
Brandon masih mencari cara agar bisa kembali dekat dengan Gita. Dia masih dihantui rasa bersalahnya. Akan tetapi dia tidak bisa mengenali perasaannya.
Jika Brandon bisa memahami dirinya sendiri, mungkin dia akan menemui Gita saat ini juga. Brandon yang selalu meninggikan egonya, tidak mau mengakui jika dia pun menyayangi Gita.
Semenjak Gita kuliah di Yogya, setiap hari berinteraksi dengan gadis polos nan manja itu membuat Brandon menyayangi Gita. Ada perasaan ingin selalu menjaga, sama halnya dengan apa yang dia rasakan untuk Ary.
Malam ini, Brandon tidak bisa tidur. Pikirannya menerawang jauh ke tempat Gita berada. Ada rasa ingin segera bertemu tapi tidak ingin menemui ataupun mendatangi. Lagi-lagi ego menguasai dirinya.
Suara dering ponsel milik Brandon berbunyi nyaring, sehingga membangunkan sang empunya.
"Siapa sih, pagi-pagi begini nelepon?" gerutu Brandon seraya meraba meja nakas dengan mata terpejam karena masih mengantuk.
Tanpa melihat nama yang menghubungi, Brandon langsung menggeser tombol hijau menerima panggilan.
"Hmm..." ucap Brandon dengan mata terpejam.
"Hah! Jam berapa ini?" Brandon membulatkan matanya terkejut, ternyata panggilan dari kantor yang mengabarkan dia harus menghadiri meeting dengan koleganya.
Brandon menatap jam yang tergantung di dinding.
"Sh*it! Ternyata sudah jam sepuluh. Huh, gara-gara mikirin kamu nih, aku jadi terlambat . Mana ada meeting dengan calon investor lagi." Brandon menggerutu panjang.
Brandon bergegas ke kamar mandi, dia lupa jika pagi ini ada meeting dengan investor. Brandon berencana membuka cabang di pulau Sumatera. Ada beberapa kolega yang siap menginvestasi dana untuk pembangunan cabang di luar Jawa.
Satu jam kemudian, Brandon memasuki ruang rapat setengah berlari karena sudah terlambat setengah jam.
"Pagi, Pak Gun!" sapa Brandon begitu memasuki ruang rapat, dimana pak Gunadi selaku investor sedang menunggu dirinya.
"Pagi menjelang siang, Mas Brandon. Apa kabar?"
"Alhamdulillah, seperti yang Bapak lihat." jawab Brandon seraya mengisyaratkan tangannya agar pak Gunadi duduk kembali.
"Oh, ya! Mas Brandon, kenalkan ini anak saya. Zaskia. Dia yang akan mewakili saya nanti jika saya berhalangan hadir." Pak Gunadi memperkenalkan anak gadisnya pada Brandon.
Pak Gunadi sengaja mengajak anaknya bergabung di perusahaan miliknya. Dia ingin menjodohkan sang anak dengan Brandon. Sejak awal mengenal Brandon, pak Gunadi sudah menyukai Brandon dan berkeinginan menjadikan Brandon sebagai menantu.
__ADS_1
"Kia."
"Brandon."
Mereka bersalaman sebentar untuk berkenalan. Brandon tidak memperhatikan wajah Zaskia sama sekali. Menurut Brandon tidak ada wanita cantik, selain ibunya dan Ary
"Baiklah, bisa kita mulai sekarang?" tanya Brandon kemudian setelah mereka duduk di kursi masing-masing.
Mereka memulai rapat membahas modal, keuntungan dan alokasi dana. Rapat berjalan hingga dua jam.
"Berkas-berkas akan kami siapkan sesuai hasil rapat tadi. Berkas yang telah selesai akan kami kirim secepatnya ke kantor Bapak," ucap Brandon menutup rapat hari ini.
"Baiklah, kami tunggu kabar baik dari Mas Brandon." sahut pak Gunadi.
"Semoga secepatnya kabar baik itu datang, Pak. Saya tidak berani menjanjikan yang muluk-muluk, Pak. Tapi saya akan berusaha sebaik mungkin untuk hasil yang terbaik untuk kerjasama kita." Brandon berterus terang. Hal inilah yang disukai oleh pak Gunadi. Bukan janji yang diberikan oleh Brandon tapi bukti.
"Aamiin... semoga ya, Mas. Kalau begitu kami pamit dulu. Masih ada beberapa urusan yang menunggu kami." pamit pak Gunadi seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Mereka semua bersalaman sebelum berpisah.
Brandon yang tadi pagi belum sempat sarapan merasakan cacing dalam perutnya sedang demo. Waktu sudah menunjukkan jam satu siang, perut Brandon belum terisi sejak kemarin. Terakhir kali makan adalah waktu makan siang bersama koleganya di restoran.
*
*
*
Ary menghubungi Gita setelah meminta nomornya pada Brandon. Dia ingin memastikan sendiri bagaimana keputusan mantan adik iparnya itu.
"Git, kamu harus jaga diri baik-baik di negeri orang. Tidak gampang menyesuaikan diri di sana. Kamu jangan ikut arus, di sana banyak pergaulan bebas. Kalau nggak sayang, mana mungkin Kakak nasehati kamu!" ucap Ary menasehati Gita.
Sebelumnya mereka sudah ngobrol lama. Ary berinisiatif menghubungi Gita untuk menyambung tali silaturahmi agar tidak putus.
"Iya, Kak! Gita ngerti kok, Gita tahu Kakak itu Sayang banget sama Gita. Gita juga sayang Kakak. Terima kasih ya, Kak." sahut Gita.
__ADS_1
"Kapan kita bisa bertemu dan ngobrol lama? Kakak sudah kangen banget sama kamu, sama Mama-Papa juga. Apalagi sama Ompung Norma."
"Mereka di Sumatera baik-baik saja, Kak. Sehat jasmani dan rohani." canda Gita sembari terkekeh.
"Mereka sedang menunggu cucu ketiga lahir, hehehe!" imbuh Gita masih terus dengan tawanya.
"Alhamdulillah kalau mereka sehat, semoga selalu dilimpahi rahmat Nya. Cucu ketiga lahir masih lama, sekitar tiga bulan lagi."
"Udah dulu, ya! Kakak mau mandiin si twins. Mereka susah kalau mandi sama mbaknya." pamit Ary sebelum mengakhiri pernikahannya.
"Iya, Kak! Assalamu'alaikum..." Akhirnya Gita yang mengakhiri panggilan karena dia harus mengurus pasien yang baru datang saat dia sedang ngobrol dengan mantan kakak ipar rasa kakak kandung.
"Wa'alaikumusalam!"
*
*
*
Aku ada rekomendasi karya temenku yang keren habis nih.
Judul : Terjerat Cinta Duda Hot
Napen : Ummi Asya
Blurb : Terjerat cinta duda hot
Kirana Prameswari adalah seorang mahasiswa akhir, dia membutuhkan biaya untuk mengerjakan skripsinya yang selalu di tolak oleh dosen pembimbingnya. Seorang teman memberinya sebuah pekerjaan sebagai guru les privat dari anak seorang konglomerat.
Kirana pikir anak yang akan di les privat olehnya adalah usia sekolah dasar, tapi ternyata anak tiga tahun. Dan lebih kagetnya lagi ayah dari anak yang di les privatnya itu seorang duda tampan dan seksi.
Bagaimana Kirana menghadapi ayah dan anak itu? Apakah dia akan terjerat pesona sang duda?
Yuk kita kepoin ceritanya..
__ADS_1