
Saat Dandy dan Gita sedang bercengkrama di taman kampus, Leonard melintas di depan mereka.
"Le, Leon..."
"Iyaa, aku dengar! Apa kabar Indonesia?" potong Leonard exciting melihat keberadaan Gita di kampus itu.
"Alhamdulillah!"
"Kapan tiba di sini?" tanya Leonard dengan wajah ceria karena bisa bertemu dengan gadis pujaan hatinya.
"Tadi malam." sahut Gita sambil mengangguk tanda membenarkan jawabannya.
"Nggak capek, kok langsung ke kampus?" cerca Leonard.
"Capek sih nggak, hanya saja merasa repot karena tidak tahu harus bagaimana. Seperti orang linglung karena kurang istirahat.
"Syukurlah kalau begitu! Kamu ambil magister atau spesialisasi untuk pendidikan selanjutnya?" tanya Leonard seraya duduk di depan Gita dan Dandy.
"Magister! Sesuai nasehat Papa." jawab Gita sangat yakin.
__ADS_1
"Magister apa?" tanya Leonard lagi, semakin penasaran.
"Kenapa banyak sekali pertanyaan kamu? Sudah seperti detektif saja!" bentak Dandy kesal.
"Dia ingin mendapatkan gelar MPH. Jadi nggak perlu banyak tanya deh!" lanjut Dandy dengan berapi-api saking kesalnya. Sebenarnya bukan hanya kesal tetapi lebih kepada rasa cemburu.
Wajar jika Dandy merasa cemburu pada Leonard, karena secara terang-terangan Leonard berani menunjukkan rasa cintanya. Berbeda dengan dirinya yang insecure jika bersanding dengan Gita.
"Aku ngomong sama Gita bukan dengan kamu! Nggak sopan banget jadi orang," sahut Leonard tidak kalah kesalnya dari Dandy.
"Heh! Aku cuma bantu jawab saja. Kalau tidak mau mendengar jawaban seharusnya kamu tidak usah bertanya," sembur Dandy dengan nafas memburu.
"Kenapa kalian jadi berantem? Eror!" seru Gita seraya berdiri dan meletakkan tangannya melintang di dahi, kemudian berlalu meninggalkan kedua temannya berantem.
Menyadari kepergian Gita, Leonard dan Dandy segera mengejar gadis cantik itu.
Seminggu kemudian, kabar pernikahan Brandon sampai juga di pendengaran Gita. Gita mengira Brandon menikahi sekretarisnya, hal ini dikarenakan Gita yang salah paham saat kejadian Gita berdiri di depan Brandon. Padahal itu hanya murni kecelakaan saja, yang kebetulan seperti terlihat sedang berbuat me sum.
"Semoga Abang bahagia dengan pernikahan Abang. Aku hanya bisa mendo'akan saja tanpa bisa menjadi pendamping hidupmu."
__ADS_1
Gita berusaha kuat mendengar berita pernikahan Brandon. Gita sudah mengikhlaskan Brandon. Dia selalu berpikir jodoh ada di tangan Tuhan dan menjadi rahasiaNya. Gita yakin jika dia berjodoh dengan Brandon, pasti akan bersatu walaupun harus melalui banyak ujian.
Hari pernikahan itu tiba, pernikahan sederhana yang dilaksanakan di kediaman Gunadi. Tak ada pesta meriah nan mewah seperti pernikahan para pengusaha terkenal lainnya. Tak ada tenda maupun dekorasi ruangan, juga tak ada kursi pelaminan. Hanya karpet yang digelar untuk duduk para tamu dan tuan rumah. Di tengah bentangan karpet terdapat sebuah meja yang akan digunakan untuk mengucap janji suci pernikahan.
Brandon pun dengan lancar mengucap akad nikah. Tak ada rasa gugup atau pun kebahagiaan tersirat di wajah Brandon. Hanya tatapan mata yang tegas dan dingin.
Kia tampak cantik dengan mengenakan kebaya putih dan sanggul bertahtakan tiara di kepalanya. Tak ada senyum dari kedua mempelai, hanya wajah tegang yang tampak jelas. Lain halnya dengan pengantin, pak Gunadi tampak bahagia menyaksikan pernikahan anaknya. Dia merasa bangga telah memiliki menantu seorang pengusaha muda yang hebat.
Acara pernikahan pun selesai, para tamu undangan sudah mulai meninggalkan kediaman Gunadi. Hanya tinggal Gunadi dan istrinya sebagai tuan rumah, serta anak-anaknya. Brandon telah memboyong Kia ke rumahnya. Rumah sederhana yang terdiri satu lantai, hanya berukuran 54 m² saja. Bangunan itu terdiri dari tiga kamar tidur dengan kamar mandi di dalam, ruang tamu serta ruang keluarga yang menyatu dengan dapur.
"Kita tinggal di sini?" tanya Kia panik, belum siap meninggalkan kemewahan.
"Inilah rumahku! Dimana kita akan tinggal jika tidak di sini?" sahut Brandon sembari melangkah masuk ke dalam rumah.
Brandon menuju sebuah kamar, dia memasuki kamar itu kemudian meletakkan koper Kia di dekat ranjang.
"Ini kamarmu! Semoga suka dan betah," ucap Brandon seraya meninggalkan Kia sendiri di kamar.
Kia tidak menaruh curiga sama sekali. Dia langsung membersihkan diri begitu Brandon keluar kamar. Setelah selesai membersihkan diri, Kia duduk bersandar di headboard ranjang. Beberapa saat menunggu Brandon masuk ke kamar, dan tidak ada tanda-tanda kedatangan Brandon di kamar itu. Kia yang tidak sabar langsung keluar kamar dan mencari Brandon.
__ADS_1
"Mas... Mas Brandon!" teriak Kia sambil menyusuri isi rumah sederhana itu.
"Kenapa teriak-teriak? Seperti di hutan saja!" bentak Brandon yang kala itu tiba-tiba muncul dari kamarnya.