Cinta Milik Keanu

Cinta Milik Keanu
Part 84


__ADS_3

"KB?"


Reno mendengar dengan jelas saat Hana menanyakan soal Cinta menggunakan KB atau tidak. Pria itu semakin penasaran jadinya, sehingga semakin memfokuskan diri untuk menguping pembicaraan Cinta dan Hana, tentu dengan berpindah duduk agar bisa mendengarkan dengan maksimal.


"Cinta, kamu pakai KB?" tanya Hana sekali lagi, karena Cinta hanya diam saja.


"Kenapa kamu bisa tanya aku pakai KB apa nggak?" Cinta malah balik tanya.


"Kelihatan dari ekspresi wajah kamu tuh. Aku singgung soal bayi, kamunya datar aja. Nggak siap apa memang nggak mau?" Hana bertanya semakin intens.


"Sok tahu kau!" ucap Cinta, berusaha menepis tanggapan Hana barusan.


"Aku serius nih. Kebanyakan nih ya, pengantin baru yang KB atau nggak itu gampang bedanya. Mereka yang nggak makai, rata-rata nggak sabar nunggu kapan mereka akan memiliki anak, kalau yang makai KB, yaa... Kayak kamu ini contohnya," jelas Hana, sesuai dengan pengalaman sekitar yang sering di jumpainya.


Lalu Cinta menghentak nafasnya dengan kasar. Apa sekentara itu wajahnya, sehingga sangat mudah di tebak oleh Hana tentang dirinya yang memakai KB.


Sejenak mereka sama-sama diam. Apalagi kebetulan pesanan makanan mereka sudah datang.


"Minum, Ta, biar nggak spaneng," seru Hana, perkataannya itu seakan langsung ngena ke hati Cinta yang sedang galau.


Lalu mereka sama-sama menikmati minuman dingin itu. Setelahnya keduanya sama-sama diam lagi, sama-sama tak ada yang mau memulai makan, meski makanan yang mereka pesan sudah tersedia di meja mereka.


Perlahan Hana meraih tangan Cinta yang sedari di perhatikan kentara gelisah, jemarinya mengetuk-ngetuk kecil pada meja itu.


"Ada apa-apa jangan di pendam sendiri. Aku siap dengerin, kalau kamu mau cerita. Kalau nggak mau cerita, seenggaknya jangan kayak gitu mukanya, kayak orang lagi putus cinta aja, mendung lihatnya."


Cinta tersenyum getir menanggapinya.


"Aku memang makai KB, Na," jujur Cinta kemudian.


Hana tertegun mendengarnya. Tetapi ia tidak boleh berburuk sangka sebelum sahabatnya itu bercerita soal kenapa harus menunda memiliki momongan. Bukankah tujuan menikah itu diantaranya untuk memiliki keturunan, sebagai bukti cinta, juga bisa menjadi penguat dari sebuah ikatan pernikahan.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Hana dengan lembut.


Cinta tidak menyahut. Wanita itu malah menundukkan wajahnya, kentara sekali jika sedang memikirkan sesuatu yang mungkin ia masih tidak mau menceritakannya.


Dan Hana pun menghela nafasnya dengan panjang. Gadis itu mengambil minumannya dan kemudian menenggaknya lagi. Setelah itu kembali menatap Cinta yang juga ikut menyeruput minumannya dengan tanpa minat.


"Tapi suami kamu tahu soal ini kan? Aku tuh khawatir nya kamu pake KB diem-diem, tanpa setahu suami kamu. Kalau itu benar iya, kamu dosa besar, Ta."


Antara Cinta dan Hana sudah biasa saling menasehati satu sama lain. Tetapi soal Cinta yang memutuskan menggunakan KB, rupanya nasehat yang mengandung peringatan dari Hana itu tak masuk ke hati Cinta. Wanita itu tetap memutuskan akan menggunakannya, sampai nanti hatinya sudah tidak ragu lagi dengan cinta suaminya itu.


"Suatu saat kamu pasti tahu sendiri kenapa aku melakukan ini," ucap Cinta di buat tenang, padahal dalam hati galau luar biasa.


Lagi-lagi Hana menghembuskan nafasnya dengan kasar. Semua keputusan itu memang mutlak hak masing-masing. Dan Hana tidak bisa mencampuri keputusan itu, walau sejujurnya ia merasa sayang Cinta melakukan hal itu.


