
Sebelumnya othor minta maaf karena sempat libur nggak up lumayan lama. Bukan mau hiatus, pantang bagi othor bikin cerita hiatus walau sepi pembaca. Hiks... Mengsedih😬
So, mari lanjut baca Readersku...
Semoga kalian masih ingat alur ceritanya. Dan kalaupun sudah lupa, monggo baca lagi dari awal. Hiyyaaaaak....🙈
Masih flashback
Keanu turut serta mengantar jenazah Malik hingga di kediamannya. Bahkan pria itu sampai terpaksa membawa Cinta ke dalam mobilnya sendiri karena gadis itu masih histeris tak mau berhenti. Sedangkan sang mama dan ibu Rahayu ikut dalam mobil jenazah.
Si putra sulung Zayn, hingga saat ini masih berada dalam perjalanan. Tetapi pria itu sudah mendengar kabar duka itu setelah dikabari oleh Cinta. Makanya ia memilih langsung menuju rumahnya, setelah tahu kalau ayahnya sudah dibawa mobil pengantar jenazah ke rumah.
Tangis histeris semakin pecah dari beberapa kerabat yang menunggu di rumah tatkala jenazah Malik sudah tiba. Cinta, anak yang paling manja kepada sang ayah sampai lemah tak sadarkan diri saat kaki itu menapak diteras rumahnya. Beruntung saja Keanu masih berdiri tak jauh didekatnya, hingga tubuh gadis itu masih bisa tertangkap oleh tangan Keanu. Dengan spontan pria itu langsung membopongnya seorang diri, juga merebahkan tubuh Cinta dikamarnya, sesuai arahan salah satu pihak keluarga.
Suasana semakin panik saat ternyata Rahayu ikut tak sadarkan diri. Dengan sekuat hati seluruh kerabat saling membantu, hingga saat Rahayu kembali sadar sudah sedikit tenang oleh keberadaan kerabat yang saling menguatkan.
Suasana di rumah itu begitu kelabu dengan duka. Sebagian kerabat sudah mulai membaca doa kebaikan untuk almarhum, sebagian lagi bergerak mempersiapkan keperluan jenazah untuk dimakamkan.
Selang beberapa menit kemudian Zayn beserta istri sudah tiba di rumah. Pria itu langsung duduk bersimpuh disamping jenazah sang ayah, juga dengan linangan airmatanya yang terkuras deras. Gumaman kata maaf terus ia lontarkan penuh sesal. Sungguh rasanya teramat mengiris hati tidak dapat menemani saat-saat terakhir bersama orang terkasih.
Ara, istri Zayn, masih lebih kuat dibanding suaminya. Tentu ia juga merasa kehilangan, sama seperti yang dirasa oleh Zayn. Tetapi untuk meratapinya tak mungkin wanita itu lakukan disamping jenazah, sebab ia pernah mendengar hal itu tak baik dilakukan.
Perlahan wanita itu menarik bahu Zayn untuk lebih berjarak dengan sang ayah. Lalu membawa tubuh itu masuk ke dalam pelukannya.
"Sabar, Mas. Ikhlaskan Ayah. Ayah sudah sampai pada janji Tuhan. Kita yang masih hidup teruslah mendoakan agar ayah bisa dengan tenang menghadap Tuhan. Juga bisa menempati syurganya di sana." Ara membisik lirih kepada Zayn.
Berulangkali pria itu mengucap kata istighfar, kata mohon pengampunan, karena masih tidak mengikhlaskan kepergian sang ayah, walau sebenarnya itu sudah menjadi garis hidup setiap yang bernyawa.
Setelah merasa sedikit tenang, pria itu beranjak berdiri untuk mengambil air wudhu. Sebelum itu ia menjumpai ibunya tengah menangis lirih sembari membaca kitab suci tak jauh dari samping Malik berbaring. Ia memilih menyapa ibunya terlebih dulu.
__ADS_1
"Zayn, ayah sudah tidak ada, Nak." lirih Rahayu, saat Zayn membawanya dalam dekapannya.
Zayn hanya mengangguk. Dan linangan airmata itu kembali menetes dipipinya.
"Ikhlaskan ayah ya, Nak. Tolong juga maafkan ayah, kalau ayah pernah berbuat salah sama kamu." Seakan sebagai perwakilan Malik, Rahayu mengucapkannya dengan sangat lirih.
Zayn mengangguk lagi. "Aku ikhlas, Bu. Aku menyesal karena belum sempat bilang maaf sama ayah. Aku banyak dosa. Aku sering mengecewakan ayah." serunya, teringat kembali saat dimana dirinya dihadapkan masalah pelik sebelum menikah dengan Ara.
