Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
68. Kangen Masakan Indo


__ADS_3

Pak Gunadi memanggil pengacaranya untuk mengajukan gugatan terhadap menantunya, Brandon.


"Aku ingin menuntut Brandon karena telah membuat anak perempuanku satu-satunya koma. Apa bisa kamu urus?" kata pak Gunadi pada pengacaranya.


"Apakah ada bukti adanya kekerasan fisik pada tubuh Nona Kia, Tuan?" sahut sang pengacara.


"Mana aku tahu! Pokoknya cari bukti yang bisa memberatkan dia di pengadilan nanti."


"Kalau tidak ada bukti yang kuat, kita tidak bisa mengajukan gugatan. Kalaupun bisa, kita pasti akan kalah karena tidak memiliki bukti apapun."


"Apa kekerasan yang dialami Kia beberapa bulan lalu bisa dicek? Aku akan melakukan visum pada Kia."


"Maaf, Tuan! Tidak bermaksud lancang, saat ini kondisi Nona Kia sedang koma. Sebaiknya jangan sekarang dilakukan visum, kasihan."


"Kamu ini bagaimana? Mumpung dalam keadaan seperti ini makanya harus divisum agar ketahuan semua belang Brandon!" bentak pak Gunadi marah.


Pengacara itu akhirnya melakukan apa yang diperintahkan oleh pak Gunadi.


*

__ADS_1


*


*


Senyum Brandon mengembang karena pernyataan pengacaranya tadi. Tidak ada kekerasan fisik maka secara hukum dia tidak bisa dituntut oleh keluarga Kia. Selain itu janin yang sudah meninggal juga tidak bisa dijadikan sebagai subyek hukum dan tidak memiliki kekuatan hukum.


"Kemenangan sudah di depan mata, sebelum kamu menuntutku di pengadilan! Guna Grup aku pastikan hancur di tanganku. Kamu jual aku beli. Aku pastikan kamu menyesal telah membangunkan macan tidur. Aku tidak suka diusik apalagi mengusik orang, akan tetapi kalian telah mengusikku maka rasakan akibatnya!"


Seringai licik tergambar jelas di wajah dan bibir Brandon. Tidak ada yang tahu apa yang telah dilakukannya selama enam bulan ini. Cacian, makian, hinaan serta kata-kata pedas nan kasar selalu terlontar dari mulutnya. Semua itu dia tujukan pada istrinya karena rasa benci dan amarah yang muncul akibat kelicikan Gunadi dan anaknya.


*


*


*


"Selamat ya! Sudah dapat gelar master." ucap Gita sembari menyerahkan buket bunga kemudian menyalami tangan sang sahabat.


"Terima kasih sudah mau menjadi datang mendampingiku," ujar Dandy dengan wajah berseri.

__ADS_1


"Kita 'kan sudah seperti keluarga. Jadi harus saling support dan menemani di kala suka maupun duka. Jangan ucapkan kata-kata itu lagi. Ok?" sahut Gita pura-pura marah karena ucapan terima kasih dari Dandy.


"Siap, Bos!" seru Dandy dengan gerakan hormat.


"Ayo! Sekarang kamu traktir aku makan sepuasnya. Aku sudah lapar!" ajak Gita sembari menyeret lengan Dandy.


"Iya, pelan-pelan aja jalannya!" Dandy mengikuti kemana lengannya diseret, masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


"Kita ke kafe dengan menu makanan Indo aja, aku kangen masakan Indo. Pengen banget makan rendang buatan Mama," ucap Gita dengan pikiran menerawang mengingat saat masih di kampung halaman.


"Kalau kangen masakan Mama 'kan bisa minta dikirim dari sana. Lagian masakan kemasan sudah banyak ini. Atau kamu belajar masak, jadi kalau pengen tinggal buat sendiri," usul Dandy sambil menatap wajah sahabatnya.


"Di sini bumbunya nggak selengkap di kampung halaman. Rasanya jadi aneh kalau bumbu nggak lengkap. Itu yang bikin aku males masak. Lagian nggak ada waktu juga. Kuliah dan kerja sudah cukup menyita waktu." Gita menjelaskan alasannya kenapa dia tidak mau membuat sendiri masakan yang diinginkan.


"Kalau gitu, minta dikirimi bumbu aja ma Mama."


"Aku nggak mau repotin mereka. Aku pengen mandiri, kalau sedikit-sedikit minta mereka takut merepotkan. Mama sibuk mengurus kafe dan restoran, sedang Papa sibuk dengan lahan perkebunan dan rumah sakit. Masak sih aku tambah lagi kerepotan mereka!" Gita selalu merasa jika dia merepotkan orang lain, jika meminta sesuatu.


Sejak kejadian bersama Brandon, Gita selalu meminimalisir meminta bantuan atau barang pada orang lain. Semuanya dia usahakan sendiri, semampunya.

__ADS_1


__ADS_2