Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
46. Malioboro


__ADS_3

"Tapi Kak..."


"Tak ada penolakan! Aku tidak mau ditolak kali ini." potong Ary sebelum Gita menyelesaikan ucapannya.


Gita menunduk lesu, kemudian kembali tegak dan mengangkat kedua bahunya.


"Terserah kalian saja!" ucap Gita sambil melangkah pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan kesal.


Selepas kepergian Gita, kebetulan twins merengek minta pulang. Twins memang jarang diajak bepergian jauh oleh kedua orang tuanya. Apalagi sejak Ary hamil yang kedua, dia jarang keluar rumah kecuali periksa kandungan.


Tidak hanya twins saja yang rewel, baby Shofi pun juga ikut rewel. Akhirnya Ary pamit pada Brandon untuk masuk kamar menyusui baby Shofi.


"Brand, aku ke kamar dulu ya. Stok ASI di botol habis, jadi aku harus menyusuinya langsung. Kita bahas lain kali saja tentang keberangkatan kamu ke Medan. Lagian besok 'kan kita bisa ketemu lagi di kantor. Kamu pulang aja deh!' usir Ary secara halus.


"Baiklah! Aku pergi, besok kabari aku jam berapa kamu datang." ucap Brandon akhirnya, dia terpaksa meninggalkan rumah itu karena sudah diusir sang pemilik.


Dengan berat hati, Brandon meninggalkan rumah itu. Dia memutuskan mencari keberadaan Gita. Dulu sewaktu masih kuliah di Yogya, Gita suka sekali ke Malioboro. Jadi Brandon pun memutuskan untuk menyusul Gita ke Malioboro.


*


*


*


Jam delapan malam Gita memasuki rumah, dia tadi siang pergi ke Candi Prambanan. Sore harinya dia pergi ke lapangan yang ada di belakang bandara Adi Sucipto. Tempat itu setiap sore selalu ramai orang untuk sekedar mencari hiburan. Dia sengaja pergi ke tempat yang lumayan jauh dari rumah. Dia ingin menghibur dirinya sendiri. Sepanjang perjalanan menuju Candi, Gita memikirkan langkah yang akan diambil dalam waktu dekat ini.


"Lho, Non? Dari mana saja kok sampai malam. Non Gita kesasar ya?" tanya Ruminten begitu Gita memarkirkan motornya.


"Nggaklah! Gita hafal betul kok jalan yang Gita lewati. Tinggal ngikutin jalan aspal Yogya - Solo. Mana mungkin nyasar, mbak!" sahut Gita sambil terus melangkahkan kakinya menuju kamar dan diikuti oleh Ruminten.

__ADS_1


"Tadi mas Brandon telpon katanya nyariin Non Gita di Malioboro nggak ketemu. Memang Non Gita kemana tadi?" ucap Ruminten saat mereka sudah masuk ke kamar Gita.


"Bosen, emang nggak ada tempat lain selain Malioboro? Terus dia bilang apalagi?"


"Katanya kalau Non Gita sudah sampai rumah suruh hubungi mas Brandon."


"Udah itu aja?" tanya Gita dengan senyum mengejek.


"U-udah, Non!" jawab Ruminten tergagap karena takut melihat ekspresi wajah Gita saat ini.


"Mbak Ruminten kenapa? Kok gugup begitu. Aku nggak gigit lho," ledek Gita yang melihat wajah pias sang asisten rumah tangga.


"Enggak ada, Non. Cuma kaget aja! Non Gita sudah banyak berubah sekarang."


"Berubah? Berubah jadi apa? Hantu, monster atau apa?" tanya Gita terkekeh.


"Hahaha... kamu mengingatkan kebodohanku di masa lalu! Dulu aku masih labil, jadi wajar sampai begitunya. Sekarang aku sudah semakin bertambah umur, masak masih manja dan kekanakan terus? Nggak mungkin dong! Itu cinta monyet, mbak! Jadi jangan diingat lagi." jelas Gita sambil tertawa untuk menutupi rasa sakit di da danya.


Ruminten tahu majikannya itu sedang memendam kesakitannya sendiri. Akan tetapi dia tidak tahu masalah apa yang menggelayuti pikiran nonanya saat ini.


"Ada pesan dari Kak Ary, nggak?" tanya Gita kemudian setelah selesai mentertawakan Ruminten.


"Nggak ada, Non! Cuma bilang, besok pagi akan ke sini lagi. Ada mit... mit.."


"Meeting?" potong Gita karena dia tahu Ruminten susah mengucapkan bahasa asing.


''Iyaa, Mbak Ary juga berpesan agar Non banyak tidur jangan bergadang. Jangan memikirkan hal duniawi!" begitu pesannya.


"Siippp! Sekarang aku mau mandi, mbak Ruminten keluar dulu ya!" usir Gita secara halus.

__ADS_1


"Siaaappp!" jawab Ruminten semangat.


*


*


*


Mampir dan baca yuk ke sini!


Judul : Aku Bukan Pelakor


Napen : Ara Utara


Salahkah aku apabila jatuh cinta pada gadis yang usianya sebaya dengan anakku ?


Dia bernama Karin Shalina, pesona lugunya membuatku jatuh kedalam pesonanya.


Rumah tanggaku yang sudah berada diujung tanduk membuat ku berani bermain api dibelakang istriku.. Aku tak takut di cap pengkhianat atau pria bajingan, nyatanya Istriku yang telah membuat aku bertindak mengkhianati nya. Dialah yang membuatku dari setia menjadi pria pengkhianat...


* Antoni Conte..


Salahkah aku bila mencintai dia yang ternyata suami orang ?


Cap pelakor melekat padaku, bukankah hati tak bisa dipaksa kepada siapa akan berlabuh. Aku yang tak pernah jatuh cinta, tak ku sangka sekali jatuh cinta langsung pada suami orang..


* Karin Shalina.


__ADS_1


__ADS_2