Rahayu melepas dekapannya. Ia mengusap lembut airmata dipipi Zayn dengan jarinya yang sudah renta.
"Ayah sudah memaafkan kamu." lanjutnya, sembari tersenyum lirih menatap wajah Zayn.
"Cinta dimana, Bu?" Giliran Ara yang bertanya. Wanita itu sedari tadi celingukan mencari adik iparnya yang tiada tampak di ruangan ini.
"Cinta di kamarnya. Tadi pingsan, tetapi sudah dijaga oleh--"
Zayn langsung berlari kecil menuju kamar Cinta. Hingga tak menghiraukan lagi perkataan dari kerabat lain yang menjelaskan keberadaan Cinta. Disusul Ara turut mengejarnya. Sejujurnya wanita itu takut jika suaminya akan bertindak berlebihan, disaat kondisi hatinya yang sedang begini.
Dua orang yang kebetulan menemani Cinta langsung menoleh kepadanya.
"Keanu?" Zayn terperangah ditempat.
"Tante Ratih?" Ara pun tak kalah kaget menjumpai keberadaan mereka di kamar Cinta.
Keanu dan Ratih tak kalah kaget. Dari sini mereka baru tahu jika Cinta adalah adik kandung Zayn. Segera pria itu berpindah duduk sedikit menjauh dari Cinta, setelah sebelumnya tetap setia menunggu disampingnya.
"Cinta. Dek, bangun!" Zayn mengguncang pelan bahu Cinta, berharap sang adik segera sadarkan diri.
"Biarkan Cinta begitu, Mas. Dia hanya sedang shocked. Jika alam sadarnya sudah sedikit tenang, pasti Cinta akan sadar lagi." Ara mencoba menenangkan.
__ADS_1
Zayn tak menyahut. Tangannya terulur untuk membelai kepala sang adik penuh kasih. Setelah kepergian sang ayah, mulai detik ini pula pria itu akan menjadi pengganti penanggung jawab segala keperluannya.
"Mm, aku sudah telpon dokter. Tetapi masih belum sampai sepertinya." terang Keanu, ikut bersuara walau sebenarnya hati masih kaget dengan keadaan didepannya.
Zayn bergeming. Tetapi sorot matanya menajam kepada Keanu. Seandainya tidak sedang berduka, mungkin ia akan mencincang segala pertanyaan kepadanya. Tentang mengapa Keanu dan sang mama bisa berada di rumah ini juga.
"Ayo, Mas, kita ambil wudhu. Kita bacakan doa buat ayah." Ara segera mengalihkan. Wanita itu paham betul bagaimana hubungan Zayn dan Keanu yang tak pernah harmonis. Makanya ia mengambil cara begitu demi menghindari perang dingin antara keduanya.
Zayn langsung berdiri ditempat, tetapi belum bergeser sejengkal pun.
"Jangan khawatirkan Cinta. Biar tante dan Keanu yang akan menemani disini." ujar Ratih.
Ara mengangguk mengiyakan. Sedangkan Zayn masih berparas dingin. Aura itu kembali terpasang setelah tak sengaja bertemu dengan mantan rivalnya dulu.
Hingga sampai Ara menarik paksa lengan Zayn, barulah pria itu berpaling ke yang lain dan mengikuti tuntunan langkah sang istri untuk mengambil air wudhu.
"Ken, sumpah mama kaget. Jadi ternyata Cinta adiknya Zayn?" Ratih langsung berkata saat melihat Zayn dan Ara sudah keluar kamar.
Keanu mencebikkan kedua bahunya. Pria itu tak berani menebak, meski jawabannya akan sama seperti yang Ratih pertanyakan.
"Mmf.... Ayah.." Cinta mulai mengigau, terus memanggil sang ayah tanpa sadar. Disaat bersamaan seorang dokter wanita yang dihubungi Keanu telah tiba dan segera duduk disamping gadis itu terbaring lemah.
Perlahan dokter itu mulai memeriksa kondisi Cinta. Walau sebenarnya agak kaget reaksinya saat datang kerumah ini. Orang pingsan ketika sedang berduka, bukankah wajar? Yang terpenting ketika tersadar nanti, teruslah menyemangatinya tanpa kendor.
"Dia tidak kenapa-kenapa. Hanya butuh istirahat saja," jelas ibu dokter kepada Ratih dan Keanu.
Bahkan setelah dokter itu memberikan sebuah resep obat vitamin untuk Cinta, pria itu ikut mengantar dokter itu hingga masuk mobilnya. Sebelah tangannya melambai turut mengantar kepulangan dokter itu.
"Eh, dia mantunya bu Rahayu ya?" bisik dua orang yang kebetulan lewat disamping Keanu.
__ADS_1
*