
Cinta tertegun di tempat begitu melihat ibu Ratih kembali mengunci mereka dalam satu kamar. Sedangkan Keanu hanya bisa menahan gemas karena merasa seperti anak kecil saja di kurung begini oleh mamanya.
"Gimana ini, Mas?" tanya Cinta merasa serba salah seharian ini telah membuat perasaan suaminya marah.
Keanu tak menyahut apa-apa. Pria itu melangkah ke balkon lagi untuk bisa menghirup udara dengan lega, agar tak seperti perasaannya yang saat ini terasa kacau.
Sedangkan Cinta masih terdiam di tempat. Sejujurnya gadis itu sudah merasa sangat tidak nyaman dengan kondisi badannya yang terasa sangat lengket. Ia harus segera mandi, tetapi masih ragu karena melihat paras suaminya yang kentara tidak suka dirinya berada di kamar itu.
Akan tetapi jika ia tetap begini bukankah Keanu nanti akan bertambah risih kepadanya. Dalam diam Cinta memiliki ide untuk bisa menyapa suaminya lagi. Perlahan gadis itu mendekat kepada Keanu.
"Mas," sapanya.
Keanu menoleh. Melihat Cinta sedang membawa makanan yang di bawa ibu Ratih tadi.
"Jangan lupa makan, setelah ini waktunya minum obat," ucap Cinta penuh perhatian.
Keanu mengangguk samar. Lalu Cinta meletakkan makanan itu di meja yang ada di balkon itu.
Sekilas Keanu menatap kepada Cinta sambil memicingkan matanya. Membuat gadis itu seketika salah tingkah.
"Apa kamu tidak mau mandi?" tanya Keanu tiba-tiba.
Cinta tercengang seketika.
"Bau ya, Mas?" Gadis itu menciumi keteknya sendiri di depan Keanu. Membuat pria itu melongo tak percaya melihat kelakuan Cinta yang begitu.
"Apa aku boleh numpang mandi di kamar mandinya, Mas?"
Keanu masih tercengang. Sebegitu polos kah istrinya itu, sehingga harus berpamitan terlebih dulu hanya untuk mandi di rumah ini? Atau apakah dia sadar diri dengan kelakuan Keanu yang membuat jarak berpisah kamar dengannya, sehingga merasa tidak nyaman jika tidak pamit dulu pada yang punya kamar?
Cinta menatap penuh harap kepada Keanu. Lalu akhirnya Keanu mengangguk dan melihat gadis itu segera melesat masuk ke kamar mandi.
Begitu di kamar mandi, gadis itu segera melucuti pakaiannya dan mengguyur badannya yang sangat tidak nyaman penuh keringat. Hingga melupakan pakaian ganti yang semestinya harus ia siapkan lebih dulu. Sedangkan Keanu saat itu sedang menyantap makan malamnya. Hingga sampai makanannya itu habis ia masih tidak melihat Cinta keluar dari kamar mandi.
Ceklek.
Pintu kamar itu terbuka lagi. Lekas Keanu beranjak mendekat kepada mamanya yang datang lagi sambil menenteng sekantong belanjaan di tangannya.
"Ini punya Cinta kan?" Ibu Ratih memberikan kantong belanjaan itu kepada Keanu.
"Itu ada di motor mama. Tadi aku nyuruh pak Seto buat cari motor mama, nggak tahunya kalian tinggal di mini market seharian, untung nggak hilang," ucap ibu Ratih yang kemudian pergi lagi tanpa mau menunggu Keanu bicara.
Dan lagi, wanita itu kembali mengunci pintu itu.
"Mama!" Keanu mengetuk-ngetuk pintunya dari dalam, berharap mamanya akan kembali dan membuka pintu itu lagi.
Pria itu semakin geram sendiri melihat kelakuan mamanya. Seperti ini seharusnya lebih baik di bicarakan tanpa harus menguncinya di kamar. Karena ini sungguh bukan lelucon buatnya yang sudah bukan anak remaja labil lagi.
Saat pria itu membalik badan ia di buat kaget oleh Cinta yang hanya menongolkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi.
"Ngapain di situ?" umpatnya kesal karena sudah di buat kaget.
__ADS_1
"Aku lupa bawa baju ganti, Mas. Hehe..." ucap Cinta sambil cengengesan.
Keanu merotasi bola matanya jengah. Ada-ada saja.
"Bisa minta tolong ambilin?" pinta gadis itu.
Meski tak menyahut tetapi Keanu mau mengambilkannya. Pria itu membuka koper milik Cinta dan mengambil baju sekenanya. Dan segera memberikannya kepada Cinta.
"Terimakasih, Mas. Tapi masih ada lagi, boleh?"
"Apa lagi?" sahutnya malas.
"Ee... Itu," tunjuk Cinta pada kantong belanja yang tadi di pegang Keanu.
Pria itu segera mengambilnya tanpa banyak protes. Lalu menyerahkan kantong belanja itu kepada Cinta.
"Tapi masih ada lagi," ucap Cinta saat sudah menerima kantong berisi pembalut yang di belinya tadi pagi.
