
"Siap berangkat?" tanya Ary begitu turun dari mobil.
Gita sudah menunggu kedatangan Ary di teras sejak lima belas menit yang lalu. Dia terus berjalan mondar-mandir sambil sesekali melihat ke ponsel di tangannya. Untuk membunuh waktu agar tidak terasa lama, dia mulai membuka aplikasi media sosial.
Ruminten yang diminta oleh Gita untuk menemaninya pun ikut gelisah. Bagaimana tidak gelisah, seorang anak perempuan yang ingin menemui laki-laki pujaan hati yang tidak meliriknya sekalipun. Walaupun mengatakan hanya cinta monyet, Ruminten yakin rasa cinta itu masih ada di hati nona majikannya itu.
Saat Gita meletakkan bo kongnya di kursi, tiba-tiba terdengar suara dering telepon. Gita langsung menjawab panggilan itu tanpa melihat siapa yang telah menghubungi.
"Hallo!" sapa seorang laki-laki dari seberang sana.
"Siapa ini?" tanya Gita yang terkejut mendengar suara laki-laki.
"Leonard! Masih ingat?"
"Oh, Leonard? Ingatlah pasti, kan baru beberapa hari tak jumpa." jawab Gita tersenyum, walaupun senyumannya tidak terlihat oleh sang lawan bicara.
"Syukurlah kalau masih mengingat. Aku takut kamu amnesia saja!" ledek Leonard.
"Tumben hubungi aku, ada apa?" tanya Gita tanpa basa-basi lagi.
"Aku baru saja mendarat di Yogya, kamu bisa dampingi aku keliling kota, nggak?" tanya Leonard berhati-hati, karena dia tahu bagaimana sifat Gita yang sebenarnya.
"Kamu nginep di hotel mana? Biar nanti aku gampang mencari kamu!"
Leonard pun menyebutkan sebuah nama hotel, dan diangguki oleh Gita. Tak berapa lama setelah panggilan diakhiri, Ary tampak datang memasuki halaman.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Ary begitu turun dari mobil.
"Iya, Kak! Keburu siang, nggak enak. Gerah.
"Oke! Yuk." ajak Ary sambil berbalik dan memasuki mobilnya. Dia datang menggunakan sopir seperti biasa karena susah mendapatkan ijin keluar rumah tanpa sopir.
__ADS_1
Ary dan Gita tiba di gedung perkantoran milik Rend's Comp. Mereka tiba pukul sepuluh pagi wajah segar. Gedung yang berdiri di pinggiran kota ini terdiri dari tiga lantai. Ruangan pimpinan, ruang meeting serta aula berada di lantai paling atas. Lantai dua untuk karyawan administrasi, dan personalia. Sedangkan bagian lainnya di lantai dasar.
"Pagi, Bu!" sapa salah seorang satpam yang berdiri di depan pintu lobi.
Ary menanggapinya hanya dengan senyuman tipis dan anggukan kepala. Gita mengikuti apa yang dilakukan oleh mantan kakak iparnya itu.
"Gedungnya besar ya, Kak?" tanya Gita begitu ia berjalan mengikuti Ary.
"Namanya karyawan ribuan, wajarlah kalau gedungnya besar. Kamu mau lihat pabriknya nggak?" jawab Ary tanpa menoleh, dia berjalan ke arah lift dan memencet tombol buka.
"Ayo!" ajak Ary begitu pintu lift terbuka.
Gita mengikuti Ary, memasuki lift tersebut.
"Gimana, mau lihat pabrik atau tidak?" tanya Ary sekali lagi saat lift sudah bergerak naik menuju lantai paling atas.
"Saat ini belum ingin, Kak! Hehehe." sahut Gita sambil tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya.
Mereka berjalan beriringan menuju sebuah ruangan yang terletak paling ujung.
"Brandon ada?" tanya Ary pada satpam yang kebetulan berpapasan dengan mereka.
"Sepertinya ada, Bu. Saya tidak melihat beliau keluar sejak tadi."
"Ok! Terima kasih."
Ary berhenti di depan pintu ruangan Brandon, kemudian mengetuk pintu dengan pelan. Karena tidak ada jawaban, Ary pun langsung membuka pintu yang tidak terkunci itu.
Betapa kagetnya Ary dan Gita saat melihat Brandon sedang memangku Lala, dengan badan tertutup sepenuhnya oleh tubuh Lala.
"Astaghfirullah!" teriak Ary seraya menutup matanya.
__ADS_1
Gita pun tak kalah terkejutnya melihat tontonan secara live di depan matanya.
*
*
*
Sambil menunggu GiBrand up, sebaiknya baca juga karya recehku yang lain. Soalnya saling bertautan, walaupun beda MC.
Kisah pernikahan Ary dengan Rendy serta kawan-kawannya dikemas dalam karya dengan judul "Sepenggal Kisah Ary".
Kisah pernikahan Ary dengan Alex dikemas, dengan judul "Menikahi Duren Ansa".
Kisah Rahma dan teman-temannya, dengan judul "Menggapai Mimpi".
__ADS_1
Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak🤗🤗🤗