istrinya Keanu, makanya Reno begini menurut Cinta.
"Ee... Gimana ya, Kak."
"Ayolah... Aku sudah cukup lapar. Rasanya tidak enak setiap hari makan sendiri."
Tiba-tiba saja Reno mengambil kantong belanja Cinta, membuka mobilnya kemudian meletakkan belanjaan milik Cinta.
"Nggak jauh kok, cari yang dekat-dekat sekitar sini," ujarnya yang kemudian menuntun Cinta untuk masuk ke mobilnya.
"Trus motorku gimana?"
"Gampang."
Lalu Reno beranjak mendekati kang parkir. Terlihat bicara serius, tetapi kemudian tersenyum simpul saat sudah selesai berbicara.
"Gimana, Kak?" tanya Cinta saat mereka sudah sama-sama berada dalam mobil.
"Semuanya beres," ucapnya sambil tersenyum manis.
Setelah itu mereka pergi mencari rumah makan yang buka pagi-pagi begini. Sebenarnya Cinta bisa menolak ajakan Reno, tetapi pikirannya yang masih ingat dengan wanita lain di rumahnya membuat gadis itu menjadi enggan untuk pulang.
"Kak Reno kok bisa ada di mini market tadi? Maksudku... Tadi kakak mau belanja kan, cuma belanjanya mana kok nggak ada?" selidik Cinta, baru nyadar kalau Reno tidak membeli apa-apa di mini market tadi.
Reno menggeleng kepala sembari tersenyum manis.
"Aku memang kebetulan lewat, nggak sengaja lihat kamu masuk ke situ jadi aku ikutan masuk," ujarnya yang sesungguhnya.
"Ah, demi apa coba? Aneh!" gerutu Cinta, tetapi masih bisa didengar oleh Reno.
"Demi kamu," balas Reno sangat tenang.
Mendadak Cinta terdiam. Sahabat suaminya itu menjadi aneh sejak kemarin.
__ADS_1
"Canda, Ta. Jangan diem gitu, berasa aku bareng patung saja jadinya." Reno bersuara lagi sambil mengacak lembut pada kepala Cinta.
*