"Katanya cinta, tapi kok masih nolak hamil?" kata Hana lagi. Saat ini mereka berdua sudah mulai menikmati makanannya.


Cinta menanggapi pertanyaan sahabatnya itu hanya dengan tersenyum tipis.


Sedangkan Reno yang juga mendengar obrolan mereka itu, hatinya kembali berbalik arah untuk kembali mengambil Cinta dari Keanu. Pria itu meyakini kalau sebenarnya Cinta tidak benar-benar bahagia bersama Keanu. Memang akhir-akhir ini ia menjumpai Cinta dan Keanu bersikap mesra, siapa tahu bagaimana mereka di rumah kan?


Hana yang tak sengaja melihat Reno berjalan ke arahnya, seketika membulatkan matanya, kaget dan tidak menyangka.


"Duh, jangan sampai kak Reno ikut gabung entar," batin Cinta bermonolog was-was.


Dan benar saja, Reno berhenti tepat di samping mereka.


"Hai!" sapa Reno.


Cinta yang semula sedang tidak memperhatikan sekitar karena sangat menikmati makanannya, ikut menoleh saat mendengar suara yang sudah tidak asing lagi menyapanya.


"Kak Reno!" pekik Cinta tak percaya akan kemunculan pria itu.

__ADS_1


Lalu Cinta menoleh ke sekitar. Tiba-tiba was-was saja perasaannya.


"Boleh gabung nggak?" tanya Reno, tetapi sepertinya percuma, karena Reno sudah duduk meski mereka belum mengijinkan.


"Kak Reno sudah dari tadi?" tanya Hana. Gadis itu juga merasa cemas, takut obrolan intens mereka tadi Reno mendengarnya.


"Baru saja. Aku tadi ada janji sama teman di cafe sana," dusta Reno sambil menunjuk pada sebuah cafe yang berseberangan dengan cafe yang mereka berada saat ini.


"Ooh...." Perasaan Hana sedikit lega mendengarnya.


"Ta, kok diem terus, nggak enak badan?" tanya Reno basa-basi.


Meski tahu kalau ekpresi Cinta seperti orang keberatan akan kemunculannya, tetapi Reno sudah tidak peduli itu. Baginya, demi mendapatkan kebahagiaan itu harus di perjuangkan dengan sungguh-sungguh. Berhubung wanita yang dicintainya adalah istri orang, jadi harus dengan pelan-pelan Reno akan mengalihkan perhatian wanita itu agar nanti bisa menoleh kepadanya. Walau sadar rasa cintanya itu salah, tetapi Reno juga tidak mau dirinya akan di cap sebagai pebinor. Cepat atau lambat, Reno yakin suatu saat Cinta akan sadar akan keberadaannya. Dan akan menyesali selama ini telah mencintai Keanu.


Cinta merespon pertanyaan Reno dengan tersenyum tipis. Jujur, wanita itu masih shock dengan kemunculan Reno. Padahal tadi saat di kampus, Cinta sangat senang karena ternyata Reno tidak ada di sana. Nyatanya mereka harus bertemu lagi di sini. Bersyukurnya lagi mereka bertemu di tempat umum, yang juga ditemani Hana yang bisa diandalkan menjadi saksi, bila kemungkinan ada hal buruk yang menggosip kan keberadaan mereka seperti saat ini.


"Atau apa kamu sudah isi ya, kok pucet gitu?" Entah apa maksud Reno bertanya seperti itu.


Yang pasti saat mendengar pertanyaan Reno itu, seketika Cinta mengangkat wajahnya, menatap penuh tanya kepada Reno.


"Kenapa, Ta?" Reno yang menyadari tatapan aneh Cinta, bertanya penasaran.


Cinta meletakkan sendok garpu yang semula di pegangnya, lalu menatanya dengan rapi di atas piring makanannya.


"Maaf, Kak, aku pamit duluan. Kalian bisa ngobrol dengan santai," pamit Cinta langsung.


"Hana, habisin makanannya," ucapnya kepada Hana saat melihat gadis itu ikutan akan beranjak.


Lebih baik dirinya yang menghindar, kalau Reno sudah di beri kode tidak paham, maka Cinta lah yang harus mengalah pergi.


"Tunggu, Ta!" Spontan Reno meraih tangan Cinta, mencegah wanita itu pergi.

__ADS_1


"Ada apa lagi?" Cinta mendadak dongkol dengan kenekatan Reno yang berani menggenggam tangannya tanpa permisi.


*


__ADS_2