
Mendapat lirikan tajam dari Gita membuat Brandon menjadi salah tingkah. Niat hati ingin mendekati pujaan hati gagal sudah karena tiba-tiba nyalinya menciut.
Brandon yang selama ini tidak memiliki pengalaman mendekati seorang perempuan, tiba-tiba harus menurunkan egonya mengejar cinta sang pujaan hati.
"Numpang ngapain? Itu kamar mandi kalau mau numpang buang air," ucap Gita setelah diam beberapa saat.
"Bukan itu! Numpang makan ma tidur, boleh?" tanya Brandon.
"Ehh... hotel banyak, Bang! Masak seorang pengusaha nggak mampu bayar sewa hotel, nggak mungkin 'lah," teriak Gita kesal dengan wajah cemberut.
"Hahaha... ternyata belum berubah. Masih bisa dengan mudah dikerjai!" ejek Brandon sambil tertawa lepas.
Gita diam melihat Brandon yang tertawa lepas seperti tak ada beban.
"Ck! Abang pergi aja deh, kalau nggak ada yang mau dibicarakan! Buang-buang waktu saja." usir Gita kesal karena dikerjai oleh Brandon. Gita berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Silakan, Bang!" ucap Gita ketus.
Wajah Brandon pias, tidak menyangka Gita akan marah dan mengusirnya betulan.
__ADS_1
"Jangan marah, dong! Abang cuma bercanda, sudah lama kita nggak bercanda," pinta Brandon memelas.
"Kapan Abang ngajak bercanda Gita? Perasaan Abang gak pernah ngajak bercanda Gita, yang ada setiap hari Gita dijutekin mulu ma Abang!" skak Gita ketus, tidak ada keramahan dalam nada suara maupun di wajahnya.
Brandon semakin mati gaya dibuat Gita. Gita yang sekarang bukan lagi gadis lemah yang mudah ditindas. Siapapun akan dia lawan selagi dia benar.
"Eh, nggak pernah ya? Kirain pernah, hehehe..."
"Sok akrab!" cibir Gita.
Brandon kembali mengusap tengkuknya mendengar cibiran dari Gita. Dia tidak tahu harus bagaimana agar bisa lebih dekat dengan Gita. Tidak ada pengalaman mengejar perempuan, membuat Brandon tidak tahu harus bagaimana menghadapi perempuan.
Gita hanya menjawab dengan anggukan kepala, ada rasa canggung antara keduanya.
Dulu Gita yang terus mendekati Brandon dan selalu bergelayut di lengannya, sampai-sampai Brandon merasa risih dengan tingkahnya. Gita berbuat seperti itu bukan karena murahan, akan tetapi karena sifat manjanya. Dia perlakukan sahabat abangnya seperti abang sendiri, sehingga dia pun menunjukkan sikap manja tersebut. Namun, Brandon salah paham dan mengira Gita terlalu gampang mengumbar cinta. Padahal Gita melakukan itu karena dia masih labil dan belum mengerti cara mendekati cowok dengan elegan.
*
*
__ADS_1
*
Sore harinya Dandy menghubungi Gita, dia mengajak Gita untuk makan malam di apartemen Gita. Dia sengaja melakukan itu, karena tahu Gita lebih nyaman berada di apartemennya dari pada di luar. Dandy tahu Gita orang yang introvert, jadi dia menghindari pergi ke tempat umum.
Ajakan Dandy diiyakan oleh Gita dengan syarat setelah selesai prakteknya di klinik, dan Dandy setuju.
Penampilan Dandy malam ini tampak sempurna, walau badannya tak sekekar Brandon tapi wajahnya tak kalah tampan.
Dandy malam ini menggunakan sweater rajut yang pas di badannya. Dia datang membawa menu masakan Indonesia kesukaan Gita. Dandy selalu ingat kata-kata ayahnya, jika cinta bisa berasal dari perut. Jadi Dandy selalu membawakan Gita makanan kesukaan Gita.
"Eh, sorry nunggu lama!" ucap Gita begitu pintu terbuka, dia tadi masih berada di kamar mandi saat bel pintu berbunyi.
"Nggak masalah! Baru sepuluh menit, menunggu bertahun-tahun saja aku sanggup. masak sepuluh menit saja tak sanggup?" sahut Dandy sambil tersenyum.
"Gombal!"
"Serius ini! Apapun aku sanggup melakukan jika itu untuk kebahagiaanmu. Cinta itu merelakan dan mendo'akan. Jadi, apapun demi kamu aku rela,"
__ADS_1