"Astaga! Apa lagi, Cinta!" geram Keanu.
"CD," ucap Cinta terasa ambigu bagi Keanu.
"CD?"
Cinta mengangguk malu. Belum pernah selama ini gadis itu menyuruh siapa pun mengambilkan barang intim miliknya. Semoga saja pria itu mau menolongnya, karena memang Cinta sangat butuh untuk memakai pembalut nya saat ini.
"Buat pake ini, Mas." Cinta menunjukkan pembalut di tangannya, karena suaminya itu sepertinya tidak paham dengan istilah CD yang ia katakan.
"Tolong, Mas. Aku udah nggak nyaman nih, harus cepat pake," mohon Cinta lagi.
Pria itu menghentak nafasnya dengan kasar. Tiba-tiba merasa dilema sendiri. Jika tidak membantunya kasihan juga. Tapi bila membantunya, masa iya mau pegang-pegang benda yang tak pernah di pegang olehnya sama sekali.
"Ya sudah kalau kamu nggak mau bantu. Aku ambil sendiri nih ya, nggak jamin loh kalau entar netes-netes di lantai," ujar Cinta sambil mendorong pintu kamar mandinya berniat akan mengambil sendiri.
"Eh, stop! Stop! Diam di tempat!" Keanu menahan pintu itu agar Cinta tetap di tempat.
Segera pria itu mengobrak-abrik isi koper Cinta lagi, tetapi benda keramat itu tidak di temukan di sana.
"Nggak ada, Ta," ucap Keanu sedikit berteriak.
"Masa sih, Mas,"
Keanu memasukkan kembali pakaian Cinta ke koper itu dengan asal.
"Coba telpon mama deh, Mas. Tadi mama kan yang bawa barang-barang aku ke sini," usul Cinta.
Pria itu beranjak untuk mengambil ponselnya.
"Pake hape aku aja, Mas. Tadi kamu nelpon nggak di jawab kan sama mama."
Pria itu meletakkan ponselnya, beralih mengambil ponsel milik Cinta.
__ADS_1
"Password nya apa?" tanya Keanu karena ponsel milik Cinta ternyata menggunakan password.
"Tanggal lahir kamu," jawab Cinta yang membuat pria itu tertegun sesaat.
Tetapi pria itu tak mau ambil pusing perihal Cinta menggunakan tanggal lahirnya sebagai password ponselnya. Kemudian segera pria itu mendial nomor telpon mamanya.
"Mama, tolong cepat ke kamar. Penting!" ucap Keanu setelah telponnya di jawab oleh mamanya.
Ibu Ratih tak menyahut apa-apa dan segera mengakhiri sambungan telponnya. Tetapi meski begitu ibu Ratih beranjak menuju kamar Keanu.
"Ada apa, Ken?" tanya ibu Ratih sambil berdiri dari ambang pintu kamar Keanu.
Keanu mendekat, tetapi ibu Ratih menghalangi jalannya agar pria itu tidak bisa keluar dari kamarnya.
"Aku butuh ambil sesuatu di kamar sebelah," ucap Keanu pada mamanya.
"Nggak usah alasan. Kamu masih dalam masa hukuman dari mama, jadi nggak bisa keluar dari kamar seenaknya," jelas ibu Ratih.
Keanu menggaruk kepalanya. Bingung bercampur malu kalau harus terus terang mengatakan apa yang akan di ambilnya itu.
"Tapi kalau kamu mau merubah sikap kamu sama Cinta, memperlakukan Cinta selayaknya istri kamu, baru kamu bisa bebas dari hukuman ini."
"Iya, aku akan berubah, tapi pelan-pelan," pasrah Keanu pada akhirnya. Dari pada harus terus terkunci di kamar, jalan satu-satunya berdamai dengan keadaan.
Ibu Ratih menyunggingkan senyumnya dengan riang.
"Sekarang aku boleh keluar kan?"
"Mau ambil apa sih? Bukannya barang-barang kamu ada di kamar kamu semua?" tanya ibu Ratih penasaran.
"Punya Cinta, Mama," pria itu menyahut gemas.
"Apaan?" ibu Ratih mengikuti Keanu masuk ke kamar sebelah, yang sebelumnya di tempati oleh Cinta.
Keanu tidak menyahut lagi. Pria itu segera membuka lemari yang ada di kamar itu dan mencari benda keramat milik Cinta yang tertinggal di sana.
Begitu menemukannya ia pun menunjukkannya kepada ibu Ratih tanpa sungkan.
"Ini yang aku cari. Pake curigaan segala sampai ngikutin ke kamar," ucap Keanu sambil lalu melangkah keluar dari kamar itu.
"Keanu," panggil ibu Ratih.
Keanu menoleh sejenak.
"Pelan-pelan ya, mainnya jangan kasar, kasihan Cinta," seloroh ibu Ratih salah duga.
"Astaga, Mama! Jangan mesum deh. Cinta lagi dapet, Mama...."
"Ooh... Ya sorry kalau gitu."
*
__ADS_1