Cinta Sendiri

Cinta Sendiri
58. Tanggung Jawab


__ADS_3

"Halah, alasan saja kamu! Pokoknya saya tidak mau tahu, kamu harus bertanggung jawab atas anak saya, Kia." Pak Gunadi semakin murka dengan alasan yang Brandon berikan. Dia tidak percaya ucapan kolega bisnisnya itu.


"Kalau Pak Gun tidak percaya, Bapak bisa tanyakan pada anak Bapak sekarang juga!" jawab Brandon kesal.


Pak Gunadi pun menatap anak perempuan satu-satunya yang saat ini masih membisu dibalik selimutnya.


"Benar apa yang dikatakannya itu, Kia?" todong pak Gunadi pada anak kesayangannya itu.


"K-kia tidak tahu, Pa. Kia tidak sadar. Kia mabuk tadi malam," ucap Kia dengan wajah tertunduk dan sendu, pura-pura sedih.


"Kamu jawab yang jujur Kia! Apa dia telah menodai kamu?" desak pak Gunadi seraya menghampiri anaknya yang terlihat terpuruk.


"K-kia mengatakan yang sebenarnya, Kia tidak tahu apa yang terjadi tadi malam."


Betapa terkejutnya Brandon mendengar pengakuan dari perempuan yang ditolongnya tadi malam itu. Dia tidak menyangka ternyata wanita berparas cantik itu berhati ular.


"Saya tidak ada menyentuh kulit Kia! Bahkan mendekati pun tidak. Bagaimana saya bisa melecehkan dia?" Brandon tetap bersikeras bahwa dirinya tidak bersalah. Ternyata dia salah menilai orang, sehingga bisa dengan mudah percaya pada orang itu.

__ADS_1


"Pokoknya saya tidak mau tahu! Kamu nikahi Kia atau saya sebarkan berita ini sampai Rend's Comp hancur?" ancam pak Gunadi.


Brandon yang tahu bagaimana sepak terjang pak Gunadi di dunia bisnis pun, nyali dia langsung menciut. Tidak mungkin dia mengorbankan perusahaan yang membesarkan namanya. Apalagi itu perusahaan peninggalan sang sahabat perusahaan yang membuatnya menjadi orang yang seperti sekarang ini. Dia tidak mungkin membiarkan perusahaan hancur karena kecerobohan yang telah dilakukan.


"Beri saya waktu untuk memutuskan semua ini! Saya tidak mungkin memutuskan hal terpenting dalam hidup saya, hanya dalam hitungan menit." pinta Brandon.


"Aku ikuti permainan kalian! Dasar muka Rahwana, aku tidak akan tertipu dengan kalian lagi!"


"Tidak ada waktu untuk berpikir! Seperti kamu yang melecehkan anak saya tanpa berpikir panjang." tolak pak Gunadi.


"Saya hanya minta waktu tiga hari, tidak lebih! Apakah itu memberatkan kalian?" ejek Brandon karena kekesalannya sudah di ambang batas kesabaran.


"Ini kesempatan emas yang langka! Aku pasti dapat memiliki Rend's Comp dengan menikahkan mereka berdua." batin pak Gunadi menarik sedikit bibirnya, sehingga tampak senyum tipis menghiasi bibirnya. Tanpa dia ketahui bahwa Rend's Comp bukanlah milik Brandon sepenuhnya. Brandon hanya mengelola dan dihadiahi oleh sang pemilik berupa saham.


"Saya bukan pengecut yang suka lari dari tanggung jawab, Pak Gunadi!" seru Brandon dengan kesal, kedua tangannya mengepal kuat bersiap untuk memukul lawan.


"Ingat! Laki-laki yang dipegang adalah omongannya. Jangan memberi janji jika tidak bisa memberi bukti!" ejek pak Gunadi.

__ADS_1


"Saya akan buktikan bahwa saya selalu menepati janji dan berkata apa adanya. Tidak menambah atau mengurangi informasi. Dan, yang paling penting saya tidak menyebar fitnah dan bersaksi palsu!'' jawab Brandon tegas dan menyindir.


"Kia, sekarang kamu pulang bersama Papa! Bersihkan dirimu kemudian kita pulang ke Yogya." perintah pak Gunadi pada anaknya.


"Ba-baik, Pa." Kia beranjak dari tempat tidur dengan selimut tebal membelit tubuhnya. Dia berjalan menuju pakaiannya yang teronggok di lantai, kemudian membawanya ke kamar mandi.


Sepeninggal Kia ke kamar mandi, Brandon segera memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper. Dia harus segera ke bandara, dia sudah memiliki janji dengan pimpinan cabang Surabaya.


Pak Gunadi menunggu anaknya yang sedang di kamar mandi dengan duduk di sofa. Mereka berdua tidak mengeluarkan sepatah katapun. Keduanya sama-sama diliputi oleh emosi, sehingga sama-sama memilih diam.


Setelah selesai mengemas barang bawaannya, Brandon segera meninggalkan kamar itu tanpa sepatah kata pun. Brandon segera menyelesaikan administrasi hotel di bagian resepsionis. Meninggalkan tempat menginap setelah selesai dengan semua urusan, Brandon menuju bandara.


"Mas Brandon mana, Pa?" tanya Kia begitu keluar dari kamar mandi.


"Sudah kabur!" jawab pak Gunadi asal seraya melangkahkan kakinya meninggalkan kamar itu, diikuti oleh Kia.


"Yaa... padahal Kia pengen pulang bareng dia." sesal Kia dengan wajah cemberut.

__ADS_1


"Jangan terlalu manja, Kia! Kamu tenang saja! Hari ini dia boleh saja lepas, biarkan dia bebas. Setelah itu kita tangkap dan ikat sekuat mungkin agar tidak pernah bisa lepas. Hahaha!"


__ADS_2