Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
36. Persiapan Wisuda


__ADS_3

Lala masih berusaha mendekati Brandon. Suaranya dibuat selembut mungkin jika berbicara dengan sang atasan. Bahkan dia juga berpura-pura baik untuk mendapatkan citra baik.


"Maaf, Pak. Ada utusan dari PT. ABC ingin menemui Bapak." ucap Lala saat Brandon menanyakan laporan dari manajer.


"Sudah buat janji?"


"Sudah, Pak. Tapi bukan sekarang."


"Kapan?"


"Satu minggu lagi, Pak. Bagaimana, Pak? Apa Bapak mau menemuinya?"


Brandon melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Nanti setelah makan siang saja! Nanggung, aku juga mau keluar sebentar." tolak Brandon sambil berjalan meninggalkan tempat itu.


Meja sekretaris berada di luar ruangan Brandon, sehingga sering dilewati Brandon jika Brandon hendak masuk atau keluar ruangan. Hal ini sering digunakan Lala untuk tebar pesona pada sang bos yang dingin nan datar itu.


"Baik, Pak. Kalau boleh tahu, Bapak hendak kemana?"


Brandon langsung menatap tajam sekretaris yang memiliki wajah mirip dengan pujaan hatinya itu. Mendapat tatapan tajam dari sang bos, nyali Lala langsung menciut.


"Ma-maaf, Pak. Kalau saya lancang, tapi saya hanya bermaksud agar bisa menjawab jika nanti ada yang bertanya tentang Bapak." ucap Lala tergagap saat mengutarakan alasannya.


Brandon tidak menanggapi perkataan sekretaris seksinya itu. Dia terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun.


*


*

__ADS_1


*


Beberapa bulan kemudian...


Gita sedang sibuk mempersiapkan wisudanya. Dia ingin saat wisuda didampingi oleh keluarganya. Sebenarnya dia juga ingin didampingi oleh Ary, akan tetapi dia cukup tahu diri. Ary saat ini habis melahirkan, jadi tidak mungkin bisa dengan mudah mendapat ijin keluar negeri oleh suaminya.


"Papa kapan ke sini? Sebulan lagi lho, Gita wisuda. Pasti Papa bangga memiliki anak seperti Gita. Oleh karena itu, Papa, Mama dan Ompung Boru harus datang. Gita tidak mau tahu!" rengek Gita saat menghubungi keluarganya yang ada di Indo.


"Do'akan kami semua sehat dan tidak ada suatu halangan. Papa akan usahakan datang di hari wisuda kamu," sahut pak Chandra menenangkan anak gadisnya.


"Masak Papa aja yang datang? Mama sama Ompung Boru?" Ada nada kecewa dalam pertanyaan Gita yang membuat hati pak Chandra berdenyut nyeri.


Ompung Norma yang sudah berusia lanjut itu kini sudah sering sakit-sakitan, sehingga tidak memungkinkan untuk perjalanan jauh. Walaupun wajahnya masih cantik, akan tetapi daya tahan tubuhnya sudah mulai menurun. Sejak meninggalnya Rendy, Ompung Norma lebih banyak melamun memikirkan anak dan cucunya yang lain. Tidak hanya itu, dia juga memikirkan siapa yang akan merawatnya nanti. Setelah Rendy meninggal dan Gita kuliah di luar negeri, Ompung Norma tidak memiliki teman bercerita dan berantem.


Kedua cucu kesayangan Ompung sudah tidak bersamanya lagi, sehingga sang Ompung merasa kesepian dan mudah sakit. Kadang dalam tidur, beliau memanggil nama kedua cucu kesayangan tersebut. Setiap kali setelah mengigau memanggil Rendy dan Gita, Ompung Norma akan jatuh sakit. Sudah diobatkan ke banyak dokter dan tabib, hasilnya selalu sama. Tidak ada perubahan.


Bahkan dokter yang menanganinya menyarankan untuk membawa Ompung Norma bertemu dengan kedua cucunya tersebut.


"Janji ya, Pa! Pokoknya Gita nggak mau tahu. Kalian semua harus datang. Titik!" rajuk Gita


"Kamu sudah besar, sebentar lagi jadi dokter. Kenapa masih seperti anak SD, hmm?"


"Karena Gita 'kan anak kesayangan Mama dan Papa!" jawab Gita ceria.


"Kamu sudah besar jangan manja lagi. Kamu pasti berkeinginan untuk berumahtangga juga 'kan? Jangan terlalu manja nanti banyak cowok yang menjauh! Kamu harus bisa mandiri dan dewasa jika tidak ada Papa di sampingmu." nasehat pak Chandra.


"Dih, Papa do'ain anaknya jelek!" protes Gita kesal


"Do'ain apa? Papa tidak pernah do'ain yang jelek ke anak-anak Papa." elak pak Chandra karena lupa dengan apa yang dikatakan barusan.

__ADS_1


"Itu tadi! Papa bilang banyak cowok yang menjauhi Gita kalau Gita manja." sahut Gita cepat.


"Oh, emang tadi Papa ada bilang begitu?"


"Belum tua-tua banget, kok sudah pikun!" kata Gita ketus saking kesalnya pada sang ayah.


"Ya udah, Papa minta maaf! Papa do'ain semoga anak Papa cepat ketemu jodoh."


"Aamiin." ucap mereka serentak.


*


*


*


Author mau rekomendasikan novel temen nih,


Judul : Begitulah Takdir


Napen : Yuthika


Tak saling kenal, tak pernah bertemu. Namun Semesta yang menuntunmu. Itulah takdir, tak pernah ada yang tahu bagaimana kedepannya. Soal jodoh ada yang berwarna, ada yang kelam, ada yang penuh keseriusan dan ada juga yang penuh dengan canda tawa.


Shazfa Aiysha Humaira atau sering dipanggil Sasa , seorang mahasiswi yang memiliki tiga orang sahabat yaitu Safia (Sapi), Fathulila (Patul), dan Fifa (Pipa). Bukan sahabat namanya , jika tidak mengganti nama sahabatnya.


Shazfa pernah jatuh cinta dengan seorang Ustadz bernama Sakha. Tapi sayang, takdir berkata lain karena Ustadz Sakha dijodohkan dengan Patul. Mengikhlaskan adalah hal yang sulit sampai akhirnya datang seorang lelaki dengan gagahnya ingin menikahinya. Lelaki yang sebelumnya tidak ia kenali, tidak bertegur sapa namun ternyata ia lah takdirnya.


Ya, Begitulah Takdir. Lalu, siapakah lelaki gagah itu?

__ADS_1



__ADS_2