
Gita memesan tiket pesawat tujuan Kualanamu, begitu mendapat ijin libur selama seminggu. Sebenarnya dia sangat penasaran atas keinginan keluarganya yang meminta dia pulang secepatnya. Gita juga membawa laptopnya untuk menyelesaikan pengerjaan tesis yang harus direvisi.
Hari yang ditunggu oleh pak Chandra dan istrinya pun tiba. Pak Chandra sengaja menjemput sendiri anaknya di bandara Kualanamu.
"Papa!" teriak Gita saat keluar dari pintu kedatangan melihat sang ayah berdiri tak jauh dari gawang pintu.
Gita berjalan cepat mendekati sang ayah. Gita hanya membawa tas ransel saja di punggungnya.
"Anak Papa!" ucap pak Chandra sembari memeluk anak perempuan satu-satunya itu.
"Papa sama siapa?" tanya Gita celingukan mencari keberadaan orang rumah. Tak tampak mama atau nenek di sekitar tempat itu.
"Cari siapa, Nak?" tanya pak Chandra heran, sejak tadi anaknya itu seperti mencari seseorang.
"Mama sama Ompung mana, Pa?" tanya Gita akhirnya bertanya karena tidak kunjung menemukan keberadaan mereka.
"Papa sendiri! Mama sama Ompungmu menunggu di rumah. Ayok!" sahut pak Chandra seraya berjalan menuju tempat dimana mobilnya diparkirkan, diikuti oleh Gita di belakangnya.
Sementara itu, Brandon dan maminya baru saja lepas landas dari Surabaya. Dia berada di kota kelahirannya untuk menemui sang ibu, untuk meminta restu.
Brandon telah menceritakan semuanya pada maminya. Mendapat tamparan di pipi setelah selesai bercerita. Bu Maria Muller murka saat mendengar anaknya telah merenggut kehormatan Gita.
Bu Maria bersikeras ikut ke rumah orang tua Gita. Dia ingin anaknya bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan. Sebagai seorang wanita, bu Maria bisa merasakan bagaimana hancurnya Gita. Apalagi sampai sekarang Gita masih betah sendiri.
__ADS_1
*
*
*
"Sekarang kalian berdua bercerita dengan jujur, jangan ada yang ditutupi!" pinta pak Chandra pada Gita dan Brandon.
Saat ini mereka sudah berkumpul di ruang tamu rumah pak Chandra. Brandon datang sesuai janjinya. Sehingga pak Chandra bisa dengan mudah mengorek informasi dari Gita dan Brandon.
Gita dan Brandon saling bertukar pandang, seolah-olah saling bertanya siapa yang akan bercerita. Akhirnya Brandon memberanikan dirinya untuk bercerita. Apapun tanggapan keluarga Gita akan dia terima.
Akhirnya Brandon pun menceritakan semuanya dari awal kedekatan mereka hingga kejadian malam itu.
Tak hanya pipi kanannya saja, perut Brandon pun tak luput dari amukan pak Chandra. Pak Chandra mengamuk seperti orang kese*tanan.
"Cukup, Pa! Berhenti! Nanti Papa bisa membunuhnya," teriak Gita sembari melindungi tubuh Brandon dengan tubuhnya. Bu Maria pun ikut melindungi anak semata wayangnya itu.
Sedangkan ompung Norma dan mama Hotma memegangi tangan dan tubuh pak Chandra. Dada pak Chandra kembang kempis karena lelah memukuli Brandon.
"Huk... huk..." Brandon terbatuk-batuk karena sesak menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Saya minta maaf! Tolong maafkan anak saya. Saya tahu anak saya bersalah, dia pantas mendapatkan itu semua..." Dengan terisak bu Maria bersujud di kaki pak Chandra memohon maaf untuk anaknya.
__ADS_1
Emosi pak Chandra belum juga reda, tampak dari wajahnya yang masih memerah dan nafasnya yang memburu.
"Saya mohon, maafkan anak saya. Biarkan dia bertanggung jawab atas perbuatannya," pinta bu Maria lagi masih terisak.
Mama Hotma pun melepaskan tangannya dari lengan suaminya. Dia kemudian meminta bu Maria berdiri dan membantunya duduk di dekat Brandon.
Gita dengan cekatan mengambil kotak obat dan mulai mengobati luka di wajah Brandon.
Saat Gita tengah berkonsentrasi membersihkan luka di sudut bibir Brandon, tiba-tiba Pak Chandra menariknya.
"Tidak usah kamu obati! Biarkan saja dia mati, dasar banci! Kemana saja dia selama ini? Sudah hampir lima tahun kejadian itu, tapi kenapa malah diam saja seolah tak terjadi apa-apa. Mau ditaruh dimana muka ku ini. Huuhhhhh!" ujar pak Chandra emosi.
"Gita hanya mengobati lukanya aja, Pa! Biar gak infeksi nanti,"
"Dia sudah membuatmu seperti ini, kamu masih membelanya, hah? Apa kamu masih mencintainya Gita?" cerca pak Chandra.
Gita diam saja tidak berani menjawab pertanyaan sang ayah.
Sedangkan mama Hotma dan ompung Norma hanya menyimak saja perdebatan itu.
"Jawab Gita! Apa kamu masih mencintai laki-laki yang tak punya nyali ini?" teriak pak Chandra setelah menunggu beberapa saat belum juga menjawab.
Gita menundukkan kepalanya semakin dalam, tidak berani mengangkat wajahnya. Kedua tangannya pun saling bertaut dan mere mas karena rasa takutnya.
__ADS_1