
"M-mas Brandon? Ke-kenapa keluar dari kamar itu?" ucap Kia terbata karena terkejut dibentak oleh suaminya.
"Aku mau dari mana itu bukan urusan kamu!" sahut Brandon dengan ketus sembari meninggalkan Kia yang terbengong melihat sifat asli Brandon yang sebenarnya.
Memang seperti itulah Brandon, kata-kata pedas tidak pernah lepas dari mulutnya jika sudah tidak suka pada seseorang. Hal ini juga terjadi pada Gita beberapa tahun silam. Gita menjauh juga karena kata-kata pedas yang selalu terlontar dari mulut Brandon.
Hari pun berlalu berganti dengan bulan. Enam bulan sudah pernikahan Brandon dan Kia. Selama itu tidak pernah sekalipun Brandon menyentuh kulit Kia. Sikap datar dan dingin Brandon semakin menjadi, tak jarang pula kata-kata kasar yang menyayat hati terlontar dari mulutnya.
Anehnya, tanpa disentuh oleh Brandon sekalipun, Kia bisa hamil. Kecurigaan Brandon selama ini akhirnya terbukti. Oleh karena itu dia tidak pernah mau menyentuh istrinya itu.
"Mas, Kia boleh bawa asisten rumah tangga ke sini?" ijin Kia pada Brandon.
Rumah sederhana milik Brandon memang tidak memakai jasa asisten rumah tangga. Sebelum menikah Brandon mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri kecuali masak dan mencuci baju. Brandon selalu membawa pakaiannya ke laundry, bahkan setelah menikah pun dia tetap membawa pakaiannya ke tempat laundry langganannya.
Brandon tidak peduli dengan apa yang Kia lakukan di rumah itu. Hanya saja, dia melarang istrinya keluar rumah tanpa ijin darinya.
"Kenapa?" Hanya pertanyaan singkat yang keluar dari bibir Brandon ketika Kia meminta ijin.
__ADS_1
"Kia kesepian di rumah ini. Kia ingin teman bicara. Mas Brandon selalu sibuk dengan perusahaan jarang pulang," jawab Kia panjang lebar.
Baru kali ini mereka bicara panjang lebar, biasanya hanya gumaman yang keluar dari bibir Brandon, ketika ditanya ataupun disapa Kia.
"Kesepian? Orang kesepian kok bisa hamil. Siapa yang hamili kamu? Setan?" sahut Brandon ketus.
"K-Kia minta maaf atas kehamilan ini. Kia diper kosa dua Minggu sebelum Kia menjebak Mas Brandon di Medan waktu itu." ucap Kia terbata dengan mata berkaca-kaca.
"Hmm... diper kosa? Hahaha! Kamu nggak bakat jadi artis." sahut Brandon mengejek Kia.
Brandon memang sudah menyelidiki tentang Kia, sehingga dia tahu alasan kenapa wanita yang dinikahinya enam bulan yang lalu itu hamil.
Brandon baru saja pulang dari kantor ketika Kia meminta ijin mencari asisten rumah tangga. Sehingga kata-kata pedas itu dengan lancar meluncur saja karena rasa lelah sehabis bekerja.
Kia hanya bisa mengusap da danya untuk menguatkan dirinya. Bukan tanpa suatu alasan dia meminta ijin untuk mencari orang untuk bekerja di rumah itu. Setelah satu bulan menikah dan dinyatakan hamil, siksaan batin selalu diterimanya. Terlalu sering mendapatkan tekanan batin membuat Kia menjadi stres. Sudah dua bulan ini dia mengalami pendarahan sehingga dokter menyarankan dirinya untuk bed rest.
Saran dari dokter tidak bisa ia lakukan karena Brandon tidak mengijinkan Kia pulang ke rumah orang tuanya. Brandon mengancam akan menceraikan Kia jika berani membantah ucapan Brandon.
__ADS_1
Kia pikir pendarahan masih berupa flek saja, jadi tidak begitu menjadi masalah. Kia tidak berani mengadukan perbuatan Brandon pada sang orang tua. Sebenarnya dulu pernah mengadukan sikap dingin Brandon itu pada sang ayah. Akan tetapi pak Gunadi tidak menanggapi aduannya itu.
Kia memendam sendiri rasa sakit di hatinya tanpa berani mengadu ataupun melawan.
*
*
*
Sementara itu Gita di Melbourne, semakin dekat dengan Leonard. Hal ini dikarenakan, mereka kembali mengambil pendidikan dengan jurusan yang sama. Keduanya sama-sama memiliki tanggung jawab untuk meneruskan usaha keluarga.
Rumah sakit tempat magang Gita dulu adalah rumah sakit milik orang tua Leonard. Sehingga Gita saat ini bisa dengan mudah bekerja di rumah sakit tersebut, atas bantuan Leonard tentunya.
"Gita, makan yuk! Sudah waktunya istirahat." ajak Leonard pada Gita yang saat ini masih berkutat dengan rekam medis pasiennya.
"Tunggu! Sebentar lagi selesai." sahut Gita dengan memberikan senyum manisnya.
__ADS_1
Gita bekerja sebagai seorang dokter di rumah sakit tersebut. Sifat Gita yang ceria sangat tepat untuk menjadi dokter anak. Walaupun dia masih didampingi dokter anak, akan tetapi kinerja Gita sudah menunjukkan hasil yang memuaskan. Tangan dinginnya itu bisa dengan mudah membuat pasiennya cepat sembuh. Apalagi sebagian besar pasien yang dipegangnya adalah anak-anak yang manja seperti dirinya.