
"Ha-halo A-abang! Maaf tadi lagi ada tamu, terus hp aku silent. Jadi Gita nggak dengar ada panggilan masuk," ucap Gita sembari menggigit bibir bawahnya dengan perasaan was-was. Takut Brandon akan marah karena merasa diabaikan.
"Iya, nggak apa-apa. Kamu kapan pulang, hmm?" balas Brandon.
"Inshaa Allah besok, Bang. Dari sini subuh, mungkin tengah malam sampai rumah, itupun kalau papa jemput di bandara. Kalau jemput di stasiun, subuh hari berikutnya lagi baru sampai. Jadi dari sini subuh, sampai rumah subuh lagi," jawab Gita dengan suara manjanya, membuat Brandon tidak sabar lagi untuk bertemu.
Mereka ngobrol lama untuk melepas rindu. Cinta sendiri itu akhirnya terbalaskan setelah bertahun lamanya menunggu penuh dengan kesabaran. Gita yang awalnya sudah pasrah dan ikhlas melepas cintanya, ternyata Tuhan mengabulkan permohonannya untuk bersanding dengan Brandon.
Gita tidak menyangka ternyata dia tidak mencintai sendiri, sikap Brandon selama ini membuatnya takut untuk mencintai laki-laki lain. Dia tetap menempatkan Brandon di sudut hatinya yang tidak bisa diganti atau digeser kedudukannya. Dan, semua itu tidak sia-sia.
*
*
*
Dandy juga mengambil penerbangan pertama . Bersama dengan Gita, Dandy kembali ke Jakarta. Dia sudah memantapkan hatinya untuk mengurus anak-anaknya. Dia ingin mencurahkan semua perhatian dan kasih sayangnya untuk anak-anak, sesuai nasihat Gita.
"Calon pengantin nampak segar aja ya, wajahnya?" ledek Dandy ketika mereka bertemu di lounge bandara.
__ADS_1
"Ngeledek aja bisanya!" sahut Gita seraya menghempaskan tubuhnya ke kursi stainless steel itu.
Dandy tersenyum menatap wajah sahabatnya itu.
"Bahagia?" tanya Dandy.
Gita tersenyum dan mengangguk.
"Aku masih belum bisa percaya jika akhirnya Papa memberikan restunya. Padahal dulu, sewaktu Brandon melamarku habis kena bogem. Aku pikir, akan terulang lagi karena Papa sudah menjodohkanku dengan pariban," cerita Gita dengan pikiran menerawang.
"Apa itu pariban?" tanya Dandy yang baru pertama kali mendengar kata itu.
"Sepupu kok dijodohkan?" Dandy kembali bertanya karena baru kali ini dia mengetahui perjodohan seperti itu.
"Bisa dong, 'kan nggak sedarah. Kalau sedarah baru tidak boleh. Itu setahu aku! Kalau mau tahu lebih jelas tanya saja sama ustadz atau pengacara," jawab Gita setelah menenggak minumnya.
"Oh, begitu?"
"He'em!"
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mereka berdua tampak memasuki pesawat, dan tak lama kemudian pesawat pun take off ke Jakarta. Butuh waktu sepuluh jam untuk sampai Jakarta, sedangkan untuk sampai ke Medan harus menempuh 12 jam perjalanan. Waktu selama itu digunakan oleh Gita untuk tidur dan membaca, diselingi dengan obrolan.
Sekitar jam tiga sore, akhirnya mereka landing di bandara Soekarno Hatta. Dandy dan Gita berpisah karena beda tujuan perjalanan. Dandy pulang ke rumahnya, begitu juga dengan Gita. Bedanya, Gita masih harus kembali menempuh perjalanan selama dua jam untuk sampai ke bandara Kualanamu.
"Aku tunggu undangan pernikahanmu! Semoga nanti kita bisa berbesan, hahaha!" teriak Dandy saat mereka akan berpisah, Gita harus menuju lounge untuk penerbangan berikutnya.
Gita hanya tersenyum sembari telunjuknya menyilang di dahinya. Dandy yang melihat itu pun semakin tertawa lebar sembari berjalan mundur.
Dua jam pun berlalu, Gita pun telah sampai di bandara Kualanamu sekitar jam enam sore.
Betapa terkejutnya Gita, saat berada di pintu keluar sudah ada Brandon berdiri di samping sang ayah untuk menjemput dirinya.
*
*
*
Mampir yuk ke karya recehku yang baru, masih sepi banget nih...
__ADS_1